Aku terbangun di tengah-tengah semak belukar, yang menggores tubuhku. Aku mulai melihat sekeliling, namun yang ku temukan hanya pepohonan rimbun juga kehampaan yang terasa begitu nyata.
Tak ada siapapun di sini. Bukankah itu aneh? Jika aku tengah berada di hutan, beberapa hewan yang tinggal di dalamnya pasti akan nampak.
Namun, di sekitar ku hanya ada pepohonan juga rumput - rumput yang tumbuh begitu tinggi. Seseorang mungkin takkan melihatku jika aku bersembunyi di dalamnya.
Aku bangkit berdiri. Sedikit menepuk nepuk pakaian ku, agar kotoran atau debu yang menempel hilang. Setelahnya, aku mulai melangkah.
Kebingungan menguasaiku. Tak ada siapapun di sini. Bagaimana cara nya agar aku tahu dimana aku sekarang?
Lagipula, bagaimana bisa aku berada di tempat seperti ini? Apa.. aku secara tak sengaja memasuki sebuah dimensi lain?
Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Sepertinya, tadi aku tertidur di sofa ruang keluarga.
Lalu, bagaimana bisa aku berada di sini?
"Apa ada orang di sini? Haloo!!!" Aku berteriak. Bisa jadi, seseorang tak sengaja lewat dan mendengar teriakkan ku.
Tapi.. apa mungkin?
Matahari mulai memerah kekuningan. Sepertinya telah sore. Bagaimana ini?
Aku memeluk tubuh ku. Hawa mulai mendingin, seiring dengan matahari yang mulai terbenam.
Aku terus berjalan. Tetapi, rasanya aku sejak tadi hanya memutari tempat aku terbangun. Seharusnya aku telah jauh dari tempat ini.
Karena lelah, aku berjongkok di bawah pohon. Sembari memeluk tubuhku sendiri, aku tak henti-hentinya menatap sekeliling.
Suasana mulai menggelap. Aku mulai ketakutan.
"Hey, nona manis!"
Aku mengerjap ketika sebuah suara terdengar di indra pendengaran ku. Aku menatap kesana kemari, namun di karenakan hari telah gelap, aku tidak bisa melihat dengan jelas.
"Di atas sini!" suara itu muncul lagi. Mungkin kah maksudnya di atas pohon tempat ku sekarang ini?
Aku menggigit bibir bawahku merasa ragu. Itu bukan hantu, 'kan? Aku sedikit takut untuk melihat ke atas. Tetapi, aku juga penasaran.
Perlahan-lahan aku mendongakkan kepala ku. Di atas sana siluet bayangan manusia nampak. Aku memicing memperjelas apa yang barusan ku lihat.
"K-kau siapa?" Oh tidak. Kenapa suara ku gugup begini? Nanti 'makhluk' itu akan tahu jika aku tengah ketakutan.
Di atas sana, terdengar tawa singkat. Tawa yang merdu. "Tenanglah, aku tidak akan melukaimu."
Aku diam.
"Hey, kau mendengarku?"
"Kau siapa?" tanyaku, mengulang pertanyaan tadi.
"Buru-buru sekali, tapi, tidak apa-apa." Seonggok makhluk tiba-tiba saja meloncat dari atas pohon, dan mendarat tepat di depan ku yang masih berjongkok.
Aku terlonjak kaget.
"Huh! sunggu itu bukan pendaratan yang sempurna!" gerutu makhluk itu.
"Hai!" sapanya.
Aku merapatkan tubuhku pada dahan pohon.
"Hey, aku tidak akan melukaimu."
"Kau siapa?" Aku kembali bertanya.
Di bantu dengan sinar bulan, aku mulai melihat makhluk itu dengan jelas. Astaga! dia seorang laki-laki. Wajahnya.. tampan!
Aku mengerjap, lalu mengalihkan pandanganku.
"Roy. Kau bisa memanggilku itu," Laki-laki bernama Roy itu masih menatap ku.
Aku cukup terpesona dengan Roy, namun ini bukan waktu yang tepat.
Dengan ragu-ragu, aku kemudian bertanya lagi. "Apa kau tahu, ini tempat apa?"
Roy mengangguk. "Kenapa kau terlihat bingung? Apa kau tersesat?"
Aku menyerngit kesal. Laki-laki ini bukannya menjawab pertanyaan ku, malah bertanya balik.
"Bisakah kau menjawab pertanyaan ku lebih dulu?" ujarku.
"Ah, baiklah. Kau-maksudnya kita berada di Hutan Mimpi." Jelas Roy singkat yang sama sekali tak membuat ku paham.
"Hutan Mimpi? apa itu?"
Roy tersenyum sumringah. Entah kenapa, senyuman itu membuat ku merasa waspada. Aku merasa terancam.
"Ya. Hutan Ilusi, yang bisa menjebak setiap orang yang masuk di dalamnya."
Aku menelan salivaku. Sepertinya, ada yang tidak beres. "Hutan Ilusi? Berarti semua yang ku lihat saat ini adalah Ilusi termasuk.. kau?" Aku memelankan suara ku di akhir.
Roy tertawa dengan keras. Wujud nya yang tadinya sangat tampan kini berubah menjadi sebuah monster berbentuk mengerikan!
Aku melotot terkejut melihatnya.
"Hahaha, kemarilah nona manis! Jadilah santapan ku malam ini, haha.." Roy- tidak! Monster Roy itu mendekat ke arah ku.
Aku berdiri dan berlari. Saat aku menolah, aku semakin ketakutan saat ku lihat semakin lama, monster itu semakin dekat.
Monster itu tidak berlari. Dia menghilang, dan dengan sekejap telah berada di jarak yang sedikit lagi mencapai ku.
Kaki ku gemetar, ketika mata ku tak sengaja melihat ke arah kedua taring nya yang mencuat. Membayangkan jika daging ku akan di koyak.
Rasanya aku lebih memilih mati dengan bunuh diri daripada harus di mutilasi dengan monster itu.
Aku mempercepat lariku. Sunggu malang!
Tiba-tiba sebuah suara muncul dalam benakku.
'Tutuplah matamu, dan tenangkan pikiranmu. Maka, Ilusi itu akan menghilang.'
Ya! Bodoh! Aku seharusnya berpikir seperti itu sejak tadi. Bukankah ini semua hanya Ilusi? Aku merasa heran dengan suara tadi, namun aku memilih tidak memedulikan nya.
Laju lari ku melambat. Meski, aku masih merasa ketakutan luar biasa akibat di kejar dengan monster tadi, aku tetap memberhentikan lari ku.
Aku duduk di tengah-tengah rumput, agar monster tadi tak melihatku. Dengan pelan, aku mulai mengatur nafasku. Aku menutup mata, dan menenangkan pikiran ku.
Sebuah titik nampak dalam pikiran ku. Titik itu perlahan-lahan membesar dan membentuk sebuah sinar yang begitu menyilaukan.
Ketika aku membuka mata, aku kembali ke sofa ruang keluarga. Menyadari hal itu, aku bernafas lega.
Akhirnya...
****
T.A.M.A.T
Cerpen > ⚡Terjebak dalam Mimpi
Selesai > Rab, 7 April 2021
****
Terima kasih, telah membaca :)
Semoga terhibur!
Mohon mampir juga di Novel saya :)