"Hosh Hosh Hosh"
Aku terpaku menatap telapak tanganku. Warna merah gelap yang kubenci ada disana. Menempel tak hilang meski telah kubasuh sekuat tenaga. Kutoleh kesamping, sama halnya dengan diriku. Dia juga terdiam shock di tempatnya. Menatap ceceran merah di lantai dengan tidak percaya.
"Maaf." Ucapku lirih.
Dia menoleh ke arahku. Menatap lekat mataku.
"Aku tidak sengaja." Kataku nyaris menangis.
"Hahh, sudah kukatakan padamu untuk hati-hati." Katanya mengingatkan. "Sial!"
Kugigit bawah bibirku, "Aku tak tahu akan begini jadinya."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bingungnya. "Kita bisa celaka saat mereka pulang nanti."
Aku melihat ke ceceran merah di lantai. Menghela napas berat. Mau tidak mau aku bangkit dari dudukku. Kekacauan ini harus segera dibereskan. Kami bisa celaka saat orang tua kami pulang dan melihatnya.
Aku mengambil ember, mengisinya dengan air bersih. Aku mengambil pengepel lantai dan kain untuk mengelap ceceran merah itu. Kuberikan kain lap itu padanya. Ogah-ogahan dia bangkit dari duduk.
"Ayo cepat," kataku.
Kami tidak punya banyak waktu. Secepat mungkin kami membersihkan noda di lantai. Mengelapnya, mengepelnya, berkali-kali hingga bekas dan aromanya hilang.
Tidak lupa kami harus menyingkirkan barang bukti!
"Jangan buang di tempat sampah!" Tegasku mencegahnya yang sudah mau memasukkan benda itu ke tempat sampah dapur.
"Jadi?" tanyanya.
Aku melihat ke kiri kanan. Tidak ada tempat untuk menyembunyikan barang itu. Aku pun mengambil kantong plastik hitam, memasukkan benda itu kesana. Mengikatnya rapat-rapat lalu berniat menyembunyikannya ke dalam tas sekolah. Agar besok pagi bisa kubuang ke tempat pembuangan sampah yang lebih besar.
"Sementara saja," kataku. "Kita buang besok saat berangkat sekolah,"
Dia mengangguk setuju, "Oke."
Kami pun melaksanakan rencana kami serapi mungkin. Seakan tidak tahu apa-apa, kami menunggu kepulangan orang tua kami di ruang keluarga sembari menonton acara yang diputar asal-asalan. Tidak berapa lama orang tua kami pulang.
Mata kami mengintai sosok Mama yang berjalan menuju dapur.
"Tumben lantainya bersih, kalian habis ngepel?" tanya Mama.
"Tadi susu di kulkas gak sengaja tumpah Ma," jawabku. Jantungku berdebar kuat, takut kalau Mama mengetahui sesuatu yang kami sembunyikan.
"Ohh," jawab Mama tanpa curiga.
Mama lalu membuka rak atas, melongok ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu yang harusnya ada disana. Sesuatu yang kami sembunyikan.
"Tupperware Mama yang isinya selai stroberi dimana ya? Perasaan tadi sebelum berangkat Mama taruh disini," guman Mama.
Aku saling lirik dengan kakak ku. Diam seribu bahasa. Berpura-pura tidak tahu.
"Kamu ada ambil kah nak?" tanya Mama lagi.
"Eh? Enggak Ma," Jawab ku cepat disertai gelengan kepala.
"Kok hilang sih," bingung Mama.
"Mama salah taruh kali, mungkin gak Mama taruh disana." Kata Kakakku.
"Iya kali ya, mungkin udah diambil budhe mu. Besok lah Mama tanya ke dia," kata Mama akhirnya.
"Yess...."
Sorakku dan Kakakku dalam diam. Papa yang melihat gelagak aneh kami langsung mengerti apa yang terjadi. Aku memberi isyarat pada Papa untuk tidak bilang ke Mama. Papa hanya tertawa ringan.
Tidak masalah bila Papa tahu, asal bukan Mama yang tahu kalau kami yang sudah memecahkan tupperware berisi selai stroberinya.
Bisa habis kami diceramahi Mama.
Urusan mengganti tupperware bisa dipikirkan belakanganlah. Pokoknya sekarang bebas dari hukuman dulu.
Kalian pasti mengerti kan, haha.
# # # #
Tamat.