Bersyukurlah berada di tengah lingkungan yang peduli dengan kita.
Bayangkan jika kita tinggal bertetangga dengan orang-orang apatis. Seperti di daerah tempat tinggal orang tua saya. Pengalaman terakhir yang dialami ibu saya ketika sakit demam berdarah dan harus dirawat seminggu di rumah sakit, yang terakhir menjenguk adalah tetangga sendiri. Mereka keduluan sama ibu-ibu pengajian yang rumahnya saling berjauhan satu sama lain. Ada yang di kecamatan ini dan itu. Miris.
Setelah saya menikah dan ikut suami, saya bersyukur bisa tinggal di tengah lingkungan yang orang-orangnya ramah dan supel. Jangankan senangnya, susahnya saja kita ditemani.
Dulu sewaktu masih tinggal berama orang tua sebelum menikah, rasanya itu seperti berada di dalam hutan. Bedanya di hutan mana ada pagar besi tinggi kokoh. Kalau di sekitar rumah orang tua hampir seluruhnya rumah-rumah dipagar dengan tinggi mencapai atap. Beruntung tersedia bel di balik pagar, kalau tidak? Beuh, ribet mau bertamu. Kurir paket juga bakal kewalahan. Bila terpaksa, ya mau enggak mau gedor-gedor mirip kayak orang yang mau ngajak berantem atau seperti bunyi peringatan kebakaran atau rumah kemalingan. Lingkungan tempat tinggal orang tua benar-benar sepi. Ziiiing. Makanya saya lebih suka ada di dalam rumah daripada di luar, ngapain juga atuh ya di luar kalau enggak ada teman.
Berbeda dengan di sini. Ke luar, lihat dia, ada juga dia lainnya. Khusus soal tetangga samping, mereka ngefans sekali kepada anak lelaki saya yang berusia empat belas bulan. Hampir setiap hari anak saya diboyong ke rumah mereka. Maklum, pasutri itu cuma punya satu anak perempuan usia remaja. Jika salah satu di antara mereka lewat ke depan rumah pasti berteriak-teriak memanggil anak saya. Kalau saya sekeluarga sedang menginap di rumah orang tua, pasti salah seorang di antara mereka telepon menanyakan ke mana dan kapan pulang. Ish ish ish, padahal belum juga setengah hari meninggalkan rumah. Memang sulit kalau sudah ngefans. Hati rasanya ingin berpaut selalu.
Tinggal di sini itu seperti tinggal di taman bermain kanak-kanak yang tidak pernah sepi.
Sebagai manusia bukan hanya hubungan vertikal yang mesti dijaga, hubungan horizontal juga sebaiknya selalu dibangun.
Bukankah orang yang pertama kali akan menolong bila kita mengalami kesulitan atau sedang dalam masalah adalah tetangga? Contohnya, kejadian masuknya anak ular ke dalam rumah saya (dibahas di bab sebelumnya), kalau enggak ada Mamah Feby, tetangga samping yang berkenan dititipi anak saya juga Pak Burhan pawang ular, entah bagaimana nasib saya dan anak. Ini satu contoh, masih banyak contoh-contoh lainnya.
Kita sebagai orang yang meminta tolong jangan sungkan dan yang dimintai tolong jangan berburuk sangka. Dan bila tetangga kita memberi sesuatu, ambilah dengan hati senang dan penuh rasa syukur.
Senang sebagai bentuk penghargaan dan penerimaan yang baik kepada orang yang telah memberi, karena saya yakin mereka memberi dengan niat baik. Bukankah mereka yang memberi artinya peduli terhadap kita? Bersyukur, karena memiliki tetangga yang perhatian.
Ingat, ketika kita meninggal bukankah tetangga pun turut menyolati?
Berbaik sangkalah terhadap pemberian dari siapa pun dan untuk yang memberi mudah-mudahan tidak tersimpan niat riya'.
Mari berbuat baik terhadap tetangga kita.
QS. An-Nisa’: 36
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا.
"Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri." (Q.S. An-Nisa: 36)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, dikatakan kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam., Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. akan tetapi, ia sering mencela tetangganya.” Rasulullah bersabda, “Ia tidak baik, ia masuk neraka.” Disebutkan kepada Rasulullah bahwa "Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah hanya secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia masuk surga.” (H.R. Al-Hakim)
Dari Umar r.a. dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Jangan sampai seseorang kenyang sedang tetangganya kelaparan.” (H.R. Ahmad)
Dari Abu Dzar r.a., ia berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Jika kamu memasak masakah yang berkuah maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah tetangga-tetanggamu.” (H.R. Muslim)
Dari Abu Hurairah r,a, ia berkata, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah merendahkan hadiah kepada tetangga meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya.” (H.R. Al-Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)