Jangan berjanji bila
tak bisa kau
tepati
"Winx Chellcia-Gadis sejuta luka
***********
Apa artinya aku disini
menanti janji yang kau ucapkan dulu,
sedangkan engkau
bersanding dengan wanita lain.
Pagi ini langit terlihat mendung, hingga membuat ku malas beranjak dari tempat tidur, kembali ku tarik selimut besar yang bergambar kartun boboiboy menutupi seluruh tubuhku.
Selang beberapa menit, mataku kembali terbuka mendengar sesorang mengetuk pintu kamarku dan memanggilku, serta menyuruhku bangun karena hari sudah siang. Tak ingin di panggil dua kali, aku segera beranjak dari tempat tidurku, dan karena aku tahu siapa yang membangunkanku. Dia adalah bunda, bunda yang selalu membangunkan dan memanggilku jika terlambat turun kebawah sarapan bersama ayah dan kakak.
Ku buka pintu kamarku dan nampaklah bunda yang berdiri disana denvan senyumannya. Setelah ku ucapkan sebuah kalimat padanya, aku tutup kembali pintu kamarku dan segera menuju kamar mandi.
20 menit kemudian, aku turun kebawah menuju meja makan. Ku lihat disan sudah ada ayah, bunda dan kakak yang sedang sarapan. Dan satu yang harus kalian ketahui sesibuk apapun mereka, selalu bisa membagi waktu untuk berkumpul dimeja makan ini.
Selesai sarapan, aku segera berangkat kesekolah dengan jalan kaki, dikarenakan jarak antara sekolah dan rumah ku tidak jauh. Kurang lebih 10 menit aku sudah sampau disekolah. Dan dapat ku lihat sudah banyak siswa yang datang.
Sesampai ku disekolah, seorang pria menyapa ku, dia adalah Aldosatya, lelaki yang pernah menjadi kekasih ku namun ku putuskan tanpa alasan yang pasti. Lantas itu membuatnya menjauhi ku dan begitu cuek, juga sangat dingin. Namun setelah sekian lama, aldo kembali menjadi seperti dulu yang selalu mengganggu dan menggoda ku setiap waktu, walau saat itu kami hanya berteman.
Beberapa bulan kemudian, entah apa yang ada didalam pikirannya sehingga dia meminta satu harapan pada ku, tentu aku berikan dengan syarat dia menunggu 2 tahun dan ternyata dia sanggup, walau sebenarnya aku ragu dia dapat bertahan dalam penantian ini.
Hari demi hari berlalu, dia masih sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Habya saja sikapnya yang semakin pecicilan. 3 bulan kemudian, Aldo menyatakan sebuah janji kepada ku.
Janji yang diucapkan dan ditulis pada selembar kertas cantik lengkap demgan namanya, tanggal dibuatnya serta waktu juga dilengkapi sebuah photo dua jari kelingking yang bertautan. Iya, itu jari kelingking kami. Bisa di bayangkan betapa indahnya surat janji yang dibuatnya. Dengan warna yang melambangkan kasih sayang. Tulisan tangannya yang indah benar-benar membuat kertas itu terlihat antik.
4 tahun kemudian, hubungan ku dengan Aldo memasuki 3 tahun 2 bulan. 3 tahun yang lalu Aldo menembak ku karena masa penantiannya berakhir, aku menerimanya menjadi kekasih ku.
Memasuki tahun ke-4 hubungan kami, tak di sangka mantan kekasihnya hadir di tengah-tengah kami. Kehadiran Rhisa mantan kekasih Aldo membuatku resah, karena apa? Karena Rhisa mantan terindahnya. Dan benar saja, hubungan ku dengan Aldo sedikit demi sedikit merenggang. Bahkan dia terkesah menjauhi ku, ketika ku selidiki, ini semua karena Rhisa mengungkapkan perasaanya yang masih melekat padanya. Sakit, sungguh sakit apalagi ketika dia lebih membela mantan kekasihnya itu saat aku meminta untuk Rhisa menjauhinya. Hati siapa yang tidak akan sakit?.
Satu bulan penuh hubungan ku dengan Aldo merenggang, tidak ada kata putus, namun tidak ku sangka Aldo datang kepada menjelaskan semua yang telah terjadi sebelumnya. Cinta kami bersatu kembali. Bahagia, aku sungguh bahagia lebih bahagianya lagi, dia telah menepati salah satu janjinya itu. Dan aku berharap, dia menepati semuanya. Bahkan sebuah kalimat terngiang-ngiang ditelinga ku, dia mengatakan:
"Sekuat apapun orang yang ingin menghancurkan hubungan kita, maka akan
Ku pastikan esoknya mereka tidak dapat merasakan kehidupan dunia ini lagi"
5 tahun sudah berjalannya hubungan kami dengan kebahagiaan dan berbagai cobaan menghadang, tapi dengan mudah kami lewati. Namun, entah kesalahan apa yang telah ku perbuat hingga tiada angin tiada hujan, tiba-tiba saja seorang temannya memberikan ku sebuah undangan pernikahan. Bagai disambar petir disiang bolong, seketika hatiku hancur berkeping-keping setelah tahu siapa yang bersanding. Aldosatya dengan Chilly Adelia. Kaki yang menopang tubuh melemas seketika dan air mata yang tidak pernah jatuh kini mengalir deras. Tidak pernah ku bayangkan, akan bigini akhir dari hubungan yang telah bertahan bertahun-tahun lamanya. Sekarang aku sadar hubungan kami tidak memiliki makna apapun.
Terluka dan terluka lagi. Pernah sakit tapi tidak pernah sesakit ini. Aku menangis dan terus menangis, dia bahkan tidak menghubungi ku sama sekali, seolah semuanya telah dia rencanakan. Tidak ada penjelasan apapun, berhari-hari aku hanya mengurung diri di dalam kamar. Beruntung ayah, bunda dan kakak ada dibandung, aku tidak ingin mereka tahu keadaan ku. Pikiran ku berkecambuk merangkai semua kejadian-kejadian yang pernah kami alami. Ku telusuri semua kenangan yang ada, mencari tahu ada dimana letak kesalahan ku hingga dengan tiba-tiba dia menghancurkan hubungan ini. Di tengah lamunan ini, mataku tertuju pada sebuah kertas cantik yang tertempel didinding kamar ku, tanpa pikir panjang, ku raih handphone yang berada di atas nakas, lalu menghubunginya, tidak lama panggilan itu tetsambung dan segera ku katakan maksud ku untuk mengajaknya bertemu. Tanpa berkata apapun dia langsung mengiyakan ajakan ku. Setelah memutuskan sambungan telepon, aku segera membersihkan diri.
20 menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan dress biru bergambar bunga sakura. Segera aku keluar dari rumah, menunggu taxi yang akan mengantarku ketaman. Sesampai disana, dapat ku lihat dari kejauhan Aldo sudah menunggu disana dengan kepala tertunduk. Tak ingin berlama-lama, segera ku keluarkan kertas cantik dari tas selapang ku. Tanpa basa basi, ku katakan denga suara gemetar menahan tangis,
"Janji yang engkau buat dengan tangan mu sendiri dan engkau ucapkan didepan mata ku dengan jari kita yang bertautan sebagai tanda perjanjian ini. Maka sekarang didepan matamu juga mataku dan dengan tanganku sendiri, aku hapus semua berserta kenangan yang telah kita lalui."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ku keluarkan korek api dan membakar kertas cantik itu, sempat dia menahan, namun setelah ku katakan sebuah kalimat yang mungkin menyakitkan yang membuatnya terdiam seribu bahasa, menatap dalam-dalam kertas yang dilahap habis oleh api.
Dan setelah kertas itu menjadi abu dan diterbangkan angin, aku segera berlari menjauh dengan air mata yang sudah jatuh bercucuran tanpa sepatah katapun. Samar-samar ku dengar dia memanggilku dengan mengucap berkali-kali kata maaf. Tidak peduli, sebab kata maaf itu tidak bisa membuat hati ku terobati. Aku terus berlari tanpa arah, hingga kaki ini terhenti disebuah danau, kakiku serasa lemas, bahkan tatapan iba para pengunjung tak ku hiraukan. Cukup lama aku berada ditepi danau itu, aku bangkit menghapus sisa air mata yang sesungguhnya masih tetap jatuh.
Tidak ingin terpuruk, aku berusaha menepis rasa sakit itu meski aku tahu itu tidak mudah. Ku lirik jam tangan yang kupakai, jarum jamnya menujukkan pukul 18:00, sebelum beranjak pergi, sekuat tenaga aku berteriak kencang. Lega ku rasakan, dengan langkah gontai aku berjalan menjauh dari danau bersamaan dengan munculnya senja yang mengiringi langkah kaki ynag semakin menjauh.
Ternyata akhir dari semuanya adalah DUKA, LUKA dan KEKECEWAAN yang akan akan tetap terpendam dalam kehidupan ku......
"Selamt tinggal kenangan"
Biarkan luka ini aku simpan sendiri
Winx Chellcia_Gadis sejuta luka