“Chas! Berhenti!” Rafael membelah kerumunan dengan liar, tidak membiarkan gadis bersurai blonde yang kabur darinya lepas begitu saja.
“Rafael pembohong! Tidak ada pelangi yang menungguku di atas jembatan layang! Tidak ada pohon yang batangnya bercahaya di kota ini!” Chas terisak, masih berusaha untuk menjaga jarak dari pemuda bersurai putih yang mengejarnya di belakang.
“HEI!!” Chas tidak mengindahkan seruan Rafael dari belakang, gadis bersurai blonde itu tetap bersikukuh menaiki pembatas jembatan. Netra peach yang dikelilingi oleh lingkaran hitam di wajahnya menatap hampa pada aliran sungai di bawah jembatan.
“KAMU MAU NGAPAIN?!” Rafael menyambar pergelangan tangan gadis itu lalu menariknya kasar. Tapi gadis itu menyentak dengan kuat lalu menampar keras pipi pemuda yang lebih tinggi darinya itu saat Rafael menunduk.
“Pokoknya aku bakal loncat! Ada nggak adanya pelangi yang kamu ceritain itu aku gak peduli! Aku bakal ngakhirin hidupku sekarang juga!!”
“Jangan! Kamu pikir-“ Chas meloncat turun begitu saja, memotong kalimat Rafael yang belum rampung.
Tentunya tanpa pikir dua kali, Rafael berlari, lalu memanjat pembatas dan mendekap tubuh teman masa kecilnya erat. Seolah mengatakan kepada Chas, bahwa mati pun dia tidak akan sendirian.
Suara deburan air terdengar keras saat tubuh mereka berdua menghantam permukaan sungai. Rasa sesak akibat kehabisan oksigen merayapi paru-paru, disusul dengan kegelapan yang menyelimuti kesadaran mereka seutuhnya.
•••
Chas merasakan kepalanya berat seakan habis dihantam sesuatu. Gadis itu mengerjap, lalu beringsut duduk. Netra peach miliknya menyisir suasana sekitar. Hamparan rumput hijau terbentang di depan mata, dikelilingi oleh tumbuhan yang memiliki cahaya di sela-sela cabangnya, lengkap dengan danau kecil yang memiliki air berwarna biru langit dan bercahaya kelap-kelip bak bintang di langit.
Chas sedikit membuka mulutnya, takjub dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Sejenak ia teringat dengan Rafael. Tangan pemuda itu masih setia melingkari pinggangnya. Karena terpukau oleh keadaan sekitar, Chas jadi tidak menyadari hal itu.
Gadis itu mengguncang-guncang tubuh jangkung Rafael, diikuti dengan lenguhan yang keluar dari mulut Rafael. Pemuda itu tersentak bangun, lalu mengguncang pundak Chas. “Chas! Kamu gila! Apa yang kamu ....” Ucapan Rafael terpotong begitu saja saat ia sadar dimana ia berada sekarang.
Chas menggenggam kedua tangan Rafael erat, “Raf! Lihat! Aku berhasil menemukan dunia fantasi yang sering kamu ceritakan padaku dulu! Kau masih ingat?” Chas berbinar senang, ia lalu berdiri dan meloncat-loncat kegirangan. Berputar-putar lalu tertawa lepas.
“Lihat! Ini bola roh yang kau ceritakan waktu itu kan?! Ini benar-benar nyata ... Kereeen!!”
Rafael yang masih belum terbiasa dengan keadaan hanya bisa terdiam menatapi Chas yang tertawa lepas sembari berputar-putar dan meloncat-loncat kegirangan kesana-kemari.
Ini pertama kalinya ia melihat Chas yang sebahagia itu.
Akhir-akhir ini gadis itu sering kabur dari rumahnya, mengadu ini-itu ke Rafael lalu merengek memohon kepada Rafael agar ia diijinkan tinggal di rumahnya.
Bukan tanpa sebab Chas begitu. Semenjak ibunya meninggal, keluarganya mulai memperlakukan dia dengan semena-mena. Belum habis penderitaannya, teman dekatnya ikut menyusul pergi ke ‘rumah’nya di pangkuan Tuhan akibat penyakit yang dideritanya.
Chas sendirian dan menderita. Berkali-kali gadis itu sudah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, berkali-kali pula Rafael menggagalkan aksinya itu.
Sejenak Rafael tersentak. Kalau ia saat ini berada di dunia lain, bagaimana dengan ibunya di dunia nyata?
“Aku harus pulang.” Rafael berucap tiba-tiba, pemuda itu maju satu langkah, “Kita tidak seharusnya berada disini.”
Chas memanyunkan bibirnya kecewa, “Kenapa? Kau tidak ingin bersamaku?”
Rafael mendekat, menggenggam kedua tangan Chas dengan penuh kasih, “Kamu tahu ‘kan kalau aku tidak bisa meninggalkan ibuku?”
“Aku tidak mau pulang! Ayah pasti akan memukulku lagi! AKU TAKUT!!” Chas menjerit histeris. “Aku tidak mau kembali ke rumah laknat itu!”
Rafael tak mampu berkata-kata.
“Sekarang jawab! Kau pilih aku atau ibumu?!” Chas menyentak.
“Jangan memberikan pilihan padaku! Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian!”
“Aku tidak peduli! Kau memang tidak bisa mengerti penderitaanku! Aku bisa mati jika hidup di dalam neraka itu terus!”
“AKU AKAN MENIKAHIMU!!” Rafael berteriak lantang. “AKU AKAN MEMBAWAMU PERGI DARI NERAKA ITU SAAT USIAMU GENAP 19 TAHUN!!”
Chas tersentak.
“Aku akan menarikmu dari penderitaanmu itu! Aku bisa menarikmu keluar dengan mudah saat usiamu sudah cukup untuk menikah di mata hukum. Aku pasti akan membawamu keluar. Aku janji ....” Rafael menutup wajahnya pias, “Aku memang berbohong padamu soal dunia fantasi itu. Aku memintamu untuk menungguku melamarmu saat usiamu genap 19 tahun nanti, tapi kenapa kau selalu ingin mati?!”
Chas menelan ludahnya. Perasaan sesal dan bersalah menumpuk di dalam hatinya. Belum sempat ia berkata-kata, belasan bola roh menarik tubuhnya ke belakang, mereka adalah bola roh pecahan-pecahan dari roh yang cukup ganas.
Chas meronta, “RAFAEL!!!”
Bola roh itu semakin membesar, melahap Chas ke dalam cahaya yang menyilaukan mata. Chas membuka matanya, tiba-tiba saja ia terlempar ke dalam ruangan bernuansa putih ala rumah sakit.
Seperangkat peralatan medis terpasang di tubuhnya, Chas menaikkan alis saat melirik kalender yang terpajang di meja nakas di sebelahnya. Sudah seminggu berlalu saat terakhir kali ia mencoba untuk bunuh diri di jembatan.
“Akhirnya kau sadar juga.” Suara seorang perawat membuyarkan lamunannya.
“Sudah seminggu kau tidak sadarkan diri. Salah seorang warga menemukanmu di sungai Liara,” sambung perawat itu lagi.
Chas membelalakkan matanya terkejut. Pasalnya sungai Liara berjarak cukup jauh dari rumahnya. Sejenak ia teringat pada Rafael. Bagaimana nasib pemuda bersurai putih itu sekarang?
“Tunggu ... Apa ada seseorang yang bersamaku?!”
Perawat itu menipiskan bibirnya, “Ya ada. Dia terluka sangat parah. Warga sekitar menemukannya tengah memelukmu di sungai hingga kau terlindungi dari benda-benda berbahaya di sungai Liara.”
Hati Chas bak diiris-iris silet mendengarnya. Semua ini memang salahnya dari awal. Kalau bukan karena dia yang bertekad untuk mengakhiri hidupnya di jembatan waktu itu, Rafael pastinya tidak akan begini.
Setelah apa yang dilakukan Rafael selama ini, dirinya sendiri malah memilih untuk mengakhiri hidupnya dan mengabaikan Rafael. Tanpa sadar, air mata meleleh di pipi gadis bersurai blonde itu.
Chas pun hanya bisa meminta maaf berulang kali di sisi Rafael yang terbaring kaku. Kata dokter yang menanganinya, dia mengalami pendarahan hebat hingga ia kehilangan banyak darah.
Kulitnya semakin pucat makin harinya. Warna kulitnya bahkan mulai hampir sama dengan warna rambutnya yang putih. Kelopak matanya tertutup rapat seolah tidak ada kehidupan yang tengah mengisi tubuhnya saat itu.
Chas menggenggam tangan Rafael erat dengan gemetar, “Rafael ... bangunlah. Hari ini aku sudah genap berusia 19 tahun, kau sudah janji akan menyanyikan lagu ulang tahun untukku bukan?”
Tidak ada sahutan.
“Kau sudah janji akan melamarku ....” ucap Chas dengan suara serak dan parau. “Tidak apa kalau kau melamarku sekarang juga tanpa membawa apa-apa, lamaranmu pasti akan kuterima!”
“Kau janji akan menarikku dari neraka itu ‘kan?” Air mata mulai mengisi penuh pelupuk mata Chas.
“Sesuai aturan hukum di kota ini, aku sudah cukup umur untuk menikah. Aku sudah bisa menikahimu. Aku janji akan merawat ibumu. Aku akan bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecil kita.”
“Aku akan setia menunggumu bangun ....”
Hanya hening yang menjadi jawaban.
“Jangan membuatku semakin sakit jika kau memutuskan untuk meninggalkanku! Kumohon! Bangunlah!” Chas benar-benar tak sanggup lagi menyembunyikan luka yang dirasakannya. Gadis itu menangkupkan wajahnya di perut rata Rafael sembari terisak.
Di tengah tangis penyesalannya yang tumpah ruah, Chas merasakan sesuatu bergerak di atas kepalanya.
Rafael ... mengelus kepalanya, “Iya.”
___