Laju bus yang mengiringi luka pada hari ini membuat Putri tak kuasa menahan rasa kecewa akan dirinya. Pertemuan tanpa sengaja dengan teman lama membuat Putri semakin rendah dimata orang-orang. Wanita yang dulu sangat diagung-agungkan yang bahkan dahulu menjadi dambaan semua orang kini redup bak bintang malam tergantikan oleh sang fajar. Cairan bening jatuh dari pelupuk mata, buru-buru Ia hapus. Saat itu yang Ia rasakan hanya penyesalan yang mendalam atas apa yang dilakukannya kala dulu.
Bus yang melaju berhenti tepat dilampu merah. Rintik hujan turun membasahi jalanan dan kaca bus yang ditumpangi. Dipandangnya bulir air yang metes dari kaca jendela tersebut dengan pandangan jauh mengingat kejadian lima tahun silam. Saat Ia menduduki bangku kuliah pertama dan berada dipuncak keemasan. Saat semua keluarga, sahabat bahkan seseorang yang dianggapnya spesial memberikan dukukungan kepadanya. Ketika dunia hanya memfokuskan pandangan kepada Putri dan semua orang dari berbagai kalangan tunduk terhadapnya bak cerita-cerita di negeri dongeng. Terlahir dari keluarga berada membuat Putri enggan peduli terhadap orang-orang disekitarnya terlebih lagi orang yang keterbelakang perekonomiannya. Bahkan Putri menganggap bahwa orang-orang rendahan seperti itu adalah pengganggu. Kata-kata pedas sering Ia lontarkan tanpa memikirkan perasaan orang yang telah Ia tindas.
“Bahkan aku bodoh tidak menyadari bahwa itu gilang yang dulu sering aku tindas,” guman putri dengan senyum miris. Putri menganggap Salam sapa yang diberikan oleh Gilang kala itu adalah hinaan baginya.
Sudah hampir satu jam lebih putri merenungi kejadian yang membuat hidupnya berubah drastis dari keluarga berada kini tidak ada apa-apanya. Kejadian satu tahun yang lalu, dimana ayah Putri diringkus oleh tawanan polisi atas kasus penggelapan dana perusahaan, akibat kejadian tersebut akhirnya berimbas pada kehidupannya. Gaya hidup yang dahulu serba mewah dan ada, kini berbanding terbalik dengan keadaan saat ini. Untuk makan satu kali sehari pun Putri harus berjuang keras. Setelah Ayah nya mendekam dibalik jeruji besi Ibu dan adik Putri enggan memperdulikannya. Putri dilepas begitu saja bahkan sampai saat ini Ia tidak mengetahui keberadaan Ibu dan adiknya. Rasa sakit hati dan kecewa kepada orang tuanya semakin besar. Sekarang yang Ia enggan memperdulikan keluarganya lagi bahkan bersikap bodoh amat.
Setelah turun dari bus, diajaknya kaki melangkah pada jalanan bebatuan yang tak rata, genangan air yang membasahi jalanan berlubang dilaluinya begitu saja tanpa memperdulikan kaki yang kotor akibat lumpur jalanan. Langkahnya terhenti seketika, dipandangnya gubuk reyot yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.
“Wahh.. Putri betapa kuat dirimu, dulu kau sering menghardik orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kardus namun sekarang kau sendiri yang merasakan hal serupa, ternyata hukum karma itu ada,” Putri berdialog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ia memasuki gubuk tersebut dan beristirahat disana.
Keesokan harinya. Situasi didalam bus yang Ia tumpangi ramai oleh para penumpang, orang-orang yang berada dalam bus tersebut saling berdesak-desakan. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Putri untuk melancarkan aksinya. Seorang Ibu paruh baya menjadi sasarannya. Dengan perasaan was-was Putri dengan lihai memasukkan tangannya kedalam tas yang dikenakan ditangan oleh ibu tersebut. Tepat! Satu dompet berhasil Ia dapatkan. Bus berhenti, dengan bergegas Putri meninggalkan bus tersebut dengan perasaan sedikit lega. Putri duduk dibawah pohon dan menghitung uang yang berhasil Ia copet.
“Yess... tiga ratus ribu, lumayan untuk jatah makan siang dan malam hari ini,” dengan senyum simpul setelah itu Putri membuangkan dompet kosong tersebut kedalam bak sampah.
Bertahan hidup dengan cara mencopet telah dilakukan Putri hampir satu tahunan ini. Mengawalinya dengan tanpa kesengajaan akhirnya berlanjut sampai sekarang. Putri tak tau jalan seperti apa lagi yang harus Ia tempuh selain mencopet. Tak ada satu pun keahlian yang Ia miliki. Hidup manja dan tak ingin tahu segalanya hanya bisa menyuruh dan menyuruh selalu Ia terapkan dalam kehidupan sebelumnya, alhasil tak ada satu pun keahlian yang Ia punya.
Satu minggu berlalu, tak ada pekerjaan yang dilakukan oleh Putri selain mencopet. Mencopet adalah sebuah keharusan baginya. Jika tidak, lantas Ia akan mengisi perutnya denga apa? Tempat-tempat seperti Pasar, Terminal bus dan tempat yang memungkinkan Putri melakoni aksinya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dipandangnya rumah mewah nan megah diseberang jalanan yang tidak jauh dari tempat duduknya. Memori lama terputar kembali bak roll film sedang menayangkan aksi laga, kembali air mata berlinang dari pelupuk mata buru-buru dihapusnya. Keluarga yang utuh, ayah, ibu serta adik laki-lakinya yang saat ini sudah beranjak dewasa lebih dahulu diingat. Namun semakin Ia memikirkan itu rasa sakit hati yang dirasa lebih dominan. Memikirkan hidupnya saja sulit apa lagi memikirkan keluarga yang saat ini tak peduli dengan keadaannya sekarang. Hanya sepuntung rokok dan jaket lusuh yang dikenakan menemani hari-harinya saat ini.
Angkuh, sombong dan keras kepala adalah tabiat dari Putri. Terlepas dari itu Putri bukanlah gadis nakal seperti orang diluaran sana. Untuk mendekati rokok pun itu sangat mustahil. Tapi kali ini tidak ada pilihan, beban hidup yang sekarang Ia tanggung membuatnya enggan untuk bersemangat menjalani hidup. Kenyataan yang pahit mau tak mau harus Ia telan.
“Copet!!!” teriak seorang wanita paruh baya dengan panik. Semua orang bertanya-tanya dan mencari fokus kearah pencopet, kemudian mengejar si pelaku, namun sepertinya keberuntungan masih diraih oleh pencopet itu, Ia berhasil lolos. Pencopet yang sedang melayangkan aksinya tersebut adalah Putri. Bukan Putri namanya jika Ia tidak bisa menghindari kejaran dari orang-orang itu. Entah sudah sejauh apa yang berlari sehingga sampai pada titik dimana Ia merasa telah berada ditempat yang menurutnya aman tak ada satu pun orang yang mengejarnya. Senyum sumringah kembali Ia perlihatkan tatkala melihat isi dompet yang berhasil Ia curi.
“Hahahaha... Bodoh betul, mereka tidak tahu bahwa aku terus bersembunyi disekitar mereka dan mereka tidak menyadari itu, hahahaha” gelak tawa terus dilontarkan olehnya.
Hari demi hari semakin lincah Putri menghindari para kejaran massa. Profesi yang digeluti hampir satu tahun ini membuat Ia handal memainkan perannya. Namun tak dapat dipungkiri dirinya merasa lelah dengan semua itu. Acapkali Ia sering berpikir untuk menyudahi semuanya. Tapi lagi dan lagi kebutuhan hidup menuntunnya melewati jalan belukar. Ia merasa iri dengan teman-temannya yang sudah suskses dengan bidang yang mereka pilih. Tak jarang ditengah perjalanan Putri sering melihat teman-teman sewaktu masa sekolahnya. Mau tak mau Putri harus menghindari tatapan menghina dan mengejek dari teman-temannya itu. Hanya bermodalkan ijazah SMA sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang layak. Gelar sarjana pun tidak bisa Ia raih karena masalah yang dihadapi membuat Ia berhenti pada pertengahan semester. Hal itulah yang membuat Putri malu akan dirinya.
Suatu sore...
Ada perasaan yang menjanggal hati Putri kala itu, sebetulnya Ia enggan untuk melancarkan aksinya hari ini. Ditepisnya rasa kejanggalan tersebut dan memutuskan untuk tetap mencopet. Lelaki muda menjadi sasarannya. Dompet yang bertengger manis dibelakang celana dasar yang dikenakan oleh lelaki tersebut membuat Putri tergoda untuk mengambilnya. Suasana terminal kereta kala itu sangat padat-padatnya. Dilihatnya pria itu, dengan posisi tangan mengenggam telepon genggam dan satu tangan dimasukkan kedalam saku celana, Putri pikir hal itu akan memudahkan aksinya. Perlahan Ia mengambil posisi untuk bisa mensejajarkan dengan tinggi pria itu. Ia melihat kiri dan kanan nampaknya semua orang sibuk berlalu lalang dan tak memperdulikan lingkungan sekitar. Ketika tangannya telah berada tepat pada saku celana pria itu, tiba-tiba sosok lelaki tua beteriak dengan lantang. “COPET!” lelaki tersebut sontak menoleh kebelakang. Gilang! Rasa keterkejutan kedua insan tersebut menambah keruh suasana, tak digubrisnya segerombolan manusia yang telah mengelilingi mereka berdua. Saat itu yang Putri pikirkan adalah bagaimana Ia bisa pergi dan menghilang dari hadapan Gilang. Tangan gilang kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
“Tidak apa-apa pak, teman saya memang sering bercanda seperti itu. kalian semua tidak usah risau ini kesalah pahaman” terang Gilang dengan sebuah senyuman dengan merangkul bahu Putri. “Apa betul seperti itu?” tanya pria tua itu. “Betul pak, sekarang kalian bisa bubar dan melakukan aktivitas kalian” jawab Gilang dengan santai. Latas semua orang pergi dari tempat itu.
Dengan linangan air mata Putri menunduk malu. Ia malu dengan apa yang sudah Ia perbuat terlebih lagi Gilang. Teman yang dahulu sering Ia hina bahkan sekarang menyelamatkannya.
“Waktu itu aku hanya ingin menanyakan kabar mu, tidak lebih. Tapi dirimu malah pergi” ujar Gilang mengawali pembicaraan dan mereka sedang duduk dikursi restoran dekat dengan terminal tersebut. Memori tentang satu bulan yang lalu dimana pertemuan ketidak sengajaan di halte bus kembali terngiang di otaknya.
“Melihat kejadian itu, aku pikir kau akan memilih hidup tanpa mencuri. Aku tidak merendahkan mu tapi coba kau renungkan lagi. Aku tau masalah yang menimpa keluarga mu. Terlepas dari masa lalu kita seperti apa sungguh, aku tak mempermasalahkan hal itu. Saat ini yang aku khawatirkan adalah masa depan mu Putri” terang Gilang dengan nada prihatin. Senyum getir menghias wajah Putri, dengan suara bergetar Ia balik menjawab “hah! Masa depan? Asal engkau tau, aku bahkan tidak peduli dengan masa depan ku saat ini. Sejak ayah ku mendekam di penjara, Ibu dan adik ku meninggalkan aku, saat itu sudah aku putuskan untuk menghapus kata masa depan dalam hidupku, yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana cara aku bertahan untuk terus melanjutkan hidup hari ini, esok dan selanjutnya.” Jawab Putri dengan panjang lebar dengan uraian air mata. “Aku sudah menyerah dengan hidup ku Gilang. Apa yang bisa aku perbuat dengan kondisi ku saat ini. Aku saat ini bukanlah cahaya emas yang mengilaukan seperti dulu melainkan lentera yang redup dengan semangat yang telah rapuh” lanjutnya dengan nada keputusasaan. Melihat hal tersebut membuat Gilang kembali merasa berempati kepadanya.
“Dengan kejadian hari ini aku yakin hal ini dapat menyadarkan mu dari semua kesalahan yang telah kau perbuat selama ini. Masalah hidup terkadang menjadi guru besar untuk kehidupan kita mendatang. Buktinya kau bisa bertahan dengan dunia yang fana ini walau pun dengan cara yang salah. Banyak pembelajaran yang dapat kita ambil put, jika kau berpikir untuk tidak ingin memiliki masa depan tanyakan lagi kepada hati mu. Tidak ada salahnya mencoba, tidak ada yang instan di dunia ini. Jika kau berniat untuk bangkit, tunjukkan kepada keluarga mu kelak bahwa kau bisa tanpa bantuan mereka, kau bisa hidup mandiri tanpa mereka bahkan kau bisa menjadi orang hebat tanpa mereka. Kau mampu berdiri kokoh tanpa ada campur tangan dari orang lain put” ujar Gilang dengan memberi doktrin kepada Putri dengan semangat.
“Hahaha... omong kosong. Bahkan untuk makan satu hari pun sangat sulit” jawabnya dengan tertawa getir. “Kau bisa! Hanya kau yang enggan mencoba. Aku hanya memberi mu saran tidak memaksa” terang Gilang dan Ia menyodorkan kartu namanya. “Ini kartu nama ku, mampirlah ketempat ku. Aku memiliki usaha dibidang fashion. Disana kami memperkerjakan orang yang ahli dibidang jahit menjahit. Aku tau sewaktu kuliah kau mempunyai bakat dalam mendesain pakaian, mengingat dulu kau sangat memperhatikan mode tanpa kau sendiri menyadarinya. Kami membutuhkan orang seperti kamu put, dan satu lagi kami juga membuka kursus menjahit bagi para pemula. Jika kau berniat bergabung silahkan hubungi aku dan bangun masa depan mu disana. Jika enggan juga tidak masalah. Aku hanya menawarkan, terimakasih untuk hari ini put, aku harap kau memilih pilihan yang tepat” setelah berkata panjang lebar Gilang memutuskan untuk pamit dari tempat itu.
Setelah memikirkan perkataan Gilang Putri baru menyadari, bahwa dulu Ia hobi menggambar. Namun Putri menganggap bahwa hal itu adalah suatu yang biasa, mengingat itu hanya sebatas kegemaran tidak lebih dan memilih memendamnya. Bahkan semua orang tau jika Ia hobi mendesain pakaiannya sendiri kala itu. Tanpa disadari bahwa bakat yang Ia miliki dapat berguna dikehidupannya saat ini. Setelah memikirkan semuanya dan mempertimbangkan, Putri bergegas keluar dan mencari Gilang yang telah meninggalkan restoran tersebut. Beruntung! Gilang berada tak jauh dari lokasi tersebut dengan napas tersengal-sengal Putri pun berteriak dengan lantang. “Gilaaang!!!” lantas Gilang pun mencari asal suara itu, kemudian mata mereka berdua beradu pandang. “Mari kita bekerja sama dan bantu aku untuk kembali mengenal apa itu masa depan!” kemudian Gilang melemparkan senyum sumringah dengan sorot mata yang berbinar.
SELESAI