Aku Ingin Melunasi Hutang Ibuku
Part 1 Aku dan Ibu
Terlahir jadi anak bungsu dari tiga bersaudara. Sejak kecil sudah menjadi anak yatim. Ibu sendiri yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pergi menjelang mentari muncul dan pulang menjelang mentari hampir terbenam. Menjadi seorang janda dengan tiga orang putri tidaklah mudah. Ibu berdagang dari tetangga dan teman. Kadang juga dijual secara kredit. Tidak pernah kudengar sedikitpun beliau mengeluh capek.
Tahun berlalu dengan semakin bertumbuhnya badanku. Kedua kakakku masuk ke sekolah asrama. Jadi hanya aku yang tinggal dengan ibu. Aku yang masih kelas tiga SD baru pulang sekolah waktu itu. Ibu mengajarkanku bagaimana cara menghidupkan kompor minyak dan cara mematikannya. Ibu juga menjelaskan cara menggoreng telur mata sapi jikalau aku pulang sekolah sambal atau lauk tidak ada. Jadi sedari kecil ibu sudah mengajarkan aku agar mandiri.
Suatu siang setelah pulang sekolah, aku mendengar suara motor khas ibu. Aku yang akan mengerjakan tugas sekolah segera berlari ke depan pintu menyambut kedatangan beliau. Kulihat ada selimut tebal dua buah terikat di boncengan, dan satu buah selimut di bagian depan.
"Assalammualaikum...", sapa ibu sambil melangkah masuk.
"Waalaikumsalam ibu, ibu pulang cepat hari ini. Itu dagangan baru ibu?, tanyaku sambil menciumi tangannya.
"Iya, ada yang pesan kemaren, jadi nanti mau ibu antar".
"
"Diantar kemana bu? Apa aku boleh ikut"? tanyaku sambil menyodorkan segelas air putih.
"Boleh, tapi Zee udah makan siang belum"?
"Belum lapar tadi, Bu".
"Kalau begitu kita makan sama-sama ya".
"Baik ibuku cantik", jawabku sambil tersenyum.
Ibu menyiapkan makanan untuk kami, lalu makan bersama. Setelah makan aku membantu meletakkan piring kotor ke dapur. Lalu membereskan buku pelajaran yang berserakan tadi.