Bagaimana jika apa yang kamu pilih apa yang kamu perjuangkan selama ini ternyata salah. Ketika ikatan suci sudah disematkan dan kalimat janji sehidup semati sudah kamu ikhrarkan apa yang akan kamu lakukan. Mungkin kata " bertahan demi..." adalah pegangan hidup kamu yang terakhir. Tapi bagaimana jika kamu sudah benar - benar lelah.
Terkadang hidup itu bukan semua nya sudah menjadi takdir atau garis hidup tapi bisa jadi sebuah perjalanan hidup yang harus kita jalanin.
Sebuah perjalananan yang mungkin bisa mendewasakan kita walaupun itu memang sakit sungguh sangat sakit. Kadang kita tidak pernah berpikir jangankan berfikir, membayangkannya saja tidak pernah.
Mungkin hanya di film - film atau berita - berita gosip ditelevisi dengan mudahnya kita dengar pilihan hidup itu mudah atau cukup membalikan tangan saja semua sudah selesai. Tapi tidak pada kenyataannya ada sudut pandang yang kadang kita pertimbangkan entah dari segi agama, sosial, keluarga, dan mungkin terakhir ANAK.
Tapi yang kita inginkan dalam sebuah ikatan suci itu ialah kebahagian dunia akhirat.
" Pah ini sudah yang terakhir kalinya aku memaafkan kamu, sekarang aku sudah gak bisa lagi mungkin perpisahan yang terbaik " sahut ku pada nya.
" Mah apa kamu gak bisa kasih aku kesempatan yang terakhir, papah janji ini yang terakhir " jawab sang suami.
" Ini bukan yang pertama, kedua atau ketiga malah yang keempat aku sudah capek, aku sudah coba mengalah tapi gak ada...gak ada perubahan dari kamu " sahut ku lagi.
" Demi anak - anak mah, anak kita " jawab sang suami sekali lagi.
" Justru yang aku lakuin demi anak - anak " jawab ku sambil pergi berlalu.