Semula berawal dari setelah hari lamaran oleh seorang pria yang beberapa bulan baru ku kenal, dimana saat beberapa bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan.
Tiba-tiba perasaanku padanya berubah, dulu aku senang berbincang dengannya. Tapi setelah beberapa bulan terakhir. Rasa ku berubah menjadi benci.
Aku pun tak mengerti, setiap kali aku menjalin hubungan paling hanya bertahan tiga bulan saja. "Mengapa aku terus seperti ini?" batinku selalu bertanya. Mengapa aku selalu tidak cocok dengan pria manapun.
Aku bukan playgirl, yang suka gonta ganti pasangan. Tapi sejauh ini, rasa itu selalu hadir. Seakan mencekik bila aku bersama 'orang lain'
Singkatnya hari itu, setelah ibuku mengunjungi nenek. Tiba-tiba beliau menangis. Menyuruhku minum air yang disodorkannya. Aku yang penasaran pun bertanya.
"Kenapa bu? Ibu dateng-dateng kok malah nangis?" tanyaku heran.
Namun, bukannya berhenti. Tangis ibuku semakin pecah. "Ya Allah, nak. Kamu di sukain sama Jin!"
Kata-kata ibuku membuat pukulan telak bagiku. Ini bukan negeri dongeng ataupun dunia fantasi. "Gak mungkin dong bu, lagi pula ibu tau dari mana?" tanya ku setenang mungkin.
Ibu ku bercerita, bahwa setelah dirinya mengunjungi nenek. Beliau pergi ke paranormal.. atau bisa di sebut dukun. Aku tidak tau, bukan hanya seorang yang ibu datangi. Tapi dua orang, yang mana mereka mengatakan hal yang sama.
Saat itu hidupku benar-benar hancur. Siapa yang mau disukai oleh mereka yang bukan dari bangsa kita?
Aku, Lavina Rouran.. ternyata memiliki aib yang sangat memalukan.
Yah, bagi keluarga kami. Disukai oleh bangsa Jin adalah aib. Tapi bukannya ibu merahasiakan hal ini. Tapi ibu malah membongkarnya pada keluarganya!
**
"Rouran, sholat nak, dzikir.." kata ibu ku.
"Aku sudah Sholat, aku juga sudah dzikir bu." jawabku.
Berhari-hari ibu ku terus mengingatkan ku. Namun suatu malam aku bermimpi.
Aku yang tengah hamil tua, dibawa pergi oleh bibi ku. Aku melihat aneh pada Rumah bergaya jaman dulu, yang dibuat dari ranting. Tiba-tiba saja bibi ku menghilang, kami pun terpisah. Lagi. Aku berpindah tempat. Seakan aku tengah berjalan dilorong waktu yang tiada batasnya. Kali ini ditempat yang lapang, tempat ini aku sangat mengenalnya.
"Rouran, terimakasih sudah menjadi ibu dari anakku." ujar seorang pria. Pria itu memakai kain putih, seperti para pria yang akan melaksanakan ibadah di Mekkah.
Aku berpikir keras, mengingat siapa pria yang ada didepan ku ini. Dan Seakan aku teringat kata-katanya. Dia menggendong bayi dalam dekapannya.
Dan kata-katanya tadi. Seketika aku memegang perutku. "Kemana bayiku?" tanpa sadar aku bertanya.
"Bayi mu sudah lahir Rouran, ini anak kita." ujarnya membuatku menatap pria itu kembali.
"Kenapa bisa? Bagaimana cara dia keluar..?" tanyaku tak percaya.
"Aku yang mengeluarkannya dari perutmu dengan kekuatan ku. Rouran, aku yang mengambil dia. Agar kau tidak mendapat bekas nantinya." pria itu terlihat sedih.
"Aku akan membawa anakku, karena kau mengusir kami dari hidupmu." katanya lirih.
Aku menggeleng keras demi menyangkal semua ucapannya. Kini semuanya semakin jelas, didepanku adalah pria yang selalu ada didalam mimpiku. Dia... Bagaskara.
"Tolong jangan bilang kata perpisahan, ini terasa menyakitkan bagiku." tanpa sadar aku menangis. Entah kenapa mendengar pria yang sangat aku kenal pergi meninggalkanku membuatku sakit hati.
Setelah aku terbangun dari mimpiku, aku menangisi nasibku. Aku baru menyadari, dialah sosok yang selalu hadir dalam mimpi ku. Dialah ayah dari putera ku.
Segara, semoga kamu selalu bersama dengan ayahmu nak.
Sampai detik ini, aku tidak bisa melupakan mereka. Meskipun aku jadi menikah dengan pria itu, namun pernikahan kami kandas. Hanya bertahan enam bulan saja. Kini aku menjanda.
Aku tidak bisa melupakan Bagaskara dan Segara buah cinta kami. Bagaskara aku tak bisa melupakannya.. Segara putera ku dari jin yang masuk kedalam kehidupanku.
selesai~