Kudus,Jawa Tengah
Matahari bersembunyi dibalik awan. Begitu malu melihat tingkah anak manusia yang melupakan seruan Tuhan.
Langit dipenuhi warna yang terjatuh dari langit. Suara sang burung kian nyaring terdengar. Tapi Aku lah yang membuat suasana semakin hidup.
"Luna,ayo maju!" Saut Nenek memanggilku.
Aku beranjak dari kursi,tubuhku kotor dan mungkin Nenek akan memarahiku.
"Ya Gusti,kamu kan perempuan. Ayo mandi dulu." Nenek selalu marah. Sepertinya dia begitu membenciku. Ingin rasanya keluar dari tempat ini. Ayah dan ibu begitu kejam. Seharusnya anak seusiaku bermain-main.
Pagar pondok pesantren menjadi pembatas dunia luar. Aku bosan. Mengaji,sholat,tidur, sholat,makan,tidur membuat pikiranku kalut.
Kenapa dunia sekejam ini?
***
"Nenek,aku dah apal Al ikhlas." Begitu gembira hatiku. Umur 7 tahun sudah menghapal surat pendek beserta hukum tajwidnya. Aku anak jenius,yeah!
"Cucu Nenek,Memang pandai." Nenek mengusap kepalaku. Nenek baik sekali,Ia tak pernah membeda-bedakan Aku dengan anak lainnya. Dimata beliau, Aku sama seperti mereka. Bahkan Aku bercita-cita menjadi pemilik pondok pesantren dan menjadi kebanggan Ayah dan Ibu.
"Nenek,aku mau nanya. Kenapa Al ikhlas gak ada bacaan ikhlas di arabnya?" Nenek tersenyum,giginya masih putih,wajahnya begitu cerah. Padahal beliau berkulit sawo matang. Nenek berdiri dan ikut duduk dilantai. Baru pertama kalinya aku melihat nenek tersenyum.
"Nak, tulus ora usah dituduhake. Allah ngelingake kita yen tulus bakal ngasilake kabegjan. sanajan angel, nanging iki urip.(Nak, ketulusan tidak harus ditunjukkan. Tuhan mengingatkan kita bahwa ketulusan akan menghasilkan kebahagiaan. Meski sulit, tapi inilah hidup)." Aku tak tahu artinya. Tapi aku paham kalau Nenek mengeluarkan jurus andalannya. Menasihati cucunya.
Namaku Luna Wulandari, anak sewata wayang. Kedua orang tua ku bekerja pagi dan malam. Aku dibesarkan di pondok pesantren milik Nenek. Aku berfikir bahwa hidupku akan bahagia tapi itulah kesalahan terbesarku.
"Assalamualaikum," Aku tak asing dengan suara itu. Aku berdiri dan berlari begitu cepat hingga tak menyadari ada gelas kaca di depanku. Aku berusaha menghindari gelas kaca tapi lantai terasa licin sehingga aku terjatuh. Bruuk! Sakit sekali. Aku takut membuka mata,mata ku terasa perih karena tak ingin terlihat lemah. "Luna…Bangun nak!" Perlahan kubuka mataku,nampak wajah cantik bagaikan sebuah boneka menatapku penuh khawatir. Jantungku berdegup lebih kencang,melihat tangan kananku terbasahi cairan berwarna merah Aku tak tahu sebutan untuk cairan merah yang keluar dari kulit. "Ibu…" lirihku sambil memeluk. Nenek berusaha mengobati luka ku. Bagiku tak ada luka yang tak dapat disembuhkan selain luka yang diakibatkan oleh kerinduan.
***
"Ibu,aku rindu. Kenapa Ibu lama banget sih?" Ibu mengelus rambut hitamku. Nenek,Ibu,dan Ayah memarahiku karena susah dibilangin Nenek. Aku tak tersinggung. Bagiku itu bentuk kasih sayang mereka. Setelah itu,aku tertidur dipelukan ibu.
Keesokan harinya..
"Nak,perbanyaklah amal. Karena amal akan menjadi penolong setelah kematian." Dengan sudah payah ku tahan kantuk yang semakin melemahkan kesadaran. Untuk sekian kalinya Aku mendengar nasihat terus menerus tapi kali ini beda. Ibu lah yang berada di mimbar bukan Nenek. Aku ingin bermain bola,tapi mereka memaksaku untuk ikut dalam pengajian.
Sudah ku berikan alasan luka yang belum sembuh,tapi tetap saja tak berhasil.
"Kebakaran!" Semua orang panik dan berhamburan keluar. Sayangnya asap sudah mengepung pesantren. Yang ku lihat hanya kabut,Ibu menggenggam tanganku begitupun dengan Ayah. "Tolong…" Lirih seseorang membuatku panik. Tanpa ku sadari Ibu melepas genggaman tangan dan menghilang dalam kepungan asap. Aku, Ayah,dan Nenek beserta santri lainnya selamat. Aku berusaha menerjang api demi menyelamatkan Ibu tapi usaha ku sia-sia, Ayah terus menghadangku.
"Ayah...ibu?!" Ayah memeluk tubuh mungil ku. Tak ku sangka sikap Ayah hanya diam seribu bahasa tanpa berusaha menyelamatkan Ibu. Suami macam apa dia? Beberapa menit kemudian seseorang berjalan dalam kepulan asap, Aku pikir Ibu yang keluar. Ternyata pikiranku salah,bukan Ibu yang keluar dari kepulan asap yang membara melainkan santriwati. Dimana Ibu? Kulihat matanya sembab,tak tahu apa yang dia rasakan.
Beberapa jam kemudian,pemadam kebakaran tiba di lokasi. Aku marah keterlambatan mereka membuat hidup Ibu sedang dipertaruhkan. Setelah memadamkan api,mereka tak membawa Ibu kembali. Nenek dan Ayah menangis. "Paman,dimana Ibu ku?" Aku berusaha berfikiran positif bahwa Ibu masih hidup. Salah satu pemadam kebakaran tertunduk dan mensejajarkan tubuh mungil ku." Maaf kan,paman. Tuhan lebih menyayangi ibumu." Semua orang histeris mendengar penjelasan paman,tidak denganku. Kalau Tuhan sayang sama Ibu kenapa aku tidak ikut? Maksudnya, Aku menyayangi Ibu dan Ibu juga menyayangiku lalu kenapa Tuhan hanya menyayangi Ibu dibanding Aku? Sangat tidak adil. "Dimana Ibu?" Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan ku.
Ayah mendekat dan berusaha menahan air matanya,"Ibumu,sudah meninggalkan dunia ini. Meninggalkan Kita semua. Ibu sudah bahagia diatas sana." Bersamaan dengan itu petir menyambar,Aku belum mengerti ucapan Ayah. Meninggalkan dunia? Meninggalkan kita semua? Bahagia diatas sana? Apa maksudnya? Lalu Ayah memelukku dengan erat. Menit berikutnya Aku paham dengan ucapan Ayah. Tubuhku seolah membeku. Kulepas pelukan Ayah dan berlari ke pesantren yang hangus terbakar.
Alam seakan mengerti keadaan ku,Kesedihanku.kupeluk abu berwarna hitam ditengah hujan. Tak peduli dengan serpihan kaca yang melukai tanganku lagi. Jika Aku terluka,Ibu tak kan tenang.
"Ibu!"
***
Beberapa tahun kemudian…
Jakarta
"Geser dikit,pas." ceklek. "Lun,hari ini pementasan desain baru." Aku berjalan mengikuti arahan asistenku. Setelah pemotretan,ada pementasan. Benar-benar melelahkan. "Luna Wulandari." Aku berjalan diatas panggung dengan anggunnya. Pakaian selutut ini pas untuk kulitku yang berwarna putih susu. Rambut hitam yang ditata sedemikian rupa membuatku seperti bidadari yang jatuh dari surga. "Wah,cantiknya." Dasar pria hidung belang!
Setelah pementasan,kulihat pantulan melalui cermin. Gadis kecil berjilbab sudah tidak ada, yang ada kini gadis seksi yang dicintai banyak orang.
Hidupku berubah 180 derajat. Semenjak Ibu meninggal dunia. Andai saja Ibu masih hidup pasti hidupku tak kan menjadi begini. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga memasuki daftar sepuluh orang paling kaya di Indonesia. Kemewahan sudah kudapatkan dengan mudah tapi tidak dengan rasa kecewaku. Kecewa akan tindakan Ayah tidak berusaha menolong Ibu. Kecewa dengan diriku sendiri. Tak bisa memenuhi nasihat Ibu untuk menutup aurat.
Ponselku berdering tertera nama 'Direktur Utama' "Hallo,ada apa?" Serak suara yang membuatku membencinya,"Nak,pulanglah. Perusahaan Ayah bangkrut." Tercengang mendengar penjelasannya membuatku lari tunggang langgang menuju rumah. Selama diperjalanan banyak yang bertanya apa yang terjadi denganku?
Rumah mewah tertutup papan bertuliskan 'rumah ini disita bank' "Ayah,kenapa bisa bangkrut?" Ayah tak menjawab dan menyuruhku untuk membawa tas berisi pakaian. Untunglah Nenek ingin mengunjungi Kami. Nenek begitu sedih dan akhirnya Kami pulang ke kampung halaman. Dimana raga Ibu hangus terbakar.
Aku tak mengerti dengan Ayah,kenapa perusahaan paling disegani justru bangkrut? Atau Ayah sedang merencanakan sesuatu?
"Nduk,sampeyan bocah wadon(kamu anak perempuan). Tutup auratmu. Ibumu mesti sedhih."
Ucapan Nenek membuatku marah,"Nek,kalau ngomong pakai bahasa indonesia dong! Aku lahir di Jakarta,bukan di Jawa."
Nenek terdiam begitupun dengan ayah. Selama beberapa jam kami terduduk di bus. Ayah mendekat dengan ekspresi tenangnya,"Memang benar kamu lahir di Jakarta,tapi kamu nggak bisa mengelak kalau Ayah dan Ibu orang Jawa. Mengerti?" Aku sudah terbiasa dengan sikap Ayah.
***
Kudus,Jawa tengah
Akhirnya kami tiba,tempat dimana Ibu pergi. Pondok pesantren sudah diperbaiki tapi tak bisa memperbaiki masa lalu. Ingin rasanya pergi meninggalkan tempat ini.
"Ayo,nduk." Aku dan Nenek masuk tapi tidak dengan Ayah. "Ayah,nggak masuk?" Ayah tersenyum dan pergi dengan langkah cepat. Aku berusaha mengejar,sayangnya jejak Ayah menghilang.
Nenek menarik tanganku untuk masuk ke lembaran masa lalu. Pikiranku kosong,Aku mengingat kejadian itu. "Ini kamar kamu." Aku menoleh hingga mendapat jawaban,"Nenek,ini kan kamar khusus santriwati? Kok Nenek bilang ini kamar Aku? Sorry ya,tapi aku tuh sukanya punya kamar sendiri bukannya bareng-bareng." Aku keluar kamar dengan membawa koper,berjalan seperti diatas panggung. Ya,Akulah model terkenal.
"Kamu,nggak boleh keluar. Mulai hari ini Nenek akan perlakukan kamu seperti santriwati yang lain." OMG! Model super seksi menjadi santriwati? Ini konyol. " Dan mulai hari ini juga,kamu nggak boleh pakai baju begituan." Nenek memaksaku masuk,seluruh santriwati menutup matanya,"Apa!" Balasku dengan sewot sembari memasukan baju ke lemari.
"Astagfiraullah,tutup auratmu. Ini Aku pinjemin gamis." Aku menoleh ke gadis berpakaian super tertutup. "Eh,ini gaya gue. Elo nggak usah ikut campur!" Aku melempar gamis yang diberikan,para santriwati terus beristigfar sembari menutup mata. Emang aku terlalu menjijikan sehingga mereka menutup mata?
***
"Luna,bangun." Aku terbangun dengan mata sembab,rasanya kenangan itu terus mengikat. Kubuka lemari tapi…. "Baju gue kemana!" Nenek datang dan melempar beberapa gamis,"Udah Nenek bakar,sekarang pakai gamisnya. Pengajian mau dimulai." "Aku pakai gamis? Hahaha,ini gila!" Dubraak!
"Luna,banguun. Yah,dia pingsan."
"Masya allah,kamu cantik banget." Aku tak peduli dengan ucapan mereka.
Setelah itu,Aku belajar mengaji lagi. Awalnya Aku malas sampai punya rencana kabur dari pesantren.
Tengah malamnya,kubuka jendela dengan beberapa perkakas disamping lemari,akhirnya terbuka. Kututup jendela dan berlari menuju menara kudus. Aku terduduk dan melihat bangunan percampuran dua agama yaitu,Hindu dan Islam. Dulu,Aku dan Ibu berziarah ke makam. Hah,itu kenangan yang tak mungkin kulupakan. Oh ya,Aku mau kemana ya? Aku kan nggak tahu jalan menuju Jakarta. Dasar bodoh! Lalu Aku kembali ke pesantren,masuk melalui jendela yang dibobol. Aku lelah dan tertidur. Aku gagal melarikan diri.
Keesokan harinya..
"Luna,ikut Aku." Nih cewek ngeselin amat. Dari awal sok akrab sama Aku. "Kemana?" Dia mengajakku ke masjid disebelah pesantren. "Lihat,laki-laki itu. Dia ustadz paling ganteng disini. Lantunan mengajinya sangat indah,eh tunggu dulu…" Aku melihat laki-laki itu dengan bingung. "Hah! Wajah kalian mirip. Mitosnya kalau laki sama perempuan mukanya mirip pertanda jodoh lho." Aku memilih pergi tapi langkahku terhenti sepertinya Aku pernah lihat laki-laki itu. Waktu SMA,ada laki-laki yang wajahnya mirip denganku. Dia murid prestasi tapi miskin. Seorang anak yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan. Kalau nggak salah dia penderita kanker otak. Aku tahu karena beberapa kali dia izin sakit. Lanjutannya Aku nggak tahu yang pasti dulu pihak sekolah menggalang dana untuk penyembuhan kanker yang bersarang di otaknya.
"Luna tunggu,kamu mau beli batik buatan dia nggak?" Aku menoleh dengan wajah bingung,sejak kapan dia bisa buat batik? Aku berbalik badan untuk memperjelas kalau itu dia,teman sekelasku dulu. "Lo Nabil kan?" Dia mengangguk,Aku tahu dia malu dengan keadaannya. "Batik buatan Lo bagus juga. Ini berapa?" Walaupun Aku orang kaya tapi Aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku tahu rasanya disakiti saat Kita terluka.
"Yang itu 20 ribu,yang ini 30 ribu." Harganya terlalu murah untuk motif sebagus ini. "Gue beli semua. Nih uangnya. Semoga cepet sembuh ya pak ustadz." Dari dulu,Ibu mengajariku untuk mencintai produk negara sendiri. Walaupun tak sebagus negara lain tapi Aku bangga dengan budaya indonesia.
"Terima kasih,Luna." Aku membagi beberapa pakaian ke beberapa santriwati termasuk Nenek. Walupun perusahaan Ayahku bangkut, uang yang ditabung selama bertahun-tahun dapat membantu. Jujur saja Aku kasihan ama Nabil,biasanya penderita kanker otak sudah hampir tak memilki kesempatan hidup lama. Aku salut dengan perjuangannya,menjadi murid berprestasi mungkin mudah tapi tidak dengan menjalani hidup tanpa adanya dukungan. Aku bersyukur Nenek dan Ayah tetap bersamaku.
***
Beberapa bulan kemudian...
Selama ini,Aku tidak tahu keberadaan Ayah. Selama ini pula,Aku sering mendengar lantunan mengaji dari laki-laki itu. Awalnya Aku tak ingin memakai gamis dan bertindak sebagai santriwati tapi kenapa hatiku terasa damai saat mendengar lantunan mengaji. Aku merasa Ibu selalu mengamati gerak-gerik ku. Memilih jalan yang salah membuat hatiku teriris. Aku mearasa bahwa Tuhan menginginkan Luna yang dulu bukan yang sekarang.
Aku semakin kagum dengan perjuangan Nabil. Hampir setiap hari Aku menyuruhnya untuk mengajari cara membuat motif batik. Dari sana Aku sadar bahwa warisan dari Nenek moyang semakin lenyap akibat para pemuda dan pemudi bangsa Indonesia lebih memilih kebudayaan bangsa lain.
"Luna,mau Aku tunjukin pembuatan reog nggak?" Rumah kontrakan yang tak layak membuatku prihatin. Aku diperbolehkan Nenek untuk belajar membuat motif batik. Tapi kenapa Nenek tak banyak bicara saat melihat Nabil? Seharusnya Nenek melarangku berduaan dengan laki-laki? Aneh.
"Luna?" Kutaruh cating(alat tradisional motif batik) Kuperhatikan wajahnya,begitu bercahaya melebihi sinar rembulan. "Iya,mau. Eh! Reog kan besar." Nabil tersenyum melihat tingkah ku. "Hmhmh,besar dan berat. Tapi kalau kamu mau lihat pembuatannya kita mesti ke asalnya,Ponorogo." Ponorogo di Jawa timur,sedangkan ini di Jawa tengah. Berarti jauh banget? Apa Nenek ngasih izin ?
Aku kembali ke pesantren,sikap Nenek selalu biasa saja seperti ada yang disembunyikan. "Nek,boleh gak…." Nenek mengerutkan dahinya dan duduk di kursi kesanyangannya sembari meminum secangkir kopi,"mau apa nduk?" Aku harus berani,walau jantung ini selalu berdetak lebih kencang melihat sikap tenang Nenek. Kadang orang yang kelihatan tenang justru menyeramkan saat marah karena tak mengikuti nasihatnya. Aku takut Nenek memukul tanganku dengan rotan disampingnya,itupun karena Aku masih melepas hijab dan nggak mau mengaji. "Hmhmh,boleh gak kalau Luna ke Ponorogo?" Nenek menghentikan kegiatan meminum kopi,ekspresi sedih tergambar dalam mata. Nenek berdiri,"Buat apa nduk?" Aku berdiri dan memasang wajah memelas,"Luna,suka sama reog. Luna mau tahu cara pembuatannya. Boleh ya?" Nenek tersenyum sebelum melangkah pergi,"Kayane sampeyan kudu ngerti kabeh. Menyang ponorogo lan golek wangsulan(Sepertinya kamu harus tahu segalanya pergilah ke ponorogo dan temukan jawabannya). " Entalah maksud dari ucapan Nenek yang terpenting Aku diizinin,yeah!
Keesokan harinya…
"Hati-hati,nduk." Dapat kulihat raut sedih dibalik kaca bus. Nenek memberitahuku untuk belajar memahami warisan budaya agar Aku tak memandang negatif bahwa warisan itu untuk orang tua saja. Aku baru tahu kalau Nabil berasal dari Ponorogo. Dia begitu tenang padahal kanker menggerogoti otaknya. Sudah menjalani beberapa penyembuhan tapi tak berhasil. "Emm,emang Lo gak ngerasa sakit? Maksudnya,kan kanker bahaya Lo nggak takut mati?" Nabil tersenyum namun jauh didalam hatinya menyimpan kesedihan,"Memang sakit tapi tak sesakit ditinggalkan Tuhan. Aku nggak takut meninggalkan dunia asalkan Allah bersama denganku. Aku berusaha mendekatkan diri karena bisa saja hari ini Aku meninggal dunia." Apa ada orang yang sebijak dia? Disaat orang lain berusaha ke luar negri untuk pengobatan,dia hanya pasrah?
Ponorogo,Jawa Timur
Matahari bersinar melewati kelopak mata,angin bertiup begitu tenang,daun berterbangan mengikuti arah angin,langit berwarna biru,awan membentuk berbagai pola,rasanya seperti disambut mereka. Aku berlari bagaikan anak kecil,hatiku tenang. Nabil tersenyum,berjalan berdampingan bagaikan dua orang kekasih. Sebuah panti asuhan berada didepanku,membayangkan jika tinggal ditempat semacam itu. "Ayo,masuk." Miris memang tapi inilah hidup. Tawa anak-anak justru membuat hatiku sakit,entah apa yang terjadi. Nabil berbicara dengan pemilik panti,Aku melihat ada yang salah dengan tempat ini. Setelah itu Nabil menunjukkan kamar tidur. Aku tertidur begitu tenang,seakan tinggal di sini.
Keesokan harinya..
Aku menyiram beberapa tanaman dengan air,walau baru pertama kali tapi terasa bahagia. Bermain dengan anak-anak dan melihat motif batik yang ternyata memiliki ciri khasnya sendiri. "Luna." Dapat kudengar suara itu,Aku menoleh dan tersenyum. Aku berjalan lebih dulu,selama diperjalanan Nabil memberi tahu beberapa budaya disini. Aku tersenyum,dia cocok sekali jadi pemadu wisata.
"Nah,kalau yang itu namanya..." Aku berjalan didepannya sembari menoleh,"Reog kan?" Dia mengangguk. Aku takjub dengan orang yang memakai topeng sebesar itu. Menari-nari bagaikan orang kesurupan." Reog memilki arti penting bagi kami. Selain memperjuangkan kebenaran yang Kita yakini,juga mengingatkan identitas sebagai bangsa Indonesia. Aku sedih,baru-baru ini negara tetangga klaim bahwa reog milik mereka. Walau reog milik Indonesia pasti suatu saat nanti lenyap. Para pemuda dan pemudi zaman sekarang lebih mendewakan kebudayaan luar negri,warisan Nenek moyang tak ada artinya jika negara tetangga mengambil kebudayaan kami." Aku malu mendengar ucapan penuh pilu,sewaktu menjadi model Aku tergiur dengan kebudayaan luar negeri. Apa benar warisan Nenek moyang akan lenyap begitu saja?
"Kamu nggak harus ngomong gitu,Aku yakin gak semua orang menyukai budaya luar negeri." Walau terkesan terlalu berharap tapi biarlah. Aku diajak beberapa penari,tawaku lepas karena tidak menguasai tarian ini. Tak peduli Aku siapa yang terpenting mencintai budaya sendiri menjadi kebanggaan. Nabil tersenyum sembari melangkah mundur,semakin lama dia tak terlihat dibalik kerumunan. Aku berhenti menari dan mencarinya. Apa dia baik-baik saja? Kenapa Aku merasa takut jika hari ini adalah hari terakhir baginya?
Berdesakan berjalan lawan arah demi mendapat senyumannya. Baru saja bahagia kenapa hatiku pilu? Karena melawan arah,seorang laki-laki bersenggolan denganku sehingga terjatuh. Aku bangun walau ada luka dipergelangan tangan. Laki-laki paruh baya itu duduk dengan wajah lesu,Aku mengulurkan tangan padanya,"Maaf kalau saya ceroboh. Bapak nggak pa pa kan?" Laki-laki itu memegang pergelangan tanganku sembari berdiri,wajahnya kesal tapi dia kan..
"Ayah!" Aku bingung,setelah sekian lama apa yang Ayah lakukan disini. Ayah menarik tanganku dan membawaku menuju panti asuhan dimana Nabil berada. "Ayah,ngapain disini?" Ayah bungkam seribu bahasa dan membawaku masuk ruang tamu. Nenek dan ibu panti sudah disana. Tapi dimana Nabil? Lalu untuk apa Nenek dan Ayah kemari? Dapat kulihat kepiluan diruang ini. "Ada apa Ayah?"
Ayah memilih duduk,benar-benar bungkam.
"Ikut,Nenek." Nenek menggandeng tanganku,beliau menyuruhku untuk memakai sebuah gamis bermotifkan batik khas ponorogo. Setelah itu Nenek mengajakku ke alun-alun,tepat 2 jam yang lalu Nabil mengajakku.
Puluhan penari mengitariku beserta reog. Mereka menari begitu gembira,Aku tak tahu apa yang terjadi? Dua reog datang,mereka bersebelahan seperti menyembuyikan seseorang dibelakang. Bunga dilemparkan penari kearahku. Bersamaan dengan itu,laki-laki yang paling kucari datang dibalik dua reog yang menutupi dirinya. Dengan pakaian yang serasi denganku,dia tersenyum membawa wayang Arjuna. "Dunia boleh berubah tapi tidak dengan perasaanku. Semenjak Aku mengenalmu,sejak saat itu pula Aku mendapat dukungan bahwa hidup tak semenyakitkan yang kukira. Seperti perahu takdir yang bertemu dengan pantai indahnya.Aku berusaha keras untuk tidak terlalu mencintai tapi hati ini tidak setuju. Aku ingin melindungimu sampai akhir dunia ini. Aku mencintaimu dan Aku rasa ini adalah takdir." Dia mencintaiku? Tidak,ini pasti mimpi? Kutampar pipi dan hasilnya sakit. Jadi ini kenyataan? Apa Aku terlalu cantik sehingga dia membuat puisi seperti itu? Nabil tersenyum sembari berjalan kearahku," Mungkin kamu tidak mencintaiku,mungkin Aku hanya sebagai teman bagimu,tapi ingatlah,Kamu yang membuatku merasa lebih baik."
Aku merasa biasa jika didekat Nabil tapi tidak dengan hatiku. Apa Aku mencintainya? Aku menoleh dan mendapatkan ekspresi biasa dari Nenek. Apa Nenek tak memilki perasaan? Nenek melepaskan genggaman tangan,"Temui kakakmu untuk terakhir kalinya." Aku terkejut mendengar ucapan Nenek. Temui kakakmu? Untuk terakhir kalinya? Kakak? Terakhir kalinya? Reog? Batik? Nabil? Cinta? Apa maksud semua ini? Nenek pergi tanpa menjelaskan sesuatu. Kini Nabil berdiri dihadapanku. Kami hanya teman SMA lalu untuk apa perasaan ini? " Gamis yang Kau kenakan,itu Aku yang membuatnya. Luna,Aku harap kamu tak menjauh tapi terimalah beberapa kain ini. Aku tak berharap bahwa perpisahan kita menyakitkan tapi Aku sungguh mencintaimu. Terima kasih untuk segalanya,Luna." Nabil tersungkur semua orang panik dan membawanya ke rumah sakit. Pikiranku sungguh kosong.
***
Rumah sakit
Bulan tertutup awan,petir menyambar,hujan mengguyur tanah dengan serbuan rintik. Sudah tengah malam tapi Nabil belum sadar dari masa krisisnya. Nenek,Ayah,Ibu panti,dan Aku menunggu penuh khawatir. Jika saja ini hari terakhir baginya,Aku ingin mengucapkan ratusan atau seribu kali terima kasih dalam sehari. Awalnya Aku menganggap masalahku lebih berat dari siapapun,semenjak Nabil hadir dengan senyuman yang tak pernah pudar diwajahnya. Aku sadar bahwa ada orang yang lebih sulit dari pada yang Kita alami.
Dokter keluar dari ruang operasi,"Keluarga pasien?" Nenek,Ayah,dan Ibu panti berdiri dan diarahkan dokter menuju ruang operasi. Aku diam,duduk dibangku,menatap kesunyian beserta suara petir bercampur rintik hujan. Ku genggam wayang Arjuna dengan tatapan mendalam. Entah kenapa Aku merasa wayang ini tak asing dimataku?
Sudalah Luna,Kamu harus kuat. Dia baik-baik saja. Aku beranjak dari bangku,berjalan menuju ruang operasi tanpa memikirkan apapun. "Aku tahu sejak SMA. Saudara kembar yang Aku cari ternyata dia." Dapat kudengar suara itu,Aku harus tahu kebenarannya. Tadi Nenek yang bilang begitu sekarang Nabil buka suara.
Bersembunyi dibalik pintu membuatku semakin aneh. Kemana Luna yang tidak ikut campur masalah orang lain? Kemana Luna yang memikirkan dirinya sendiri? Syukurlah kondisi Nabil baik-baik saja. Apa benar Dia mencintaiku? Lalu siapa saudara kembar Nabil? Hmhmhm,rasa-rasanya seperti difilm dektetif. Penasaran tapi seru.
Kenapa mereka bungkam? Aku mendekat keujung pintu. Dapat kulihat tatapan kesedihan berjalan hikmat diruang operasi. Serangan beberapa nyamuk membuat tanganku terasa gatal. Tanpa kusadari wayang Arjuna terjatuh. Mengganggu momen saja.
"Maafkan Saya. Andai Saya tahu lebih awal,mungkin hidupmu tak kan menderita. Istri Saya tidak bisa mengandung. Awalnya Saya mengajak Istri Saya untuk berlibur ke Ponorogo,tanpa sengaja kami bertemu dengan anak perempuan yang menangis. Kami bertanya ke beberapa orang ternyata anak ini yatim piatu dan tinggal dipanti asuhan. Kami tertarik dan mengadopsinya." Suara Ayah menahan tangis,Aku tidak tahu apa yang dimaksud. Oh,ya wayangnya jatuh. Aku ambil wayang itu tapi serangan nyamuk membuatku kesal sehingga Aku tak bisa berdiri,lebih baik duduk.
"27 tahun yang lalu,Saya merapikan beberapa mainan di depan pintu. Saya melihat sepasang muda-mudi menggendong dua bayi. Mereka menangis dan meminta Saya untuk mengurus anak mereka. Sepertinya mereka masih berstatus sebagai pelajar,sudah Saya nasihati untuk mengurus anak mereka. Tapi mereka beralasan takut kalau orang tuanya tahu bahwa mereka memilki anak diluar pernikahan. Bahkan mereka berusaha membunuh bayi ini tapi tak berhasil. Akhirnya Saya mengurus dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,Saya begitu menyayangi bayi itu seperti anak Saya. Sewaktu Bapak mengadopsi saudara perempuan,Saya lupa kalau dia memilki kembaran."
Braak! Semua orang terkejut begitu pun denganku. Hatiku terasa sesak,Jadi selama ini Aku bukan anak Ayah? Aku saudara kembar Nabil? "Luna?" Aku mendekat dengan menahan air mata.
"Kalian menyembunyikan hal sebesar ini? Selama 27 tahun?!" Ayah mendekat dan berusaha menenangkanku. "Luna,dengerin penjelasan Ayah." Aku melepaskan wayang Arjuna dan melepaskan genggaman Ayah,"Penjelasan? Udah cukup. Luna udah denger semuanya! Kenapa kalian tega! Nabil,tadi Lo bilang suka sama gue kan? Hahaha,ternyata gue adik Lo,Saudara kembar Lo! Lucu." Mulutku sulit dikontrol semua kata-kata yang tidak jelas kukeluarkan sebagai bentuk kekecewaan.
"Luna,Aku juga berharap begitu tapi kebenaran yang ku perjuangkan ada didepan mata. A-adikku." Air mata mengalir,Aku pergi dari rumah sakit dan menangis sejadi-jadinya dibawah guyuran hujan. Kenapa semua ini terjadi? Aku baru menyadari perasaan padanya. Aku jatuh cinta pada saudara kembarku. Hahaha,lucu.
Perlahan kuberjalan melewati derasnya hujan,Aku kedinginan tapi kemarahan memuncak dihati. Sinar mobil menerangiku,bunyi klakson kian nyaring berbunyi. Aku harap ini hari terakhirku. Biarkan saja mobil itu menabrakku. Hidupku sudah hancur. Tin...Tin...Tin… Bruakk! "Luna,besok kita buat apa?" "Kamu nggak boleh benci sama budaya karena ini identitas Indonesia." "Jangan sering tidur saat pengajian ya,Luna." "Kepala reog itu namanya singo barong. Bukan barongsai itu berbeda." "Memang sakit tapi tak sesakit ditinggalkan Tuhan. Aku nggak takut meninggalkan dunia asalkan Allah bersama denganku. Aku berusaha mendekatkan diri karena bisa saja hari ini Aku meninggal dunia." "Aku mencintaimu."
Kubuka mata,rasanya pusing. Sinar matahari menerobos ruangan melalui sela-sela jendela. Bau obat kian menyerbu indra penciumanku,rasanya ini di… " Luna,bangun." Suara Ibu kian terdengar,apakah Aku sudah mati? Ibu Kau disebelah mana? Suara itu menghilang bersamaan dengan wajah pilu dari Nenek. "Nek,Luna masih hidup kan?!" Nenek mengangguk tapi kenapa kepalaku diperban. Tunggu bukannya ini sudah pagi? Lalu tadi malam? Kubuka selimut tapi dicegah Nenek. "Nenek,ambil kursi roda dulu." Yang kulakukan hanya pasrah. Tidak semudah difilm mencabut benda ini dengan begitu mudah padahal sangatlah sakit dan susah.
"Nenek,apa Kak Nabil baik-baik saja." Sudah tak mungkin tapi masih saja mengucapkan kalimat itu. Nenek berusaha menahan isak tangisnya. Lorong rumah sakit begitu ramai,beragam eksperesi ditunjukkan. Ada yang marah,sedih,bahkan bahagia.
Nenek membuka pintu dan mendorong kursi rodaku. Ayah menangis entah apa yang membuatnya sedih. Kulihat suster menutup wajah seseorang yang terbaring kaku. Aku semakin penasaran dan melihatnya dari dekat.
"K-kak Nabil? Kakak kenapa masih tidur? Ini udah pagi loh." Kubuka kain yang menutupi wajahnya,kumarahi suster karena menutupi wajah seseorang yang sedang tidur. Semua orang menangis melihat tingkah laku ku. "Kakak janji kan,mau lihatin cara pembuatan reognya?" Aku mendekat dan berusaha berdiri disamping tempat tidur. "Kakak kok diam aja? Kakak jangan tinggalin Luna. Cukup Ibu yang pergi,Kakak jangan ya." Kupeluk tubuh kaku nan dingin. Kalau Aku tahu sejak awal,pasti Nabil sedang rawat inap untuk penyembuhan kankernya. Dia termasuk hebat,menahan kanker selama bertahun-tahun. Dan Akulah penyebab kematiannya. Air mataku mengalir deras mengalahkan suara burung yang bernyanyi.
***
Berawal dari Ponorogo hidupku sudah hancur. Kedua orang tuaku hilang entah kemana. Setiap tahunnya kutabur bunga dimakam Kakak. Aku menyibukan diri sebagai guru seni budaya.
Masa-masa kelam sudah lama berlalu tapi kenangan itu tak berlalu. Wayang Arjuna dan batik pemberian Kakak sudah kutaruh ketempat kaca agar murid-muridku tahu betapa indahnya budaya Negeri ini.
Kakak,andai Kau tahu kehidupan adikmu saat ini. Pasti Kau bangga. Aku mengajari semua kalangan tak memandang siapa mereka. Selain menjadi guru Seni budaya,Aku juga menjadi dokter. Tentu saja berkaca dari penyakit paling mematikan yang dialami Kakak. Selain itu,Aku mengajari murid-murid untuk menutup aurat dan menjaga pola makan agar terhindar dari berbagai penyakit.
Aku tidak ingat dengan umurku,yang pasti rambutku sudah beruban. Kakak terima kasih untuk segalanya. Meski Aku sendirian tapi kalian semua akan tetap menjadi doaku.
Ibu,Kakak,Nenek,Ayah,Suamiku,Anakku.
Semoga kalian bahagia disana.
Tamat