PAGI senin yang sibuk. Sama sibuknya seperti arus lalulintas menjelang jam 8 pagi.
Mega bersama beberapa penumpang berlarian mengejar bis yang berhenti jauh dari halte. Memang kebiasaan begitu. Sang sopir sengaja memberhentikan kenderaannya 3-4 meter dari halte karena kebiasaan penumpang juga yang suka berebut ketika menaiki bis.
Seorang kakek tua ikut menaiki bis tersebut. Tidak usah ditanya bagaimana keadaan si kakek saat menghadapi persaingan dari penumpang yang jauh lebih muda dan bertenaga darinya. Kantong plastik yang dibawanya terteleng-teleng dilanggar para penumpang.
Empati? Hmm rasanya sikap itu hanya hiasan pembacaan dan pendengaran anak-anak TK sahaja. Bagaimana tidak
Mega yang guru TK itu sendiri sempat melanggar kakek tua yang melangkah terketar-ketar di anak tangga bis. Nah kalau sang guru saja begitu.. apatah lagi anak didikannya.
Tempoh perjalanan mereka mungkin tidak terlalu lama. Hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi jika dalam keadaan berdiri dan bersesak, rasanya itu lebih dari kata penderitaan buat seorang lelaki seusianya.
Bahkan deritanya bertambah-tambah setiap bis menghampiri halte. Penumpang yang mahu turun memijaki kakinya. Tiba giliran penumpang naik dia dilanggar. Dan sepanjang perjalanan itu banyak sekali halte yang dilewati. Membayangkan saja keadaan bis sedang penuh sudah memualkan apalagi terpaksa melewati suasana itu.
Mega yang berdiri tidak jauh di belakang si kakek, buru-buru menekan bel. Itu dikarenakan si kakek yang sedikit rendah itu terlihat sangat payah ketika mahu menekan tombol bel sebagai tanda destinasinya telah tiba.
Bis berhenti di hadapan sebuah halte sejurus bel dibunyikan. Si kakek tua itupun meminta laluan dari penumpang yang ada di depannya. Beberapa kaki penumpang sempat dipijak dengan tidak sengaja. Begitu pula dengan beberapa penumpang yang tidak sengaja terlanggar dan terseret oleh kantong plastik yang dibawanya.
Ketika kakinya mendarat di tanah.. kernet bis pun menagih karcis dikarenakan tadi saat naik, keadaan di luar pengendalian maka karcis ditagih saat sampai di destinasi.
"Terima kasih atas penderitaannya nak." Kata si kakek saat membayar karcis.
Pemuda yang menjadi kernet bis itu mengerutkan kening. Dalam bingung dia bertanya:
"Kenapa menderita kek? Inikan tujuannya sudah sampai? Harus bahagia dong."
"Gimana bisa bahagia? Dari kenaikan sampai keturunan tiada kedudukan.." Singgung si kakek membuat anak muda itu mengaru-garu kepalanya yang mulai keringatan.
MORAL:
Berikan tempat duduk kepada penumpang langsia ibu hamil dan mereka yang lebih memerlukannya. Sangat memalukan untuk masyarakat terbilang seperti NKRI membiarkan langsia berdiri sepanjang perjalanan sedang ada yang merasa sok gagah dan muda bersenang-senang merapatkan punggungnya di kasur empuk! Suatu saat kelak yang muda juga akan merasa turut sekarat kayak si kakek.