Hei... Apa kau ingat? Langit bahkan memiliki kisah mereka untuk di dengar. Bukan hanya anak manusia yang memiliki kisah untuk di dengar. Semesta kita punya ribuan kisah untuk kita pahami. Ingatanku kembali ketika usiaku beranjak 3 tahun. Masa anak-anak yang begitu menyenangkan.
Ribuan tetes air turun membasahi bumi. Malam gelap dan sunyi menyelimuti kehidupan anak manusia. Tak ada yang beranjak keluar dari rumah mereka yang hangat. Angin bahkan bertiup amat gila diluar sana. Tak memberi kesempatan untuk berhenti.
"Lila .. Ayo tidur sayang. Besok kita pergi sekolah." Ucap suara itu amat lembut sambil memeluk tubuh kecilku.
"Baik, Mama ... Lila akan tidur." Jawabku sambil menahan kantuk.
Aku pelan menuju kasur dan melindungi tubuhku dengan selimut yang cukup tebal dan hangat.
"Mimpi indah sayang." Ucap Mama yang lantas mencium keningku lembut. Aku pelan terlelap.
Diluar sana, payung-payung berkembang seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Mereka yang sibuk bekerja, memilih melindungi diri dan peralatan mereka agar tak basah kuyup.
"Mama...Apa kau disana?" Panggilku pelan.
"Mama disini Lila...Ada apa sayang?" Tanya Mama lembut.
"Bisakah Mama bercerita tentang kisah anak hujan untukku?" Pintaku yang membuat Mama tersenyum manis.
Mama mengangguk pelan dan menarik nafas begitu dalam. Bersiap memulai cerita menarik itu.
"Baiklah ... Mama mulai ceritanya.." Bisik Mama pelan.
"Jauh dari tempat manusia tinggal, sebuah negeri kecil dengan penduduk yang begitu bahagia tinggal. Negeri itu bernama Pytiare. Tempat tinggal para Awan dewasa dengan anak-anak mereka."
"Konon, negeri itu terkenal dengan syair indah mereka untuk anak-anak mereka yang akan dikirim ke bumi tempat manusia tinggal. Syair yang menguatkan." Ucap Mama terhenti.
Aku pelan memeluknya dengan tangan kecilku.
"Mama, bisakah kau bacakan syair itu?" Desisku pelan.
"Baiklah...Dengarkan baik-baik." Bisik Mama sambil mengusap kepalaku perlahan.
"Angin lembut bertiup... Menggoyangkan daun-daun dengan anggun. Waktumu telah tiba anakku. Jangan takut, manusia di bumi tidak akan menyakitimu. Kau tak akan sendiri disana. Sudah saatnya untukmu turun ke bumi. Pergilah anakku, jangan kau bawa rasa takutmu. Maafkan kami yang tak bisa menemanimu. Jika kau kembali dan tak bertemu kami, kami akan tetap merindukanmu anakku. Meskipun berat untuk kami, inilah perjanjian waktu dan kami akan memenuhinya. Selamat jalan anakku..." Bisik Mama lembut.
Aku pelan terlelap.
Waktu bergerak begitu cepat. Bahkan manusia paling tinggi di bumi tak bisa menggunakan pangkatnya untuk menghentikan waktu. Aku dan suamiku kembali ke rumah lamaku untuk menemui Mama. Sudah sekian lama tak bertemu Mama.
"Mama ... Maafin Lila sama mas Reno baru menjenguk kemari. Mama apa kabar?" Sapaku pelan.
Mama tersenyum tipis dan memelukku erat.
"Selamat datang anak kesayangan Mama. Mama baik nak...Mama selalu baik-baik saja." Jawabnya lembut. Selembut ucapannya ketika aku masih anak-anak.
"Mama...Maafin Reno baru bisa kemari. Reno benar-benar minta maaf." Ucap suamiku yang berlinang air mata.
Mama pelan merengkuhnya. Mencoba menghentikan isakannya.
"Tidak apa-apa sayang...Kau seorang lelaki yang hebat. Selama kau ingat untuk pulang, rumah ini terbuka untukmu sayang." Ucap Mama lembut.
Membuat isak haru suamiku berhenti.
"Ma... Lila punya kabar baik buat Mama dengar." Ucapku pelan.
Mama terkejut. Bertanya-tanya apa kabar itu.
"Lila mengandung anak kami Ma.. Usianya genap 4 bulan." Lanjut suamiku setengah berbisik.
Mama pelan terisak. Ucapan syukur terukir dari mulutnya yang sering bercerita untukku. Lantas memelukku erat dan membisikkan untaian doa untukku dan untuk bayi mungilku. Reno tersenyum melihat Mama bahagia.
"Mau mendengar kisah tentang anak hujan lagi?" Tawar Mama yang kubalas dengan anggukan. Reno juga mengangguk. Ingin mendengar cerita itu dari mulut Mama.
Aku dan suamiku duduk menghadap Mama. Bersiap mendengar kisah yang sudah bertahun-tahun terpotong.
"Mama akan lanjutkan ceritanya... Anak hujan yang turun ke bumi manusia, turun dengan bahagia beserta saudaranya. Meninggalkan awan induk dengan pengantar yang amat menguatkan. Pemandangan indah terlihat dimata mereka dengan jelas. Puluhan payung berwarna, suara tawa anak manusia, suara kung kong kung kong kodok pemanggil hujan, dan berbagai hal indah lainnya membuat mereka takjub. Melupakan sejenak perpisahan yang sudah mereka lewati semenit yang lalu." Mama pelan meminum tehnya dan bersiap melanjutkan cerita luar biasanya.
"Mereka terpana melihat dunia manusia. Banyak hal tak bisa mereka lihat selama bersama awan induk. Hidup anak manusia begitu mempesona. Mereka takjub dengan dunia manusia. Kehidupan mereka dimulai." Ucap Mama yang mengakhiri ceritanya.
Reno terpana. Wajahnya benar-benar seperti anak kecil. Membuat aku dan Mama tertawa lepas.
Mama pelan mengacak rambut kami berdua. Aku hanya menahan agar pipiku tak memerah. Reno menahan malu di depan Mama. Sudah lama tak melihat Mama sebahagia ini. Sejak meninggalnya Papa, jarang Mama terlihat benar-benar bahagia.
"Sudah waktunya istirahat. Bawa Lila ke kamarnya di lantai dua. Kamar yang ada tulisan Lila." Ucap Mama lembut. Reno pelan menggendongku menuju kamar. Tak ingin aku kelelahan.
"Terima kasih sayang...Semoga kau bahagia." Bisikku pelan. Membuat Reno tersenyum manis.
"Cerita Mama barusan, benar-benar membuatku kagum. Bagaimana bisa ?" Tanya Reno penasaran.
"Kau tahu? Itu bagian dari kemampuan Mama. Sudah lama juga Mama tak megembangkan skillnya." Ucapku pelan.
Malam itu, Mama membacakan akhir cerita itu dengan baik. Membuat suamiku terpana. Aku hanya tersenyum tipis melihat wajahnya. Langit di luar masih tetap sama seperti belasan tahun yang lalu.