Sebuah pemikiran yang timbul secara tiba-tiba. Lalu bayangan yang mengelilingi isi kepala. Mata ikut terbawa akan bayang-bayang tersebut. Seolah ini menjadi nyata. Apakah bisa bayangan yang terlintas di dalam kepala ini tercipta dengan nyata?
Hana melihat ke arah cermin sembari memperbaiki dasi.
"Saat ini fantasiku sudah kemana-mana. Apakah ini bisa menjadi kenyataan?" Tanyanya dalam hati.
Gadis remaja itu selalu saja berpikir banyak hal seperti imajinasi yang tiada akhir. Pikiran yang beragam membuatnya semakin berharap akan sebuah kenyataan.
Dunia ini dipenuhi oleh berbagai hal nyata. Tetapi bagi Hana, masih ada dunia yang tidak nyata namun, cukup menyenangkan jiwanya. Sebuah imajinasi yang keluar dari kepala serta menjadu pemikiran yang panjang. Membuat Hana mengeluarkan senyum di wajahnya.
"Berpikir, membayangkan, hingga tersenyum. Ini adalah dunia yang kuciptakan berdasarkan imajinasiku." Ucapnya dengan nada rendah.
Setelah siap mengatur dasi dan seragamnya, Hana pun mulai melangkah keluar rumah menuju sekolah.
Di sekolah, Hana memandang ke depan selagi menyimak penjelasan guru. Suasana kelas yang panas sebab cuaca dan cahaya matahari yang menembus kaca jendela, menyebabkan dirinya berkeringat cukup banyak.
Gerah dengan keadaan, membuat Hana izin keluar kelas dengan dalih ingin ke toilet. Tetapi itu tidaklah menjadi tujuannya. Karena gadis itu hanya ingin menghindar dari sengatan cahaya matahari yang menerpa. Di sebuah sudut lorong, Hana memandang keluar jendela yang mana tidak terpancar langsung sinar matahari. Gadis itu membayangkan kembali akan imajinasi yang muncul secara tiba-tiba. Terlihat senyuman mulai terbentuk diwajahnya.
Keringat yang mengucur, perlahan mulai berkurang. Setelah beberapa menit, gadis itu akhirnya kembali masuk ke ruangan kelas.
Jam istirahat, Hana pergi ke tribun lapangan basket untuk menonton aktivitas latihan tim basket sekolahnya. Namun, saat itu juga muncul imajinasi yang membuatnya tidak fokus memandang para pemain basket itu.
"Imajinasiku timbul lagi. Pemikiran layaknya fantasi ini menjebakku di setiap waktunya. huft.."
Gumam Hana dalam hati.
Beberapa saat kemudian, sebuah bola basket jatuh di dekatnya. Hana memandang bola tersebut, sebelum akhirnya seseorang memanggilnya agar memberikan bola itu padanya.
"Bola ini... Aku baru saja berpikir bahwa aku akan menjadi seorang pebasket hebat. Tapi..." Hana ragu dengan apa yang dipikirkannya.
Seketika sebuah tangan menepuk bahunya, dan mulai mendorongnya dengan kuat. Gadis itu terjatuh bersama bola basket yang di pegangnya.
Seluruh pemain basket sekolah itu melihat Hana yang tersungkur tersebut.
Hana bangkit, lalu memegang bola basket dengan kedua tangannya.
"Jikalau ini imajinasi, seharusnya aku sudah harus membuat salah satunya menjadi kenyataan. Tidak hanya sekedar hal fantasi semata."
Ia mulai memasang ancang-ancang, lalu mulai berlari sambil mendribel bola basket tersebut.
Satu dua orang berhasil dilewatinya. Hingga bagian akhirnya, dirinya mengeluarkan sebuah skill mengecoh pemain lawan. Dan berhasil memasukkan bola dengan gaya yang keren.
Gadis berseragam sekolah itu berdiam diri sejenak menghela nafas. Dan terdengar tepuk tangan dari para pemain basket sekolah yang berada di belakangnya.
"Itu keren sekali!" Ucap salah seorang pemain.
Mendengar pujian dari mereka, membuat Hana tersipu malu.
"Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah aku berhasil keluar dari jebakan fantasi yang ada di kepalaku? Dan imajinasiku menjadi suatu kenyataan?" Tanya Hana pada diri sendiri.
Beberapa orang menghampiri Hana, lalu melemparnya ke atas sebagai tanda keberhasilannya.
"Aku benar-benar melakukannya!" Kata Hana dengan perasaan bahagia.
Pagi hari alarm berbunyi dengan keras. Sebuah air di siram kepada seseorang yang masih tertidur.
"Bangun! Sudah saatnya untuk pergi ke sekolah."
Orang yang di siram se-ember air itu adalah Hana. Sang ibu membangunkannya karena tidak terbangun selepas alarm berbunyi terus menerus.
"Ternyata itu hanyalah mimpi belaka. Aargghh!"
Kesalnya.
Hana bergegas pergi menuju sekolah dikala kekesalannya masih tertanam dalam hati.
Di sekolah, ia mencoba menghabiskan jam istirahatnya di tribun lapangan basket untuk melihat latihan para pemain tim basket sekolahnya. Beberapa saat kemudian, sebuah bola basket datang menghampirinya. Ini seperti dejavu bagi Hana layaknya yang ada di mimpinya tadi pagi.
"Apakah ini pertanda bahwa sudah saatnya untuk mewujudkan bayangan imajinasiku ini? Saatnya melepasnya dari jebakan pikiran fantasiku."
Hana mulai berdiri sambil memegang bola basket.
Saat jam istirahat habis, Hana memasuki kelas dengan ekspresi kesal.
"Ternyata apa yang aku harap dan bayangkan, tidak sesuai dengan realitanya." Ujarnya sambil memegang benjolan di kepalanya.
Sebelumnya, ia sempat terjatuh saat membawa bola basket tersebut. Dan membuatnya di tertawakan oleh seluruh pemain tim basket sekolahnya karena kejadian itu. Tentu ini menjadi momen yang tak terlupakan bagi Hana di masa sekolahnya tersebut.
-----SELESAI-----