Hai, semuanya!!
~
~
~
Aku dan beberapa teman-temanku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Hari ini adalah hari pertama ku bersama mereka masuk sekolah itu setelah lulus dari sekolah dasar. Kami terus berjalan diiringi dengan tawa dan candaan yang sangat asik. Saat melewati rumah kecil seperti tempat persembahan, teman ku yang bernama Muna Alzahra mengejek tempat itu.
" Rumah kono yang jelek," ucapnya sembari tertawa. Kami yang mendengar ucapan dari Muna pun ikut tertawa mengejek melihat rumah kecil yang tampak kumuh dan hampir roboh.
Kami melanjutkan perjalanan kami setelah merasa puas mengolok-olokkan tempat persembahan itu. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang SMP 6 Kahayan hilir. Tempat dimana kami akan menuntut ilmu selama 3 tahun.
Kami memasuki sekolah yang lumayan besar dan memiliki lapangan yang cukup luas. Kami sedari tadi hanya berjalan keliling-keliling melihat sekolah itu. Tampak di ujung ruangan yang paling pojok, ada sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang.
" Kesana, yuk!" Ajak Isma pada kami semua sembari menunjuk pohon itu.
" Ayuk!!" Sahut kami serempak.
Kami sudah berada di bawah pohon beringin. Rasanya sejuk di bawah pohon itu, karena matahari yang terik tidak mengenai kami yang ada dibawah.
" Pohon ini seperti nya berhantu," tebak Selly, kami semua menatap pohon itu dari atas sampai bawah.
" Jangan asal ngomong!" Timpal ku.
" Bilang aja kamu takut," timbrung Muna mengejek.
" Ya, aku memang penakut!" Ketus ku kesal.
" Kok aku merinding, yah!" Ucap Isma sambil memegang tengkuknya.
" Ahh, tadi aku hanya bercanda," ucap Selly sembari tertawa kecil. " Duduk, yuk!" Ajak nya sembari menduduki akar pohon yang cukup besar dan nyaman untuk diduduki.
Kami semua pun mengiyakan nya. Kami duduk dibawah pohon itu, sambil melihat murid-murid yang lain melakukan aktivitasnya masing-masing.
" Aku haus," ucap Muna memegang tenggorokan nya yang kering.
" Beli minum sana," perintah ku.
" Yaudah, kita ke kantin aja," ajak Muna.
" Ahh tidak, aku sudah nyaman duduk di sini," tolak Selly.
" Kita saja Na," timpal Isma.
Muna dan Isma ke kantin membeli minuman. Kini tinggal aku dan Selly yang duduk di bawah pohon itu. Tiba-tiba angin yang berhembus pelan membuat bulu kuduk ku berdiri. Tapi, aku berusaha biasa-biasa saja. Aku pikir, aku masih parno setelah mendengar ucapan Selly tadi.
Muna dan Isma sudah terlihat berjalan mendekati kami berdua. Saat mereka berdua sudah berdiri tak jauh dari kami, tiba-tiba Muna membulatkan matanya seperti orang yang sedang kaget dan syok menatap belakang kami. Selly menoleh ke arah ku, kami saling pandang lalu berdiri.
" Na!" Panggil Isma sambil menggoyangkan-goyangkan tangan Muna.
Bruk!! Muna terjatuh pingsan.
" Aaaaa!" Teriak kami bersamaan kaget.
Semua murid lain yang mendengar teriakan kami pun berbondong-bondong mendekat. Isma yang berdiri di samping Muna langsung mensejajarkan tubuhnya. Lalu mengangkat kepala Muna ke pahanya.
" Na! Muna!" Panggilnya sembari menepuk-nepuk pipi Muna pelan.
" Selly! Pitaa! Sini,," teriak Isma panik.
Saat aku dan Selly hendak berjalan mendekat. Tiba-tiba Muna tertawa menggelegar. Matanya masih terpejam, tapi tawanya semakin nyaring terdengar. Isma yang panik jadi takut, lalu berdiri dan meninggalkan Muna tergeletak di tanah. Semua orang juga ikut kaget dan tidak ada yang berani mendekatinya.
" Muna! Kamu kenapa?" Tanya Selly gemetar.
Bukannya menjawab, Muna malah semakin tertawa lantang. Srett, matanya terbuka dan tertuju pada kami. Dia menatap kami dengan tajam, hingga membuat kami bertiga bergidik ngeri.
" Di,,dia... Kesurupan!" Ucapku gagap.
" Kalian semua!!!!!" Ucap Muna sambil menunjuk kami bertiga.
" Ka,,ka,,kami...Kami, kenapa?" Tanyaku ketakutan.
" Kalian semua pengusik! Pengusik! Pengusik! Pengusik! Pengusik! Pengusik! Pengusik!!!!!" Teriaknya dengan suara yang terdengar serak dan terdengar aneh. Dan itu bukan suara Muna.
" Apa yang telah kita lakukan?" Tanya Isma pelan. Dia sudah berkeringat dingin bahkan bibirnya bergetar hebat.
" Ak,,aku,,,aku tidak tahu," jawab Selly cepat.
Tiba-tiba murid yang berbondong-bondong berdiri mengelompok. Bergeseran membuka jalan, ternyata ada yang mengadu pada guru. Dan beberapa guru datang ke situ.
" Apa yang terjadi?"
" Ada yang kesurupan, Pak!" Jawab beberapa murid.
Setelah mendengar ucapan para murid. Guru itu menatap Muna yang duduk dan menatap tajam ke arah tiga orang murid yang tampak pucat ketakutan.
Pak guru itu berjalan mendekati tubuh Muna. Lalu mensejajarkan tubuhnya sembari memegang punggung gadis itu. Srett, tatapan tajam beralih pada guru tersebut.
" Herrrrahhhhhh," teriak Muna mendorong tangan guru itu.
" Mereka, mereka, mereka pengusik!" Teriak Muna menunjuk ke tiga gadis yang sudah menciut ketakutan.
Salah satu guru perempuan, berjalan mendekat ketiga gadis itu.
" Kalian sudah melakukan apa?" Tanya lembut guru cantik berhijab.
" Kami ngga tau, Buk!" Jawab mereka yang benar lupa telah melakukan kesalahan apa.
" Coba diingat-ingat dulu," pinta guru itu pada mereka.
Mereka bertiga berusaha mengingat apa yang sudah mereka lakukan hari ini.
" Saya ingat, Buk!" Ucap Isma membuat mereka semua menatap nya. " Sebelum sampai di sekolah ini, kami sempat mengejek rumah persembahan orang, Buk!" Jelas Isma.
" Hah, hiya. Benar buk," timpal Selly.
" Dan kami juga sempat menerka-nerka kalau pohon ini berhantu, buk!" Tambah ku.
" Yasudah, kalian tunggu disini," ucap guru itu pelan.
Dia berjalan mendekati rekannya yang lain. Dia menceritakan semua penjelasan dari muridnya. Akhirnya guru-guru itu paham akan permasalahan ini.
Tiba-tiba Muna berdiri dan berlari mendekati ketiga gadis itu, dengan tangan yang mengepal keras.
" Aaaaaa,!!!" Teriak ketiga gadis itu sembari menutup wajahnya. Keringat dingin, nafas yang menggebu-gebu, tubuh bergetar hebat, dan muka yang pucat.
Tubuh Muna langsung di tahan oleh beberapa guru tadi. Tubuhnya yang mungil terasa tidak memungkinkan jika tenaganya sekuat itu. Guru-guru itu tampak kewalahan memegangnya. Apalagi tubuhnya yang terus memberontak.
" Lebih baik, kalian bertiga meminta maaf padanya!" Perintah guru wanita tadi.
" Maafkan kami," ucap ku.
" Kami berjanji, tidak akan mengulanginya lagi," lanjut Selly.
" Iya, kami mohon. Keluarlah dari tubuh teman kami," pinta Isma memohon.
Tubuh yang terus memberontak tiba-tiba melemah dan. Bruk, tubuh Muna terjatuh pingsan. Salah satu guru disitu langsung mengangkat tubuh Muna dan menggendongnya menuju UKS.
~
~
~
~
~~Tamat~~
🙏🙏