> Penjara St. Hillberg
> Sel tahanan HG-1546
> 9.55 AM
> 2011
"Waktumu hanya 5 menit! Kau bisa mempersiapkan dirimu sebelum disuntik mati!"
Seorang sipir berbadan kekar dengan wajah garang keluar dari sebuah penjara yang luasnya paling kecil dari penjara lainnya. Dari jeruji besi, seorang tahanan berkelamin laki-laki menatap lemas tahanan lainnya dengan tatapan kosong. Wajah pucat dan kantung mata hitam begitu memprihatinkan. Bahkan tahanan yang tidak sengaja berpapasan dengan laki-laki itu langsung menghindar dari jangkauan pandangannya.
Laki-laki itu menatap kedua tangannya yang diborgol. Luka lecet akibat sering di borgol sudah tidak terasa nyeri seperti awal-awal lecet itu ada. Ia termenung, kenapa ia ada disini? "Ibu... ibu... tidak ada yang mempercayaiku... mereka bohong..."
Tiba-tiba tubuh laki-laki itu bergetar. Awalnya getaran tubuhnya seperti orang meriang. Namun semakin lama getaran tak terkontrol dari tubuhnya semakin kencang hingga laki-laki itu tersentak kaget. Wajahnya benar-benar ketakutan merasakan getaran tidak wajar dari tubuhnya.
DUK!
Dadanya seperti ada yang meninjunya sangat keras hingga jeritannya tertahan. Segala sesuatu yang berada di pandangannya putih kosong. Ia bisa merasakan kakinya yang melayang dan tubuhnya terasa ringan. Bahkan jeratan borgol yang berada di tangannya terasa bebas. Laki-laki itu kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kau bertemu dibatas realitasmu yang sekarang dan realitas masa lalumu. Akhirnya kau datang."
Suara berat dan tegas mengalihkan fokus laki-laki itu. Suara misterius yang terkesan menyeramkan mengacak pikirannya. Kalimat itu mengingatkan laki-laki itu kepada seseorang.
"Tidak mungkin! Ini... ini tidak mungkin..." ucap laki-laki itu tidak percaya.
"Kenapa? Apa yang kau ragukan? Pikiranmu yang membawamu kesini" ucap suara misterius itu lagi.
"Batas realitas masa lalu dan sekarang... ibuku selalu menceritakan hal itu. Tapi... itu hanya dongeng, kan?" lirih laki-laki itu yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Cassey tidak akan menceritakan dongeng se-berat itu. Ia berpesan padamu."
Laki-laki itu makin terkejut dengan suara misterius itu. Darimana ia tahu nama ibunya?
"Kedatanganmu pasti ada tujuannya. Apa yang membawamu kesini?"
"Aku tidak ingin berada disini! Para sipir kotor yang terus mendapat uang dari ayahku selalu menyiksaku... mereka menyiksaku... mereka menyiksaku..." jawab laki-laki itu dengan perasaan gelisah.
"Jika kau tidak tahu tujuanmu, berarti apa kau ingin memperbaiki masa lalu?" suara misterius itu seakan menghentikan kegelisahan laki-laki itu. Namun laki-laki itu hanya diam.
"Derek, apa yang mengganggu hidupmu?"
"Cukup! Kau siapa?! Apa kau sengaja melakukan ini agar mempengaruhiku untuk bicara bahwa ibuku mati karena aku?! Cepat beritahu aku sebenarnya!!! Apa kau suruhan ayahku?! Biadab kalian semua!!!" emosi laki-laki itu meledak. Matanya melotot marah. Laki-laki itu terlihat frustasi dengan keadaan konyolnya saat ini.
"Dunia ini kejam. Saking kejamnya tidak ada yang memberimu kasih sayang ketika kau masih kecil. Tidak ada yang bisa membuatmu percaya kecuali ibumu. Hmm... baiklah Derek, bersiap lah menuju realitas masa lalumu. Segala yang ingin diperbaiki atau disingkirkan akan mengikuti pilihanmu. Hanya kau manusia yang mengetahui batas kedua realitas ini. Terima lah hadiahmu!"
Tubuh laki-laki itu seperti tertarik kedepan. Dirinya seperti kepingan bunga Dandelion yang terbang terbawa angin. Semakin lama ia bisa melihat sebuah cermin berbentuk persegi panjang. Cermin itu seakan menariknya dari tadi. Jarak cermin dengan tubuhnya semakin dekat. Apakah ia akan tertabrak?
Jarinya yang duluan menyentuh cermin seakan masuk kedalam air. Tubuhnya mulai masuk kedalam cermin. Namun alangkah terkejutnya ia ketika seluruh tubuhnya masuk sempurna kedalam cermin.
___________________________________________________
> Rumah Keluarga Peterson
> Kamar Derek Peterson
> 9.55 PM
> 1971
Tubuh dewasanya yang tak terurus berubah menjadi dirinya yang bertubuh mungil seperti saat dulu kecil. Baju tidur bermotif bulan yang ia kenakan dulu kini membalut tubuhnya. Apakah ia benar-benar kembali ke masa lalunya?
"Derek sayang, kenapa kau berada di depan kaca?"
Suara lemah lembut yang sangat ia kenali terdengar diiringi seorang wanita muda yang cantik dengan rambut pirang sebahu dan berbaju dress tidur berwarna putih ada dihadapannya. Wanita itu adalah ibunya. Derek langsung memeluk tubuh ibunya.
Laki-laki itu benar-benar merindukan ibunya. Ia sudah tersiksa selama hidupnya tanpa ada ibunya disampingnya. Dunia kejam yang menimpa dirinya mengacak-acak kewarasannya. Ia benar-benar ingin hal ini terwujud lagi, seperti seperti saat ini.
"Sayang, pelukkanmu erat sekali! Ibu tidak akan kemana-mana. Ibu disini, sayang" kata-kata manis ibunya benar-benar membuatnya meleleh dibuatnya.
Tak terasa Derek menangis. Usapan lembut ibunya di bagian pucuk rambut membuatnya merasa aman. Tangan lentik ibunya membawa Derek ke kasurnya. Ibunya dengan telaten membuat Derek nyaman dengan kasur hangatnya. Setelah itu wanita tadi duduk di pinggir kasur dan mengusap rambut Derek.
Kejadian ini benar-benar dirindukan oleh Derek. Tidak ada yang menggantikan rasa hangat yang tertinggal di memorinya selain semua yang dilakukan oleh ibunya.
"Sepertinya ibu tidak akan menceritakanmu dongeng. Ibu akan memberitahumu tentang dinding realitas masa lalu dan sekarang" ucapan itu keluar dari mulut ibunya. Derek merasa waktu untuk mengubah hidupnya sebentar lagi akan datang.
"Tidak, jangan bicara itu!" tahan Derek sambil memegang tangan ibunya dengan tangan kecilnya.
Derek terlihat berekspresi memohon. Ibunya terlihat bingung. Laki-laki itu pun mulai menangis, "Hiks... kumohon... jangan keluar kamar... aku... aku... tahu... semuanya..."
Ibunya yang awalnya bingung langsung tahu arah pembicaraaan Derek. Ia merasa tersentuh sekaligus gelisah. Wanita itu memeluk Derek, "Semua sudah direncanakan... ibu... tidak punya perlawanan lagi..."
"Hiks... kumohon jangan... mereka... akan menembak... ibu... dan menyuruhku... berbohong... jika... hiks... jika aku membunuh... ibu..."
Wanita itu tersentak mendengar tutur kata Derek dari mulut kecilnya. Ibu Derek melepas pekukkannya, "Tidak sayang. Ini untuk kebaikkan dirimu juga. Keluarga ayahmu akan mengasuhmu sama seperti ibu."
"Tidak! Hiks... ibu... aku... akan dipenjara... seumur hidup... aku... hiks... ak-akan disuntik mati... mereka menginginkan aku mati... ju-juga..." Derek terus menangis hingga ia tersedu-sedu.
Wanita itu menatap cermin yang tadi berada di belakang tempat Derek berdiri. Ia seperti mengetahui sesuatu, "Derek sayang... apa kau ingin mengubah semuanya?"
"Aku hanya ingin bersama ibu..." ucap lirih Derek dan Ibunya tersenyum.
"Tidak Derek. Tidak ada jalan lain. Seluruh anggota keluarga ayah sudah bersiap-siap menembak ibu diluar kamar ini. Meskipun ibu lolos sampai lantai bawah, mereka tidak akan membiarkan ibu hidup" jelas wanita itu dan Derek menggeleng cepat.
"Tidak, aku akan ikut ibu!" Derek langsung turun dari kasurnya dan membuka jendela besar kamarnya. Angin malam menusuk kulitnya. Ia menoleh kearah ibunya, "Kita akan mati sama-sama!"
"Sayang, kau masih di kamar Derek?"
Panggilan dari Ayah Derek membuat laki-laki itu panik. Ia langsung menarik ibunya, "Ibu, waktu kita tidak lama!"
Wanita itu mengikuti apa yang Derek suruh. Mereka berdua bersiap-siap untuk menemui ajal mereka. Namun wanita itu tidak siap. Ia tidak sanggup membawa Derek dalam keadaan ini. Ia mencium kening Derek penuh kasih sayang.
"Kau yakin? Hidupmu tidak akan sampai dimana kau ada sebelumnya. Kau memutus benang takdirmu yang sudah sangat panjang terurai." suara misterius itu masuk ke telinganya. Namun Derek sudah bertekad bulat dengan pilihannya.
"Aku yakin. Hampir seumur hidup aku tersiksa dengan kebohongan yang sudah tercipta. Aku sangat menyayangi ibuku, melebihi cintaku pada nyawaku. Aku lebih bahagia mengakhir takdir ini daripada tersiksa di sel dingin itu." ucap Derek dan ibunya menatap terkejut.
Ibunya tidak percaya bahwa anaknya berbicara seperti itu diumurnya yang masih kecil. Namun cermin kembali menyadarkannya bahwa Derek yang ada didepannya adalah Derek dari masa depan yang datang kesini. Ia semakin yakin bahwa keputusan ini benar-benar jalannya.
Mereka berdua berpegangan tangan. Derek dan Ibunya tersenyum dan menatap satu sama lain. Rasa bebas sebentar lagi akan dirasakan oleh mereka berdua.
"Aku menyayangimu Ibu"
"Aku juga menyayangimu, Derek"
Keduanya terjun dari lantai 4. Tak lama badan mereka terhantam tanah. Pegangan tangan mereka tetap erat meskipun darah sudah mengucur deras dari kepala mereka.
Dari dalam rumah, sekumpulan keluarga Ayah Derek bergegas keluar. Wajah mereka yang awalnya terlihat panik semakin lama mulai tertawa. Akhirnya mereka tertawa bahagia melihat Derek serta Ibunya yang tergeletak tanpa nyawa.
"Hahahaha!!!! Kita kaya!!! Kita kaya!!!"
"Kekayaan Cassey akan jadi milik kita!!! Hahaha!!!!"
Derek masih melihat semua yang terjadi di detik-detik terakhir hidupnya. Senyuman dan tertawaan mereka terlihat menjijikan. Akhirnya ia bebas tanpa jeratan beban hidup fananya.
___________________________________________________
> Penjara St. Hillberg
> Sel tahanan HG-1546
> 10.00 AM
> 2011
"1546? Hey! Bangun! Tahanan 1546!"
Seorang sipir panik ketika tahanan yang ia tinggal 5 menit lalu tidak sadarkan diri. Dokter penjara yang bergegas datang ke sel tahanan itu terlihat panik. Jantung tahanan itu tidak berdetak sama sekali. Dokter tersebut menggeleng pasrah. Anehnya, tahanan tersebut meninggal dengan keadaan tersenyum bahagia. Seperti tidak ada beban yang terlihat sebelum ia meninggal. Penyebab kematiannya masih menjadi tanda tanya bagi sipir dan dokter. Mirisnya, tidak ada keluarga tahanan yang datang ke pemakaman. Pemakamannya hanya di hadiri 3 orang polisi, 2 penggali kubur, dokter penjara serta sipir yang pertama kali menemukan tahanan 1546 meninggal.
> Penjara St. Hillberg
> Sel tahanan HG-1546 (Derek Peterson)
> 10.00 AM
> 2011
> R.I.P.