"Sore nanti kita kekafe yuk." Kata felycia teman sebangku ku.
"Ayo,, ayo." Raya dan Yuki menjawab dengan kompak.
"Lo ko diam aja Rum! Ayo lah ikut kita." Ucap Yuki merangkul bahuku.
"Mau ngapain sih memangnya? Gak akh males gue." ku menjawab tanpa memalingkan pandanganku dari sesuatu yang kutulis.
"Ayo lah Rum, gak bosen apa ketemu buku lagi, buku lagi?" Jawab Felly sambil merebut pena di tanganku.
"Balikin woy." Ku coba mengambil penaku kembali.
Bukannya membantuku mengambil pena yang direbut felly, Raya justru ikut mengambil buku yang sejak tadi aku coretkan tinta hitam di atasnya. Ya ampun sahabat macam apa dia ini?
"Sini kembalikan Felly, Raya." Kataku sudah mulai kesal.
"Jawab dulu lo bakalan ikut kita ke kafe nanti." Kata Felly sambil menjulurkan lidah.
"Iya iya gue ikut, puas? Tapi jangan aneh-aneh nanti di sana." Aku sudah mencium bau-bau kejahilan di sini.
"Ya elah Rum kita ke sana buat seneng-seneng bukan mau aneh-aneh." Felly merotasi kedua matanya.
"Jangan lo pikir gue lupa terakhir kali kita kumpul ya, kalian ninggalin gue sendirian. Apa masih bisa disebut teman kalau begitu caranya?" Kataku sambil mengambil buku dan pena yang mereka simpan di atas meja.
"Iya janji gak akan begitu lagi." Ucap Raya dengan dua jari berdiri tegak lurus.
"Tenang sayang, gue gak akan ninggalin lo walau pun dua cucunguk ini yang minta." Yuki mengedipkan sebelah matanya, owh ada apa dengan matanya? Macam lagi cacingan aja.
"Heleeh, kalian bertiga tuh samanya kalau udah keluar jailnya kompak betul." Jawabku jengah, mereka tergelak dan bertos ria.
Yuki dan Felicia adalah temanku sejak masa orientasi siswa kala itu, sedangkan Raya dia sahabat terbaikku sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Baru kali ini aku mempunyai teman selain Raya, karena aku sendiri memang pribadi yang tertutup dan pendiam susah untuk memulai pertemanan terlebih dahulu.
Banyak yang bilang aku sombong dan angkuh karena selain pendiam wajahku yang cukup jutek membuat orang lain menilaiku seperti itu.
Bukankah ada yang bilang, 《dont judge a book by its cover》tapi sepertinya itu tidak berlaku untukku.
Jam pelajaranpun telah selesai, seluruh siswa membubarkan diri meninggalkan kelas. Tidak terkecuali aku dan ketiga temanku, saat hendak melewati gerbang sekolah ada tiga orang siswi yang bersandar pada sisi gerbang tersebut.
"Ehh ada lon*e" Ucap siswi dengan rambut dikuncir kuda bernama Fuzy.
Kami jelas mendengarnya karena suara yang memang sengaja dia keraskan dan kami pun tau untuk siapa kalimat itu ditujukan, aku tidak berniat menggubrisnya kalimat pedas seperti itu sudah sering aku terima.
Namun berbeda dengan Raya, sahabatku itu rupanya tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya.
"Heh, congor lo gak bisa dijaga ya? Apa maksud lo ngomong begitu? Memangnya lo pernah liat Rumi menjajakan dirinya sampai lo bilang dia lon*e?" Ucap Raya mendorong Fuzy hingga terhuyung beberapa langakah.
"Wowowow ,, kenapa lo ngebela ini lon*e jangan-jangan lo satu profesi sama dia." Ucap Fuzy mencibir.
"Sudah ayo kita pergi, lo gak liat banyak yang ngeliatin kita." Ku menarik tangan sahabatku, melerai agar tidak ada perkelahian yang akan membuat kami berujung pada ruang BK.
Biarlah mereka berkata apapun tentangku, aku tidak mau ambil pusing atas apa yang mereka nilai tentang diriku, walaupun sebenarnya kalimat-kalimat itu sangat mengganggu tapi aku tidak mau kalau teman-temanku terlibat masalah karena aku.
Aku sendiri juga tidak mengerti sebenarnya ada masalah apa mereka denganku, tapi ya sudahlah bukankah sekeras apapun aku menjelaskan siapa diriku kepada orang yang memang membenciku dia tidak akan percaya. Tanganku ini tidak akan mampu untuk menutup mulut mereka, yang perlu aku lakukan hanya menutup kedua telingaku.
Kami berlalu meninggalkan mereka yang tengah tersenyum sinis ke arah kami.
Sesuai kesepakatan mereka tadi untuk pergi ke kafe milik Felly, aku mengikuti mereka dengan terpaksa.
Sebelum ke kafe, Felly mengajak kami untuk singgah ke rumahnya untuk mengganti seragam dengan baju miliknya.
________________________________
"Ayo, ayo sekali lagi." Kata Yuki antusias.
"Sudah akh cape, gue menang terus." Kataku menyandarkan tubuh pada sandaran sofa kafe itu.
"Yah lo mah curang, tinggal loe ini yang belum kena hukuman." Kata Raya sambil tangan yang mendorong tubuhku.
"Iya ayo akh gak asik lo rum." Yuki memprovokasi.
"Yee emang gue jagonya main ini terima aja nasip kalian, ya sudahlah ayo main sekali lagi." Kataku mendekatkan tubuh kedepan meja.
"Yey gitu donk,tapi kita ganti tantangannya sekarang. Yang kalah harus cium seseorang yang ditentukan sama yang menang, gimana?" Felly dengan semangatnya berkata.
"Wah boleh tuh." Jawabku tak kalah semangatnya, aku tidak takut menerima tantangan Felly karena sudah empat putaran tadi aku menang telak.
"Oke." Jawab mereka bertiga kompak.
Susunan balok kecil itu sudah disusun tinggi hingga tidak ada lagi sisa balok yang tersisa. Ya ini lah permainan kami terlihat konyol bukan ke kafe hanya untuk bermain uno, bukankah di rumah juga bisa? Bukan Felycia namanya kalau tidak ada kejahilan dalam hidupnya.
Hingga giliranku pun tiba aku mengambil balok kayu itu dibagian tengah, dengan konsentrasi penuh aku pusatkan agar menara balok kayu itu tidak terguncang.
Brukkk...
Bukan hanya terguncang tapi susunan balok itu berhamburan dari tempatnya, gelak tawa ketiga teman durjana ku terdengar sangat puas memenuhi gendang telingaku.
"You lose, Omg, im very-very happy." Kata fellycia temanku yang paling durjana. Kalau bukan temanku sudahku jambak rambutnya karena tertawanya begitu puas didengar.
"Sial, gak bisa diganti apa hukumannya?" Ku mencoba bernegosiasi.
"Oh tidak bisa." Kata ketiga temanku kompak.
"Memang kalian teman yang tidak punya hati, ayo lah cari orangnya biar aku bisa cepat pulang." Kataku menatap mereka jengah.
Felycia mengedarkan pandangannya disetiap penjuru kafe, pandangannya berhenti pada satu titik disudut kafe tersebut dengan seringai liciknya membuat rasa penasaranku mulai menghantui. Kejailan apa lagi yang ada di otak nya itu, memang temanku yang satu ini ada saja ide-ide untuk menjahili orang lain.
"Kalian lihat kesana." Ucapnya sambil menunjuk ke seseorang yang sedang duduk seorang diri dengan cangkir ditangannya.
"Wah bukannya itu kakak pembina pramuka?" Kata Yuki dengan antusias.
"Jangan bilang dia orangnya Fel." Tebakku dengan harapan jawabannya tidak, namun wanita itu malah menganggukan kepalanya dengan semangat. Sial.
"So true, quickly kiss him. Dan ingat ucapkan terimakasih kepadaku." Kata Fellycia membusungkan dada dan wajah tengilnya.
"Terimakasih gundulmu, ganti jangan dia." Kataku menolak.
"Keputusan sudah diambil dan lo harus menepatinya. Oh come on don't be a loser honey." Ucap Fellycia sambil menarik tubuhku agar berdiri.
Dengan sedikit ragu aku melangkahkan kakiku menghampiri pria yang dijadikan sebagai alat hukuman atas kejahilan teman lucknatku itu, hingga tepat berada dihadapannya aku terpaku tidak tau harus bagaimana cara memenuhi hukuman yang diberikan Felly.
Pria itu menyadari kehadiranku, ia menatapku dan mengukir senyuman diwajahnya. Senyuman yang sangat manis.
"Milla, kamu disini sama siapa?" Kata Randi kakak pembina pramuka di sekolahku.
"Sama teman-temanku kak." Jawabku membalas senyuman kak randi.
"Kamu mau gabung sama aku? Ayo duduk." Kata Randi karena melihatku masih terus berdiri di sampingnya sambil memainkan jemariku sendiri.
"Tidak, kak maafkan aku, a-aku harus. Cupp." Bibirku mendarat mulus dipipi kak randi yang ditumbuhi bulu-bulu halus, tentu perbuatanku yang tiba-tiba itu membuat kak randi terkejut.
Jantungku berdegup dengan cepat lalu aku bergegas pergi meninggalkan pria itu yang masih dengan keterkejutannya tanpa sepatah kata pun.
Aku melewati meja yang tadi aku tempati dan pergi begitu saja meninggalkan ketiga sahabat lucknatku itu yang berhasil mengerjaiku.
▪︎▪︎▪︎
Hari pun terus berlalu, hari ini adalah jadwal kami untuk kegiatan pramuka. Ingin rasanya aku tidak ikut dalam kegiatan ini pasca kejadian memalukan itu, namun niatku itu harus aku urungkan setelah mendengar Prisyl mengatakan seluruh anggota pramuka harus hadir tanpa terkecuali.
Mau tidak mau aku harus menghadapi rasa malu-ku pada kakak pembina.
Semua anggota pramuka sudah berkumpul dan berbaris dengan sempurna di bawah teriknya matahari, kak randi mulai memberikan pembinaan kepada kami.
''Siap gerak." Kata kak randi dengan ciri khas suaranya yang lantang kami pun mengikuti setiap intruksi yang diberikan.
"Luruskan barisan."
"Periksa kerapihan mulai."
"Berhitung mulai."
1
2
3
4
5
"Istirahat di tempat gerak."
"Baik, saya akan menyampaikan informasi bahwa team paskibra sekolah kita akan mengikuti perlombaan LFPB (lomba formasi pengibaran bendera) karena ada beberapa anggota yang berhalangan hadir saya minta dari kalian untuk bergabung menggantikan mereka." Kata Randi dengan tegas seolah tidak terganggu dengan kehadiranku yang kemarin baru saja berbuat tidak sopan dengannya.
"Siap kak." Jawab kami kompak.
"Saya akan menunjuk tiga orang dari kalian, Jelita, Maudy, Rumilla." Ucapnya lurus.
Ya ampun namaku dia sebut, aku harus bagaimana ini? Untuk berdiri di sini saja aku mengumpulkan keberanian yang penuh, apa lagi ini akan semakin sering aku bertemu dengan dia.
"Mulai besok kalian akan mulai bergabung dengan mereka." Ucapnya lalu membubarkan barisan kami.
Hari pun terus berganti, aku merasa tubuhku sangat letih karena beberapa hari ini harus mengikuti serangkaian kegiatan paskibra. Ingin rasanya aku izin untuk tidak mengikuti kegiatan itu hari ini namun mengingat jadwal lomba yang hanya sebentar lagi aku harus mengabaikan rasa letihku.
Hingga waktu istirahat pun telah tiba, dua kakak pembina lainnya berjalan mendekati kami yang tengah duduk di tengah lapangan dengan dua kantung plastik ditangannya.
"Ayo kita makan dulu." Ucap pelatih wanita bernama Aurelia.
Kami semua mengikuti ketiga kakak pembina yang memasuki salah satu kelas dilantai bawah sekolah.
Kami semua duduk di kursi dan kak Aurel mengeluarkan beberapa bungkusan nasi padang dari dalam plastik, aku mengernyitkan alisku saat melihat nasi padang itu dimasukkan ke dalam sebuah wadah cembung berwarna biru.
Kakak pembina yang lain mengeluarkan beberapa gelas minuman jelly dan cokelat stik dari plastik yang lain, kemudian mencampurkan kedua makanan dan minuman manis itu kedalam wadah yang sama dengan nasi padang tadi.
Setelah mengaduk-aduk makanan itu mereka menyendokkannya untuk kami, aku menyuapkan makanan itu ke dalam mulut dan entah apa rasanya, aku pun sulit menjelaskan.
Rasa mual harus aku tahan dan dengan susah payah menelan makanan itu agar tidak keluar lagi dalam rongga mulutku.
Aku melihat sekilas ke arah kak randi dan pria itu pun tengah menatapku dengan tatapan sendu.
Setelah latihan itu selesai semuanya pun membubarkan diri dan meninggalkan sekolah, aku yang merasakan mual sejak tadi memutuskan pergi ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh wajahku dan mengeluarkan isi perut yang sejak tadi mengetuk ingin keluar.
Setelah mengeluarkan apa yang tadi aku makan, aku merasakan pusing dikepalaku dan semua pandangan pun menjadi gelap.
Aku membuka mataku perlahan menyesuaikan cahaya yang memaksa masuk kedalam retinaku.
"Kamu tidak apa-apa?" Ucap kak randi yang tengah memegang tanganku.
"Tidak kak, aku kenapa?" Tanyaku heran karena aku terbaring di ruang uks.
"Tadi kamu pingsan, apa kamu sakit?" Kata Randi khawatir.
"Tidak aku hanya sedikit lelah, terimakasih kak sudah menolongku." Ucapku dengan tulus.
Randi pun mengantarku pulang ke rumah, sejak saat itu kami menjadi lebih akrab. Dia tidak pernah membahas prihal kejadian waktu di kafe saat itu.
Hingga suatu hari perlombaan itu pun sudah selesai, waktu sudah menunjukan jam tujuh malam. Tidak seperti biasanya hari ini aku pulang sendiri, biasanya kak randi selalu mengantarku setelah pulang latihan namun karena dia ada urusan mendadak terpaksa aku pulang seorang diri.
Aku naik kesebuah bus sebagai transportasiku untuk kembali ke rumah, setelahnya aku turun disebuah perempatan jalan karena waktu sudah malam dan angkot yang lewat untuk penyambung ke rumahku sudah tidak beroprasional lagi bila sudah melewati adzan magrib terpaksa aku harus menunggu ojek yang lewat.
Terlihat sebuah motor melintas di depanku, dan menawarkan jasanya untuk mengantarku menuju rumah.
"Ojek neng." Kata pengendara motor itu. Tanpa ragu aku pun naik ke atas motor tersebut dan menyebutkan sebuah alamat kepadanya.
Namun saat diperjalanan motor itu tidak melewati jalan yang seharusnya.
"Bang, salah jalannya bukan ke sini." aku sedikit berteriak karna suara mesin motor yang cukup mendominasi, menepuk bahu tukang ojek itu.
"Owh salah ya neng? saya baru ngojek jadi belum tau jalannya neng." Ucapnya.
"Ya sudah ayo putar balik." Kataku.
"Sebentar ya neng, saya harus isi bensin dulu di depan." Katanya lagi.
Aku melihat ke arah stang motornya memang terlihat kotak bensin itu sudah berkedip.
Motor itu berhenti disebuah rumah yang lumayan jauh jarak tiap rumah ke rumah lainnya.
"Lah ko kita berhenti bang?" Kataku sudah mulai curiga.
"Iya neng sebentar aja." Ucapnya lalu menampar wajahku dengan keras.
Aku melihat wajah-wajah bengis dihadapan mataku wajah yang sama sekali tidak aku kenal, mereka seperti haus akan sesuatu.
"Jangan, tolong jangan akhhh." Teriakku tertahan dengan tangisan bersamaan dengan sesuatu yang nerobek organ bagian bawahku.
Sekujur tubuhku rasanya begitu remuk dan kelu, aku teriak dan terus mengiba kepada mereka namun tidak ada satupun yang berbelas kasih padaku. Tubuhku terus digilir mereka bergantian.
Sesuatu yang selalu ku jaga kini direnggut paksa oleh orang yang tidak aku kenal, tubuhku bergetar hebat pikiranku pun melayang jauh, bahkan untuk mengakhiri diriku sendiripun aku tak mampu.
Namun waktu terus berjalan aku harus melanjutkan kehidupanku, Aku begitu terkejut saat mendengar pernyataan cinta dari kak randi. Mungkin kalau pernyataan itu diutarakan sebelum kejadian malam itu aku sudah menerimanya dengan senang hati, namun kondisinya saat ini sudah berbeda, rasa tidak pantas terbayang dalam benakku.
"Maaf kak, Milla tidak pantas buat kakak lupakan milla kak dan carilah wanita yang lebih baik dari milla." Kataku sambil menelan silfa yang terasa pahit dilidah.
Rasanya aku ingin sekali menangis dalam pelukannya namun semua itu tidak mungkin, bayangan-bayangan itu terus ada dalam pikiranku, membuat aku merasa semakin tidak pantas untuknya.
Pergilah jangan pernah lagi memandang ke arahku, aku tidak pantas untuk pria baik sepertimu bahkan untuk pria manapun. Biarlah rasa ini aku pendam selamanya mengetahui rasa ini terbalaskan pun sudah membuat aku sangat bahagia, namun aku tidak boleh egois kamu pantas mendapatkan wanita lain bukan bersama wanita kotor sepertiku.
terimakasih sudah membaca karyaku yang masih amburadul ini💙
terimakasih untuk semuanya yang sudah mensuport aku.🕊
terimakasih banyak buat abang aku Rizky Rahm motifator sekaligus guruku terimakasih buat ilmu yang sangat berharga ini...
🥴🥴🥴🥴🥴
makasih juga buat kak Erna alias Sulis alias Momo alias Fronge alias Miaojunfeng alias Maoling alias Nayla ya ampun banyak sekali namanya entah apa lagi nanti digantinya, juga buat ka Asyfa,buat kakakku yang paling suengeng kak Nezza makasih banyak atas kesabaran kalian dengan kejahilan-kejahilanku.
terimakasih buat kalian semua keluargaku RRF.
i love you so much my broth n my sist.
Jangan lupa tinggalkan Kritik dan Saran👇👇👇
see you all😘😘😘