Bola basket sedang mantul kesana-kemari ikuti arahan tangan remaja yang sedang asik berebut dan berlari. Sorak-sorai gembira serta histeris terdengar dari bangku penonton.
Walaupun hari ini merupakan pertandingan basket remaja putri tetap aja tak kalah seru saat remaja putra yang main. Semua itu karna emang mereka sudah cukup jago dan mampu buat siapapun terpesona.
Seorang cewek dengan rambut panjang terikat sedang berusaha bawa bola menuju ring lawan tapi ada hadangan yang terus terjadi. Sehingga akhirnya bolapun mampu masuk ring dengan membuat wanita bertubuh jangkung itu jatuh tersungkur karna melawan arus dari lawan itu.
Priiiitt suara wasit meniupkan peluit akhirnya menggema.
“Medis medis! Eve luka tolong” ujar wasit.
Seorang pria dengan tubuh mungil datang berlari dengan membawa kotak berisi P3K. Pertandinganpun mau tak mau akhirnya dijeda terlebih dulu.
Eve sudah dibawa ke pinggir lapangan sehingga pertandingan mulai berjalan lagi “Aku enggak kenapa-napa kok Nath” ucap Evangeline yang kerap disapa eve kepada Nathan yang sedang mengobati lukanya.
“Iya aku tahu, hati-hati kan bisa dong Ev. Kamu tuh cewek masak banyak lecet di mana-mana begini”
Eve cemberut “Terus kalo aku penuh luka kamu bakal enggak suka sama aku lagi gitu?” ucap Eve.
Nathan lalu menempelkan plester pada dagu serta lutut Eve, setelah itu Nathan mengacak-acak rambut Eve “Tenang Ev, aku bakal jadi plester kamu” ucap Nathan.
“Kalau udah kelar diobatin bisa kalian pacarannya nanti dulu aja, pertandingan penting ini” kata seorang pemain yang berada sedikit ke pinggir lapangan.
Eve pun berlari dan mendekati wasit yang menandakan dirinya sudah siap kembali bertanding. Nathan dan Eve sangat jelas berbeda, bahkan banyak yang meledek pasangan ini. Bagaimana tidak mereka ternyata mempunyai tinggi badan yang outlier dan yang lebih pendek disini adalah Nathan.
Tetapi Nathan sudah bertekad, bahkan saat ia memutuskan untuk mengikuti ekskul PMR itu semua untuk Eve. Supaya Nathan bisa selalu mendukung Eve.