Begitu mudahnya Allah memberikan ujian kepada seluruh hambaNya, pun mudah bagi Allah untuk menujukan jalan ke luar.
Baru saja suami berangkat kerja. Hari ini agak siangan, pukul 10.00. Auriga, empat belas bulan, putra kami memang sudah terlihat mengantuk sejak setengah jam lalu, tapi demi melepas keberangkatan ayahnya, ia rela menahan kantuk.
Hampir sebulan kota ini diguyur hujan. Tak tentu waktunya. Bisa pagi sampai sore, hanya siang sampai sore, paginya saja, sorenya saja, atau mendung seharian dan malamnya hujan lebat. Hari-hari yang seru. Kami suka hujan. Terlebih Auriga, lari ke ruang tamu, berdiri di pintu rumah, berteriak-teriak girang memperhatikan hujan. Lari ke dapur, minta digendong supaya bisa duduk di jendela dapur, menengadahkan telapak tangan demi mendapatkan tetesan air hujan. Sempat juga lari ke kamar ketika sehabis mandi. Sayang, jendela ditutup rapat agar cipratan air hujan tidak bisa masuk melalui celah-celah jendela kamar. Bahagia rasanya turun hujan.
Tapi musim mulai berganti dan hari ini sepertinya kota kepanasan lagi. Beberapa menit lagi suamiku berangkat kerja. Tinggal menunggu motor yang sedang dipanaskan.
Auriga hapal betul dengan kebiasaan ayahnya setiap akan berangkat. Lepas mandi, pasti berganti pakaian di depan lemari pakaian. Menyisir rambut. Melangkah ke kamar satunya untuk menaruh handuk, lalu mengambil tas di atas meja atau kursi kerjanya. Auriga selalu memperhatikan gerak-gerik ayahnya itu. Ke luar kamar menarik botol minum yang sudah kusediakan dan ditaruh di meja ruang tengah. Nampaknya Auriga mulai gusar. Tahu ayahnya sebentar lagi berangkat. Dia minta gendong. Kalau waktunya masih cukup, ayahnya bisa menyempatkan menggendongnya, tapi kalau hampir telat, paling cuma salam dan cium.
Nampak sekali Auriga kegirangan saat ayahnya menggendong dan menaikannya ke atas motor. Meski cuma beberapa menit, tapi sungguh berarti kebersamaan itu terutama bagi buah hati kami.
Gendong sudah, dinaikan di atas motor sudah, salam dan cium pun sudah. Ayah berangkat.
Tanpa menutup pintu rumah, aku menggendong Auriga yang tambah mengantuk ke dalam kamar. Sementara ia mengelus-elus topi kesayangan ke pipinya, aku membuatkan susu botol di dapur.
Rumah kontrakan yang hampir tiga tahun kami tempati memiliki tata letak ruangan yang tidak rumit. Rumah sederhana. Ada halaman depan yang dihiasi berbagai jenis tanaman tak berbunga, ruang tengah di sampingnya kamar tidur yang berhadapan dengan kamar kerja suami, dapur dan dua kamar mandi. Di antara kamar tidur dan kamar kerja terdapat satu kamar mandi. Dari ruang tengah terdapat dua anak tangga menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang kerja. Setelah melewati dapur, ada satu lagi kamar mandi di pojok sana yang berhadapan dengan pintu ke luar menuju garasi motor. Seperti itulah tata letak ruangan tempat tinggal kami. Kecil, tapi nyaman. Kami tinggal di blok C.
Beberapa bulan lalu, blok ini sempat dihebohkan oleh penemuan seekor ular sawah besar di salah satu rumah tetangga. Tiga kepala rumah tangga sempat membantu mencari, bahkan salah seorang di antaranya yang baru saja memelihara ular kobra di rumahnya, angkat tangan. Semua barang-barang dikeluarkan, tapi tetap saja ular itu tidak ketemu. Hilang. Entah hilang sudah ke luar atau hilang bersembunyi. Kata pemilik rumah, saat istrinya sedang masak terdengar bunyi benda terjatuh dari atas. Tepat di sampingnya. Ketika dilihat, seekor ular besar merayap cepat menuju pintu belakang dapur. Istrinya berteriak sambil berlari ke ruang tengah, menyuruh dua anaknya yang sedang menonton televisi untuk ke luar rumah. Sang suami yang tengah mengobrol dengan bapak-bapak blok di depan rumahnya sontak kaget melihat istrinya panik. Mendengar penjelasan istrinya yang setengah berteriak membuat dua bapak-bapak berinisiatif membantu dan sisanya menenangkan istri beliau juga mendampingi kedua anak mereka. Dua tetangga yang sudah berusaha mencari keberadaan ular tersebut, angkat tangan. Memanggil Pak Burhan yang suka memelihara hewan. Baru-baru ini ular kobra hasil temuannya di kamar mandi rumahnya sendiri dipelihara di dalam akuarium miliknya.
Pak Burhan datang menggenggam senter kecil berwarna merah. Mencari ke setiap sudut ruangan. Menggeledah lemari-lemari berukuran besar. Memastikan apakah terdapat celah kecil yang bisa menjadi jalan ular ke luar masuk.
Sepuluh menit, dua puluh menit, dan ya. Di menit ke tiga puluh Pak Burhan pun angkat tangan. Beliau hanya menginformasikan bahwa terdapat lubang di dekat pembuangan air tempat cuci piring. Bisa jadi ular itu masuk lewat situ dan kemungkinan ularnya sudah ke luar lagi.
Selang sebulan setelah kejadian hilangnya ular di dalam rumah, muncul lagi ular yang sama dan di dalam rumah yang sama. Kali ini berhasil ditemukan oleh Pak Burhan. Ular besar. Gendut dan panjang sekali. Perutnya buncit, seperti habis memakan sesuatu. Kata pemilik rumah kayaknya makan tikus, soalnya kemarin-kemarin ada tikus di dalam rumah.
Pengalaman buruk yang dialami salah seorang tetangga saya itu mudah-mudahan menjadi pengalaman terakhir bagi warga sini. Jangan sampai ada lagi warga yang rumahnya dimasuki ular, terlebih mereka yang masih punya anak kecil, bahaya sekali.
Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, kejadian itu rupanya menimpa keluarga saya. Setelah membuatkan susu botol, terkejut saya melihat seekor anak ular di bawah anak tangga. Bagian kepalanya mengarah ke ruang tengah, ekornya tepat di depan pintu kamar kerja, jadi kemungkinan ular itu masuk melalui kamar kerja suami.
Panik. Pintu kamar anak tidak ditutup. Kalau saya loncat menuju kamar anak (bermaksud menggendong dan membawanya ke luar), khawatir ular itu ikut masuk. Saya pun loncat menuju ruang tengah. Berteriak memanggil seorang ibu yang sedang lewat dan tinggal di blok depan. Beliau memanggil dua tukang yang sedang memperbaiki salah satu rumah tetangga dekat. Mereka segera masuk bersamaan dengan ular yang dengan cepat merayap ke balik pintu kamar kerja. Saya cepat-cepat mengambil Auriga yang keheranan. Dari matanya, saya tahu dia bingung. Mungkin dia juga bisa merasakan apa yang dialami ibunya ini. Dua tukang itu mengeluarkan beberapa barang dari dalam kamar, mencari ke bawah meja kerja, lalu memastikan lubang di dekat jendela. Hasilnya nihil.
Dalam keadaan panik, apa-apa yang diperlukan justru mendadak hilang. Saya benar-benar lupa pada Pak Burhan.
Dua tukang masih berupaya mencari dan saya pun baru ingat dengan Pak Burhan. Saya langsung mengambil handphone di atas meja ruang tengah, menekan tombol, menghubungi Pak Burhan yang rumahnya hanya berselang satu rumah dari rumah ini.
Alhamdulillah Pak Burhan langsung mengangkat dan dengan cepat datang ke rumah ini setelah dua tukang angkat tangan dan kembali pada pekerjaannya semula.
Lagi-lagi Pak Burhan menggenggam senter merahnya dan alat capit terbuat dari besi berukuran panjang. Pak Burhan menggeledah kamar kerja, menuju kamar mandi, kamar tidur, dapur, semua diobrak-abrik layaknya kapal pecah, kecuali kamar mandi belakang dan ruang tengah tempat saya berdiri sambil menggendong Auriga.
Saya kembali menekan tombol di handphone, menelepon tetangga sebelah yang hampir setiap hari mengajak bermain Auriga. Entah di halaman depan rumahnya, di gang depan sini, atau di dalam rumahnya. Untuk kesekian kalinya saya mau menitipkan Auriga di sana sampai ular itu ditemukan.
Bayang-bayang buruk berkeliaran, merasuki pikiran yang sekarat. Bagaimana jika ular itu tidak ditemukan sampai dalam keadaan Auriga tidur, tiba-tiba ular itu sudah di sampingnya. Ya Allah, jangan sampai itu terjadi. Bagaimana pun caranya, ular itu harus ditemukan sekarang juga.
Mendengar penjelasan saya di telepon, sesegera mungkin tetangga sebelah rumah datang membawa anak saya. Saya pun membantu mengobrak-abrik.
Hampir lima belas menit. Kata Pak Burhan, kemungkinan ular itu sudah ke luar melalui lubang di dekat jendela kamar kerja kalau memang tadi ularnya masuk ke kamar situ dan kalau memang betul ular itu masuk lagi ke kamar kerja ada kemungkinan juga ular itu bisa masuk ke dalam rumah lewat lubang di jendela kamar kerja. Buktinya dia hapal dengan kamar itu.
Baiklah, itu menjadi tugas suami untuk menutupnya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar ular itu segera ditemukan dan pergi jauh-jauh dari sini.
Pak Burhan menyerah. Dengan berat tanpa bukti mengatakan bahwa memang kemungkinannya ular itu sudah ke luar.
Pak Burhan pulang. Menyisakan kesedihan terdalam bercampur deg-degan. Kenapa hidup saya begini amat?
Rasa pesimis mendera. Setan berhasil membuat saya lupa pada kekuasaan Allah. Saya duduk di ruang tengah, memperhatikan barang-barang yang berantakan serta hasil pencarian ular yang nihil. Saya sedih. Saya telepon suami sambil menangis. Suami memutuskan kembali pulang padahal baru sampai di kantor.
Saya ingin menenangkan diri dan satu-satunya cara adalah dengan menyalakan murrotal tiga puluh juz lewat speaker aktif.
Lantunan pertama Surat Al-Fatihah pelan-pelan meluluhkan rasa panik. Mengulang Surat Al-Fatihah membuat lebih tenang dan damai. Pengulangan Surat Al-Fatihah yang ketiga benar-benar membuka kesadaran saya. Seketika membenak. Ya Allah, tunjukan jalanMu yang lurus, tunjukan Ya Allah.
Tiba-tiba anak ular itu lewat ke depan saya menuju pintu ke luar. Entah muncul dari mana. Ular itu berdiri di pintu, lalu menghadapkan wajahnya ke arah saya.
Cepat-cepat saya telepon Pak Burhan yang segera datang menangkap ular tersebut.
Inilah salah satu kejadian buruk yang sempat menimpa keluarga kecil saya, namun seburuk-buruknya kejadian tetap ada hikmah yang bisa dipetik.
Dari kejadian itu, hikmahnya adalah apapun persoalannya, telepon Allah dulu. Yakin bahwa Allahlah yang bisa memberikan jalan ke luar dari setiap kesulitan.
"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 4-5).
QS ASY SYURA:29

"Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya."
QS AL HAJJ:18

"Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
Jadi bisa dibayangkan bukan? Bila apa yang ada di langit saja bersujud dan yang sering nampak oleh kita semisal gunung-gunung pun sujud kepada Allah, apalagi hanya seekor ular. Maka tanamkanlah pada diri kita tentang keyakinan terhadap kekuatan dan kebesaran Allah Azza Wa Jalla.
Ingat, apapun permasalahan yang menimpa kita, telepon Allah dulu, curhat dulu sama Allah, karena Allahlah Zat Maha Sempurna.