Malam itu hujan deras terus mengguyur sebuah desa terpencil yang letaknya sangat jauh dari perkotaan, di desa itu penduduknya berjumlah kurang dari dua ratus orang dan setiap rumah dari para penduduk letaknya cukup berjauhan.
Ada sebuah rumah yang letaknya jauh dari pada rumah para penduduk lain sehingga jarang ada yang bertamu, di rumah itu dihuni oleh seorang pemuda yang bernama Asep, dia berusia 26 tahun.
Asep itu dulunya adalah seorang pengusaha sukses dikota akan tetapi setelah meninggalnya orang tuanya dia hanya hidup sebatang kara dan tidak mempunyai keluarga lain selain istri nya, tapi itu semua tidak bertahan lama karena istrinya meninggal karena dibunuh.
Semenjak saat itu kehidupan Asep mulai kacau dan pada akhirnya usahanya bangkrut, setelah itu dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa kelahirannya dan tinggal di rumah peninggalan neneknya.
....
Malam itu hujan tak kunjung berhenti, Asep yang masih duduk termenung meratapi nasibnya yang kini sebatang kara tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu.
*sep..asep..asep..(tok..tok..tok)
Asep yang mendengar suara ketukan pintu pun langsung bangkit dan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini ditengah derasnya hujan, saat dibuka teryata itu adalah pak Samsul.
*Samsul : saya kira kamu sudah tidur sep
*Asep : memangnya ada apa pak, tumben
malam-malam datang kesini
*Samsul : kamu belum tau.??, itu anaknya pak Bambang si ucup yang rumahnya di dekat bukit, dia meninggal
*Asep : innalilahi, memangnya beliau meninggal kenapa pak??
*Samsul : tanah di sekitar kaki bukit itu longsor dan jatuh tepat di rumah si ucup
Pak Samsul menjelaskan panjang lebar kepada Asep mengenai kejadian tanah longsor yang terjadi, setelah itu mereka bergegas menuju ke tempat kejadian longsor (rumah Ucup).
....
Setibanya mereka di lokasi mereka melihat sudah cukup banyak warga desa yang berdatangan akan tetapi ada satu hal yang aneh di tempat itu, hal ini dikarenakan para warga tidak ada yang membantu mengevakuasi atau membereskan sisa longsor, mereka hanya datang dan melihat-lihat saja seperti tidak ada yang terjadi.
Asep merasa bingung dan aneh dengan perilaku penduduk didesa, karena dia sejak masih bayi sudah dibawa oleh orang tuanya ke perkotaan dan tumbuh besar disana oleh karena itu dia tidak tau menahu banyak soal desa ini.
Karena perasaan bingung yang dia rasakan sudah tidak tertahankan maka dia memutuskan untuk bertanya kepada pak Samsul.
*Asep : pak sam..pak..pak sam..pak samsul
*Samsul : (lirik...lirik...)...(tatap...tatap...)
Melihat tingkah dari pak Samsul yang tadinya masih berbicara dengan dia dan saat tadi melihat dia dengan tatap yang tidak biasa maka kecurigaan Asep makin besar bahwa ada yang aneh dari desa ini.
*Samsul : ini semua salah kamu dan keluarga kamu asep...ini semua terjadi KARENA KAMU(berteriak)
*Asep : maksudnya apa pak??...salah saya apa pak, kenapa bapak begitu marah dan seperti punya dendam kepada saya pak...tolong pak jelaskan ada apa sebenarnya
*Samsul : jika saja saat itu orang tua kamu tidak membawa kabur kamu dari desa ini maka desa ini akan aman-aman saja...(mengingat kejadian masa lalu)
*(saat itu 26 tahun lalu desa Angger sedang mempersiapkan perayaan panen yang berlimpah dan itu selalu mereka rayakan setiap tahunnya dengan penuh kegembiraan dan kesenangan... akan tetapi, ditengah kegembiraan dan kesenangan itu harus ada yang berduka, karena hasil dari panen itu ditukar dengan tumbal yaitu seorang bayi...tahun itu tibalah giliran dari keluarga Naryadi (keluarga dari Asep), ritual selalu dilaksanakan pada saat akhir tahun dan tumbal bayi kali ini tidak lain adalah Asep yang pada saat itu masih berusia 8 bulan... akan tetapi pada saat hari dimana ritual akan dilaksanakan. ayah dan ibu Asep membawa asep melarikan diri dari desa tersebut dan akibatnya ritual yang selalu dirayakan dengan penuh kegembiraan dan kesenangan kali ini dirayakan dengan penuh ketakutan... benar saja setelah ritual itu kacau balau, setahun kemudian desa mulai mengalami kekeringan, tanah longsor, hama atau wabah, dan yang paling buruk setiap malam selalu terdengar suara teriakan di seluruh penjuru desa dan diikuti dengan meninggalnya para warga desa baik itu secara misterius atau karena musibah (seperti yang dialami si Ucup)
*Samsul : kamu... selama kamu masih hidup maka kami akan mati, jadi kamu harus membayar semua ini dengan nyawa kamu
*Asep : apa maksud pak Samsul??.. kenapa saya harus mati pak...kenapa?..
*Samsul : karena kamu sudah membunuh banyak orang didesa ini termasuk istri saya... TANGKAP DIA(Samsul menyeru kepada warga untuk menangkap Asep)
*Asep : tunggu pak ada apa ini...(Asep yang melihat warga berlari kearahnya pun..dia langsung melarikan diri)
Ditengah hujan para warga desa mengejar Asep sampai diatas bukit yang terletak dibagian selatan desa (ternyata bukit itu dulunya adalah tempat pelaksanaan ritual), Asep berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, alhasil dia terpeleset dan hampir jatuh terguling ke bawah.
*Warga 1 : itu dia...ayo cepat tangkap dia
*Warga 2 : jangan biarkan dia lolos kali ini
*Warga 3 : ini kesempatan kita, mumpung dia terjatuh....(diikuti teriakan para warga yang lain(
*Asep : aagghh...sakit sekali, aku harus cepat agar mereka tidak menangkap aku
Kaki Asep berdarah akibat jatuh terpeleset tadi dan dia berlari pincang untuk berusaha menghindar dari kejaran para warga dan pada akhirnya Asep berlari sampai ke ujung bukit yang mana jika dia turun maka dia bisa-bisa jatuh, karena sangat terjal dan dibawah dipenuhi pepohonan.
Para warga sudah semakin dekat dan Asep masih bingung apakah dia akan turun atau menyerah, disaat para warga sudah didepan Asep dan ingin menangkap nya, tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelar sehingga membuat mereka semua terdiam termasuk Asep.
Dari balik pohon yang terletak ditengah bukit itu, keluarlah sosok besar hitam yang tidak lain adalah sosok Genderuwo dan dia berjalan ke arah warga desa yang hanya terdiam ketakutan melihat sosok besar itu, sosok itu langsung menghempaskan warga desa hingga ada beberapa yang jatuh pingsan dan dia berjalan ke arah Asep.
*Genderuwo : akhirnya setelah 26 tahun aku bisa bertemu dengan santapanku lagi..Haa..Haa..Haa..Haa (sosok itu tertawa dengan suara yang menyeramkan)
Asep ketakutan melihat sosok hitam ini, jatuh terduduk dan seluruh badannya gemetar karena dia belum pernah melihat sosok yang menyeramkan selama hidupnya.
*Genderuwo : selama ini kau kemana saja...aku sudah sangat kelaparan karena menuggumu
*Asep : to..tolong aa..ampuni aku.. ampuni nyawaku (ucap Asep dengan terbantah-batah)
*Genderuwo : Haa..Haa..Haa..kau sudah membuat aku marah hingga aku membantai satu persatu warga desa hanya untuk menunggumu kembali
*Asep : a..aku tau aku salah...ta..tapi aku mohon jangan bunuh aku
Sosok Genderuwo itu pun langsung menangkap Asep dan Asep pun meronta-ronta, tapi tiba-tiba dia terdiam saat Sosok Genderuwo itu mengatakan sesuatu.
*Genderuwo : istrimu mati karena aku yang membunuhnya dan sebelum dia aku bunuh aku menikmati tubuhnya Haa..Haa..Haa..Haa
Asep yang mendengar itu langsung terdiam dan kemudian menangis sejadi-jadinya karena dia menyesal atas apa yang menimpa istrinya, dia sangat merasa bersalah karena istrinya mati karena salahnya.
Sosok Genderuwo itupun langsung membawa Asep dan akhirnya menghilang dibalik pohon dan sejak saat itu Asep tidak pernah terlihat atau kembali lagi. desa itupun akhirnya kembali ke masa dimana hasil bumi mereka melimpah.... akan tetapi 6 tahun kemudian seluruh warga desa menghilang secara misterius..........