Kembang api, jagung bakar, dan beberapa minuman manis. Itulah yang ada di kepalaku saat malam tahun baru tiba.
Malam ini tidak ada jagung bakar, minuman manis dan juga Mama serta Nivera yang menemaniku. Mereka berdua pergi bermain kembang api di luar rumah dengan anak-anak sekomplek lainnya. Aku sudah tidak tertarik dengan kembang api. Kecuali jika ada kembang api berbentuk bunga lalu membentuk tulisan "Vanessa", barulah aku mau keluar. Aku sangat yakin, tidak akan ada orang yang berinisiatif untuk membuat kejutan seperti itu untukku.
Lama-lama aku merasa kesepian.
Andai saja Papa masih hidup, mungkin Mama tidak akan rela meninggalkanku di rumah sendirian. Mau bagaimana lagi? Nivera masih kecil, dan ia merengek minta bermain kembang api dengan temannya. Tentu saja ia disana merengek agar Mama tidak pulang ke rumah.
Aku menghela nafas berat, duduk di pojok kamar yang gelap sambil berkutat dengan sebuah buku cerita yang diberikan oleh Papa saat umurku masih enam tahun.
Tanpa kusadari, sekebat cahaya biru lewat dengan sekilas, melintas di korden kamarku secepat kikat hingga membuatku tersentak. Sontak, aku berbalik dan menghadap jendela. Bayangan itu lewat lagi. Perlahan, aku mundur ke belakang. Bulu kudukku sudah berdiri.
Tok tok tok
Sosok bayangan pendek berambut panjang mengetuk jendela dari luar seperti hendak masuk. Aku segera meraih obat nyamuk semprot kaleng di ujung kamar. Agar kalau ia masuk, tinggal disemprot saja supaya langsung modar.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Kakiku gemetar, sungguh! Tapi entah mengapa, aku malah berjalan mendekati jendela. Perlahan, tanganku mulai menyibak korden. Padahal aslinya aku sama sekali tidak berani. Entah dari mana aku mendapatkan keberanian untuk itu. Begitu kusibak, sepasang mata berwarna biru terang menyala milik sosok itu menatapku. Sosok itu memang pendek, oh bukan, tingginya sama denganku. Bahkan ia juga memiliki rambut panjang sepunggung tergerai sama sepertiku.
Rambut biru gelapnya lepek karena basah. Dilihat dari postur tubuhnya sih, aku yakin dia anak laki-laki, tapi kenapa rambutnya panjang? Bahkan kurasa rambutnya lebih bagus dari rambutku.
Anak itu mengangkat wajahnya, menatapku lekat-lekat, "Oh, ketemu."
Aku mengangkat alis tidak mengerti. Anak ini benar-benar aneh. Pertama, tidak ada hujan tidak ada angin, tapi kenapa ia terlihat basah kuyup? Kedua, ia laki-laki tapi kenapa rambutnya panjang? Ketiga, kalau ia memang mau bertamu, kenapa tidak lewat pintu depan saja?
Selagi aku sibuk melamun dengan segala isi pikiranku, anak itu menyerobot masuk paksa ke dalam kamarku lewat jendela. Mendorong paksa jendela sampai dahiku terbentur karenanya. "HEI! JANGAN MASUK! NANTI KAMARKU BASAH!"
Seolah tidak dengar dan tidak peduli, bocah bersurai biru itu masuk saja dengan santai seolah-olah rumahku adalah rumahnya sendiri. Kaki dengan sepatu penuh lumpur milik bocah itu akhirnya mendarat juga di lantai kamar. Setelah aku mengamatinya lebih dekat lagi, anak itu benar-benar basah kuyup. Bukan hanya kemeja birunya saja, bahkan celana panjang dan sepatunya juga sama basahnya.
Bocah itu melepas sepatu dan kaos kaki hitamnya yang basah. Kemudian meletakkannya di jendela. "Kamu seharusnya buka sepatu sebelum masuk kesini!" Aku melemparinya dengan handuk kecil dan langsung ditangkap olehnya. Tanpa ba-bi-bu, bocah itu mengeringkan rambutnya yang lepek.
"Suka-suka aku." Bocah itu menyahut ketus.
"Kamu ... siapa?" Tanyaku tiba-tiba. Anak berambut biru panjang itu menoleh dengan kedua manik mata birunya yang bersinar. "Hmmm ... menurutmu aku siapa?"
"Jangan balik bertanya!" bentakku, tapi dia malah tersenyum lalu melempar handukku sembarangan. "Lalu, kamu mau aku jadi apa?"
Pertanyaan macam apa itu?
Dia terkekeh kecil. "Nggak ngerti ya? Aku juga kok."
Hilih, anak tengik.
Netra biru terangnya melirik ke seisi kamarku, lalu melirik ke arahku. "Kamu ini ... nggak punya teman ya?"
Aku terkesiap. Dia bisa tahu darimana?
"Anak-anak lain biasanya main kembang api ke luar rumah. Tapi kamu malah mojok disana sambil baca buku," ucap anak itu seraya menunjuk pojokan di dekat jendela. Tepat di tempat aku duduk tadi. Jujur saja, aku agak tersinggung dengan kata "mojok" yang sempat ia lontarkan sebelumnya.
"Trus kamu siapa?"
Anak itu terdiam sejenak, lalu memalingkan wajahnya sembari menatap syahdu ke arah langit malam yang sedang purnama dihiasi kelap-kelip kembang api. "Aku ... juga tidak tahu," sahutnya lirih. "Tapi setidaknya aku punya nama," sambungnya seraya berbalik ke arahku. "Witchcraft, panggil aku Witchcraft."
Nama yang aneh untuk bocah yang aneh ...
"Lalu ... bagaimana bisa kau tidak tahu siapa dirimu?" tanyaku. Aku masih bingung soal anak ini. Entah darimana datangnya, dan kenapa harus masuk kamarku? Selain itu, dia juga punya nama dan penampilan yang aneh. "Kamu itu apa? Setan? Hantu? Anak nyasar? Atau anak komplek?"
Bocah bernama Witchcraft itu tudak meresponku, ia lalu duduk di tepi meja belajarku. "HEI! JANGAN DUDUK DISANA!"
Dia seakan tidak peduli, malah mengacuhkanku dan membuka buku catatanku yang tersimpan di atasnya. "Vanessa ...."
Segera kurenggut buku itu dari tangannya. Aku tidak mau catatan yang sudah kutulis rapi-rapi selama satu semester ini rusak karena tangannya yang masih agak basah.
"Jadi, kau yang namanya Vanessa?"
"Kau pikir namaku siapa?"
"Kupikir namamu Jamaluddin." Begitu ia menyelesaikan kalimatnya, segera kulempari kepalanya dengan kaleng obat nyamuk di tanganku tadi, sialnya ia bisa mengelak dengan mudah.
"Harus kau ketahui, aku tidak bisa dibunuh dengan racun serangga Non~"
Aku mendecih sebal, lalu beranjak naik ke kasurku. Membungkus tubuhku dengan selimut sampai ke kepala.
"Hee, Non. Kau sudah tidur?" Tanya anak itu.
"Sudah," sahutku singkat.
"Bodoh. Orang tidur tidak berbicara."
"Aku mengigau, kau yang bodoh."
Mendadak selimutku ditarik dari bawah. Sontak aku meloncat dari kasur karena kaget. Ternyata ulah anak itu. "Kau bohong, dan itu ketahuan olehku."
Aku berdecak. "Aku mau tidur. Kau tidak berhak mengangguku, karena kau bukan siapa-siapaku," balasku jutek seraya merebut kembali selimutku.
Witchcraft dengan cepat langsung melipat selimut itu ngasal, lalu dilempar keluar jendela.
"HEI! ITU SELIMUTKU!" Teriakku marah.
"Kata siapa aku tidak bisa menggangumu? Sekarang kita adalah teman 'kan?" sahut anak itu dengan tampang sok yang menyebalkan.
"Daripada teman, aku lebih menganggapmu musuh. Dasar pengganggu aneh."
Anak itu kembali menyorotku dengan tatapan menyalang dari kedua bola matanya. "Kau bilang, kau mau aku jadi penganggumu, begitu?"
"Bu-bukan itu maksudku!" ucapku gugup seraya berjalan mundur perlahan-lahan.
"Apa kalau kita menjadi teman, kau tidak akan mengangguku?"
Witchcraft mengangguk, "Karena kau memintanya, tentu saja."
Aku mengukir seulas senyuman, "Baiklah, kalau begitu sekarang kita teman," ujarku tidak peduli seraya kembali naik ke kasur.
Witchcraft menatapku dengan tatapan anehnya lagi. "Sekarang apa?" tanyaku agak kesal.
Anak itu berjalan maju perlahan mendekatiku. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku sampai kedua mata kami saling tatap satu sama lain. Dan ia menatapku lagi dengan tatapan ... Tatapan yang seperti itu lagi! Apa sih maunya?!
"Kamu itu maunya aku jadi apa?"
Menyebalkan. Aku benci setengah mati dengan pertanyaan itu.
Tapi ini juga adalah kesempatanku untuk mengusirnya 'kan?"
"Emmm, mimpiku?"
Witchcraft mengangguk, lalu menutup kedua mataku dengan tangannya, "Selamat tidur, Vanessa ...."
Sesaat setelahnya, aku terbangun berkat siraman air bekas cucian legendaris Mama. Mama menatapku dengan tatapan marah, "Kenapa tidur di depan pintu, hah? Mama jadi susah masuk! Bahkan waktu Mama masuk paksa, kamu nggak bangun juga. Kamu itu tidurnya udah kayak orang mati!"
Aku menatap ke sekeliling. Suasana kamar masih berantakan. Dan ... aku tidur di pojokan kamar? Eh, kenapa bisa? Bukannya kemarin aku sudah tidur di atas kasur?
Semenjak saat itu, ia jadi sering masuk ke kamarku dan mengangguku. Kadang aku membawakannya cemilan agar tidak mengangguku. Lalu saat aku bangun pagi harinya, dia sudah menghilang.
Dia selalu datang setiap malam, karena ia bilang ia adalah temanku. Dan ia akan pergi pagi harinya, karena dia bilang, dia cuma mimpiku. Tapi aku tidak percaya, tidak ada mimpi yang seperti ini bukan?