"Bagaimana jika kita cerai saja?!"
"Kurasa itu lebih baik."
Mendengar kalimat yang di lontarkan kedua orangtuanya, hati Queen bagaikan tersambar petir disiang hari, impian nya tentang keluarga bahagia hanya tinggal kenangan. Pertengkaran kedua orang tuanya yang hampir terjadi setiap hari, akhirnya berakhir sekarang, hati Queen terasa terluka, kedua orang yang sangat disayanginya telah memutuskan untuk hidup terpisah. Dengan mudahnya ayah dan ibunya menyuruhnya memilih, antara mereka berdua. Lantas, Queen harus apa? Ia harus tinggal bersama siapa? Bukan ini yang Queen inginkan!
Kadang sering kali anak yang menjadi korban, kerap menyalahkan orang tua, tanpa mau memikirkan perasaan keduanya. Tentu itu juga sulit bagi mereka, dan bukan pilihan yang mudah, tidak seorangpun ingin hubungan yang telah terjalin begitu lama, harus putus ditengah jalan.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Disinilah Queen sekarang, duduk di pinggir danau tak jauh dari sekolah. Ya, Queen adalah pelajar SMA, yang terlalu sering bolos selama beberapa bulan ini, tepatnya ia sengaja melakukannya karna ingin mencari perhatian kedua orangtuanya.
pluuukk .....
Kerikil-kerikil kecil lolos dari tangannya dan melesat ketengah danau, sambil terus menggerutu meluapkan kekesalan dan kemarahan dalam hatinya.
"Aawwww," pekik seseorang dari pinggir danau, sambil memegangi kepalanya yang mungkin terkena batu kecil yang dilemparnya tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria misterius yang muncul entah dari mana. Sebab, ia sama sekali tidak terlihat sebelumnya.
Queen yang terkejut, langsung berdiri dan lari menghampirinya.
"Maaf kak, aku nggak sengaja," ucapnya tulus, seraya mengelus kepala pria itu.
"Ya, tidak apa. Sedang apa kau disini, bukankah ini masih jam sekolah?" tanya nya dengan tatapan curiga.
Merasa risih di perhatikan seperti itu, Queen pun langsung menjawab seadanya.
"Kak, jangan melihatku seperti itu, aku memang sedang bolos sekolah sekarang, aku sengaja melakukannya," terangnya sambil berjalan dipinggiran danau.
Karna penasaran, pria itu pun mengikutinya berjalan. Ada rasa keingintahuan yang besar dalam hatinya.
Gadis berkulit putih, dengan rambut berwarna madu, dengan panjang sebahu, yang ia biarkan tergerai. Iris mata berwarna hitam, dengan bulu mata lentik yang begitu mempesona, tak luput dari penglihatan nya.
"Nama kamu siapa? boleh kita berkenalan?" tanya nya sembari menjajarkan langkah kaki mereka.
"Tentu, namaku Queen kak, aku pelajar di SMA Harapan bangsa, yang tidak jauh dari sini," jawab Queen tanpa malu.
"Nama kakak siapa, dan darimana kakak muncul, sebelumnya aku tidak melihatmu di sekitar sini," cecar Queen, ia berhenti dan menatap pria di sampingnya.
"Ah itu, a-aku ... aku dari tadi juga duduk disini, mungkin kau saja yang tidak memperhatikan," katanya sangat gugup.
"Benarkah?" tanya Queen menelisik.
"Ten-tentu saja! Nama ku Raka, Raka Pradipta, aku juga sama denganmu, aku masih pelajar, namun aku bersekolah di SMA Budi harapan," sambungnya lagi.
"Hmm, jika benar, kenapa kakak sangat gugup? bukankah kita sama?" ucap Queen tersenyum, seraya meninggalkan pria itu begitu saja.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Hari demi hari berlalu, Queen tetap sering bolos sekolah dan datang ketempat itu, danau yang menjadi tempat favoritnya, disana ia selalu bertemu dengan Raka. Ya, sejak saat itu hubungan pertemanan mereka terjalin, Queen selalu menceritakan semua masalah nya kepada Raka. Begitupun Raka, selalu saja mendengarkan semua cerita Queen tanpa merasa bosan sedikitpun.
"Kak Raka," terdengar suara gadis yang selama beberapa bulan ini memenuhi pikirannya.
Ya, Raka tengah duduk dibawah pohon, dipinggir danau, sembari melempar kerikil-kerikil kecil, ketengah danau. Itu adalah kegiatan rutin mereka jika berada disini.
Raka menoleh, tersenyum menyambut Queen yang berjalan ke arahnya.
"Tumben beberapa hari ini kamu jarang kesini, kakak selalu menunggumu disini."
Queen duduk disebelah nya, dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Iya kak, bukankah sebentar lagi adalah hari kelulusan kita. Aku harus mengejar ketinggalan pelajaran ku, supaya bisa lulus. Benar katamu kak, tidak baik terus-terusan bolos, hanya untuk mencari perhatian kedua orang tua ku. Aku juga tau, itu akan sia-sia dan masa depan ku yang akan hancur," ujarnya menerangkan.
"Adek kakak memang pintar," tangannya terulur, mengacak-acak rambut gadis disebelahnya.
"Kak Raka sendiri gimana, kakak kapan mau main kerumah Queen? atau aku saja yang main kerumah kakak, gimana?" dengan senyum termanis yang ia punya, ia mencoba merayu pria, yang selalu saja punya beribu alasan, untuk menolak ajakan nya tentang ini.
"Queen, please jangan paksa kakak, belum saatnya," tukasnya, tegas menolak keinginan sang gadis.
Queen merasa kecewa, ada yang mengganjal di hatinya saat ini. Sebenarnya apa alasannya, kenapa Raka selalu menolak untuk itu? Bukankah hal ini masih terbilang sangat wajar?
Beberapa bulan saling mengenal, tapi Queen tidak pernah tau dimana Raka tinggal, Raka tidak pernah menceritakan kehidupan pribadi nya, kecuali hanya tentang dimana ia bersekolah. Berbeda dengan Queen yang selalu menceritakan semua tentangnya, ia tinggal dimana dan bersama siapa.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Semenjak saat itu, Queen tidak pernah lagi menanyakan atau memaksa Raka untuk menceritakan kehidupan pribadinya. Ia membiarkan semuanya berjalan dengan apa adanya. Hubungan mereka semakin dekat, tanpa sadar Queen mempunyai rasa yang lebih untuk pria yang selalu menemani nya dari awal kehancuran keluarganya.
Raka selalu bersedia mendengarkan curahan hati seorang Queen, menasehati jika yang dilakukannya salah, memberikan semangat untuk terus belajar, dan berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik agar bisa lulus dan melanjutkan pendidikan nya setinggi mungkin.
Dan tepat pada saat ini, Queen memutuskan untuk mengatakan perasaannya selama ini. Queen tau, jika Raka juga menyukainya, itu sangat terlihat dari sikap Raka padanya.
"Kok aku gerogi ya, huuft ... Bismillah,"
Langkah demi langkah kaki Queen semakin mendekat ke danau. Seperti biasa, Raka duduk dibawah pohon dekat pinggir danau, bermain dengan kerikil-kerikil kecil yang selalu menjadi incarannya.
Queen terhenti tidak berapa jauh, jantungnya berdegup sangat kencang, ia memegang dadanya, yang berdebar seakan ingin lompat dari sana.
Queen, kenapa diam disana?" tanya Raka, menoleh ke belakang, seraya tersenyum sangat tampan.
"emm, itu ... anu ..," gugupnya, tak sanggup berkata.
"emm, itu, anu ... apaan Queen," tanya Raka, sudut bibirnya lagi-lagi terangkat.
"Sini, duduk dekat kakak." tangannya terulur, meraih jemari lentik Queen, untuk mendekat padanya.
Queen menurut saja, jangan tanyakan bagaimana keadaan hatinya saat ini. Queen tersanjung dengan perlakuan Raka selama ini padanya, begitu lembut, perhatian, dan menyayanginya.
Untuk itu, ia memutuskan untuk mengatakan perasaannya, terlepas Raka menerima nya atau tidak, itu urusan nanti, pikirnya.
"Ada apa? apa ada masalah, hmm?" cecar Raka, penasaran.
"Tidak kak, bukan. A-aku, aku cuma bingung," jawab Queen asal.
"Soal apa, ujian?" terka nya, memperhatikan gerak-gerik gadis yang disebelahnya.
"Bagaimana sekarang, hati dan bibirku tidak bisa bekerja sama, oh Tuhan ...," ucapnya dalam hati.
"Aku bingung harus darimana mengatakannya, kak Raka," tukasnya, sembari memalingkan wajah.
"Ho-ho-ho, ini bukan dirimu yang biasanya Queen."
Raka tertawa kecil, melihat salah tingkah gadis kecil yang menurutnya sangat menggemaskan ini.
"Aku mencintaimu, kak Raka. Aku nyaman sama kakak, aku sayang sama kakak ... a-aku ...,"
Akhirnya kalimat itu lolos dari bibir mungilnya, tertunduk malu, Queen tidak berani menatap mata Raka.
Sejenak mereka terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.
Hingga, Queen memberanikan diri kembali, untuk memulai percakapan.
"Maaf kak, maafin aku, jika perasaanku membuat keadaan kita tidak nyaman seperti ini, aku hanya ingin mengungkapkan nya, tidak berharap kakak menerima ataupun membalasnya,” ungkap Queen.
Ia menghapus air matanya yang menetes tanpa permisi, ia merasa malu atas tindakannya barusan.
Ia berdiri, mendekat dan menghadap ke danau, hatinya terus-menerus bertanya, ia tidak mungkin salah, ia yakin jika Raka juga mencintainya.
"Maaf Queen, maaf ...," ucap Raka dalam hati.
"Kenapa hanya diam, dan tidak bereaksi apapun, setidaknya jawab aku kak, jangan diam seperti itu. Katakan jika tidak cinta, katakan jika hanya menganggap ku teman saja, tidak lebih," sambungnya lagi, menoleh ke belakang.
"Beberapa hari lagi, kamu ujian kan? Kakak doa'kan semoga kamu lulus, dengan nilai terbaik."
Bukan itu jawaban yang Queen inginkan. Kecewa? tentu saja. Queen merasa di abaikan, apa susahnya menjawab pertanyaan tersebut?
Queen menangis, tatkala Raka berjalan meninggalkan nya sendirian di tepi danau, dalam sekali kedipan, bayangan Raka hilang begitu saja dari pandangannya. Lenyap, tak berjejak.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Beberapa hari kemudian, hari kelulusan pun tiba, Queen lulus dengan nilai terbaik, ia senang dengan itu. Kali ini ia memutuskan untuk menemui Raka ditempat biasa, danau favoritnya.
Ya, sejak kejadian itu Queen tidak pernah datang lagi kesana. Selain rasa kecewa atas perasaan nya yang di abaikan, ia juga ingin membuktikan bahwa ia bisa lulus dengan nilai terbaik. Queen melangkah dengan sedikit cepat, tak sabar untuk segera sampai ke danau.
Semilir angin menyapa wajah gadis cantik yang masih berseragam SMA, dengan penuh coretan disana, menjadi bukti jika ia telah lulus dan siap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sepi, tak ada siapapun. Queen berkeliling di pinggiran danau, ia tetap tidak menemukan sosok Raka disana.
"Dimana kak Raka? kenapa tidak ada? Apa mungkin ia juga sedang merayakan hari kelulusannya ya?" Queen menerka-nerka.
Akhirnya menyerah, ia memutuskan untuk pulang, dan akan kembali esok hari.
Keesokan harinya ia pergi kesana, namun lagi-lagi tidak ada Raka disana. Hari demi hari berlalu, Queen setiap hari mengunjungi danau itu, namun hasilnya tetap sama, Raka tidak pernah muncul lagi, sejak saat kejadian itu.
"Dimana kamu kak, kenapa tidak pernah lagi menemui ku, aku merindukanmu, aku ingin memberitahu kabar gembira karena aku lulus dengan nilai terbaik, dan aku mendapatkan beasiswa ke luar Negri, kak. Aku ingin kau lah orang pertama yang mendengarnya."
"Apa kau marah kak, atas apa yang terjadi saat itu? aku tidak bermaksud, aku hanya ingin mengungkapkan, agar kau tau, dan aku bisa lega, tidak memendam perasaan ini," ungkap Queen, duduk di batu besar, tepat di pinggir danau.
Hatinya terasa sesak, bergemuruh, ada sesuatu yang ia tahan, dan ingin segera keluar.
Ya, akhirnya Queen menangis, ia tak sanggup lagi menahannya, sejak saat pertama ia tidak bisa menemukan Raka, ia selalu menahan airmata nya. Ia selalu berfikir positif, mungkin Raka sedang sibuk, mungkin Raka sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan nya.
Tapi, tidak bisakah mereka bertemu sebentar? Queen tidak tau dimana Raka tinggal, karna Raka yang tidak pernah menceritakan hal-hal pribadinya.
"Apakah kau begitu marah, dan membenciku kak? maafkan aku, aku yang merusak hubungan ini. Harusnya aku tidak mengatakannya, jika saja aku memendamnya, mungkin saat ini kita masih berteman seperti dulu," racaunya dengan berlinang air mata.
"Bodoh, dasar Queen bodoh, kau bodoh Queen. KAU SANGAT BODOH!" umpatnya memaki diri.
"Arrrrggh .... Queen bodoh!"
Ia berteriak meluapkan perasannya. Ia berharap Raka muncul dan menemui nya saat ini, namun nihil, Raka tidak pernah lagi muncul dan menampakkan diri.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Queen tengah bersiap, untuk pergi keluar negeri, untuk melanjutkan pendidikan nya yang ia raih dengan beasiswa.
Semua telah siap sekarang, namun hatinya terasa kosong, ia merebahkan diri di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya. Tanpa sengaja, matanya melihat ke seragam SMA yang tergantung dibalik pintu, seketika ia teringat Raka. Raka yang selalu memberikan semangat, memberi motivasi, saat Queen kehilangan arah dan masa bodoh dengan pendidikan nya saat itu.
Airmata nya lagi-lagi menetes, ia telah kehilangan sahabat sekaligus orang yang dicintainya.
Sejenak ia teringat awal perkenalannya dengan Raka, ia sempat memberitahu dimana ia bersekolah bukan? Sontak Queen bangun dari posisinya saat ini, menghapus air matanya.
"Ya, kak Raka sekolah di SMA Budi harapan, kenapa tidak terpikirkan sebelumnya. Aku akan kesana sekarang, setidaknya aku ingin menemuinya sekali saja, sebelum aku pergi dari negara ini. Aku ingin berterima kasih padanya, dan aku akan pergi dari sini dengan membawa perasaan cintaku jauh darinya, jika ia tidak menginginkannya."
Queen dengan semangat pergi ke sekolah Budi harapan, sekolah itu tampak sepi sebab sekarang tengah masa libur.
"Tidak ada orang, bagaimana ini, kenapa kau bodoh sekali Queen, kenapa tidak dari kemarin-kemarin kau memikirkan hal ini."
Terdengar suara pintu gerbang, artinya ada seseorang disana, Queen dengan langkah cepat menuju kesana. Terlihat bapak separuh baya, mungkin seorang satpam disekolah.
"Bapak, permisi. Boleh saya bertanya?" tanya Queen sopan.
Sang bapak tersenyum dan mengangguk, "Silahkan non, mau bertanya apa?" jawab sang bapak.
"Saya ingin menanyakan, seorang murid yang bersekolah disini, apakah bapak mengenal Raka Pradipta?" sambung Queen.
Sejenak sang bapak terdiam, nampak sedikit berfikir, dan setelah beberapa saat, Queen menangkap reaksi sedikit terkejut dari sang bapak satpam.
"Kenapa pak, apa bapak kenal?" terka Queen tak sabar lagi.
"Ya, saya sangat kenal, dia murid terbaik disekolah ini, memangnya ada apa, non mencarinya?" tukas sang bapak.
"hmm ya pak, beberapa hari ini, saya tidak bertemu dengannya, apakah bapak tau dimana ia tinggal? boleh saya minta alamatnya?" ujar Queen panjang lebar.
Sontak mata bapak itu terbelalak, tak mengerti maksud anak gadis didepannya.
"Maaf non, mungkin non salah orang, atau bapak yang salah mengenali seseorang. Apa non punya fotonya, bisa bapak lihat?"
"Saya tidak punya fotonya pak," Queen benar-benar merasa bodoh, hampir setahun ia mengenal Raka, tapi ia bahkan tidak mengerti tentang kehidupannya, bahkan fotonya saja ia tidak punya.
"Bukankah bapak tadi bilang mengenal nama Raka Pradipta? Dia yang saya cari pak," sambung Queen antusias.
"Sepertinya bukan non, sebab Raka yang saya maksud sudah meninggal hampir setahun yang lalu."
Deg, jantung Queen terasa berdenyut, mendengar kalimat yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Meninggal, apa yang bapak ini katakan. Pasti salah orang, pasti dia bukan Raka ku." katanya dalam hati.
"Mungkin bapak benar, mungkin bukan dia yang ku maksud," tukas Queen dengan cepat.
"Tapi jika non mau, saya bisa menunjukkan foto Raka Pradipta yang saya maksud, tapi itupun jika non mau," sambungnya lagi.
Tak lama berselang, sang bapak kembali ke depan gerbang, membawa tumpukan koran dari dalam pos satpam.
Ia terlihat mencari-cari sesuatu dan akhirnya mengambil satu koran, dan memberikannya pada Queen.
Mata Queen terbelalak tak percaya, itu benar Raka Pradipta, yang selama beberapa bulan ini dekat dengannya. Disana terlihat Raka memegang sebuah piala, tepat ditengah lapangan dengan memakai baju olahraga.
Namun mata Queen berkaca-kaca, tatkala melihat tulisan di koran tersebut, dimana dikatakan bahwa murid terbaik di sekolah Budi harapan, ditemukan tewas tenggelam di dasar danau, tak jauh dari sekolah.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Dengan langkah gontai, kaki Queen menuju tempat pemakaman umum, dimana kata sang bapak jasad Raka di kuburkan.
Setangkai mawar putih, berada di jemari lentik sang gadis, airmata terus menemani langkahnya menuju kesana.
Sampai di TPU yang dimaksud, matanya mencari-cari dimana batu nisan bertuliskan nama Raka Pradipta, dan tak lama ia menemukannya.
Kaki Queen gemetar, pandangan matanya mengabur, benar-benar tertulis nama Raka Pradipta disana.
Kakinya tak sanggup lagi menampung beban badannya, ia terjatuh ... terduduk disamping nisan putih itu.
Ia menangis, dan sesekali ia menengadahkan kepalanya. Mengapa takdir sejahat ini, mengapa Tuhan memberinya harapan dengan kedatangan Raka selama ini, jika itu hanya memberikan nya rasa sakit seperti ini.
"Kak Raka, aku merindukanmu, kak ... Kenapa kau tidak mau lagi bertemu denganku?"
Tangisannya semakin pecah, ia benar-benar terkejut atas kenyataan yang baru ia ketahui ini, dan sungguh kejutan yang sangat menyakitkan.
Ia meletakkan mawar putih yang dibawahnya sedari tadi, meraba nisan yang bertuliskan nama seseorang yang telah merajai hatinya sejak hampir setahun lalu, mengusapnya penuh cinta.
"Aku mencintaimu kak Raka, aku menyayangimu, tanpa syarat. Aku ikhlas menerima mu yang apa adanya, aku tidak mengharapkan apapun darimu, cukup kamu tau bahwa aku memiliki rasa cinta yang luar biasa terhadapmu, itu sudah cukup bagiku."
"Beristirahatlah dengan tenang, kak. Aku akan selalu mendoakan mu dari sini, tetaplah menjadi sosok kak Raka yang menyenangkan."
"Namun satu hal permintaan ku kak, jika disana kamu bertemu dengan para bidadari, tolong jangan lupakan aku kak, ingat lah aku walau hanya sesekali."
Queen benar-benar hancur sekarang, ia terus berbicara dengan batu nisan itu.
"Kak Raka, kau orang yang baik, Allah pasti menempatkan mu disisi orang baik pula, aku akan selalu merindukanmu kak, aku pasti akan sangat kehilangan mu sekarang, benar-benar kehilanganmu, kak Raka."
Tangisan Queen terdengar sangat menyayat hati, siapapun yang mendengarnya. Sedih? tentu saja. Terluka? sudah pasti.
Ia meletakkan kepalanya di pinggiran nisan Raka, menangis sepuasnya disana, airmata tak henti-hentinya mengalir dari bola mata berwarna hitam itu, ia memejamkan matanya yang terasa sangat panas, bibirnya terus-menerus menyebutkan nama Raka.
"Kak Raka, aku merindukanmu, izinkan aku sejenak berada disini ya, biarkan aku tetap seperti ini untuk beberapa saat," ujarnya lagi.
Perlahan antara sadar dan tidak sadar, terasa ada uluran tangan yang mengelus pucuk kepalanya, begitu lembut dan menenangkan, Queen menikmatinya sebentar.
Lalu mata indah itu terbuka, terlihat sosok tampan Raka di hadapannya. Berjongkok menatapnya, berbalut pakaian serba putih, dengan senyum yang tersungging disana.
Queen menangis tatkala melihat pemandangan itu, sosok yang sangat ia rindukan, muncul didepannya saat ini.
"Apa ini benar-benar kau, kak Raka? ini kamu kan kak, aku tidak bermimpi kan?" Queen mencubit paha nya, dan itu membuat Raka meraih jemari Queen.
"Ini memang mimpi Queen, tidak nyata, ini hanya ilusi, maaf kan aku, tanpa sadar aku telah menyakitimu."
Dengan tangan satunya, Queen meraba wajah tampan Raka, yang hari ini terlihat sangat tampan, tampak sedikit bersinar, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Kak, aku merindukanmu kak, Queen sangat mencintaimu, aku tidak bisa menyembunyikan nya, aku ingin kakak tau itu, Queen mu benar-benar menyayangimu." Queen terisak-isak, sampai bahu nya bergoyang, seirama dengan tangisannya.
Raka meraih nya kedalam pelukannya, mengelus puncak kepalanya, mencoba menenangkan gadis kesayangannya.
"Dengar kakak Queen, kakak bukan menolak kamu waktu itu, kakak hanya bingung dengan keadaan, kakak nggak sanggup untuk menceritakannya, karena kakak nggak mau kehilangan kamu, makanya kakak diam."
"Kalau kakak boleh jujur, kakak juga mencintaimu Queen, sangat mencintaimu, bahkan lebih dari yang kau tau, sayang." ujarnya menerangkan.
Tangisan Queen semakin pecah, Raka semakin erat memeluknya. Kenapa takdir begitu jahat padanya, mempermainkan perasannya.
"Maafkan kakak, kakak terlalu egois, harusnya kakak jangan pernah datang ke kehidupanmu, jika akan menyakitimu, sayang." sambungnya lagi, Raka mengecup pucuk kepala Queen, Queen memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Raka disana.
Melepaskan pelukannya, Raka mengajak Queen berdiri, menegang kedua tangannya.
"Sayang, sekarang kamu sudah tau semuanya, maka lanjutkan hidupmu sayang, raihlah cita-cita mu, belajarlah yang giat, agar dapat menjadi orang sukses, di kemudian hari. Sekarang kakak harus pergi, sudah waktunya kakak meninggalkan dunia ini. Kakak akan melihatmu dari atas sana," terang nya, sembari menunjuk ke langit sana.
"Tidak kak, jangan tinggalkan aku, jangan pergi dariku, kakak ... ku mohon," mata indah itu terlihat sedikit membengkak, dan kembali mengeluarkan air mata, Queen tertunduk tak sanggup menatap wajah pria yang begitu dicintainya.
Raka meraih dagu Queen, mengangkat nya, memaksa manik mata mereka bertemu.
Raka mendekatkan wajahnya, secara perlahan, Raka mencium bibir mungil Queen, Queen tidak menolaknya, bahkan ia membalasnya, sedikit membuka mulutnya, memberi akses untuk Raka melakukan apa yang di inginkan nya. Raka terus melu matnya, mereguk setiap rasa manis dari bibir Queen disana.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan ciumannya, menempelkan dahi mereka, dan hidung mereka bertemu.
"Aku mencintaimu sayang, aku begitu menyayangimu, Queen," ucap Raka.
Kembali, dengan penuh kasih sayang, Raka mengecup kening Queen dalam. Queen memejamkan mata, dan airmata itu lolos lagi dari sana.
Raka memeluknya erat, begitu erat, seakan-akan tak ingin berpisah dengannya.
"Aku harus pergi sekarang, sayang. Jagalah dirimu, dan lupakan lah aku."
Perlahan Raka melepaskan tautan tangan mereka, dengan berjalan mundur, tubuhnya makin lama makin memudar, Queen menangis histeris melihatnya.
"Jangan pergi kak, jangan tinggalkan aku, ku mohon ...," ucap Queen diselah tangisannya.
Namun sosok itu tak bergeming, Raka melambaikan tangannya, dan akhirnya sosoknya benar-benar menghilang.
Queen terjatuh, tak berdaya, menangis tersedu-sedu di tengah-tengah pemakaman umum itu.
Akhirnya Raka benar-benar pergi meninggalkannya, untuk selamanya.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Beberapa tahun kemudian, Queen kembali' ke negaranya, setelah menyelesaikan pendidikan disana.
Saat ini, ia tengah duduk di batu besar, di pinggir danau favoritnya, tempat ia biasa duduk berdua dengan Raka.
Seperti biasa, kerikil-kerikil kecil kerap menjadi korban, untuk ia lempar ketengah danau.
pluuukk ......
"Awwwh ...," pekik seseorang di ujung sana.
Seperti devaju, muncul sosok pria di balik pohon, yang terkena lemparan Queen, dan sosok itu mirip sekali dengan sosok Raka, yang beberapa tahun lalu juga muncul di danau itu.
Siapa dia, kenapa wajahnya sangat mirip seperti Raka?
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️