Setangkai bunga dipegang seraya hati yang di terpa asmara. Sisi romantisme yang diciptakan untuk seorang yang begitu spesial di pandangan mata. Kedua mata yang terbuka lebar menampakkan bayang sang pujaan hati. Serta tangan dan kaki sedikit berkeringan seiring hati yang ikut deg-degan. Kendali sikap akan perasaan yang terus bergejolak selalu dilakukan setiap saat. Kini tiba masanya, untuk mengucapkan apa yang harus disampaikan dari lubuk hati yang terdalam.
Sebuah tempat akan menjadi saksi keberlangsungan suatu momen spesial kala itu. Suasana sepi nan tenang, serta langit petang yang menjadi bagian latar waktu. Langkah kaki perlahan menuju lokasi yang telah di sepakati. Tanpa sepengetahuan dari seorang idaman hati.
Tatapan mata serta sedikit keringat mengekspresikan betapa beraninya ia saat itu.
Pakaian rapi menggambarkan ke eleganannya untuk momen penting ini.
Dirinya sudah tiba di lokasi. Ia diam di tempat sembari menunggu sang pujaan hati tiba. Langit makin petang, dan lokasi yang berupa taman yang luas itu belum juga didatangi olehnya.
Menunggu untuk sementara waktu, hingga akhirnya kesabaran tersebut terbayarkan dengan hadirnya sang gadis.
Dengan pakaian yang cantik, membuat sang lelaki bernama Yoka itu tambah deg-degan. Mulutnya harus menyampaikan sesuatu yang melibatkan sebuah keberanian nyata.
Lambaian tangan tampak dari jauh. Yoka lalu membalas dengan hal yang sama.
Gadis itu sudah mendekat. Dan kini berada persis di hadapannya. Gaya rambut hingga riasan wajah, tampak begitu cantin dan anggun. Mata Yoka tidak bisa berpaling ke arah lain, sebab gadis bernama Olivia itu menarik penuh perhatiannya.
"Apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu. Dan sekarang kamu mengajakku untuk datang kesini."
"Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarmu?"
Balas Yoka pada sang gadis.
Gadis itu membalas sambil tersenyum. Kemudian Olivia kembali menanyakan perihal tujuan ajakan Yoka untuk datang ke taman pada hari yang sudah petang ini. Lelaki itu mencoba mengambil sebuah topik pembicaraan agar dirinya tidak menjawab lebih awal akan pertanyaan itu. Yoka mengajaknya berjalan sejenak untuk mengobrol ringan selagi mempersiapkan diri untuk merangkai sebuah kata yang nantinya akan diucapkan.
Setelah jalan beberapa menit, Yoka dan Olivia pun berhenti di tengah taman. Lelaki itu mencoba mengeluarkan bunga yang di sembunyikannya di balik punggung. Tangan sebelah yang sedari tadi memegang bunga, langsung ia perlihatkan pada Olivia. Gadis itu terperangah ketika melihat setangkai bunga di keluarkan oleh Yoka.
"Apa maksudnya ini?"
Tanya Olivia pada Yoka.
"Bunga ini kuberikan untukmu. Sebagai tanda suka padamu. Selama ini kita hanya menjalani status sebagai teman. Namun, aku ingin lebih dari itu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Yang pasti perasaanku ini sudah jelas menyukai seseorang yaitu kamu, Olivia."
Olivia tidak berkata untuk beberapa saat. Hal itu cukup mengejutkannya. Sebab ini terjadi secara tiba-tiba. Dia mengambil nafas, lalu mulai bicara.
"Kamu mengejutkan dengan ini. Bunga, serta pakaian yang bahkan belum pernah aku lihat sebelumnya. Kamu tampak rapi dan elegan. Ini momen yang begitu spesial bukan? Aku rasa jelas begitu. Dan sekarang ini kamu ingin hubungan kita..."
"Lebih dari sekedar teman"
Yoka memotong ucapan Olivia.
Lelaki itu coba meyakinkan Olivia akan perasaannya yang selama ini di pendamnya sedari lama. Gadis itu mendengarkan segala perkataan yang disampaikan olehnya.
Olivia mulai merasa terbawa suasana yang telah dibuat oleh Yoka. Kembali menarik nafas perlahan dengan memegang dada yang dirasa begitu ikut deg-degan.
"Jadi kamu mau menjadi kekasihku?"
Yoka memberanikan diri sekaligus menunduk.
Bunga dipegang dengan kedua tangan dan berada di depan mata Olivia. Gadis itu sekarang harus memberi jawaban atas keinginan seorang Yoka.
"Baiklah. Aku akan memberi jawaban atas itu. Jadi... aku..."
Jantungnya berdetak dengan kencang sembari menunggu jawaban langsung dari mulut Olivia.
Ia berpikir apakah cintanya akan terbalaskan atau tidak saat ini juga.
"Aku... Menerimanya."
Mata terbuka lebar dan pandangan terangkat ke atas seketika. Seolah tak menyangka atas apa yang telah didengar barusan. Yoka bertanya sekali lagi akan kebenaran tersebut. Dan Olivia berkata...
"Iya. Aku menerima ajakanmu untuk berpacaran. Sekarang kita sudah lebih dari sekedar teman. Aku harap kita bisa menjadi sepasang kekasih yang kekal. Menuju jenjang yang lebih tinghi lagi, hingga maut memisahkan."
Bunga yang sebelumnya dipegang oleh Yoka, kini diambil oleh Olivia. Gadis itu mulai jalan mendekat. Dan sebuah kecupan diberikannya pada lelaki bernama Yoka tersebut.
"Aku juga berharap demikian. Semoga perasaan cinta kita tetap abadi, meski suatu saat raga sudah terpisah dari nyawa."
Yoka langsung memeluk Olivia dengan erat seraya bahagia.
-----SELESAI-----