April...
Adalah salah satu bulan dimana memiliki ciri khasnya tersendiri. Musim semi? Bunga sakura? Pasti itu akan terpikir di awal sejak mendengar kata april. Namun, April tidak hanya sekedar sebuah mekaran bunga semata. Tetapi, memberikan sebuah kejadian yang berlawanan dibalik keindahannya. Ini sungguh berbanding terbalik dengan keidentikkan musim semi yang begitu indah dan penuh kebahagiaan.
Ryota, lelaki muda yang baru lulus di sekolah menengah atas tersebut, mengalami suatu hal yang sulit untuk dilupakan saat ini. Sebab tepat di hari kelulusannya, Ia harus diputuskan oleh sang kekasih yang sudah mendampinginya sejak kelas dua itu. Hatinya begitu patah setelah mendapat kata putus dari mulut sang mantan kekasih. Kini dirinya begitu sepi dalam kesendirian baik luar maupun dalam hatinya. Orang yang dahulunya diharapkan dapat bersama hingga ke jenjang lebih tinggi lagi itu, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya selama ini. Setelah upacara kelulusan dan pemutusan hubungan, Ryota berjalan tanpa arah karenanya. Pikirannya tidak menentu usai kejadian itu. Di sebuah tempat minum, lelaki itu singgah sejenak untuk merenungi nasib romantiknya. Segelas minuman di teguknya. Ia menunduk kebawah selagi merenung.
"Apa yang salah denganku selama ini? Apa yang telah aku perbuat sehingga dia pergi meninggalkanku?"
Ryota bertanya-tanya di dalam hati. Setelah berlama-lama di tempat minum tersebut, dirinya beranjak pergi dengan cara berjalan yang tidak beraturan.
Terdapat sebuah bangku di tepian jalan, dan ia pun duduk disana. Memandangi orang-orang yang berlalu lalang, dirinya tetap saja tidak bisa beralih dari pemikiran awalnya.
Tak berapa lama, datang seseorang duduk di sebelahnya. Orang itu memakai masker dan jaket hoodie. Ryota awalnya tidak mengetahui apakah orang yang disebelahnya itu laki-laki atau perempuan. Tetapi setelah orang itu mulai angkat bicara, Ryota tahu bahwa orang disebelahnya tersebut adalah seorang laki-laki. Orang asing itu bertanya pada Ryota perihal masalah apa yang sedang dialami olehnya. Tentu saja Ryota terkejut.
Ia mencoba untuk menutupinya dengan dalih tidak mengalami masalah apapun dan diselingi senyuman. Namun, orang asing itu tidak bisa dibohongi. Dan membuat Ryota harus berkata jujur padanya.
"Kamu tidak bisa membohongiku. Aku tahu senyuman yang ada di wajahmu itu hanya tipuan belaka. Kamu ingin menyembunyikan permasalahanmu dariku?"
Ryota berkata mengenai masalahnya dengan terus terang. Padahal orang yang duduk di sebelahnya tidak ia kenali sama sekali.
"Intinya aku mengalami patah hati sebab dia mengakhiri hubunganku dengannya yang sudah terjalin cukup lama."
Orang asing itu berkata pada Ryota seraya menunjuk sebuah pohon berbunga sakura di hadapan mereka berdua.
"Lihatlah itu. Sebuah pohon dengan bunga indah bernama sakura. Bunga ini selalu identik dengan keindahan. Akan tetapi ia hanya mekar di waktu tertentu."
"Jadi maksudmu?"
"Dia ibarat bunga sakura. Memang indah, namun hanya ada untuk sementara saja. Mungkin inilah jalan ceritanya. Dia tidak diperuntukkan bagimu. Tapi, ini bukanlah akhir. Masih ada jalan panjang terbentang di depanmu. Jadi jangan hanya berhenti di tengah jalan disaat kamu masih memiliki banyak waktu kedepannya."
Katanya pada Ryota.
Ryota memandang pohon sakura itu begitu lama. Sampai akhirnya ia bangkit dan berubah pandang ke orang asing tersebut.
"Mungkin perkataanmu ada benarnya."
Orang asing itu lanjut bicara.
"Masih banyak perempuan di dunia ini. Carilah yang cocok denganmu dan jagalah perasaannya sebisa mungkin. Mencari yang seindah bunga sakura memang mudah. Tetapi mencari sesuatu yang bertahan lama, itu cukup sulit. Dan inilah tantanganmu. Jadi jangan hanya larut dalam kesedihan. Kenangan memang membekas, tetapi itu hanya akan menjadi bagian dari kisah kehidupan yang seharusnya tak perlu mengganggu hidup selanjutnya."
Ryota mendengarnya dan mulai tersenyum setelahnya.
"Tampaknya kita ada pengalaman yang sama di bagian ini. Terimakasih atas perkataanmu."
Orang asing itu berdiri dan menepuk pundak dari Ryota. Ia memberi semangat dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Ryota melambaikan tangan disaat orang itu sudah pergi menjauh.
"Dia seperti veteran dalam hal romantisme."
-----SELESAI-----