Air matanya masih mengalir ia merasa sesak di dada. Bagaimana bisa orang tuanya tidak pernah mengerti tentang perasaannya. Bukannya ia.tidak ingin menjadi apa yang ayahnya inginkan hanya saja ia tidak bisa melakukannya?
Bagaimana dia bisa mengimbangi teman-temannya sedangkan dia saja tidak bisa mengimbangi mereka. Otaknya tidak secemerlang mereka. Kenapa ayahnya selalu saja membandingkan dirinya karena prestasinya yang tidak sehebat teman-temannya. Rasanya ini sangatlah tidak adil.
Riko yang melihat ada seorang yang sedang menangis sendirian pun menghampirinya padahal di luar udaranya sangat dingin. Mengapa dia justru duduk di sana bukannya pulang ke rumah.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Riko pada gadis yang bernama Liora. Ia tau pasti gadis ini di marahi ayahnya lagi pasti gara-gara prestasinya di sekolah.
Liana tidak menjawab pertanyaan dari Riko, yang ia pikirkan bagaimana caranya agar ayahnya bisa luluh tapi nyatanya semakin ia berusaha semakin ia tidak bisa.
"Apa kau sedang menangis? Apa ayahmu memarahi mu lagi? tanya Riko sembari mengeluarkan tisu yang sengaja ia bawa kemana pun takut kejadian ini menimpa orang lain. Romantisnya dia...
"A.... tidak.... aku tidak menangis aku hanya kelilipan saja" ucap Liora bohong.
"Kelilipan? atau ada yang sedang menyakitimu?" tanya Riko.
"Tidak ..." jawab Liora singkat tanpa memandang siapa yang sedang mencoba menenangkan dirinya. Liora mengusap air matanya yang jatuh berlinangan bagaimana bisa suatu ucapan terasa sangat menyakiti dirinya hingga seperti ini.
Riko menyodorkan tisu pada Liora, namun Liora menolak, ia tidak ingin memperoleh bantuan dari siapapun.
"Pergilah.... jika kau hanya ingin mentertawakan ku pergi sana" usir Liana masih menangis dan tanpa memandang Riko.
Riko pergi meninggalkan Liora yang masih sesunggukan di taman. Sebenarnya ia tidak tega namun ia sudah di usir oleh Liora.
Liora memandang jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah mampir jam sembilan malam, sebenarnya ia tidak ingin pulang apalagi mengingat ia akan di marahi oleh ayahnya.
Dengan langkah berat Liora pun pulang dan benar saja dia kembali di marahi, sedangkan ibunya mencoba menenangkan putrinya.
Liora gadis berusia enam belas tahun ia putri kedua dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Fiola ia sangat di manjakan oleh ayahnya karena prestasinya. Liana sangat iri dengan kakakknya yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari sang ayah sedangkan dirinya tidak pernah di puji walau sedikit saja. Apakah perbedaan mereka sejauh itu?
"Dek.. Jangan masukin hati ya kata kata ayah" ucap Fiola pada adiknya, ia tau bagaimana perasaan adiknya.
Liora sangat giat belajar, bahkan ia belajar sampai larut malam tapi karena prestasinya di sekolah ia harus menerima akibatnya. Padahal prestasinya sangat amat baik masih menjadi sepuluh besar namun ayahnya tidak demikian Liora harus menjadi anak yang paling pintar di kelasnya. Itu bak petir baginya kenapa ayahnya selalu saja tak menyayanginya padahal ia dengan susah payah mencapai prestasi itu.
"Kakak tidak tau karena kakak selalu juara kelas, sedangkan aku? aku ini apa kak, sudah lah kak aku capek aku mau istirahat." ucap Liora dengan nada terisak.
Fiola tidak bertanya ia tau adiknya butuh waktu untuk menenangkan diri. setidaknya ia bisa tenang.
"Kenapa ayah membedakan aku dan kak Fiola! Kenapa ayah tidak menyayangiku? padahal aku sudah berusaha keras dan ayah tidak menghargai kerja kerasku, ayah tidak menghargai nya" ucap Liora sesunggukan.
.
.
.
"Bagaimana dengan kegiatanmu Fiola, ayah harap kau bisa sukses dan bisa membanggakan ayah," Liora diam melirik kakaknya yang sangat amat di perhatikan ayahnya sedangkan dirinya selalu di acuhkan.
"Nak... makan yang banyak ya," ibu Liora mengambilkan beberapa lauk ke sukaannya.
"Fi, ayah tidak mau tau kau harus meningkatkan prestasi mu, jangan bertahan di lima besar terus apa kau tidak ikut les hingga nilaimu masih belum ada kemajuan?" Liora diam melanjutkan sarapannya.
"Jika ayah menasehati mu dengar jangan makan saja bisa mu!" ucap Ayahnya membuat dadanya terasa sesak. Liora mencoba menahannya lagi. ia tidak ingin pingsan di depan kedua orang tuanya. Pastilah ayah akan marah prestasinya saja belum ada kemajuan di tambah sakitnya yang semakin hari tak bisa ia sembunyikan.
"Mas.... Jangan membuat anak kita tertekan kasian Liora" ucap ibu Liora mencoba menenangkan suaminya.
Liora berangkat ke sekolah, jarak antara sekolah dengan rumahnya sangat dekat hingga ia tak perlu menaiki motor dan cukup dengan berjalan kaki saja.
Riko tersenyum melihat Liora yang berjalan di depannya.
"Masih sedih?" tanya Riko sok akrab.
"Apa perdulimu?" tanya Liora pada Riko.
"Ketus amat. Kan aku hanya nanya apa enggak boleh?" Liora berdecak pelan.
"Enggak... sudahlah sana pergi" ucap Liora mengusir Riko. namun saat Liora kembali melangkah dadanya terasa sakit lebih sakit dari tadi.
Liora memegangi dadanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Riko yang mulai panik melihat Liora yang menahan sakit.
Liora berlari sekuat tenaga agar Riko berhenti mengikutinya. Ia melangkahkan kakinya ke kelasnya yang masih sepi dia duduk di bangkunya dan mencoba mengatur napasnya.
.
.
.
.
.
Saat jam istirahat Riko mencari keberadaan Liora namun ia tidak menemukannya ia.bertanya kepada temannya dan dia terkejut karena teman sekelasnya mengatakan Liora masih ada di UKS.
Riko berlari menuju UKS yang terletak di sebelah kelasnya, ah kenapa dia tidak tau jika yang tadi pingsan adalah Liora.
Riko tersenyum getir melihat Liora yang masih belum sadarkan diri.
"Apa segitunya kau ingin menyembunyikan rasa sakitmu itu Lio, kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? kenapa kau selalu memendam semuanya." batin Riko memandang Liora yang nampak pucat.
"Apa kau mengenal keluarganya?" tanya dokter Yuni.
"Ah iya sus, memang apa yang terjadi pada Liora?" tanya Riko ingin tau. dokter Yuni.menjelaskan jika Liora sakit yang amat parah jika ia sampai terlambat di tangani nyawanya pun tidak bisa di selamatkan.
Mendengar ucapan Dokter Yuni Riko pun terduduk diam, bagaimana bisa Liora menyembunyikan semua itu pada keluarganya.
suster Yuni tau betul jika siswi yang terbaring di sana tengah sakit bagaimana tidak ia sudah bertahun tahun menjadi dokter.
Tak beberapa saat Liora pun sudah siuman, ia masih merasakan sakit di dadanya, bagaimana mungkin rasa sakit itu muncul bahkan lebih sakit dari biasanya. Liora tidak menyadari jika Riko ada di sampingnya pun tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Liora mencoba mencari tau bagaiman bisa Riko tau jika dia berada disini.
"Apa lagi jika mengecek keadaanmu"
"Kau tidak perlu terlalu perhatian padaku, nanti kau akan kecewa seperti yang mereka katakan"
"Kau ini bicara apa sih! aku engak ngerti"
"Jauhin aku sejauh yang kau bisa, sebelum akhirnya kau kecewa, aku tidak bisa menanggung rasa kecewamu setelah kepergianku nanti" ucap Liora yang membuat jantung Riko seakan mau berhenti.
"Apa!"
#bersambung
lanjut ??? ☺️
jangan lupa dukung dengan like dan jangan lupa komen ❤️❤️