Aku bukanlah orang yang pandai berekspresi.
Tampang wajahku selalu datar bagaikan tembok.
Senyumku tidak pernah dihargai.
'Ngapain kamu senyum-senyum? Kayak orang gila.'
Bermurung pun tidak pernah ada yang peduli.
'Mukamu emang dari dasarnya jelek, murung pun kamu bakal semakin jelek!'
Sudah selama beberapa tahun belakangan aku tidak pernah mengukir seulas senyuman di wajahku. Aku hampir saja memutuskan untuk menelan isi kaleng obat nyamuk karena itu, tapi urung kulakukan.
Tiba-tiba saja seseorang datang dan masuk ke celah kehidupanku yang suram. Memberikan secercah cahaya harapan bahwa masih ada orang yang peduli padaku.
Jadi, suatu hari ia bertanya, "Kamu kok nggak pernah senyum sih?" Ia sangat berharap agar aku tersenyum di depannya.
Tapi tetap saja, aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Meskipun orang itu telah melakukan berbagai hal konyol yang sanggup menggelitik isi perut, aku tetap saja memasang tampang datar. Jangankan tertawa, menarik sedikit sudut bibirku pun tidak.
Harus bagaimana lagi? Aku tidak menganggapnya lucu.
Tidak ada hal yang lucu bagiku di dunia ini.
Jadi, karena mengalami suatu kecelakaan besar, orang itu menjadi pasien RSJ.
Aku ingin membantunya sembuh kembali, tapi aku malah tidak tahu harus berbuat apa?
Jadi, aku memutuskan untuk belajar tersenyum. Mungkin saja obat agar orang itu kembali waras adalah senyumanku yang amat didambakannya?
Aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet sekolah setelah sekolah sepi lalu menghadap cermin besar yang terpajang disana, menatap betapa datarnya ekspresi wajahku.
Ini sepertinya akan sangat menyakitkan ...
Kutarik sedikit ujung bibirku naik ke atas, pipiku mulai terasa sakit.
Aku urung tersenyum, ini terlalu menyakitkan untukku yang sudah bertahun-tahun tidak tersenyum.
Tapi, ini semua demi kesembuhannya. Aku harus belajar tersenyum.
Kulirik ke arah kanan dan kiri, memastikan agar tidak ada orang yang masuk dan menyaksikan diriku yang tengah belajar tersenyum ini. Bisa saja nanti mereka salah kaprah menduga aku adalah setan penunggu kamar mandi lantaran senyumanku yang masih rada-rada horor ini.
Setelah situasi benar-benar terasa sunyi sepi, aku mencoba untuk tersenyum lagi.
Perlahan, sudut bibirku terangkat. Namun ... senyumanku kali ini benar-benar terlihat seperti senyuman setan.
Aku malah menjadi agak takut dengan senyumanku sendiri. Jadi, aku mencoba untuk mengulanginya lagi. Kali ini harus lebih perlahan. Namun mencoba tersenyum perlahan ternyata membuat otot pipiku terasa capek.
Menyedihkan.
Ini bukan waktunya untuk menyerah. Kali kucoba untuk tersenyum lagi, mungkin aku hanya kurang-
"SETAAAAAAAAN!!"
Teriakan lantang memecah dunia itu sontak membuatku membalikkan badan dan menutup mulutku dengan kedua tanganku, menyembunyikan "senyuman setan" yang kubuat tadi.
"Gak usah teriak pun, aku tau aku ini emang mirip setan," ucapku datar seraya berlalu, meninggalkan orang itu diam mematung menatapiku dengan tatapan syok.
___
Seperti biasa, sesampainya aku di rumah tidak ada orang yang menyapaku. Seolah-olah kehadiranku ini hanyalah angin yang numpang lewat.
Aku tidak pernah menyapa orang di rumah.
Aku tidak pernah dianggap.
Karena merasa haus, aku berniat mengambil air di dapur. Seperti biasa juga, setiap aku datang orang-orang akan menjauhiku.
Aku memang anak haram yang terlahir dari rahim wanita jalang. Tapi bukan berarti aku layak dijauhi seperti ini.
Tapi biarlah, aku sudah terbiasa seperti ini.
Setelah ini, aku berniat menjenguk ia di RSJ. Tidak perlu membawa apa-apa, cukup tersenyum saja.
Bahkan perawat di RSJ pun tidak menganggap kehadiranku. Tidak ada satupun orang yang menyapaku selain seorang kakek pengidap gangguan jiwa di kamar bernomor 231 yang kulewati. Aku pun tidak pernah menyapanya balik atau bahkan tersenyum. Aku biasanya hanya meliriknya saja, dan kakek itu akan tersenyum hangat ke arahku.
Aku sampai di depan ruang tempat ia dirawat. Seperti biasa, ia mencorat-coret buku gambarnya dengan crayon sambil terkikik sendiri menatapi hasil gambarannya yang bentuknya seperti benang kusut.
Untuk pertama kalinya, aku mencoba menyapa orang itu. "Hai," ucapku lirih, nyaris seperti bisikan hingga aku yakin kalau ia sama sekali tidak bisa mendengar suaraku.
Dan tentu saja ia tidak menoleh.
"Halo?" Ulangiku lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.
Kali ini ia menoleh, mulutnya sedikit membuka. Dia ragu-ragu memanggil namaku.
Aku tercengang. Bagaimana tidak? Rupanya ia masih mengenaliku meski ia sedang mengalami gangguan jiwa.
"Hei, itu kamu 'kan?" Aku langsung mengangguk menanggapinya.
Aku lalu duduk di sampingnya, membiarkan ia menggenggam tanganku dan menautkan jarinya dengan jariku.
"Rafael, tanganmu dingin sekali."
Aku terdiam.
"Kamu masih belum bisa senyum 'kan? Kenapa nggak pernah dicoba? Kamu pasti lebih cakep kalo senyum." Ucapnya dengan tatapan mata yang tidak benar-benar mengarah ke arahku.
"Akan kucoba," jawabku lirih, "Tapi nanti."
Ia memanyunkan bibirnya kecewa, "Nanti? Kenapa?"
'Nanti' itu mungkin adalah sekarang. Jadi, aku menarik kedua sudut bibirku naik. Perlahan, ia juga mulai tersenyum.
"Yang benar itu seperti ini," ucapnya seraya menarikkan kedua sudut bibirku dengan kedua jarinya. Namun, entah mengapa aku tidak bisa merasakan sentuhannya, tapi aku bisa merasakan kedua sudut bibirku terangkat dengan lebih mudah.
Tepat di saat itu juga, serpihan-serpihan cahaya berpendar mengitariku. Perlahan, cahaya-cahaya itu melahapku. Sosok orang itu mulai memudar dari pandanganku akibat cahaya-cahaya yang mengitariku.
Orang itu tersenyum pedih, lalu menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya meski aku tidak bisa merasakan sentuhannya. "Rafael," panggilnya parau.
"Kamu sebenarnya sudah mati. Tapi serpihan jiwa negatifmu masih berkeliaran di alam sini. Kamu tahu kenapa?"
"... Itu karena kamu belum bisa tersenyum dengan tulus. Kapan terakhir kali kamu tersenyum?" Tanyanya lembut.
"Mungkin saat umurku 7 tahun?" Jawabku ragu.
Orang itu mengukir senyuman hampa, "Kamu sudah bisa tersenyum dengan tulus sekarang. Kamu sudah bisa pergi dengan tenang ke alammu disana 'kan?"
Aku mengerutkan alis tanda tidak mengerti.
Ia mengukir seulas senyuman mafhum, "Kamu sudah mati sejak kamu memutuskan untuk meminum racun serangga."
Aku mengepalkan kedua tanganku, "Nggak mungkin, kamu cuma lagi ngawur aja 'kan? Aku belum mati." Orang gila sepertinya bukannya memang seperti itu?
Tapi, setelah kupikir lagi, kata-katanya ada benarnya juga.
Alasan kenapa orang-orang tidak menganggap kehadiranku.
Alasan kenapa orang-orang menjauhiku dan kenapa hanya ia yang mau berteman denganku.
Alasan kenapa siswa tadi ketakutan melihatku di kamar mandi.
"Kamu sudah mengerti sekarang 'kan? Tempatmu bukan disini ...."
Ia mengukir seulas senyuman yang dipaksakan. "Pergilah, pulanglah ke tempatmu yang seharusnya. Maafkan aku karena terlalu lama membiarkanmu terawang-awang di dunia fana."
Serbuk-serbuk cahaya tadi kemudian membungkus diriku sepenuhnya. Membuat genggaman tangan orang itu langsung terlepas dariku.
"Sampai jumpa," ucapnya lagi seraya melambaikan tangan dan tersenyum lagi.
Aku tidak tahu kenapa kau mudah sekali untuk tersenyum seperti itu sepanjang waktu?
Kalau senyuman adalah ekspresi yang paling menyakitkan ... kenapa Tuhan memberikan kami ekspresi se-menyakitkan itu?
Aku memang tidak tahu mengapa kau sangat mempertahankan senyumanmu itu.
Tapi kini aku mengerti, juga dengan kata "Sampai jumpa" mu tadi.
Akibat penyakit gangguan jiwamu yang sebenarnya belum sembuh total, kau malah ikut-ikutan menelan cairan racun serangga dan meninggal dengan mudahnya.
"Hei! Aku kembali lagi! Kenapa kau tidak senyum?"
___
-TAMAT-