~***~
Hari ini hari pertemuan kedua orangtua kami untuk membicarakan acara pertunanganku. Pertunangan ini sama sekali tidak terkesan spesial bagiku. Aku tidak pernah tertarik pada laki-laki. Juga tidak pernah melirik laki-laki.
Yah, pertunangan ini juga bukan atas kemauanku. Atau bisa disingkat, ini pertunangan politik.
Tapi, jujur saja aku merasa agak kecewa dengan tunangan pilihan orang tuaku. Dia berbadan besar, kulitnya gelap, bahkan pakaiannya … Tuh! Mirip banget sama jubah putih orang-orang Arab!
Yaah, mau bagaimana lagi, dia keturunan orang Mesir.
Setelah saling berkenalan, kami berdua duduk di sebuah meja bundar di tengah taman kerajaan. Tidak ada sepatah kata pun yang lolos dari mulut kami berdua. Orang di depanku ini, dia cuma melihat ke arah taman. Dia ini sebenarnya niat tidak sih menjadi tunanganku? Jangankan mengobrol, dia bahkan tidak menyapaku. Bilang "Hai" atau tanya kabar 'kek, dia malah cuma diam. Entah apa yang sebenarnya tengah dilihatnya.
"Hei, item!" panggilku, pria itu langsung menoleh ke arahku. "Anu, jika kamu tidak berniat berbicara denganku, aku akan pergi saja," ucapku seraya beranjak berdiri.
Orang itu menggumam, "Kamu mau pergi kemana?"
"Aku tadi tanya! Kamu ini punya niat mengobrol denganku tidak sih?!" bentakku sambil menggebrak meja. Hingga isi cangkir teh pria berkulit hitam itu muncrat keluar sedikit. Pria itu mengangguk, aku mendengus kesal, lalu kembali duduk.
Orang ini sangat membosankan. Kenapa Ayah dan Ibu memilih orang yang seperti ini untuk menjadi tunanganku sih?
"Anu, tadi kupikir Nona Ava tidak suka denganku, jadi kupikir Nona tidak akan mau mengobrol denganku. Soalnya tampang Nona itu-"
"Katanya kamu tunanganku 'kan? Seharusnya kamu berani dong untuk membuka topik, apalagi jika denganku," sahutku tidak peduli seraya kembali duduk dan meminum tehku. "Lagipula, jangan memanggilku Nona. Kita itu sebentar lagi akan bertunangan, panggil aku Ava saja."
Pria itu menggeleng, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja. "Aku hanya takut kalau Ava merasa tidak nyaman nanti, yaah, semua orang pada awalnya memang menolakku pada pandangan pertama," canda orang itu seraya tertawa renyah.
Kupikir ... orang ini tidak buruk juga. Dia bukannya membosankan, hanya saja ia tidak berani membuka topik karena takut aku merasa tidak nyaman. Hmh, dasar orang ... aneh.
"Hei, Akram. Apa kamu suka melihat pemandangan … seperti taman ini?" Orang itu terdiam sesaat. "Yah, warna hijau cocok untuk cuci mata."
Entah kenapa, aku merasa jawaban dia ini sama sekali tidak nyambung. Apa telinganya bermasalah? Atau … dia orang bodoh?!
Ayah dan Ibu harus tahu kalau mereka ini salah memilihkan jodoh untukku!
"Anu, Akram. Selain cuci mata … apa hobimu?" Tanyaku dengan nada agak keras. Mungkin saja telinga orang ini terganggu dengan serban yang ia kenakan.
"Oh, aku suka berternak, bercocok tanam, bersedekah, dan mungkin juga mengobrol!" jawab Akram dengan semangat.
Aku menatapnya tidak percaya, "Huh! Kamu ini memang benar-benar membosankan, Akram!"
Aku buru-buru berdalih untuk meninggalkan Akram sendirian dengan pura-pura sakit perut. Aku juga membohongi kedua orangtuaku dengan alasan itu.
Hari pertunangan kami sudah ditentukan, yaitu seminggu dari sekarang. Jujur, aku merasa agak malu bertunangan dengan Akram. Meski dia anak dari kekuarga orang yang berada, mengingat penampilan dan betapa membosankannya ia waktu itu benar-benar membuatku merasa tidak suka.
Akupun memaksa kedua orangtuaku agar tidak mengundang banyak orang. Aku cukup malu untuk bertunangan dengannya. Namun akhirnya, karena suatu masalah akhirnya acara pertunangan kami diundur.
***
Lima belas hari menuju ulang tahunku, Akram Si pria kulit hitam itu mendadak menjadi rajin mengirimiku surat. Akupun terpaksa membalas semua suratnya atas perintah orangtuaku.
"Lima belas hari lagi ulangtahunmu, mau kuberikan kado apa untuk Nona Ava yang manis?"
-Akram
Surat ke-sekian kalinya dari Akram itu akhirnya sampai juga di kamarku. Mendadak niat jahil muncul di benakku saat membacanya, bagaimana kalau orang ini kujahili sedikit?
"Aku ingin hadiah bunga mawar emas yang pinggiran kelopak bunganya berwarna merah. Kau tahu, kupikir gaunku akan terlihat sangat indah dan senada jika disandingkan dengan bunga langka itu. Kamu tidak akan keberatan 'kan menghadiahiku bunga langka itu?"
-Avarie
Aku tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah kebingungan Akram. Bunga seperti itu, mana ada sih di dunia nyata? Aku sudah bisa membayangkan Akram yang tidak hadir di pesta ulangtahunku karena merasa gagal menghadiahkan bunga itu kepadaku.
Huft, Putri Ava ini memang sangat jenius.
Setelah selesai menulis surat, segera kuantarkan surat itu ke pelayan untuk diantarkan ke kediaman keluarga Akram.
Aku merebahkan diri dengan puas di atas kasur. Orang itu harus tahu, kalau ingin bertunangan dengan Nona Avarie ini, tidak akan semudah yang ia bayangkan.
***
Pesta perayaan ulangtahunku digelar dengan mewah. Aku duduk di tengah aula sambil memperhatikan setiap orang yang hadir. Oke, kurasa Akram tidak datang. Yah, dia pasti gagal menemukan bunga itu.
Tapi kebahagiaanku tidak berlangsung lama, setelah aku mendengar suara yang memanggil namaku dengan lantang.
"Nona Avaa!" Panggil Akram dari kejauhan seraya melambaikan tangan.
Aku menatap ia dengan tatapan tidak percaya, mungkin mulutku agak ternganga sekarang. Dia yang waktu ini kulihat berpenampilan seperti orang culun, mendadak berubah. Akram tidak lagi memakai jubah putih ala orang Mesir-nya itu. Dia datang dengan pakaian yang lebih bagus. Bahkan model pakaiannya terbuka di bagian perut. Mengekspos perutnya yang lumayan-
Tidak, bukannya aku terpesona kepadanya! Tidak akan pernah!
Aku memalingkan wajah seolah-olah tidak mendengar panggilannya, lalu mengalihkan pandanganku ke arah aneka hidangan dessert yang tersusun apik di atas meja di depanku dan mulai menyemilnya satu persatu.
"Selamat ulang tahun, Nona Ava." Sontak aku tercekat, orang itu tahu-tahu sudah berada tepat di belakangku. Itu Akram. Dia datang dengan menggunakan pakaian serba hijau. Kupikir dia suka dengan warna hijau. Aku pun membalas ucapannya dengan kata terimakasih. Akram langsung duduk di sebelahku. Namun tak berselang lama, seorang wanita menghampiri meja kami, disusul dengan teman-temannya yang lain.
Mereka memberi hormat kepadaku dan juga Akram. Meski tadinya aku sempat merasa tidak dianggap.
Aku kemudian tidak terlalu mengindahkan mereka. Sepertinya tujuan mereka kemari cuma untuk mengobrol dengan Akram. Entah kenapa aku merasa seperti menjadi nyamuk saja sekarang.
Mereka menanyakan hal-hal membosankan ke Akram. Seperti …
"Tuan Akram, apa warna favoritmu?"
"Tuan Akram, kapan ulang tahunmu?"
"Tuan Akram, apa hobimu?"
Aku tidak mempedulikan para lalat itu dan meneruskan kegiatanku sebelumnya ; menyemil.
"Tuan Akram, apa Anda bisa bermain pedang?"
Akram? Pedang? Huh, aku sangat yakin kalau dia bahkan tidak bisa sama sekali membedakan jenis-jenis pedang.
"Tentu saja bisa." Sontak jawaban Akram membuatku tersedak.
Akram menepuk-nepuk punggungku, lalu menyodorkan segelas air. Aku spontan menepis tangannya kasar. "Kamu tidak mau minum dulu?" Segera kutarik tangannya dan menyeretnya pergi ke luar. Ke tempat yang sepi agar aku bisa meminta penjelasannya dengan lebih leluasa.
"Katakan kepadaku! Kenapa kamu berbohong pada gadis-gadis itu?!"
Akram mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. Aku tahu, itu pasti lagaknya saja!
"Kamu bilang kalau kamu bisa bermain pedang kepada mereka! Tapi kenapa kau bilang kepadaku kalau kamu tidak bisa bermain pedang?!"
Akram terdiam sebentar. "Kapan aku pernah berkata seperti itu kepadamu? Aku tidak suka, bukan berarti kalau aku tidak bisa 'kan?"
Kali ini aku yang terdiam, kata-kata Akram memang ada benarnya. Tapi mengapa aku mempermasalahkannya?
"Ah, sudahlah," ucapku ketus seraya beranjak pergi meninggalkan Akram sendirian.
"Hei, Ava." Aku menghentikan langkahku sejenak tanpa menoleh, "Apa?"
"Kado ulang tahunmu sudah kuletakkan di kamar. Aku harap kamu menyukainya."
Aku langsung berbalik tidak percaya, "Hah?"
"Yah, mungkin itu akan sedikit mengecewakanmu."
Aku langsung berbalik dan pergi. Mana ada bunga mawar emas sungguhan? Mungkin saja dia mengecat bunga mawar merah biasa untukku. Tapi entah mengapa, aku merasa sedikit penasaran dengan bunga pemberiannya. Aku segera pergi meninggalkan Akram mematung sendirian di tengah taman kerajaan yang gelap tanpa cahaya. Hingga acara selesai pun, aku tidak mau bertemu lagi dengan Akram.
Selepas acara berakhir, aku segera pergi ke kamarku untuk mengganti pakaian. Aku agak dikejutkan dengan eksistensi pot bunga di atas balkon kamarku, lengkap dengan secarik surat yang ditindihkan di dibawahnya. Mulutku sedikit ternganga. Bahkan mungkin tadi aku sempat lupa bernafas.
Bunga pemberian Akram ini, benar-benar mawar emas! Yaah, meski masih kuncup, tapi aku yakin sekali kalau ini benar-benar mawar emas!
Tanpa menunggu lama lagi, aku segera membuka suratnya, lalu membaca isinya dengan cepat.
"Maafkan aku jika hadiahmu tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan, Nona Ava. Tapi aku harap kamu mau menerima hadiahku. Kau tahu 'kan kalau bunga ini sangat langka? Kebetulan Akram Foundation sedang mengembangkan spesies baru untuk mawar emas ini. Tapi sayangnya aku hanya mendapatkan bunga yang masih kuncup. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menunggunya mekar. Kuharap kau bersabar untuk menunggunya mekar.
Jika bunga ini mekar nantinya, kupikir daripada memetiknya untuk gaunmu, alangkah lebih bagus jika kau rawat saja.
Selama kau menunggu bunga ini mekar, mungkin aku tidak akan bisa mengirimimu surat untuk sementara. Karena aku akan ikut pergi dengan Ayahku ke luar kota. Begitu pulang nanti, aku pasti akan langsung menemuimu untuk melihat bunga itu mekar."
-Akram
Aku terdiam beberapa saat. Jadi … dia akan pergi ya?
Awalnya, kupikir itu bukan hal yang penting. Ya, itu tidak penting.
Tapi, kenapa aku memikirkan itu? Lupakan! Akram tidak seharusnya dipikirkan!
***
Tanpa terasa, tiga bulan berlalu dengan cepat. Aku menyirami bunga mawar emas itu. Kini bunga langka itu sudah mekar. Aku benar-benar merasa seperti ditampar balik oleh niat jahilku waktu ini. Tak kusangka, bunga seperti ini benar-benar ada di dunia nyata. Saking indahnya, sampai-sampai aku ingin memetiknya. Tapi, Akram 'kan melarangku untuk memetiknya, jadi ... apa boleh buat 'kan?
Omong-omong, ini sudah tiga bulan. Kudengar Akram belum juga pulang ke kediamannya. Apakah dia baik-baik saja?
Aku merasa … ada sesuatu yang salah.
Tidak, ini terlalu sulit untuk kuungkapkan.
Tapi, aku merasa sedikit …
Cemas.
Tunggu … Apa aku merindukannya?
"Nona Ava, tolong jangan menyiram bunganya dengan air yang berlebihan."
Sontak aku tergagap, seorang pelayan memperingatiku. Benar saja, air yang kusirami ke pot bunga itu bahkan sudah tercecer di lantai kamarku. Beberapa pelayan langsung mengambil kain pel dan membersihkannya.
Aku terdiam. Secercah sinar matahari yang merembes melalui sela-sela gorden kamarku hari ini seakan-akan ingin menyampaikan sesuatu kepadaku. Aku merebahkan diri di atas kasur, aku tidak menghiraukan pelayan yang datang tergopoh-gopoh ke kamarku.
"Nona, permisi. Anda kedatangan-"
"Akram?" Tanyaku yang langsung disambut anggukan kepalaku oleh pelayan tadi. Aku segera bangkit dan melesat keluar kamar.
"Tuan Akram tadi-"
Aku tidak mendengar perkataan pelayan itu selanjutnya. Aku segera pergi ke ruang utama, lalu ke ruang jamuan, taman kerajaan, tapi nihil. Aku tidak menemukan Akram dimanapun. Aku segera pergi ke depan gerbang kerajaan. Aku melihat sebuah kereta kuda pergi menjauh dari tempatku berada saat ini.
Tanpa kusadari, kedua alis serta bibirku turun, memanyun. Aku kecewa.
Apa Akram sudah pergi?
Apa Akram muak dengan sikapku padanya selama ini?
Apa Akram tadi hanya datang kemari untuk membatalkan acara pertunangan kami? Apa karena ia pikir selama ini aku tidak menyukainya, ia sekarang memutuskan untuk mundur?
Tanpa terasa, kedua mataku terasa perih. Tidak boleh seperti ini, aku tidak seharusnya memikirkan orang itu.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Meski hatiku masih tertinggal sebelah di depan gerbang tadi.
"A-ava, sedari tadi aku mencarimu!" Aku sontak menoleh ke belakang, Akram berdiri di belakangku. Dia bukannya tampil dengan penampilan bak idol-nya di perta ulang tahunku beberapa bulan lalu. Dia tampil dengan "biasa saja".
"Apa pelayan tadi tidak memberitahumu? Aku tadi sampai berkeliling mencarimu, ke ruang utama, ruang jamuan, sampai ke taman-"
Ucapannya terpotong saat aku berlari mendekatinya, lalu memeluknya erat.
Dia mencariku, sungguh?
Tampang khawatir itu ... untukku? Sungguh?
Kurasa, Akram adalah orang yang paling tulus menerimaku. Awalnya kupikir dia akan segera meninggalkanku karena sikapku kepadanya. Tapi, lihatlah. Dia tampak tidak mempedulikan itu.
... Karena aku adalah calon tunangannya. Dan juga akan menjadi tunangannya beberapa hari ke depan.
-Tamat-