Hati yang tak kalah indah dari keperawakannya yang membuat kaki tersandung, itu cocok untuk mendeskripsikan sosok seorang pangeran sejati namun hal itu tak berlaku bagi pangeran Jeon. Wajah yang sangat tampan, tubuh kekar yang indah nan tinggi adalah keunggulan emas yang dimiliki oleh Pangeran Jeon namun sayangnya dia sangat minus bila menyangkut soal sikap dan hati, pasalnya ia memiliki banyak kebiasaan buruk antara lain bermabuk-mabukkan, suka kekerasan nan kejam, ia bahkan seringkali mengikuti kompetesi tarung liar di desa dan ia selalu menjadi juaranya. Ia bahkan sombong terhadap lawannya hanya karena tingkat ilmu bela dirinya sudah di puncak
Suatu hari ayahandanya memintanya untuk segera mencari calon pasangan untuk di jadikan permaisuri yang akan mendampinginya kala menjadi raja. Dan permintaan raja tersebut berkali-kali di tolak oleh Pangeran Jeon, di karena kan dirinya ingin bebas dengan hidup liarnya tanpa beban mengurusi rakyat.
Raja benar-benar mengkhawatirkan masa depan putra semata wayangnya itu, bahkan beliau berkali-kali mencoba untuk mengubah sikap Jeon yang tak pantas ada dalam diri pangeran, dan pangeran Jeon selalu menantang ayahnya dalam hal itu.
Pangeran Jeon benar-benar tak tahan tinggal di dalam istana yang di penuhi peraturan yang mengekang dirinya. Akhirnya pada sore hari ia memacu kudanya untuk kabur dari istana.
Di dalam bar yang berada di desa, pangeran Jeon sedang sibuk meminum sebotol anggur kesukaannya hingga menimbulkan sedikit rasa mabuk pada dirinya. Pangeran pun berdiri dan mulai berjalan keluar dengan sedikit sempoyongan berusaha melawan mabuknya, baru pertama kali bagi Jeon merasakan mabuk padahal dianya terkenal sangat kuat minum bahkan bisa menghabiskan banyak botol wine, tapi kali ini satu botol mampu membuatnya mabuk mungkin karena akhir-akhir ini ia banyak pikiran
Saat ia melangkah keluar, pangeran Jeon melihat seorang gadis bertubuh mungil menghampirinya, dengan polos gadis itu tersenyum lalu berkata pelan padanya "Tuan, ayo beli kueku, masih panas karena baru matang dan pastinya enak di jadikan cemilan sehabis hujan begini"
Semilir angin menjelang malam dengan kondisi awan selesai hujan, lumayan membuat dingin tubuh dan sangat cocok juga untuk minum alkohol maka dari itu pangeran Jeon memilih untuk mabuk. "Kue coklat hangat, sebenarnya cocok juga untuk kondisi dingin seperti ini" ucap pangeran dalam batin melihat kue coklat yang tertata rapi dalam keranjang yang di bawa oleh si gadis, namun mengingat dirinya yang tak terlalu suka makanan manis akhirnya pangeran terpaksa menolak tawarannya
"Tidak ya, aku baru saja minum"
"Baiklah, terimakasih" masih dengan senyum si gadis itupun berlalu dan duduk bersimpuh di tepi jalan dekat toko pakaian di pasar itu
Senyuman gadis itu masih terngiang-ngiang dalam benak pangeran "Gadis yang manis" gumamnya, sekilas pangeran Jeon melihat gadis itu bertubuh kurus nan mungil, rambutnya hitam panjang terurai, dan pakaiannya yang setengah basah dan terlihat banyak bekas tambalan. Sepertinya gadis itu tadi kehujanan saat berjualan, hati pangeran merasa iba melihatnya.
Sesekali gadis itu menoleh ke arah pangeran dan segera pangeran Jeon melangkah menuju kudanya untuk pergi. Gadis mungil itu kembali mencoba mendekati pangeran Jeon, dan Jeon sudah menduga pasti menawarinya kue dagangannya
"Tuan, kuenya bisa untuk cemilan di perjalanan atau untuk oleh-oleh. Biasanya orang-orang akan menjual satu kue dengan satu logam, namun aku menjualnya dengan satu logam dapat tiga karena ini sudah mau malam"
Dengan gigih penuh nada polos dan jujur gadis itu mencoba terus merayu pangeran dengan argumentasi dan ilmu marketing sederhana ala pedagang jalanan. Spontan pangeran segera mengeluarkan kantung yang berisi segenggam koin emas padanya
P. Jeon : "Ambil saja. Aku tidak mau kue" ucap pangeran sedikit dingin
Gadis : "Tapi tuan" berusaha menolak
P. Jeon : "Sudah lah, anggap aku sedang berbagi"
Dengan terpaksa dan setengah kaget tangan mungil itupun menerima koin emas pemberian pangeran, tanpa melihatnya lagi pangeran segera naik menunggangi kuda silver miliknya dan tak memperdulikan gadis itu lagi.
Sepertinya gadis mungil berusia kira-kira 13 tahun itu begitu senang menerimanya, pikir pangeran begitu. Kuda pangeran pun bergerak pelan sambil melihat-lihat kondisi desa, ya pangeran berniat mencari tempat untuk bermalam.
Setelah mendapati tempat untuk bermalam, tempatnya tidak terlalu jauh dari pasar tadi. Dengan segera pangeran menyandarkan tubuhnya di sofa empuk penginapan mewah itu, bisa di lihat jelas pasar lewat jendela kamarnya. Mata pangeran Jeon tanpa sengaja tertuju melihat gadis pedagang kue tadi dari jendela kamarku. Pangeran mencermati tentang kelakuan gadis itu yang membuatnya kesal
Terlihat jelas di bawah lampu jalan, tangan kanan gadis itu memberikan kantung koin emas yang di berikan pangeran tadi kepada seorang pengemis, perempuan tua yang juga sudah lama mengemis di sudut pasar
Pangeran Jeon : "Apa pengemis itu ibunya? Akh! Trik penipuan baru rupanya, memperkerjakan anak di bawah umur berdagang kue, sembari mengemis! Menyedihkan ya.. Dasar BIADAB!" Gumam pangeran marah dan langsung bangkit dari duduknya untuk segera keluar dari penginapan. Dengan rasa penasaran, pangeran menepikan kudanya tepat di samping kanannya, tadi itu kaget kala menyadari ada kuda di sampingnya dan matanya menuju ke arah pangeran yang turun dari tungangannya. Mata keduanya pun saling bertemu lalu gadis itu mencoba tersenyum pada pangeran
P. Jeon : "Ibumu pengemis itu?" Ucap pangeran dengan dingin
Wajah kuyunya pun sontak semakin memucat kaget karena pertanyaan pangeran.
"Tidak tuan, dia bukan ibuku"
"Eh! Masih kecil sudah berani berbohong ya!" Ucap pangeran dengan sedikit membentak
Gadis mungil itu pun nampak takut mendengar kalimat bentak dari pangeran, namun kalimat jawabnya nampak tegar
"Demi Tuhan, pengemis itu bukanlah ibuku"
Pangeran Jeon semakin tersinggung setelah tahu pengemis itu bukan ibunya, "lalu buat apa dia berikan uangku?" Batin pangeran. Kesal dan makin penasaran, tak peduli hujan mulai turun, tangan kekar pangeran memegang lengan kanan gadis itu.
P. Jeon : "Baiklah! Kamu berdagang pasti butuh uang, kenapa kamu malah berikan uangku padanya?"
Wajah gadis itu mulai tersenyum kecil, dia menguasai keadaan, dengan tenang ia menjawab "Tuan, maaf. Tuang jangan marah, bukannya aku tidak butuh uang untuk keperluan hidup"
P. Jeon : "Lantas mengapa kamu berikan uang itu?"
Gadis : "Hmm, tuan. Karena ibuku berpesan, aku harus dapat uang dari pekerjaan berdagang bukan dari mengemis. Kue ini aku belajar keras dari ibu untuk membuatnya, ibuku pasti marah dan kecewa jika aku menerima uang dari tuan tadi, bukan dari hasil kerjaku. Tadi bukannya tuan juga bilang kalau tuan sedang berbagi, maka sepantasnya uang itu di bagikan pada mereka yang kurang mampu contohnya pengemis itu yang pasti lebih membutuhkan"
Malam itu wajah pangeran terlihat lelah dan sakit, terasa tertampar dengan kalimat bijak dari gadis yang sedari awal ia pandang sebelah mata. "Ya Tuhan! Betapa bodohnya aku! Pikiranku begitu picik dan dangkal, malu dengan keluasan hati serta kejujuran gadis itu" batin pangeran
Gadis : "Tuan, ibuku menungguku di rumah, aku mau pulang. Tuan juga sebaiknya pulang, karena hujan mungkin makin deras"
Untuk pertama kali hati pangeran meleleh, dan tak sadar ada butiran bening yang mengalir di pipinya. Pangeran tertegun merasa tolol sekali malam itu. Segera pangeran menarik tangan kanan gadis tadi untuk di ajak berteduh terlebih dahulu. Gadis itu ketakutan dan meronta, segera pangeran berkata "Mari berteduh dulu, hitung semua kuemu, aku beli semuanya"
Wajah takutnya berubah manis, dia tidak percaya, menegaskan kalimat pangeran
Gadis : "Anda sungguh? Benarkah tuan?"
P. Jeon : "Iya, untuk oleh-oleh"
Gadis : "Oleh-oleh?"
P. Jeon : "Iya! Cepat hitung! Berapa semua?"
Pangeran mencoba membuatnya percaya, meski di penginapan aku tinggal sendirian, paling tidak kue itu ku berikan kepada penjaga penginapan itu, lumayan untuk teman jaga malam pikir pangeran. Gadis itupun menghitung dengan wajah begitu senang.
"Dua puluh logam saja tuan, sisanya yang dua bonus saja, hehehe"
Gadis itu terkekeh manis sambil menutup mulut dengan tangan mungilnya, sepertinya ia begitu senang dengan perlakuan pangeran. Pangeran pun memberikannya kantung yang berisi 50 logam koin, ia pun mengecek isinya
Gadis : "Hmm tuan, mohon maaf ini kelebihan"
P. Jeon : "Kali ini kamu harus menerima uangku. Terserah aku juga kan, pembeli adalah raja, mau menghargai berapa daganganmu asal kamu tidak rugi"
Gadis : "Maksud tuan?"
P. Jeon : "Kamu tawarkan aku 20 logam bukan? Dan aku tawar 50 logam. Sah!?"
Gadis : "Tapi tuan, ini terlalu banyak"
P. Jeon : "Lebihnya untukmu yang telah menjadi guruku malam ini"
Gadis : "M-maksusnya tuan?"
P. Jeon : "Cepat naik! Beritahu aku di mana rumahmu! Aku antar kau ke rumahmu" Pangeran memanggil kudanya
Pangeran Jeon sedikit terkejut kala gadis itu menyodorkan kembali kantung emas pemberiannya tadi, "Ini kembalianmu tuan, maaf aku tak bisa menerimanya karena aku ingin mematuhi pesan ibuku, terimakasih banyak tuan sudah berbaik hati"
Pangeran Jeon akhirnya pasrah saja, ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk menerima uangnya.
Singkat sesampainya di rumah gadis itu, pangeran dapat melihat di balik pintu seorang perempuan paruh baya yang terlihat sedang berjuang menahan sakit lalu dengan segera gadis itu berlari menghampiri ibunya lalu melayaninya. Pemandangan yang sungguh mengharukan bagi pangeran yang akhirnya teringat akan seseorang
Dengan segera pangeran Jeon pergi dari kediaman gadis itu. Bukannya kembali ke penginapan dia malah memacu kudanya menuju kerajaan. Sesampainya di kerajaan, ia dengan langkah terburu-buru memasuki istana tanpa memperdulikan para penjaga yang menyambutnya.
P. Jeon : "Ayahanda, maafkan putramu" berlari memeluk raja
Raja : "Anakku.. syukurlah kau kembali. Kira-kira ada apa gerangan ananda tiba-tiba bersikap lembut seperti ini, apa ada yang menyihirmu?" Kaget tak percaya melihat perubahan sikap dari anaknya, biasanya pangeran akan bersikap acuh dan tak akan mau meminta maaf pada raja sebelumnya namun kali ini setelah bertengkar anaknya malah kembali dan langsung meminta maaf. Para petinggi istana serta para pengawal yang berdiri disana turut terharu menyaksikan perubahan pangeran Jeon yang membaik
Raja : "Hiks hiks.. Jeon katakan pada ayah begitu senang melihat kau berubah" mengusap air mata
Pangeran Jeon pun menceritakan perlahan-lahan apa yang baru saja ia dapatkan selama kabur
P. Jeon : "Ayahanda.. aku ada kabar baik untukmu"
Raja : "Ha kabar baik? Apa itu ananda?" Senang
P. Jeon : "Jeon sudah mendapatkan calon permaisuri, dan aku harap ayah mempersuntingkan aku dengannya, aku berharap juga ayah menerima dia apa adanya. Ku mohon.."
Raja : "Baik.. demi kebahagiaan putraku"
Keesokan harinya pangeran memacu kudanya dengan perasaan berbunga-bunga, ia berniat kembali ke desa untuk menjemput gadis penjual kue yang kemarin ia temui. Setibanya di pasar, sudah di lihatnya gadis itu tengah mencoba merayu ke orang-orang yang berlalu lalang untuk membeli kuenya.
P. Jeon : "Siapa namamu?"
Gadis : "Hmm namaku.. Lisa" wajahnya memerah kala melihat laki-laki yang sama kembali ia temui dengan penampilan khas seorang pangeran "Dia pangeran" batin Lisa karena baru menyadari laki² kemaren adalah pangeran yang tengah menyamar
P. Jeon : "Namamu indah, perkenalkan aku pangeran Jeon dari kerajaan timur" tersenyum
Mulut gadis yang bernama Lisa itu semakin bungkam, dengan segera ia membungkuk memberi hormat pada pangeran
P. Jeon : "Naiklah, kita pulang!"
Lisa semakin panik tak karuan karena bingung, tiba-tiba di hampiri oleh Pangeran tampan yang langsung mengajaknya pulang. Pangeran berusaha meyakinkan Lisa dan akhirnya Lisa pasrah dan dengan malu-malu ia di bantu naik oleh Pangeran. Setibanya di rumah Lisa, mereka bertemu dengan ibu Lisa
Ibu Lisa : "Ada angin apa semalam? Tiba-tiba seorang pangeran datang bertamu ke rumah?"
P. Jeon : "Jika ibu tidak keberatan, bolehkah saya meminang putrimu untuk di jadikan permaisuriku" Pangeran Jeon to the poin
Ibu Lisa terkejut mendengarnya tak percaya
Ibu Lisa : "Ha benarkah? Mengapa tiba-tiba? Aku tak percaya ini"
P. Jeon : "Anakmu adalah yang ku cari, ia sudah menjadi guru bagiku. Aku jatuh cinta akan kejujurannya, dan aku harus berterimakasih padamu wanita mulia yang berhasil melahirkan anak yang kaya jiwa dan berbudi pekerti yang luhur. Karena Lisa aku berubah, aku belajar dari sikap jujurnya. Ku berharap Lisa juga akan melahirkan anak-anak yang bermoral sama sepertinya"
Ibu Lisa terharu mendengarnya, ia bangga terhadap putrinya yang tak pernah meninggalkan perintahnya. Akhirnya dengan senang hati ibu Lisa berkata dengan senyum sumringahnya "Baiklah, ku restui pernikahan kalian"
Teng.. Teng.. Teng.. suara lonceng pernikahan bergema merdu di aula istana, tatapan bahagia dari masing-masing orang tua keduanya melihat acara pernikahan anak mereka.
Kedua mempelai nampak memancarkan senyum bahagia di wajah, saat itu Lisa sangatlah cantik dengan riasan dan gaun indahnya membuat siapa saja kagum termasuk pangeran Jeon sendiri yang tak menyangka jika Lisa akan secantik itu di matanya.
P. Jeon : "Kau sangat cantik hari ini, permaisuriku" senyum
Lisa : "Benarkah?" Tersipu"Terimakasih kau juga sangat tampan, yang mulia raja" sambungnya sambil tersenyum lepas
Sorak sorai rakyat di luar istana sudah terdengar sampai ke dalam istana, tak sabar menyambut pemimpin baru mereka. Dengan senyum merekah di iringi lambaian tangan Jeon dan Lisa menyapa rakyat dengan hati bahagia.
Merekapun resmi menjadi suami istri lalu menjadi raja dan ratu yang mengemban tugas menjaga dan membahagiakan rakyatnya. Hidup mereka di karuniai anak-anak yang berpendidikan dan beradab sesuai dengan harapan pangeran Jeon, "Untungnya pilihanku tak salah, wahai Tuhan! Lindungilah mereka orang-orang hebat, seperti gadis penjual kue yang ku temui di desa dialah guru besarku, permaisuriku.."
The end