Kematian bukanlah bencana terbesar dalam hidupmu, bencana besar dalam hidup, ketika engkau telah Mati kau masih tinggal didunia ini, menuntut balas dan janji yang tak ditepati.
Cerita ini merupakan cerita yang kudengar dari teman teman setongkronganku, tak jelas dari mana dan siapa yang mengalaminya. Cerita ini tersebar dari mulut kemulut hingga sangat susah untuk mencari kebenarannya.
Diceritakan ada seorang Pria yang hendak pulang kekampung halamannya, kita sebut saja Pria ini Budi.
Budi Merupakan seorang anak Petani yang tidak ingin hidup seperti orang tuanya yaitu Petani. Setelah lulus Sma ia akhirnya memutuskan untuk Kuliah ke Kota besar.
Disana ia melihat perbedaan besar antara orang Desa dan orang Kota, dimana biasanya didesa orang tualah yang sangat dihormati sementara dikota jabatanlah yang mendapat perlakuan istimewa tersebut.
Budi yang sedari kecil diajarkan sopan santun dan suka menolong menjadi dikucilkan karena dianggap penjilat oleh teman seangkatannya.
Karena merasa tidak nyaman dan tidak bisa beradabtasi dengan lingkungan baru, Budi akhirnya memutuskan untuk bertani saja didesa.
Hari itu ia berangkat dipagi hari tepatnya pukul Sembilan pagi menuju kampung halamannya. Budi berangkat menggunakan Motor Astrea miliknya.
Awalnya tak ada yang aneh dengan perjalanannya itu, ia juga tidak berpikir yang tidak tdak dan hanya berpikir untuk menceritakan tentang Kota besar kepada sanak saudaranya.
Jarak antara Desa Budi dan Kota besar biasanya akan menempuh waktu Sekitar Enam jam perjalanan, Budi berencana untuk sampai sebelum Sore, Budi beristirahat setiap Dua jam perjalanan untuk sekedar menghilangkan lelah ditubuhnya.
Waktu telah menunjukan Pukul 12 Siang yang artinya ia sudah separuh jalan menuju desa, akan tetapi perjalannya terpaksa terhenti karena adanya pohon beringin besar yang tumbang hingga membuat jalanan tidak bisa dilewati.
Budi berhenti lalu bertanya kepada Polisi yang berjaga disana. Budi menanyakan apakah ada jalan lain untuk sampai kedesanya, Polisi itu bilang kalau ada jalan lain, tetapi agak memutar dan dua kali lebih jauh dari jalan ini.
Budi akhirnya mencatat jalan yang dikatakan pak polisi dan memutuskan untuk memutar dari pada kembali kekota ataupun menunggu beringin itu disingkirkan yang mungkin memakan waktu sangat lama.
Sore hari pun tiba, budi memutuskan untuk beristirahat kembali disebuah warung dipinggir jalan, disana banyak warga desa yang ngopi sambil ngobrol ngobrol santai.
Obrolan mereka berlanjut hingga salah satu dari mereka menceritakan Soal desa sebelah yang diteror hantu sepasang suami istri.
Katanya ada Sepasang suami istri yang menjadi korban pembunuhan dengan dalih balas dendam, hal ini dikuatkan dengan tidak adanya harta benda mereka yang dicuri oleh pelaku.
Diceritakan sepasang suami istri ini Naik motor hendak pergi ke Kota besar tetapi ditengah perjalanan mereka berpapasan dengan pelaku yang langsung menebas leher keduanya hingga putus.
Mereka gentayangan karena ingin mencari Pelaku Pembunuhan keduanya, karena sampai sekarang masih belum ditemukan.
Budi yang mendengar itu langsung merinding pucat, bukan soal hantu tetapi soal pembunuhnya apalagi setelah ia mendengar pendapat salah satu warga kalau pembunuhnya mungkin saja seseorang Psikopat yang menguji ketajaman pedangnya.
Karena keasikan mendengarkan Cerita dan Argumen warga disana tak terasa hari sudah mulai gelap, Budi buru buru berangkat agar saat sampai sudah tidak terlalu malam.
Budi berangkat dan melupakan pesan warga agar tidak berhenti dijalan yang menikung tajam, Malam tiba dan Jalan menjadi sangat gelap, satu satunya penerangan hanyalah lampu motor milik budi dan beberapa motor yang berpapasan dengannya.
Sampai akhirnya tidak ada lagi motor yang berpapasan dengannya, kini hanya Motor Astrea Budi yang memancarkan Cahaya yang terang benderang digelapnya malam yang sunyi.
Tak lama setelah itu tiba tiba Budi melihat ada Motor yang menyalipnya dari belakang tetapi yang aneh adalah motor itu tidak menyalakan lampu depannya, Budi merasa was was dengan mereka.
Benar saja setelah motor itu menghilang karena jalan yang menikung, Budi mendengar Suara Motor yang jatuh dengan keras, dan saat budi sampai disana yang ia lihat hanyalah Sepeda motor terjatuh yang rodanya masih berputar.
Budi sontak kaget, merinding, dan gemetar hebat.
Budi memarkirkan motornya dan buru buru mengambil senter didalam tasnya dan menyalakannya, mencari pengendara motor itu.
"Ada Orang!!"
Teriak Budi sambil mengarahkan senternya kesekeliling.
"Tolong bang..."
Terdengar sayup sayup suara seorang Pria meminta tolong dari balik semak semak.
Budi pun mencari sumber suara dan berlari kecil menuju kearah suara itu, belum sampai ia ketempat Pria itu...
"Tolong cariin istri saya dulu bang..."
Sambung Suara itu lagi.
Budi kemudian berbalik dan mencari istri dari Pria tersebut sesuai kemauan sang Pria.
Setelah cukup lama Budi mencari ia akhirnya menemukan istri Pria itu disamping motor yang terbalik itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat dan sedikit menyeretnya ketempat Pria itu.
Ia langsung meletakan tubuh perempuan yang sepertinya pingsan itu didekat tubuh seorang pria yang tadi minta tolong.
Belum sempat Budi mengecek keadaan si perempuan, Pria itu kembali meminta tolong untuk menepikan Motornya yang berada ditengah jalan, Budi pun menuruti kembali kemauan pria itu.
Setelah selesai menepikan terdengar lagi suara minta tolong tetapi kini suara perempuan, "ah mungkin yang perempuan sudah sadar" Pikir budi.
"Mas... Tolong bawakan Helm kami sekalian ya mas..."
Budipun mengambil dua Helm yang sepertinya terjatuh tidak jauh dari tempat ia memarkirkan Motor Astreanya.
Ia mengambilnya kemudian membawanya ketempat Pria dan perempuan tadi.
Belum sampai ia ketempat itu, ia dikejutkan dengan suara Pria tadi meminta tolong kembali.
"Sekalian Tolong Pasangkan helm saya....
Pinta pria itu.
"Saya juga ya bang...
Sahut yang perempuan.
Tiba tiba helm yang dibawanya menjadi berat, dan ia mencium bau bangkai busuk dan bau amis darah.
Dilihatnya perlahan helm yang ada ditangannya dan...
Betapa kagetnya ia ketika melihat ada kepala yang menempel dihelm yang ia bawa.
Kepala dengan wajah yang pucat dan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya, serta kedua bola mata yang melotot dan lidah yang menjulur keluar begitu menyeramkan.
Sekejab membuat Budi membeku ngeri melihatnya,
"Makasih, udah mau nolong ya bang"
Budi langsung melempar kedua helm itu ketika kepala yang ada didalamnya berbicara masih dengan lidah yang menjulur dan mata yang melotot.
Budi langsung berlari menuju Astreanya dan tancap gas dari tempat itu, Saking paniknya Budi ia menarik Gasnya terlalu kuat hingga terangkat dan terguling diaspal hingga tak sadarkan diri.
Dan keesokan paginya Budi kembali tersadar dirumah sakit dan bersyukur tubuhnya terlihat baik baik saja, hanya beberapa luka ringan yang terlihat oleh matanya.
Dan terlihat diluar ruangan keluarganya sedang menuju kamar mayat tempat budi berada.
Tamat.
Cerita ini hanyalah semata mata karangan, yang diambil dari cerita cerita yang pernah saya dengar, jika ada kemiripan cerita ataupun kejadian nyata, mohon dimaklumi.
Sampai jumpa di cerpen selanjutnya Bye.