Langit dan bumi memang tidak diciptakan untuk menyatu. Tapi mereka diciptakan berdampingan, dengan sebuah batas.
Ini bukan kisah antara malaikat dan iblis, atau iblis dengan manusia, tapi ini kisah tentang peri kupu-kupu dan iblis.
Peri kupu-kupu adalah makhluk mungil bercahaya dan bersayap, bersayap kupu-kupu tentunya. Sedangkan iblis adalah makhluk penjaga alam bawah. Lalu, kata siapa mereka tidak bisa menjalin hubungan manis?
Untuk pertama kalinya, peri kupu-kupu dipertemukan dengan iblis di sebuah gua. Awalnya peri itu bermaksud menebar serbuk penyubur tanaman bunga ke hutan, tapi karena diguyur hujan, ia terpaksa masuk ke dalam gua untuk mengeringkan sayapnya. Disanalah ia tahu, bahwa gua itu sebenarnya adalah perbatasan antara alam manusia dengan alam bawah.
Disanalah pertemuan pertama mereka meledak, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berteman. "Namaku Tara/Tanah," ucap mereka hampir berbarengan.
Sehari setelahnya, Tara Si peri kupu-kupu jadi sering main ke gua Tanah. Sementara Tara menebar serbuk penyubur tanaman, Tanah akan menggerakkan air bawah tanah ke atas untuk setiap akar tanaman yang diberi serbuk penyubur oleh Tara.
"Kali ini kita akan menanam apa?"
"Bagaimana kalau bunga matahari?"
Tara mencari bibit-bibit bunga matahari untuk ditanam, sementara Tanah mencarikan tempat untuk tanaman mereka tinggal. Serbuk penyubur dan air tanah membuat tanaman bunga matahari mereka tumbuh dengan cepat.
"Besok kita akan panen bunga matahari, aku sudah tidak sabar untuk mengolah biji-bijinya menjadi kuaci, bagaimana menurutmu Tanah?" Tanah hanya terdiam, belakangan ini ia mendadak menjadi pemurung.
"Tanah?" panggil Tara. Tanah hanya menoleh sebentar, lalu beranjak bangun. "Hei, kau mau kemana?" tanya Tara agak panik saat Tanah tiba-tiba memasuki perbatasan.
"Aku harus kembali," sahut Tanah datar.
Tara memanyunkan bibirnya kecewa, ia percaya kalau Tanah bukanlah makhluk yang gampang membenci. Tara memutuskan untuk kembali saja, besok ia akan kembali lagi ke gua untuk menemui Tanah. Mungkin saja kalau ia dibiarkan sendiri, ia akan membaik nantinya.
Keesokannya terjadi hal yang tidak pernah Tara duga. Semua tanaman yang sempat ia tanam di sekitar gua mendadak mati dan layu, tanahnya juga gersang. Kecurigaan Tara semakin meluap-luap saat ia merasakan aura panas dari gua. Peri mungil itu segera melesat ke dalam gua dan ia sudah mendapati Tanah yang berdiri gelisah di depan portal. Tidak keluar dari portalnya, hanya berdiri saja. Portal yang biasanya hanya sekelebat cahaya atau bayangan saja, mendadak sekarang wujudnya tembus pandang seperti cermin. Hal yang lain berikutnya, Tanah memakai seragam perang layaknya prajurit.
Tara memasang tampang bingung "ada-apa?" Tanah hanya menjelaskan seadanya, bahwa wilayahnya sebenarnya kini sedang berperang. Ia hanya punya waktu sedikit untuk menjelaskan semuanya, jadinya ia agak terburu-buru.
"Jangan coba-coba masuk ke alamku, kaum iblis sudah menebar racun di udara. Tujuannya agar tidak ada bala bantuan dari luar yang masuk. Hanya sesama kaum iblis saja yang bisa menahan racunnya," peringat Tanah ke Tara.
"Aku harap ini bukan ucapan selamat tinggal," ucap Tara lesu. "Kita belum pernah makan kuaci bersama."
Tanah tersenyum tipis, "Yaah, aku juga berharap sama. Apa boleh buat 'kan? Iblis dan peri memang tidak ditakdirkan untuk menyatu."
Tara menggeleng, "Tidak. Mungkin saat ini tidak, tapi aku yakin. Di suatu hari nanti, atau di kehidupan selanjutnya, kita pasti akan bersama! Aku yakin itu," ucap Tara seraya menahan tangisnya. Tara tak tahu kenapa ia bisa menangis, rasanya seperti ada aura aneh yang menekannya.
Tanah mengulum senyuman samar, "Ku harap ini bukan kata-kata perpisahan untuk kita, Dirgantara."
Tara mengangkat wajahnya, "Memangnya kena-"
Tahu-tahu portal pembatas di depannya sudah lenyap, "pa ...," sambungnya.
Tara menurunkan kedua sudut alisnya, ia belum sempat mengatakan kapada Tanah soal perasaannya. Mungkin karena ini juga tadi ia menangis. Ia menangis lantaran takut kalau ia harus kehilangan Tanah nanti.
Tara memilih untuk menunggu Tanah kembali. Ia hanya diam di dalam gua, menunggu portal perbatasan kembali muncul, tapi nihil. Sampai berbulan-bulan pun, portal itu tak kunjung muncul. Tara mulai gelisah, apakah Tanah gugur dalam perangnya? Ataukah kaum iblis sudah memutuskan untuk tidak lagi membuka portal untuk alam manusia?
Percayalah, menunggu sesuatu terlalu lama itu pasti akan menimbulkan rasa bosan.
Tara mulai merasa bosan, jadi ia memutuskan untuk pergi.
Kalau dari awal dia sadar kalau Tanah memang tidak akan bisa menyatu dengannya, seharusnya dari awal ia tidak mendekati Tanah. Tara memejamkan matanya, "Tanah ...."
Vanessa membuka matanya, gadis itu berdiri di depan sebuah rak buku di perpustakaan umum. Gadis blonde itu mengusap wajahnya, "Ahh, aku ngapain barusan? Nggak mungkin ini mimpi ...."
"Memang benar, itu bukan mimpi!" sahut sebuah suara yang mirip dengannya. Seorang peri bersayap kupu-kupu muncul di hadapannya, Vanessa menoleh ke kanan dan ke kiri, orang-orang sepertinya tidak bisa melihatnya.
"Tenang saja, disini hanya kamu saja kok yang bisa melihatku, 'Aku' versi lain." ucap peri itu.
"'Aku' versi lain?" Peri itu mengangguk, "Disini kamu manusia, tapi di alam lain kamu bisa menjadi apa saja loh. Salah satunya peri," papar Tara. "Yang tadi kamu lihat memang bukan mimpi. Itu tadi sekilas cuplikan kehidupanmu di alam lain."
Vanessa mengangguk kecil, ia tadi sempat tidak percaya kalau makhluk dunia dongeng di depannya ini nyata. "Bagaimana kabar Tanah? Err maksudku ... Shiri?" tanya Tara tiba-tiba.
"Shiri ... dia ... sehat. Ya, dia baik-baik saja, dia lumayan bahagia."
Tara tersenyum kecil, "Begitu, ya. Sudahlah, setidaknya aku sudah sedikit tenang. Aku akan kembali." Ucap Tara lalu menghilang.
Vanessa menghela nafas, ia segera beranjak dari tempatnya barusan. Lalu memutuskan untuk keluar dari perpustakaan.
Namun, di pintu keluar ia berpapasan dengan Shiri. Ia hanya selangkah lagi untuk keluar, dan Shiri selangkah lagi masuk. Mereka saling tatap beberapa lama, sebelum akhirnya Shiri angkat bicara, "Ketiduran lagi ya?"
Vanessa hanya mengangguk, "Makanya, udah besar itu jangan baca buku dongeng. Bacalah bacaan yang lebih bermanfaat sedikit, buku sejarah atau geografi misalnya?"
Vanessa mencebik, "Kamu sendiri masih suka baca buku novel soal sihir-sihir begituan."
"Tapi nggak mirip 'kaaan ...," ucap pria berambut biru panjang itu seraya masuk ke dalam, sementara Vanessa sekarang sudah di luar.
'Yaa, kamu benar Tara,' bisik Vanessa dalam hati. Gadis itu langsung berlari.
Vanessa dan Shiri memang tidak diciptakan untuk menyatu. Sama seperti Tara dengan Tanah. Shiri bahkan sudah menikah dengan gadis pilihannya, dan ia sudah berkomitmen akan membuat anak saat lulus nanti.
Vanessa? Ia mencintai Shiri satu arah, tapi malah terjebak zona teman semenjak kuliah.
'Mungkin, cinta mengajarkan kita untuk saling mengikhlaskan. Mungkin, cinta hanya mengijinkan kami hanya untuk saling pandang dengan suatu batasan, mungkin ....'