Saya merenung mendengar kisah mereka.
Lelaki tanpa pekerjaan itu mampu membeli susu mahal untuk anaknya. Siapa sangka. Istrinya pun baru menyadari setelah anak mereka berumur setahun.
Beberapa orang tetangganya yang rata-rata bekerja dan masih memiliki anak kecil di rumah justru memilih susu dengan harga ekonomis.
Sebut saja Anisa dan Eka. Allah mengaruniai seorang putra yang diberi nama Riga. Dia selalu nampak ceria dan tubuh gemuknya membuat saya gemas.
Riga menjadi pelita bagi kedua orang tuanya. Bagaimana tidak. Ayahnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan ibunya yang hanya sebagai ibu rumah tangga, namun mampu membelikan susu mahal untuk anaknya.
Enam ratus ribu sebulan untuk susu, belum listrik, gas, biaya makan, rumah kontrakan, dan keperluan lainnya sanggup dipenuhi oleh Eka. Darimana? Dari Allah.
Allahlah yang memberi rejeki pada setiap hambaNya. Bahkan hewan tak berakal saja diberi rejeki, pun dengan tumbuhan.
"Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Q.S Hud: 6)
"Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya kemudian mengulanginya (lagi), dan yang memberimu rezeki dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Katakanlah, “Datangkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Q.S An-Naml: 64)
"Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak mampu membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S Al-Ankabut: 60)
"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata." (Q.S Saba: 24)
"Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberi kamu rezeki dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?" (Q.S Fathir: 3)
Sip, itulah dalil yang menguatkan keyakinan Anisa dan Eka terhadap kebesaran Allah Azza wa Jalla.
"Dulu saya orangnya keras kepala. Rasa panik, khawatir, dan takut berlebihan terhadap beban hidup sering mendera batin. Saya gusar dan memilih nekat. Jarang mendengar pendapat suami. Saya merasa kalau kita gigih mencari uang, pasti pundi-pundi itu bisa dengan mudah didapatkan. Kalau suami sih mengalir saja.
Saya selalu melakukan hal-hal yang dianggap terlalu berani oleh banyak orang, tapi tak dipungkiri dengan begitu mudah sekali mendapatkan uang, bahkan pendapatan saya lebih besar dari suami yang tidak jelas penghasilannya. Sekarang dapat, belum tentu besok. Hari ini besar, besok mungkin lebih kecil atau malah zonk.
Prinsip saya saat itu hanya satu, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Seiring berjalan waktu, saya diajak ibu ke pengajian. Awalnya menolak, karena ekspektasi saya pengajian hanya diperuntukan untuk sepuh saja. Malu dong, paling muda duduk dijajaran emak-emak kolot.
Sekali dua kali, satu dua kenalan yang seumuran saya ternyata baru nampak, bahkan ada pula yang lebih muda dan masih single, seketika saya membatin. Rupanya saya yang terlambat bergabung.
Rasa berat terus merangsek setelah lebih dari tiga pertemuan kajian saya ikuti.
Wah, berat ini sih. Selama ini hidup saya banyak salahnya.
Sempat was-was juga antara meneruskan datang kajian atau berhenti, karena semakin rajin datang semakin saya tahu nilai benar dan salah, maka semakin sempit pula ruang gerak, sebab yang saya kerjakan selama ini dan sedang dilakukan ternyata justu keliru.
Sampai suatu ketika permasalahan pertama muncul dalam biduk rumah tangga membuat saya tak sadar berdoa, "Ya Allah, tunjukanlah jalan terbaik. Jika saya yang salah tunjukanlah, namun bila dia yang keliru tunjukan pula. Apabila kami memang berjodoh biarkan kami tetap bersama, tapi kalau tidak maka jadikanlah kami sebagai saudara."
Itu do'a saya setelah kami bertengkar siang hari dan Alhamdulillah sorenya Allah langsung menjawab. Suami mengajak bicara. Kami ngobrol dan persoalan selesai saat itu juga.
Dari situlah saya mulai berpikir dan merenung. Mudah sekali bagi Allah membolak-balik segalanya.
Kejadian itu mengetuk hati, saya memilih meneruskan datang kajian. Alhamdulillah watak keras yang saya miliki sedikit lumer disertai menurunnya kadar emosi suami. Alhasil dalam setahun kemudian kami nyaris tak pernah bertengkar.
Saya menjadi paham kodrat perempuan, tapi masih terus belajar melaksanakan kewajiban, masih perlu dibimbing untuk tidak mengotot minta hak dari siapa pun.
Singkat cerita saya hamil. Setelah melahirkan saya tidak bisa memenuhi hak anak untuk bisa menyusu hingga usia dua tahun. Asi kurang lancar. Segala macam dimakan, diminum, dan dilakukan, tapi tak mengubah jumlah asi. Tetap sedikit. Saya akui, sebelum melahirkan sempat sres berat karena keinginan terbesar untuk bisa melahirkan normal tak sesuai kenyataan. Inilah faktor utama mengapa asi saya sedikit. Makanya, ibu hamil harus happy. Jangan stres.
Nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau disambung susu formula. Harga susunya jangan ditanya. Kualitas terbaik harga terbaik. Beberapa bulan berlalu, anak tumbuh menggemaskan. Gemuk dan sehat. Saya pun baru menyadari, kok bisa ya suami yang kerjaannya abu-abu sanggup menafkahi kami.
Sempat sekali waktu susu anak hampir habis dan saya tahu suami amat kebingungan. Memori saya kembali memutar banyak peristiwa beberapa bulan ke belakang. Dalam kondisi sesulit apapun, ia selalu mampu mendapatkan rejeki yang halal. Pagi pergi entah mau ke mana, pulangnya bawa uang sambil bercerita, itu uangnya dari sini, dari situ, DPlah, pelunasan kerjaan yang dulu belum dibayarkan orangnya, pemberianlah, dan lain sebagainya. Merangkai cerita yang sarat atas kuasa Allah.
Di situ saya belajar yakin, bahwa Allah adalah Zat Sempurna. Bukankah Allah tergantung prasangka hambaNya?
Dari Abu Harairah, dia berkata, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah berkata, "Aku sesuai prasangka hambaKu padaKu dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepadaKu." (HR. Muslim)
Yakin saja dulu terhadap Allah dan rejeki yang pasti Allah berikan kepada semua hambaNya tanpa terkecuali.
Kedua, yakinlah suami kita mampu menafkahi kita. Bukankah Allah tak pernah ingkar janji?
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nur [24]: 32)
Allah tak pernah ingkar janji! Melalui kewajiban nafkah yang dijalankan suamilah rejeki dari Allah mengalir.
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643).
Saya percaya, meski anak saya masih bayi, namun dia terlahir dengan membawa rejekinya yang sudah Allah tetapkan sejak masih berada dalam kandungan.
Yakin sudah, lantas apalagi? Suami saya tanpa henti berikhtiar. Kami tiada berputus asa atas ketetapan Allah.
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya." (QS. An-Najm : 39).
Percayalah, semua catatan telah Allah tuliskan dengan penaNya lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, tersimpan dalam kitab yang mulia di Lauh Mahfudz."
Sungguh, ini semua benar-benar melampaui batas logika manusia.