Bel tanda masuk sekolah berdering. Para murid sontak mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruang kelasnya masing-masing. Tapi tidak dengan seorang siswa bernama Desper.
Ia malah berjalan santai seolah-olah tidak takut dihukum. Sedangkan salah satu anggota OSIS yang paling disegani yang bernama Kanika itu sudah berdiri di depan gerbang sambil melipat tangan.
"Desper, huh?"
Desper menganggukkan kepalanya saat namanya disebut.
"Kamu lagi! Harus berapa kali kena hukuman supaya nggak datang terlambat lagi hah?!" Kanika memulai omelannya. Gadis bersurai putih panjang itu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.
Siswa di depannya selalu-selalu-selalu saja datang terlambat saat ia mendapat giliran piket.
"Kamu ke sekolah naik apa?"
"Jalan kaki."
"Rumahmu deket?" Desper mengangguk. "Berapa meter?"
"Sekitar dua rumah dari sini."
"Kenapa sering datang terlambat hah?!"
Desper cengengesan.
"Kenapa hari-hari biasa kamu datang tepat waktu? Kenapa cuma di hari aku piket aja kamu datang terlambat? Kamu mau nyusahin aku yaa?!" Kanika menatap Desper sebal. Tapi pemuda di depannya malah mengukir senyuman seolah mengatakan "iya".
"Habisnya, aku suka diomelin sama Ka." Kanika terdiam.
"Kamu pas marah manis banget."
Kanika mengepalkan tangannya. "Aku suka sama Ka," sambung Desper.
Urat-urat kemarahan mulai menonjol dari kepala Kanika, gadis itu langsung menyambar sapu lidi di dekatnya lalu mengambil posisi siap memukul.
"Kamu mau lolos dari hukuman dengan cara menggombal?! SANA CEPET LARI MUTERIN LAPANGAN SEPULUH KALI!"
Tanpa ba-bi-bu, Desper langsung berlari ke lapangan, tapi ia hanya berputar-putar di tengahnya. Tentu saja itu berhasil membuat darah Kanika mendidih. Sampai-sampai wajahnya memerah lantaran menahan amarah.
"LARI YANG BENER!! MAU KUTAMBAH JADI LARI LIMA PULUH KALI?!"
Desper berhenti. Iris birunya menatap wajah memerah Kanika lekat. Itu adalah ekspresi Kanika terfavorit Desper, wajahnya yang memerah saat ia sedang marah sungguh menggemaskan. Mirip seperti anak kecil, hanya saja lebih manis karena ditambah dengam omelannya yang lebih fluffy dari omelan ibu-ibu.
"Kenapa malah berhenti?! Lari! Lari! LARI WOY!! LIMA PULUH KALI!! KALI INI GAK ADA AMPUN!!"
Desper tersadar dari lamunannya, lalu ia kembali berlari mengitari lapangan itu. "Jangan lima puluh Kaa! Sepuluh aja cukup! Aku janji nggak bakal telat lagi!" Desper berteriak sambil berlari.
"Janji, janji, janji, kamu itu selalu ingkar janji! Kamu bakal telat terus kalo yang piket itu aku! Aku bisa kena omel juga dari pembina tau nggak?!!" Kanika berjongkok di tepi lapangan, lalu menenggelamkan wajahnya diantara lengan dan lututnya.
"Kenapa kamu begitu susah untuk diatur siih ...?" ucapnya putus asa.
"Padahal minggu depan aku udah purna, tapi kenapa belum ada sehari pun tanpa ngurusin murid terlambat? Dan kenapa itu selalu kamu?" Ucapnya lirih. Tapi Desper bisa mendengarnya lantaran ia sudah berdiri di depan Kanika sekarang.
"Minggu depan, Ka purna? Dari OSIS?" tanya Desper. Dia lupa kalau minggu depan para anggota OSIS seangkatan Kanika sudah mulai purna.
Kanika masih saja menenggelamkan wajahnya diantara lengan dan kakinya, seolah tidak minat menatap wajah siswa di depannya. "Hm, iya."
"Berarti minggu depan …."
"Yang piket bukan aku. Tapi adik kelas," potong Kanika.
"Kamu harus belajar datang tepat waktu," ucapnya lagi sembari mengangkat wajahnya.
Desper memanyunkan bibirnya kecewa. Mau bagaimana lagi? Ia memang sengaja datang ke sekolah terlambat setiap jadwal piket Kanika agar ia bisa berkomunikasi dengan Kanika. Karena memang hanya itu cara satu-satunya untuk bertemu dengan Kanika.
Modalnya hanya datang terlambat saja.
Sekarang pupus sudah harapannya untuk mendapatkan Kanika. Jangankan menjadikan Kanika miliknya, mendekatinya saja susahnya setengah mati.
Kanika beranjak berdiri. "Kenapa malah berhenti? Kamu 'kan belum lari lima puluh kali?"
Desper mengerjap, "Jumlah langkah kakiku sudah lima puluh kali."
Kanika mengacak surai putihnya frustasi, "AAAAAAARGHH!! Stress aku ngurus murid macem kamu!"
Desper diam-diam tersenyum. Setelah kembali melihat ekspresi marah Kanika, tiba-tiba saja ia menjadi punya setitik harapan lagi untuk memiliki Kanika.
"Ka, aku suka sama kamu."
"Aku nggak bakal terpengaruh sama gombalanmu. Dasar calon bayi buaya."
"Tapi aku beneran suka sama Ka."
"Bilang aja kalo mau lolos dari hukuman. Karena minggu depan aku mau purna, hari ini kuampuni deh," ucap Kanika seraya berlalu.
Menyadari Kanika yang hendak pergi meninggalkannya, Desper tidak tinggal diam. Ia menyambar pergelangan tangan Kanika.
"Ih, lepasin! Aku mau ke kelas!"
"Tapi aku suka sama kamu, Ka."
"Bodo!" Kanika meronta, lagi-lagi wajahnya memerah.
Pada akhirnya, Kanika berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Desper. Gadis bersurai putih itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlalu.
Desper menurunkan alisnya kecewa. Ia ditolak, tapi ia tidak akan menyerah!
Kanika adalah satu-satunya gadis terbaik yang pernah ia temui dalam hidupnya. Ia tidak akan menyia-nyiakan Kanika. Ia juga tidak mau hidupnya suram hanya karena desperate lantaran ditolak cintanya oleh Sang Pujaan Hati.
Desper menarik ujung jaket OSIS Kanika, sontak gadis itu berbalik. "Apa lagi?! Kenapa nggak pergi ke kelasmu? Jam pelajaran udah mulai!"
"Aku nggak bisa ngelepasin kamu Ka ...." Desper melirih.
Kanika terdiam.
"Aku akui aku emang sengaja datang terlambat setiap jam piketmu. Itu tujuannya supaya aku bisa komunikasi sama kamu, meskipun nggak seakrab siswa lainnya. Aku jatuh hati sama omelan dan ekspresimu waktu marah. Apa aku nggak boleh menyukaimu?"
Kanika merapatkan bibirnya. "Apa aku nggak boleh punya kamu? Cuma kamu seorang yang kusuka."
Kanika mengukir senyuman tipis, lalu berbalik dan menghadapkan tubuhnya ke Desper. Gadis itu menepuk-nepuk pundak Desper.
"Well, kamu orang pertama yang ngomong suka sampe segitunya ke aku." Kanika tersenyum, "Kalau emang niat kamu buat PDKT sama aku, aku kasih tau sesuatu."
Kanika mendekatkan mulutnya ke telinga Desper. Lalu membisikkan sesuatu, "Kelasku di kelas XII-C. Datang aja kesana, aku pasti bakal selalu ada di kelas. Jangan malu-malu, bilang aja mau nyari aku."
Desper mengulas seulas senyuman lebar. Lalu memeluk erat tubuh Kanika yang kebetulan dekat karena berbisik-bisik tadi.
"MAKASIH KA!"
"Eww!! Lepasin! Kamu bau keringet, dasar anjing gak tau diri!"
Tapi Desper tidak mempedulikan ucapan menusuk Kanika dan malah semakin mengeratkan pelukannya.
Kanika mengomel lagi, dan lagi. Sementara Desper tertawa karena lagi-lagi ia mendapat omelan dari Kanika.
Kali ini, Kanika tidak akan main-main lagi.
Gadis itu mengambil sapu lidinya tadi dan mengejar Desper mengelilingi lapangan. "Nah! Larimu belum sepuluh kali kan? Ayo lari lima puluh kali!"
"Mati aku Kaaaaa!!"