Aku bertemu denganmu, tanpa kutahu apa yang Tuhan mau
Lewat percakapan kita di malam yang dingin
Walaupun hanya melalui sambungan telefon
Rasanya kamu selalu berhasil menghangatkan hatiku
Sejak saat itu, aku selalu di sampingmu
Menjadi sosok paling setia yang diam-diam mencintaimu
Hari-hari kita lewati
Semanis yang tak pernah kubayangkan
Terlalu manis jika boleh kuandaikan
Aku larut dalam banyak rasa
Abu-abu, biru, juga merah jambu
Pada banyak rasa yang menyala berseru
Maaf, jika aku tak bisa bohongi perasaanku
Bahwa aku ingin kamu di sini
Tidak datang dan pergi
Tapi aku siapa? Aku bisa apa?
Aku tak bisa memilikimu
Aku ini hanya temanmu
Pelarianmu, persinggahanmu, bukan tujuanmu
Aku termangu menunggu
Bertanya-tanya mengapa aku bisa begitu mencintaimu
Entah ini salahku atau salahmu
Entah ini inginku atau inginmu
Sebagai manusia aku tak bisa memilih harus jatuh cinta dengan siapa
Sebagai makhluk tuhan yang jauh dari kata sempurna
Aku hanya bisa ikuti aturannya
Kamu letakkan air matamu di bahuku
Kau larikan marahmu di pundakku
Aku dipelukmu
Tapi jiwamu, hatimu ada bersamanya
Aku terus di sampingmu
Tapi jiwamu, perhatianmu, rasa cintamu hanya tertuju untuknya
Topengku sudah begitu tebal
Aku pemeran paling baik, pelakon paling bodoh
Kuperlihatkan senyum paling bahagia di matamu
Tapi paling munafik di hatiku
Kuselipkan tawa yang begitu manis di telingamu
Tapi terdengar tangis bagiku
Aku menyukaimu
Namun sampai kapan aku hanya diizinkan jadi temanmu?
Aku merindukanmu
Tapi, mengapa sampai sekarang aku hanya jadi teman ceritamu
Karya:Dwitasari