Corona.
Itulah nama wabah penyakit yang sudah setahun lebih melanda seluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Banyak pihak merasa dirugikan dengan kondisi seperti sekarang ini, tapi banyak pula yang merasa diuntungkan.
Mereka yang dirugikan dan diuntungkan tentu sama-sama punya alasan berdasarkan fakta yang mereka alami masing-masing. Ada yang banyak bicara, berargumen ini dan itu. Ada pula yang memilih diam.
Nah, contoh yang diam salah satunya adalah anak. Anak-anak kita di rumah. Anak-anak yang kebanyakan oleh orang dewasa dianggap belum mengerti apa-apa. Belum tahu apa-apa.
Tetangga di dekat rumah saya rata-rata ibu-ibunya bekerja sebagai guru. Ada yang mengajar di sekolah negeri, ada juga swasta dan kebanyakan dari mereka masih memiliki anak kecil yang harus dibimbing dan dididik di dalam lingungan rumah.
Sebut saja Ibu Ikeu. Wanita berusia 27 itu sempat mengeluh pekerjaannya di rumah yang tak pernah ada kata selesai. Katanya, kalau ngajar di sekolah ada jam kerjanya, kalau di rumah serasa 24 jam kerja.
Jadi, ibu-ibu para pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa selama corona ini proses belajar mengajar sempat dilaksanakan melalui daring. Alhasil, semua guru lebih banyak waktunya di rumah. Mengurus anak dan suami.
Bagi mereka para perempuan yang terbiasa bekerja, mungkin menjadi beban ketika seutuhnya harus berada di rumah, tapi itulah kodrat wanita.
"Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)
Pada diri wanita yang lebih dominan adalah 'perasaan' dibandingkan 'akal'. Makanya, perempuanlah yang melahirkan dan mendidik anak-anak. Dengan 'perasaan'nya perempuan memiliki tanggung jawab besar. Di tangannyalah masa depan anak-anak akan terbentuk dan terbangun. Anak-anak yang menjemput syurga tetapi juga mewarisi dunia. Bukankah itu yang diinginkan semua orang tua?
Corona, oh Corona. Lihatlah, karenamu anak Bu Ikeu yang berusia dua tahun setiap hari 24 jam bersama ibunya. Menghabiskan makan, bermain, mandi, minum susu, tidur, dan seterusnya bersama ibunya. Bukan dengan nenek atau pengasuh, karena ibu benar-benar libur panjang. Itulah duniamu de. Seharusnya. Sampai kapan?