Kepulan asap melayang di udara. Sebuah rokok yang berisi tembakau itu menjadi sumber asal dari asap tersebut. Tampak seorang perokok bernama Gery sedang memandang keluar jendela. Hari yang gelap dan dingin itu, di sempatkannya untuk menghisap sebatang rokok miliknya itu. Ia beranggapan dengan merokok dapat membuatnya lebih santai dan membuatnya lebih tenang.
Gery mempunyai seorang adik bernama Lily. Gadis berusia 17 tahun itu berlawanan dengan konsepnya. Dengan aturan yang telah disetujui oleh keduanya, Gery tidak boleh merokok didepan gadis itu. Hanya aturan itu saja yang dibuat oleh Lily untuk kakaknya tersebut. Sedangkan untuk perihal lainnya tidak. Padahal kakaknya adalah seorang ketua geng di kota itu. Lebih berbahaya karena hidupnya bakal terancam di setiap waktu. Tetapi Lily memilih untuk membiarkan lelaki itu menjalani apa yang dia mau. Dan cukup dengan satu kesepatan tadi, Gery harus mentaatinya.
Lily adalah satu-satunya adik yang dimiliki oleh Gery. Dan adiknya ini dikenal sebagai orang yang tidak banyak omong. Selain itu Lily juga berperilaku baik, bahkan di hadapan teman-teman Gery yang merupakan anggota gengnya.
Tinggal di sebuah bangunan yang berada di antara gedung-gedung besar dan terpecil di kota, tidak membuat Lily merasa resah. Karena ia sudah terbiasa hidup di dalam sana dengan melihat sedikit sinar mentari yang terpancar, serta kalangan anggota geng yang kejam ada di sekitarnya. Namun, semuanya berperilaku baik kepada Lily tanpa terkecuali.
Suatu hari, Gery berkumpul bersama teman-temannya di depan kediamannya untuk menyiapkan suatu rencana. Dengan peralatan yang telah di siapkan, mereka segera beraksi tidak lama lagi. Lily hanya melihat sekumpulan orang-orang itu dari belakang. Sambil meminum teh, ia mendengar percakapan mereka walau terkesan samar-samar.
Setelah itu, gadis tersebut masuk ke dalam rumah.
Gery dan para kawanannya sudah berangkat dari titik kumpul. Aksi yang direncanakan sedang dilaksanakan. Hal ini terus terjadi hampir di setiap saat. Sebenarnya Lily sedikit khawatir bila terjadi sesuatu pada kakaknya. Akan tetapi, ia merasa sulit untuk menghalaunya akan hal itu. Jadi dia tidak bisa berbuat banyak serta hanya memiliki satu kesepakatan. Itupun juga sulit untuk memintanya pada awalnya.
Larut malam, Gery akhirnya kembali bersama anggota gengnya. Terlihat ekspresi kecapekan hingga terdapat beberapa bekas luka di wajah, sebagai tanda bahwa aksi mereka tentunya penuh dengan kekerasan. Lily terbangun usai mendengar suara gerombolan geng kakaknya itu. Ia turun ke bawah dan mempersiapkan beberapa obat untuk mengobati mereka semua. Ini kegiatan yang selalu di lakukan oleh Lily. Meski ia tidak tergabung dalam anggota geng kakaknya itu, Lily tetap saja berbuat baik pada mereka dikala ada yang merasa kesakitan. Oleh sebab itu pula mereka juga berbuat baik pada gadis itu.
Setelah mengobati mereka semua, Lily pergi masuk ke rumah dan melanjutkan tidurnya.
Gery hanya memandang tingkah dari adiknya itu. Tidak banyak omong, namun melakukan apa yang ingin dilakukannya. Perbuatan yang ditujukan pada teman-temannya itu membuat Gery merasa cukup senang memiliki adik sepertinya.
Pada hari-hari berikutnya Gery beraksi lagi dengan para teman-temannya. Dari kegiatan itu, mereka mendapatkan harta yang cukup banyak serta beberapa senjata hasil dari perkelahian dengan geng lain.
Gery menghampiri Lily yang berada di kamarnya, dan memberikan beberapa hasil jarahan yang didapat sebelumnya. Lily menerimanya dan Gery pun pergi dari sana.
Dan suatu hari, terdengar suara gaduh di dalam rumah. Gery yang sedang asik merokok diluar beserta anggota gengnya, terkejut mendengar suara itu. Tanpa pikir panjang, lelaki itu berlari masuk ke dalam rumah. Tampak Lily sudah terbaring di lantai sambil memegang dada. Nafasnya tak beraturan, membuat Gery semakin panik melihat kondisi adiknya tersebut. Dengan sigap, Gery membawa gadis itu kerumah sakit dibantu oleh kawanan gengnya.
Dirumah sakit, Gery hanya diam tertunduk sembari menggenggam kedua telapak tangannya. Tangannya begitu dingin dan gemetar. Ia terpikir akan adiknya itu di setiap waktu. Beberapa jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tempat Lily di rawat. Dokter itu mengatakan penyakit yang diderita Lily pada Gery.
"Apa?!"
Gery terkejut dengan pernyataan dari sang dokter, lalu ia menanyakan lebih lanjut mengenai kondisi Lily. Setelah itu, Gery pun duduk dan menunggu di ruang tunggu tersebut.
Setelah diperbolehkan masuk, lelaki itu langsung berjalan cepat dan melihat keadaan adiknya saat ini.
Terdapat beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Membuat Gery merasa bersedih.
"Maafkan aku yang telah lalai dalam menjagamu."
Ucap Gery di hadapan Lily yang masih terbaring tak sadarkan diri tersebut.
Beberapa hari kemudian, Lily diperbolehkan pulang. Gery beserta teman-temannya membawa gadis itu menuju rumah. Setibanya dirumah, dia dituntun berjalan pelan ke dalam rumah. Lily duduk di sofa dengan badan sedikit lemas.
"Kamu tidak ingin berbaring?"
Tanya Gery.
"Tidak. Aku juga sudah lama berbaring selama beberapa hari disana.
Jawab Lily.
Gadis itu memandang seisi ruangan ditempat ia berada. Terlihat rapi dan bersih. Lily heran dan mulai bertanya.
"Apa kamu yang melakukan semua ini?"
Tanya Lily.
"Tidak juga. Sebenarnya aku dibantu sama para anggota yang lainnya."
Kata Gery yang sekaligus membuat Lily sedikit tersenyum.
Malam harinya, Gery makan malam bersama dengan sang adik yaitu Lily. Momen ini jarang terjadi, sebab Gery selalu pulang larut malam. Sehingga Lily selalu makan sendirian tanpa kehadiran kakaknya. Dan kini Gery hadir di depan matanya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Ini merupakan hal yang langka bagi Lily. Sang kakak menunjukkan senyuman ramah terhadap dirinya.
Usai makan malam, Gery membawa Lily menuju kamar dan memberinya selimut.
"Tidurlah dengan nyenyak. Dan semoga kamu cepat sembuh ya."
Dirinya langsung pergi meninggalkan Lily di ruang kamar.
Esok harinya, Lily bangun dari tidur. Ia berjalan keluar kamar dan mendapati hidangan sarapan berada di atas meja makan. Lily duduk, lalu memakannya. Tentu saja ia mulai bertanya-tanya. Kenapa kakaknya berubah belakangan ini.
Sore hari, Gery kembali pulang ke rumah. Dirinya terkejut setelah melihat Lily sedang duduk di depan rumah. Hal itu juga terjadi pada Lily. Ia terkejut lantaran kakaknya yang bernama Gery itu tengah mengenakan jas rapi lengkap dengan dasi.
Gadis itu bertanya perihal pakaian yang dikenakan Gery. Kemudian dia pun menjelaskan akan hal tersebut.
"Aku hanya ingin berubah."
Ucap Gery pada sang adik.
"Berubah? Maksudnya?"
Lily masih bingung.
"Aku ingin kehidupanku berubah. Jalan hidupku berubah, serta kebiasaanku pun berubah. Aku tidak ingin ada yang tersakiti lagi karena ulahku. Jadi inilah yang aku lakukan."
Gery memberi selembar kertas pada Lily.
Awalnya tidak yakin. Namun karena dirasa tidak ada hawa candaan, Lily pun memeluk kakaknya itu.
"Selamat atas pekerjaan barunya kak."
Ucap Lily.
"Kamu adalah orang yang berharga bagi hidupku selama ini. Jadi aku tidak ingin merugikanmu lagi. Tetaplah kuat Lily."
Kata Gery sembari tersenyum.
"Aku senang dengan perubahan sikapmu. Dan aku senang dengan jalan hidupmu yang baru. Meski keadaanku begini dan terdapat alat medis yang menempel ditubuhku, bukan berarti aku lemah. Aku akan tetap berusaha kuat demi apa yang kamu harapkan padaku."
Ucap Lily dengan tangis yang tak tertahankan.
Gery dan Lily mulai membuat janji baru antar keduanya.
Sebatang tembakau Gery berikan pada sang adik. Dan Lily pun membelahnya menjadi dua. Dengan begini, Gery resmi mulai menjalani hidup barunya sesuai janji yang telah disepakati tadi.
-----SELESAI-----