Bismillah.
Assalamualaikum para pembaca yang mudah-mudahan selalu ada dalam lindungan Allah Azza wa Jalla, senantiasa berbahagia, dan sehat.
Pada kesempatan kali ini untuk pertama kalinya saya ingin berbagi kisah tentang seseorang yang sangat saya hormati. Bagi saya, beliau adalah sosok perempuan tangguh. Sangat tangguh bahkan!
Sebut saja Bu Nur. Usianya mencapai enam puluh tahun. Tinggal berdua bersama suaminya yang sepuluh tahun lebih tua. Beliau memiliki lima orang anak; empat sudah berumah tangga dan tinggal masing-masing, satunya sudah tiada.
Beberapa tahun tak jumpa dengan beliau dan saat kami bertemu kembali, nampak ada yang berbeda dari dirinya. Terlihat fisiknya merapuh dan kedua matanya mengecil, seperti habis menangis semalaman.
Kami ngobrol lama. Lebih tepatnya, beliau curhat. Katanya sudah tiga tahun belakangan ini beliau disiplin kontrol mata ke dokter di salah satu rumah sakit. Dokternya bilang, kalau Bu Nur tidak boleh stres dan banyak pikiran agar produksi air matanya tidak berkurang.
Alhamdulillah, dokter yang menanganinya itu bukan sekadar dokter, tapi juga merangkap sebagai psikolog khusus dan guru spiritual. Dokter tauladan!
Bu Nur memang memiliki masa lalu yang sangat kelam. Sebagai seorang istri, beliau rela diiris perasaannya demi menyelamatkan masa depan kelima anaknya.
Bayangkan! Saat anak ketiga beliau masih dalam kandungan, suaminya kepergok lagi di kamar pembantu! Hampir mereka melakukan itu! Zina!
Suaminya memohon meminta maaf berkali-kali dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Dan pintu maaf itu masih terbuka. Tanpa dipecat, pembantu itu pun kabur.
Kali kedua terjadi saat anak keempatnya masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi tak separah sebelumnya. Hanya saja sempat mereka akan bercerai, tapi urung lantaran Bu Nur masih tetap memikirkan masa depan anak-anak. Pembantunya pun seketika mengundurkan diri.
Kali ketiga inilah puncaknya. Pembantu yang baru sebulan bekerja di rumah Bu Nur menceritakan semuanya. Bagaimana tabiat majikan laki-lakinya yang sering memaksa ia agar mau menuruti keinginannya sampai-sampai dijanjikan akan dinikahi dan dinafkahi. Saat fakta itu akhirnya muncul ke permukaan, Bu Nur langsung menyidang suaminya di depan pembantu dan ketiga anaknya yang sengaja dihubungi agar segera datang.
Anak Bu Nur memang lima, empat sudah berumah tangga dan yang bungsu meninggal dunia, kecelakaan saat masih duduk di bangku SMA.
Anak ketiga beliau sudah tak ada kabar lama sekali. Semenjak diusir dari rumah oleh suami Bu Nur lantaran sering berulah dan membuat malu keluarga. Mabuk, judi, dan nyolong. Itu kebiasaannya.
Bu Nur sebenarnya merasa tak heran mengapa anak ketiganya begitu. Barangkali ini yang disebut buah jatuh tak jauh dari pohon dan masih ingatkah kejadian perselingkuhan antara suami Bu Nur dengan pembantunya saat Bu Nur hamil anak ketiga? Meski sudah bertahun-tahun, tapi bagi Bu Nur itu terasa baru saja! Seperti baru kemarin. Ingatan itu kembali lagi! Kembali lagi bersamaan dengan kejujuran yang menghadangnya sekarang di depan mata.
Sakit! Sakit!
Rasa sakit itu bertambah parah manakala mengingat mendiang putri bungsunya.
Dulu Bu Nur pikir dengan bertambahnya usia, rambut yang beruban mulai tumbuh banyak, dan tubuh tak segagah dulu bisa membuat suaminya sedikit introspeksi. Terlebih beberapa teman suaminya satu persatu meninggal dunia.
Namun ternyata Bu Nur salah menduga. Dengan kondisi rumah yang sepi dan terlebih Bu Nur yang sudah monopouse dijadikan alasan utama sang suami mengajak pembantunya selingkuh.
Hati siapa yang tak sakit? Berulang kali dimaafkan, tapi selalu mengulang kesalahan yang sama.
Bu Nur langsung mengusir suaminya dan setelah sepekan mendengar masukan dari anak tertuanya agar dipertahankan, meski yang lainnya tak setuju dan menganggap yang terbaik adalah bercerai, akhirnya Bu Nur luluh. Menurut untuk kembali memaafkan.
Bagaimana jika itu terjadi pada kita, kaum perempuan?
Yang saya tahu, Bu Nur melakukan semua itu semata-mata demi anak. Masa depan anak. Bukan khawatir dengan nafkah dari sang suami yang akan terputus jika bercerai, karena toh Bu Nur juga bekerja saat itu, melainkan beliau khawatir dengan kondisi psikologi anak-anak mereka nantinya.
Dan yang saya tahu sekarang, suami Bu Nur kena stroke dan beliau menjadi rajin beribadah. Kata Bu Nur, suaminya sekarang sudah takut mati, sulit tidur karena dihantui masa lalu, dan takut dengan akhirat.
Mungkin inilah jawaban Allah atas semua pengorbanan yang telah dilakukan Bu Nur. Bukankah setetes air bisa melubangi batu besar? Sangat besar. Dan Allah dengan mudah bisa membolak-balikan perasaan manusia.
Jika suami Bu Nur sedang beribadah, maka pahalanya juga mengalir untuk Bu Nur, karena di tangan beliaulah, berkat kesabarannya suaminya itu berubah.
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim)
"Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah: 45)
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hisab (batas)." (Az-Zumar: 10)
Sabar memang berat. Dan siapa orangnya yang bisa sesabar Bu Nur?