Keinginanku itu simpel sekali. Aku hanya ingin punya sepasang sayap dan terbang menggapai langit. Namun, seiring berjalannya waktu, dan ketika usiaku sudah semakin bertambah, aku tidak lagi berpikir untuk bisa terbang. Aku ingin punya teman.
Tiada orang yang sudi berteman denganku. Katanya aku aneh. Rambut cokelat, mata warna lavender yang sayu, juga imajinasiku yang diluar batas wajar. Aku doyan menyendiri di ujung kelas. Ditemani oleh sebuah pulpen dan secarik kertas, aku menuliskan berbagai imajinasiku, juga harapan-harapanku di atasnya.
Aku benar-benar tidak suka saat salah seorang teman sekelas merenggut kertasku, lalu membacakannya keras-keras dengan nada mengejek di depan kelas. Setelahnya, aku disambut dengan gelak tawa teman sekelas dan umpatan-umpatan yang sanggup membuatku menangis.
Beberapanya bahkan ada yang usil merobek-robek kertas itu menjadi serpihan kecil, lalu dilemparkan ke wajahku. "Heh! Denger ya Vo! Semua harapanmu, cuma harapan kosong belaka! Semuanya akan hancur lebur menjadi seperti ini! Lalu berakhir jatuh dan tercerai-berai, lalu kuinjak-injak sampai jelek kayak mukamu itu!"
Meski bisa mendengar semua ejekan itu, aku tidak pernah peduli. Aku memang selalu punya banyak harapan, mungkin saat besar nanti aku akan mengabulkannya satu-persatu.
Aku dulu memiliki seorang teman, meski bukan manusia. Dia cuma seekor kucing, warna bulunya putih, bahkan warna matanya juga hampir sama sepertiku, dia biru dan aku ungu. Aku memberinya nama Chim. Ia sengaja kuberikan nama yang simpel agar aku mudah mengingatnya.
Aku suka mendengar suara meongan Chim. Saat mendengar kucing itu mengeong, seberat apapun masalahku, pasti akan langsung terasa ringan. Chim seperti sebuah obat bagiku. Namun, Ibu yang tidak suka dengan meongan Chim, malah mengusir kucing itu pergi dengan sapu ijuk saat aku pergi ke sekolah.
Sepulang dari sekolah, aku menemukan Chim yang meringkuk ketakutan di atap rumah tetangga. Aku memanggil namanya berkali-kali sampai ia mau turun. Setelah ia turun, aku membawanya pulang ke rumah. Namun ibuku tidak setuju dengan sikapku. Keesokan paginya, beliau malah membawa kucing itu paksa dan kemudian dibuang ke terminal.
Aku menangis meraung-raung karena kehilangan Chim, karena berisik, akhirnya aku dihukum berdiri di pojokan selama 1 jam. Setelahnya, aku disuruh menyapu membersihkan rumah. Sialnya, begitu aku hampir selesai, Ayah malah memuntahkan isi perutnya di lantai akibat pengaruh alkohol, Ibuku menyambutnya dengan seribu kata-kata menusuk agar ia berhenti bermain judi dan mabuk-mabukan.
Biasanya, aku akan diam di kamar dengan Chim tanpa mendengarkan segala tumpahan emosi Ibu yang dibalas kata-kata kasar yang menggelegar dari mulut Ayah. Tapi entah kenapa setelah Chim tidak ada, suara kegaduhan pertengkaran Ayah dan Ibu yang mampu membuatku menangis terdengar sangat jelas. Tidak ada Chim, tidak ada yang bisa kuajak mengobrol. Aku benar-benar rindu dengan Chim. Apa dia baik-baik saja ya? Apa dia sudah makan?
Tahun demi tahun berlalu tanpa kusadari. Entah sudah berapa kali aku mengganti kalender. Tidak ada lagi hari yang istimewa setelah aku kehilangan Chim. Semua hari terasa sama saja. Kejadian terus terjadi berulang-ulang seperti kaset. Tanpa ada episode baru lagi.
Hari ini mungkin lebih sial. Aku tidak sengaja menjatuhkan piring kesayangan Ibu, lalu menyenggol gelas kopi Ayah hingga isinya tumpah di lantai. Kedua hal itu langsung memantik pertengkaran lagi diantara kedua orangtuaku.
Aku menutup kupingku seraya menahan tangis. Padahal aku sudah besar, tapi ... jujur saja, aku ini cengeng. Selagi kedua orangtuaku bertengkar adu mulut bahkan adu kepalan tangan, aku berlari keluar meski hari sudah malam. Tidak peduli akan kemana aku pergi.
Aku berjalan tak tentu arah. Tidak peduli juga kalau aku tersesat. Aku bisa menginap di rumah yang mana saja. Atau bahkan di terminal tempat Chim dibuang meski tanpa alas koran atau apalah.
Tanpa sadar, kakiku membawaku pergi ke terminal. Tempat dimana Chim dibuang dulu oleh Ibu. Aku duduk di salah satu tempat duduk seraya mengusap kedua mataku yang mulai bengkak akibat menangis.
Aku menatap pantulan bayang-bayang bulan purnama pada genangan air di depanku. Terminal malam-malam ternyata sangat sepi dan dingin. Aku jadi teringat pada Chim, dia paati sangat ketakutan saat dibuang kesini. Aku mencoba memanggil namanya, "Chiiim."
Tidak ada sahutan.
Aku menghela nafas berat. Lalu menutup wajahku dengan kedua tangan. Haaah ... kenapa ini rasanya berat sekali? Tuhan, tolong aku, aku ingin sekali mendengar suara meongan Chim agar bebanku terasa lebih ringan. Atau tidak, turunkanlah seorang malaikatmu agar aku tidak kesepian. Setidaknya untuk satu malam ini saja.
Aku membuka tanganku, lalu menengadahkan kepala untuk menatap bulan, meski dengan tatapan hampa. Aku mengukir senyuman samar menikmati betapa indahnya paras bulan meski dibingkai oleh kegelapan langit malam. Seandainya aku bisa terbang, mungkin aku akan pergi memeluk bulan. Aku ingin bertanya kepadanya, bagaimana caranya tetap bersinar terang meski dikelilingi oleh kegelapan?
Meski terkadang tubuhnya hanya separuh?
Aku tidak lagi berpikir jauh saat aku merasakan sepasang tangan hangat menyentuh punggungku. "Sayang sekali ya jika harapan Vo yang sebagus itu harus dibuang jauh-jauh."
Aku segera menoleh pelan ke belakang. Seorang anak lelaki, dia seumuran denganku, rambutnya hijau dan matanya merah bersinar seperti rubi. Kaos hitam lengan panjang dibalut dengan kemeja hijau lengan pendek. Kedua tangannya langsung dimasukkan ke dalam saku celana pendek warna hijau yang dikenakannya. Lalu ia berdiri di sebelahku, menengadahkan kepala dan menatap langit.
"Kamu siapa? Apa kamu tersesat?" Tanyaku pelan.
Anak itu menoleh. "Namaku Levi, malaikat yang baru saja kau panggil."
Aku terhenyak, "Malaikat? Tapi ... bukankah malaikat itu wujudnya wanita cantik? Kenapa kau malah-"
"Maaf-maaf saja ya kalau wujudku ini bocah." Levi melipat tangannya di dada, lalu mengembungkan sebelah pipinya dan membuang muka ke samping.
Aku menundukkan kepalaku, menggenggam ujung syal biru yang terlilit di leherku dengan erat. Ohh, Ya Tuhaaan. Tidak bisakah Engkau memberikan kami pertemuan yang lebih manis sedikit? Suasana ini ... rasanya canggung sekali ....
"Tidakkah kau pikir pertemuan antara gadis manusia cengeng dengan malaikat bocah laki-laki di bawah sinar bulan purnama di dalam malam yang dingin dan gelap itu sangat manis?" Levi merengut.
Sepertinya dia bisa membaca isi pikiranku.
"Ya tentu saja, Nona Vo!" Ujar Levi seraya menoleh ke arahku. "Aku bahkan tau masalahmu soal kucingmu yang bernama Chim itu!"
Aku membelalak tak percaya, "Aa- kau tahu Chim?"
"Kucing aneh warna putih itu? Aku baru saja menjumpainya."
"Ah! Dimana Chim sekarang?!"
"Disitu." Levi berujar seraya menunjuk ke arah bulan. "Chim sudah tenang di atas sana. Bersama orang-orang baik lainnya."
"Siapa orang-orang baik itu?"
Levi menoleh ke arahku, lalu terdiam sejenak. "Kau ini benar-benar masih polos sekali yaa." Aku menelengkan kepala tidak mengerti. Levi mendecih kesal, lalu mengibas-ngibaskan tangannya di udara, "Ah! Sudahlah! Kau lebih baik tidak perlu tahu apa-apa!"
Sekali lagi, aku menengadahkan kepala ke arah langit. "Chim, jika selama ini kau berada di atas sana. Kenapa kau tidak mau turun? Apa kau mulai melupakanku disini ya?" Aku bisa merasakan ada sesuatu yang meleleh turun dari kelopak mataku.
"Hei, jangan menangis, cengeng. Kau tidak perlu khawatir. Chim baik-baik saja disana. Setiap hari dia makan bakpau dan minum teh. Chim-mu sudah bahagia." Levi berujar cuek tanpa menoleh ke arahku.
"Aku ingin menggapai Chim di atas sana. Tapi aku tidak bisa terbang ... Aku bahkan tidak memiliki sepasang sayap untuk terbang ...."
Kali ini Levi menoleh ke arahku, aku pun balas menoleh ke arahnya. "Apa kamu bisa membantuku, Levi? Aku ingin memeluknya, mengelusnya, dan mendengar suaranya lagi. Setidaknya agar sedikit bebanku terasa ringan. Setelah itu, kau boleh membawa Chim ke ujung dunia. Aku pasti akan mengikhlaskannya."
Levi memasang tampang iba. "Duuh, manisnya hubungan antara kucing dan majikannya ini. Pantas saja Chim selalu melihat ke bawah seperti sedang menunggu seseorang. Ternyata itu kamu yaa."
Levi mengukir senyuman tipis, "Baiklah. Aku akan membantumu bertemu dengan Chim." Levi merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah permen berwarna biru keunguan dengan bentuk yang hampir mirip dengan simbol biru di kening Chim. "Makanlah permen itu sebelum tidur. Kau pasti akan bisa menemui Chim nanti."
Aku buru-buru berdiri dan menerima permen itu dari Levi. "Terimakasih banyak Levi!" Ucapku bahagia seraya bergegas pulang. Levi sendiri mengukir senyuman tipis, "Jangan suka nangis lagi yaa."
***
Sesampainya di rumah, aku disambut oleh omelan Ibu karena berani keluyuran tidak jelas malam-malam, dan pulang pukul sepuluh. Aku tidak lagi menghiraukan Ibu dan langsung masuk ke kamarku. Aku langsung duduk di atas ranjang, lalu melahap permen pemberian Levi dan tidur dengan nyenyak.
Malam itu aku bermimpi ...
Chim adalah seorang gadis cantik yang mirip denganku. Dalam mimpiku, ia memelukku erat sambil menangis haru. Chim menyebut namaku berkali-kali, dia mengatakan kepadaku kalau ia benar-benar rindu padaku. Aku benar-benar merasa bahagia. Mimpi ini terasa begitu nyata, sampai-sampai aku tidak ingin terbangun rasanya.
Chim kemudian melambaikan tangan, dia bilang, aku harus tetap jadi anak baik meski banyak orang yang tidak menyukaiku. Karena seperti itulah caranya bulan tetap bersinar terang di dalam gelapnya malam.