Tampan, tinggi, berkulit putih, menawan, berkarisma, smart, cerdas, dan banyak sekali wanita di sekelilingnya yang jatuh cinta kepadanya, akan tetapi ia kebalikannya karena dia tidak mudah untuk jatuh hati. Iyah dia adalah Arthur pria yang terlahir sebagai pangeran yang memiliki sifat ambisius, perfeksionis juga arogan dan tak banyak yang tahu bahwa dia ternyata sangat posesif.
Apapun yang ia inginkan hanya dalam hitungan detik hal itu sudah dia dapatkan, tetapi tidak untuk kali ini, tiba-tiba saja dia jatuh hati kepada seorang wanita yang tidak biasa, yang berani menolaknya, padahal wanita lain rela berlutut hanya untuk bisa berfoto saja, akan tetapi wanita itu berbeda sama sekali tidak seperti kebanyakan wanita yang selama ini ada di sekelilingnya dan menginginkan dirinya.
Kejadian ini merupakan kali pertama untuk pangeran Arthur, ia merasa sangat marah dan terasa terhina, akan tetapi ia tidak ingin menyerah begitu saja, karena di kamus kehidupannya tidak pernah ada kata kalah, dia bertekad akan memiliki wanita itu tidak peduli bagaimanapun caranya.
***
Sementara itu di tempat lain seorang wanita bernama Diana bekerja siang dan malam untuk dapat melunasi hutang ayahnya yang seorang pecandu minuman dan suka berjudi.
Meski begitu Diana sangat menyayangi ayahnya karena hanya dialah satu-satunya keluarga yang ia miliki, agar dapat melunasi hutang ayahnya Diana rela bekerja apa saja mulai dari menjadi pembersih di lokasi shooting sampai bekerja paruh waktu di sebuah restoran sudah Diana lakukan semenjak duduk di bangku sekolah hingga saat ini.
***
"OMG... apa-apaan ini? apa yang mereka lakukan dengan baju-baju indah ini? kenapa mereka membuangnya di lantai". Ucap Diana saat tiba di lokasi syuting dan melihat betapa kacaunya tempat itu.
"Kamu segera bereskan 20 menit lagi tempat ini sudah harus rapi, mengerti?!".
"Apa 20 menit? apa itu tidak terlalu cepat? aku baru datang dan..."
"Itupun jika kamu masih betah bekerja di sini, jika tidak sanggup pintu keluarnya ada di sebelah kanan kemudian belok kiri!".
"A.. aapa? Babaiklah akan segera saya kerjakan". Ucap Diana sembari memunguti satu persatu baju yang tergeletak di lantai.
Sementara itu pria yang baru saja menyuruhnya berlalu pergi, dan tak berapa lama pria yang ia kagumi datang, dia adalah satu-satunya pria yang tidak pernah memandang rendah Diana.
"Butuh bantuan?". Ucap seorang pria paruh baya yang sangat rupawan dan baik hati.
"Ahhh, Ahjusshi.... Help me?!". Rengek Diana pada pria tersebut.
"Oke, tapi... apa kali ini 20% dari gaji mu untuk ku?".
"Hah? Ahhh 10%". Ucap Diana sembari menunjukan gigi-giginya yang putih.
"Hmm... Okay". Ucap pria itu sembari tersenyum.
Diana sangat beruntung dan bersyukur di tengah-tengah kekejaman dunia, Tuhan memberikan satu pria yang baik, bak malaikat sebagai penjaganya dia adalah Park Won pria yang dua tingkat lebih beruntung dari Diana tetapi ia pernah gagal berumah tangga.
Iyah, kita memiliki kesamaan, pria kesepian dan wanita kesepian, mungkin Tuhan merasa kasihan, karena kita dua manusia yang sama-sama kesepian, maka dari itu kita saling di pertemukan, haha....
Tentu saja Park Won lebih beruntung dari pada Diana karena dia tidak harus mencari nafkah untuk melunasi hutang orang tua nya.
"Aaaah... akhirnya... beres juga". Ucap Diana sembari berbaring di lantai.
"Heh, :) ayo bangun! aku traktir makan". Ucap Park Won
"Apa? sungguh?". Tanya Diana antusias sembari merangkul sebelah tangan Park Won.
"Hem? Iyah :)". Keduanya berjalan sembari tersenyum yang tak pernah hilang di lengkungan bibirnya.
"Wow... apa aku sedang bermimpi?".
"Tidak".
"Apa sebaiknya kita segera pergi? sebelum di usir". Ucap Diana setengah berbisik.
"Haha... tenang saja, aku baru saja gajian, kamu boleh pesan apa saja yang kau mau".
"Aah, sungguh? kalau begitu aku mau Bibimbap, kimbap, kimchi dan soju". Ucapnya tanpa jeda.
"Hah, tolong ambilkan apa yang baru saja dia sebutkan". Ucap Park Won kepada pelayan di sana.
"Baik, tolong tunggu sebentar, biar ku ambilkan".
"Dan tiba-tiba saja pengunjung seisi restoran itu ribut".
"Apa yang terjadi?". Tanya Diana kepada Park Won karena tak mengerti.
"Em, Pria angkuh baru saja tiba di restoran ini, sebaiknya kita segera pergi".
"Pria angkuh? siapa?" Tanya Diana dengan mengerutkan keningnya, masih tak mengerti.
"Pangeran Arthur". Ucap Park Won dengan nada malas.
"Hah? benarkah?".
Diana sebelumnya memang pernah mendengar anak dari orang nomor satu di negeri ini tapi Diana tidak pernah melihat wajahnya terlalu sibuk akan masalah hidupnya maka tidak ada waktu barang seminitpun bermain handphone untuk sesuatu yang tak berarti.
"Yeah, ayo kita pergi sebelum di usir". Ucap Park Won kembali dengan nada yang lebih dingin.
"Heh? tapi pesanan kita bagaimana?".
"Jangan khawatir, toh kita pun belum membayar".
"Aaah, tapi..." Belum sempat Diana berdalih Park Won lebih dulu menarik tangan Diana yang sedang meraih tas selempang nya yang terbuka, alhasil seisi barangnya berhamburan di lantai.
"Biarkan saja, semua barangnya nanti aku ganti". Ucap Park Won.
"Hah? sungguh? Baiklah". Tanpa pikir panjang lagi akhirnya Diana pergi bersama Park Won, tak pernah tahu bahwa satu-satunya barang berharga yang ia miliki ikut terjatuh bersama barang lainnya.
***
"Siapkan ruang VVIP untuk Pangeran Arthur!". Ucap seorang Bodyguard
"Baik Tuan". Jawab seorang CEO dari Restoran mewah tersebut.
"Perhatian Pangeran Arthur sedang berjalan ke arah kemari, segera rapihkan". Ucap pemilik restoran kepada karyawannya.
"Baik Pak".
Tak sengaja ternyata takdir berkata lain, pangeran Arthur berpapasan dengan Diana di lobi hotel.
"Diana ayok masuk?!". Ucap Park Won setengah berteriak karena sedang berada di dalam mobil.
"Aaah, Iyah". Ucap Diana sembari tersenyum melewati pria bertubuh tinggi dan berkulit putih.
"Hah? apa yang baru saja terjadi? apa wanita itu baru saja mengabaikan ku?". Batin Arthur.
padahal karpet merah sudah di gelar dan semua para pekerja di hotel itu membungkukkan tubuhnya, tapi tidak dengan Diana, ia malah berjalan di atas karpet merah dengan santainya dan berpapasan dengan anak nomor satu di negeri ini tanpa beban.
"Siapa wanita barusan?". Ucap Pangeran Arthur pada semua karyawan di hotel itu.
"Hah?". Semua karyawan satu sama lain saling melirik dengan isyarat.
"Maaf Pangeran, tapi kita semua tidak mengenalnya". Ucap salah seorang pegawai.
"Hem, jadi dia hanya pengunjung biasa?".
"Sepertinya begitu Pangeran". Ucap seorang pegawai yang berbeda.
"Cari Identitas wanita itu?! harus sudah ada saat saya selesai makan". Ucap Pangeran Arthur.
"Baik, Pangeran".
***
"Apa-apaan ini? benarkah restoran di hotel ini adalah yang terenak di negeri ini?".
"Ma ma af Pangeran, kami belum merapihkan tempat ini, kami benar-benar tidak tahu bahwa Pangeran akan berkunjung ke tempat kami". Ucap CEO restoran meminta maaf sembari membungkukkan tubuhnya.
"Heh, kita pergi?! aku tidak lagi punya selera makan". Ucap Pangeran Arthur kepada Asisten pribadinya.
"Baik Pangeran".
"Tunggu? Apa itu?". Tanya Pangeran kepada seorang pelayan di restoran itu.
"Hah? i ini sepertinya barang-barang seorang pengunjung yang tertinggal Pangeran". Ucap pelayan itu terbata-bata.
"Biar aku lihat?!". Sebuah kalung liontin bertuliskan huruf "D".
"Cari siapa pemilik kalung ini?!". Ucap Pangeran Arthur dan berlalu pergi membawa kalung itu bersamanya.
***
Di tempat lain setelah berhasil keluar dari restoran yang biasa ia temui, Diana baru saja menyadari bahwa kalung pemberian Ibunya ternyata hilang.
Diana benar-benar panik dan segera mencari keberadaan kalung itu di dalam tas nya.
"Kamu sedang mencari apa?". Tanya Park Won
"Kalungku". Jawabnya tanpa memandang Park Won
"Kalung apa? nanti biar aku ganti".
"Tidak, itu kalung pemberian dari Ibuku".
"Heh? Baiklah kalau gitu bagaimana ciri-cirinya?".
"Kalung berwarna putih, ada liontin bertuliskan huruf D".