Seorang wanita yang sederhana yang jatuh cinta dengan pria tampan namun tak pernah sedikitpun melihat kearahnya atau sedikit pun tak pernah menganggap bahwa wanita yang mencintainya itu sebagai manusia.
Aku Reyna orang-orang biasa memanggilku Rey, Aku seorang yang mempunyai IQ diatas rata-rata bisa dibilang orang yang jenius, tetapi IQ ku menurun ketika berhadapan dengan orang yang aku sukai bahkan terkadang aku bertingkah konyol dihadapannya, Aku bisa dibilang tidak pernah jatuh cinta pada seorang Hingga menjadi bodoh dihadapannya untuk membuat dia ingat denganku, tetapi tetap saja bagaimana pun dia tidak akan pernah menganggapku ada.
Pertemuanku dengannya berawal saat kami pertama kali masuk SMA, aku dan Yubin satu kelas dijurusan yang sama ya itu IPS, Awalnya aku tak begitu tertarik dengan Yubin karena sikapnya yang dingin dan angkuh bahkan bisa dibilang orang paling sombong di sekolah kami.
Namun semua pandanganku terhadapnya jadi berubah karena dia yang diam-diam membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan, bahkan tanpa diketahui oleh orang yang ia bantu, hal ini sering kali ku dapati saat dia diam-diam membantu orang lain, aku tiba-tiba menjadi sering memperhatikannya dan selalu mengkhawatirkannya.
Aku selalu mencari cara agar dia meingatku dia bahkan selalu lupa namaku padahal aku duduk dibelakangnya, Aku selalu mengerjainya disetiap ada kesempatan namun dia bahkan tak pernah menganggapku ada, aku hanya seperti angin baginya dan aku tidak menyerah semudah itu.
===============Hari Kelulusan Sekolah========
Hari ini adalah hari bahagia bagiku bagaimana tidak, hari ini hari terakhirku menjadi seorang siswa sekolah menengah akhir, Aku begitu antusias dengan acara hari ini hingga selesai pengumuman kelulusan.
Kami semua berkumpul di lapangan dan saling memberikan selamat dan juga mendiskusikan tentang melanjutkan studi, Aku berjalan kearah Yubin, "Hey, ini hari terakhir kau bertemu denganku selamat akhirnya kau lepas dariku" Ucapku mengagetkannya dan mengatakan hal itu dengan semangat, "Aku tidak peduli" Jawabnya lalu pergi begitu saja, Aku menghela nafas panjang, (Kenapa dia tidak pernah menghiraukanku) aku bergumam dalam hatiku tentang sikap Yubin kepadaku dia tidak pernah mengobrol denganku.
Aku melihat dari tempat ku berdiri Yubin sedang asik mengobrol dengan sahabatku Silvy, Silvy adalah sahabat karibku sejak kecil dia orang yang ceria dan juga cerdas, bahkan orang-orang sering memanggil aku dan Silvy sebagai berlian .sekolah karena kami mempunyai IQ diatas rata-rata, Aku iri dengan Silvy yang bahkan bisa bercanda dan tertawa lepas dengan yubin.
Aku terus memandangi mereka sambil tersenyum kecil,Silvy melihat kearahku dan melambaikan tangannya aku juga membalas lambaian tangannya,Yubin berbalik melihat kearah ku, aku berbalik dan berjalan kearah lain, "Hey Reyna" teriak Silvy dari belakang namun aku berpura-pura tidak mendengar teriakkan Silvy aku terus berjalan cepat hingga ke toilet.
Aku menatap wajahku dicermin lalu tersenyum dan menghela nafas panjang agar tidak Terlihat semangat seperti biasanya, Aku keluar dari toilet dan kembali ke lapangan aku mencari keberadaan Silvy dan tiba-tiba ada menepuk pundakku, "Hey kau dari mana aku mencarimu dari tadi" Silvy mengomel dan juga ekspresi wajah yang terlihat kesal.
Aku memandangnya dan melihat kearah orang yang berada disampingnya lalu tersenyum kecil, "Aku ke toilet" Jawabku lalu merangkul Silvy, "Kau ketoilet?" tanyanya, "Iya ketoilet" Jawabku lagi, "Hm kenapa tidak mengajakku?" tanyanya, "Aku sudah tidak tahan" Jawabku dengan ekspresi meyakinkan, "Baiklah'?" jawabnya lalu merangkulku juga.
Kami semua berfoto dan bersenang-senang untuk hari terakhir kami berkumpul, "Hey Reyna kau hari ini terlihat berbeda" Ucap Silvy yang sepertinya mengamati gerak-gerikku, "Maksudmu?" tanyaku, " ya biasanya kau selalu mengganggu Yubin" jawabnya, "Hari ini terakhir jadi aku tidak mau mengganggunya" Jawabku, "Justru hari terakhir harusnya kau mengganggunya habis-habisan" Jawab salah satu teman sekelasku, "Sudah 3 tahun aku mengganggunya itu tetap saja tidak akan menjadi kenangan baginya, dia bahkan tidak pernah ingat namaku" Jawabku sambil tertawa.
Mereka semua menatap kearahku, "Kenapa?" Tanyaku waspada, "Kau menyerah?" tanya Silvy, "Maksudmu?" tanyaku bingung, "Baik aku mengerti" jawabnya yang membuatku bingung, "Sudahlah lupakan ayo kita lanjutkan pestanya" Ucapku untuk memecah suasana yang tiba-tiba jadi hening.
selesai dari pesta kelulusan aku pulang bersama Silvy, "Kau yakin menyerah begitu saja?" tanyanya, "Maksudmu?" tanyaku, "Tentang Yubin" Jawabnya, "Aku bisa apa dari awal dia memang membenciku" Jawabku, "Baiklah terserahmu" Jawabnya, "Hm aku akan mencari yang baru" Ucapku, "Bagaiman caranya?" tanya Silvy, "Di universitas tentunya" jawabku mengedipkan mataku, "Ok aku mengerti" Jawab Silvy dan juga tersenyum dan mengedipkan mata nya.
===========Mahasiswa baru======
Akhirnya tiba juga hari penerimaan mahasiswa baru aku dan Silvy membawa koper keasrama dan menyiapkan kebutuhan kami selama sebulan,
"UNTUK PARA MABA DIHARAPKAN UNTUK BISA BERKUMPUL DIAULA" tiba-tiba pengumuman senior terdengar dan kami bergegas ke aula kampus.
"Besok jam 8 tepat kalian harus sudah berkumpul mengerti" tegas kakak senior, "Mengerti" jawab mahasiswa baru serentak, "Baik semuanya silahkan kembali ke asrama masing-masing" Kakak tingkat membubarkan kami, aku berjalan cepat menuju asrama sesampainya dikamar aku pun membereskan semua barang ku dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur yang sudah disiapkan oleh pengurus asrama, " Akhirnya selesai juga" Gumamku, "Hey kau dikamar aku mencarimu kemana-mana hampir saja aku menghubungi Yubin" Silvy begitu kesal memasuki kamar asrama sambil mengoceh dan membereskan barang-barangnya, "Hubungi saja dia tidak akan peduli" Jawabku cetus, "Dia akan panik tidak mungkin dia tidak peduli" Oceh Silvy lagi, "Terserah kau saja" jawabku lalu berjalan membuka pintu, "Mau kemana kau?" teriak Silvy, "Aku mau jalan-jalan sebentar" Jawabku, "Hati-hati jangan sampai tersesat" Teriak Silvy, "Kau kira aku anak kecil" Ocehku sambil berjalan.
Aku berdiri dijembatan yang menghubungkan sebuah sungai kecil, "Huft, rasanya sangat tenang" Gumamku sambil memandang kearah sungai, Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrakku, "au"Aku meringis kesakitan dan melihat siku ku yang terluka, "Kau baik-baik saja?" tanyanya, "Kau bisa lihat kan tanganku terluka" jawabku kesal, "Maaf saya tidak sengaja" ucapnya sambil meniup luka disikuku aku melihat kearahnya lalu menarik tanganku menjauhkan darinya, "Tidak apa-apa" Jawab cetus dan berdiri lalu meninggalkannya," Hey Tunggu" teriaknya menghentikanku aku tetap berjalan tanpa memperdulikannya.
Aku mencari kotak p3k dikamar asramaku untuk mengobati lukaku, "Kenapa sikumu?" tanya Silvy, "tidak apa-apa"Jawabku, "Hari pertama kau sudah terluka kenapa tidak hati-hati" Oceh Silvy, "Kau mau membantuku mengobati luka atau hanya mau mengoceh" ujarku kesal, "Baik-baik akanku bantu" Ucapnya lalu mengobati lukaku.
*****Pagi hari
"Kau sudah siap?" tanya Silvy, "Kau tidak perlu bertanya kau punya mata untuk melihat" cetusku, "Kenapa kau jadi kejam sekarang" ucapnya dengan ekspresi sedih, "moodku sedang buruk"Jawabku, "Baiklah aku akan menghiburmu" Jawabnya semangat, "Sudahlah ayo cepat bersiap" Suruhku pada silvy.
Aku berdiri ditengah lapangan yang sangat luas sambil memperhatikan sekitarku, Tanpa diduga aku bertemu denga Yubin lagi aku merasa sangat senang dan berlari kearahnya, "Yubin apa yang kau lakukan disini?" tanyaku padanya dengan semangat, "Kau lagi kau membuntutiku bukankah kau sudah bilang tidak akan menggangguku lagi" Jawabnya cetus, "Itu karena aku mengira kita tidak akan bertemu lagi tapi sekarang kita bertemu lagi aku akan tetap mengganggumu" jawabku dengan bahagia, dia berjalan menjauh dariku aku tetap mengikuti langkahnya, "Kau bisa menjauh dariku kan" dia berbalik dan memintaku menjauh darinya, "Tidak bisa" Jawabku terus mengikuti langkahnya, Dia menghembuskan nafasnya dengan ekspresi kesal aku suka melihat ekspresi itu aku akan terus mengganggunya untuk melihat ekspresi kesalnya.
Aku berdiri dibelakangnya dan mendengarkan pengumuman dari kakak senior yang sedang berdiri didepan kami, setelah beberapa poin disampaikan kami disuruh istirahat sejenak, "Hey kau yang dijembatankan? apakah lukamu sudah diobati?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri dihadapanku dan mengecek sikuku, "Tidak apa-apa sebentar lagi akan sembuh" Jawabku dan menepis tangannya dari sikuku, "Apa kau masih marah maafkan aku,aku tidak sengaja" ucapnya meminta maaf, "Tidak apa-apa tida perlu minta maaf ini salahku sendiri menghalangi jalanmu" Jawabku tersenyum lalu meninggalkannya.
"Yubin tunggu aku" teriakku pada Yubin yang sedang berjalan cepat aku berlari kearah dan menghalanginya, "Apa yang kau lakukan" tanyanya kesal, "Kau tidak mendengarku berteriak" Jawabku terengah-engah, "Aku bilang jangan ganggu aku" bentaknya aku terdiam dan menunduk lalu melihat kearahnya dan berjalan menjauh darinya.
*6 bulan kemudian
Setelah hari dia membentak ku aku hanya berhenti 2 hari mengganggunya setelah itu aku lanjut mengganggunya lagi seperti biasanya tapi kali ini dia terlihat tidak kesal namun beberapa kali aku melihat senyuman dibibirnya karena tingkahku aku merasa kali ini punya kesempatan untuk mendapatkan tempat di hatinya.
Aku berjalan buru-buru kekelas karena aku lupa membawa catatan dan ini membuatku telat masuk kelas, "Hey kenapa kau telat?" tanya Silvy, "Aku lupa membawa catatan" jawabku, Silvy menggelengkan kepalanya lalu kami mendengarkan dosen yang menjelaskan pelajaran.
Selesai kelas aku kekantin untuk makan siang aku membawa nampan makan siangku dan mencari tempat duduk aku melihat Yubin yang sedang makan sendiri dan aku berjalan menuju mejanya lalu meletakkan makananku dan duduk didepannya, dia hanya menatapku sebentar lalu melanjutkan makannya kali ini dia benar-benar terlihat tidak merasa terganggu dengan kehadiranku, "Hey boleh bergabung?" Tanya seorang senior pada kami, "Maaf kau bisa cari meja lain" Jawab Yubin, senior itu tersenyum lalu mencari meja lain, "Kenapa kau menolaknya untuk bergabung? bukankah dia sangat cantik" tanyaku padanya, "Sudah cukup satu pengganggu" Jawabnya, "Baiklah" Jawabku lalu melanjutkan makanku.
Beberapa hari berlalu Yubin terlihat akrab dengan senior yang ia tolak untuk makan bersama, "Hey bukankah kau bilang cukup satu pengganggu" ucapku pada Yubin, "Dia bukan pengganggu sepertimu" jawabnya dan berjalan meninggalkanku entah mengapa kali ini aku merasa sedih mendengar kata-katanya.
"Hey kemari bergabung dengan kami" sapa kakak senior padaku ia makan bersama dengan Yubin aku berjalan menuju mereka dan duduk disamping kakak senior, "Apa kau dan Yubin sudah kenal lama?" tanyanya padaku, "Lumayan lama" Jawabku sambil menyuap makananku, "Kalian terlihat sangat akrab" Ucapnya, "Tentu saja akrab dia selalu berada dimana pun aku berada" Jawab Yubin membuat ku tersenyum, "Ia aku ada dimana pun dia berada tapi tidak pernah dianggap ada" jawabku masih sibuk dengan makananku, aku melihat kearah Yubin dan Kakak senior terlihat ekspresi Yubin seperti sedang merasa bersalah dan kakak senior yang sedang terkejut dengan kata-kataku, "Aku hanya bercanda" Ucapku lagi lalu berdiri dan meninggalkan Yubin dan kakak senior.
"Yubin apa kau tidak menyukainya?" tanya kakak senior pada Yubin, "Awalnya saya merasa terganggu Dengan ulahnya tapi sekarang saya merasa terhibur dengan tingkahnya" jawab Yubin jujur, "Cobalah bersikap perhatian padanya selagi di masih mengejarmu" kakak senior menasihati Yubin untuk mulai memperhatikan Reyna, "Aku tidak pernah memikirkan tentang berpacaran jadi aku tidak ingin memberikan harapan untuknya" jawab Yubin, "jangan sampai menyesal nantinya" jawab kakak senior lalu pergi meninggalkan Yubin.
Yubin memikirkan perkataan kakak senior berhari-hari hingga kata-kata itu dianggapnya siksaan untuknya akhirnya dia memutuskan untuk mendekati Reyna, dia melihat segerombolan orang sedang mengelilingi sesuatu saat ia melihat ternyata kakak senior yang sedang menahan sakit ditangannya karena tertumpah air panas terlihat juga Reyna yang sangat khawatir dan terus meminta maaf pada kakak senior, "Ada apa ini kenapa bisa begini?" tanya Yubin, "Maaf aku tidak sengaja menumpahkan air panas pada kakak senior" jelas Reyna, "Kenapa kau sengaja menumpahkan air panas hah? kau mencelakai siapapun yang dekat denganku apa kau tidak sadar kalau aku tidak menyukaimu mulai sekarang menjauh dariku dan menjauh dari orang-orang terdekatku mengerti" bentak Yubin pada Reyna, "Aku tidak sengaja" Jawab Reyna sambil menahs tangis dan mengikuti Yubin yang sedang memapah kakak senior, "Aku bilang menjauh dari kami jangan ganggu kami lagi" bentak Yubin, Reyna terdiam dan pergi dari hadapan Yubin dan kakak senior.
"Sudahlah Rey kau jangan menangis lagi kau tidak sengaja" Silvy berusaha menenangkan sahabatnya yang menangis dari siang hingga malam hari, "Baik karena dia memintaku untuk tidak mengganggunya lagi mulai sekarang aku memutuskan untuk tidak muncul dihadapannya lagi" Ucap Reyna tiba-tiba membuat Silvy khawatir, "Apa kau yakin?" tanya Silvy, "Tentu saja" jawab Reyna, "Baiklah aku akan mendukung keputusanmu" ucap Silvy untuk menghibur sahabatnya.
*pov kakak senior dan Yubin
"Kenapa kau memarahinya seperti itu disini dia tidak bersalah sama sekali" Ucap kakak senior, "Dia melukai orang-orang sekitarku karena cemburu aku tidak suka itu" jawab Yubin dengan kesal, "Kau sungguh berpikir dia melukaiku? padahal yang terluka parah adalah dia kau tidak melihat kaki dan tangannya yang melepuh? kau hanya melihat beberapa jariku yang memerah?" tanya kakak senior yang kecewa dengan yubin,"Dia terluka?" tanya Yubin tidak percaya, "Aku yang tak sengaja menabraknya bukan dia yang menumpahkan air panas itu" jawab kakak senior, "Tapi tetap saja dulu dia melukai teman dekatku hingga harus pindah sekolah" jawabnya, "Apa temanmu itu bernama bela?" tanya kakak senior, "bagaimana kau tau?" tanya Yubin, "Dia adik sepupuku dia pindah keluar negri untuk berobat dan jika saja Reyna tidak memotong tali yang terikat ditangan bela,bela pasti sudah meninggal" jelas kakak senior pada Yubin, "jadi bukan Rey yang mencelakai bela?" tanya Yubin terkejut, "Kau berpikiran buruk tentangnya hingga tega beranggapan dia mencelakai orang lain" jawab kakak senior dengan ekspresi kecewa.
Yubin yang mendengar penjelasan dari kakak senior berlari keluar dan mencari Reyna namun Reyna terus menghindar dari Yubin hingga akhirnya Yubin bisa menahan Reyna, "Kenapa kau menghindar? kenapa kau tidak menjelaskan semuanya padaku?" tanya Yubin menahan tangisnya, "Kau yang menyuruhku pergi, dan saat aku menjelaskan apakah kau percaya?" jawab Reyna pergi namun ditahan oleh Yubin " maafkan aku, aku salah sangka denganmu apakah bisa aku menjadi orang yang penting bagimu seperti sebelumnya?" tanya Yubin, "Maaf aku tidak bisa seperti dulu lagi aku lelah mengejarmu,aku lelah mengganggumu,aku lelah dengan tuduhanmu saat orang-orang terdekatmu terluka" ucap Reyna menahan tangisnya, "Maaf apakah bisa kita memulainya dari awal aku Yang akan mengejarmu aku akan perhatian padamu aku bersungguh" Ucap Yubin yang benar-benar tulus dan tak bisa menahan air matanya lagi, "Maaf aku tidak bisa, jaga dirimu baik-baik aku tidak bisa cerewet padamu lagi" ucap Reyna dan pergi dari hadapan Yubin.
Yubin berdiri menatap Reyna yang berjalan menjauh darinya, ia duduk ditaman hingga malam memikirkan kesalahan yang ia perbuat, "Yubin, Reyna akan pergi" ucap seseorang terengah-engah berlari kearahnya, "Pergi? kemana?" tanya Yubin, "Dia akan pindah keluar negri" jawab Silvy, Yubin berlari mencari Reyna hingga kedepan gerbang ia melihat Reyna yang sedang menunggu taksi ia memeluk Reyna dan berkata "Maafkan aku Rey aku mohon jangan pergi" Ucapnya sambil menangis, "Maaf sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, dan sepertinya kau memang bukan takdirku" jawab Reyna melepaskan pelukan dari Yubin dan memasuki taksi.
Yubin tertunduk dan menyadari betapa sakitnya kehilangan seseorang yang selalu ada disampingnya.
TAMAT
yey Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerpen ini mohon maaf jika cerita kurang memuaskan.
Terima kasih.