Siapa yang dapat mengetahui seberapa dalam penderitaan rasa sakit yang di rasakan Leora. Cacian Dito dan beberapa orang temannya terasa begitu kasar di telinga Leora hingga membuat air matanya tumpah.
Leora....gadis lemah dan polos itu tak bisa berkutik dan melawan di saat mereka berkata jika dia murid terbodoh di sekolah itu karena nilainya yang paling rendah terpampang di papan pengumuman. Apa mau di kata? Kapasitas otaknya tak mampu menjawab soal fisika yang begitu sulit hingga membuatnya berkeringat dingin saat ujian berlangsung. Tak ada satupun yang membelanya bahkan teman sebangkunya yang selama ini ia anggap sebagai sahabat baik hanya terdiam tak peduli seperti biasa.
Suara petir tiba-tiba bergemuruh seolah menyambar atap ruang kelas Leora. Seketika teriakan teman-temannya membuat tangisannya berhenti. Fokus mereka yang tadinya mengejek Leora berubah menjadi ketakutan dan kepanikan. Semuanya menutup telinga seraya menyebut nama Tuhan, tetapi tak sedikit dari mereka yang malah bersumpah serapah.
Ibu Risma masuk kedalam kelas dan meminta semua muridnya untuk mengumpulkan soal jawab bahasa indonesia yang ia tugaskan untuk mereka.
Ken, sang ketua kelas mengambil satu per satu hasil jawaban teman-temannya dan mengumpulkan di meja guru. Seluruh siswa di sekolah itu berbenah memasukkan alat tulis mereka kedalam tas masing-masing.
Treeeeet!!! Bel pulang sekolah berbunyi nyaring dari sudut sekolah. Leora bergegas enyah dari kelas itu. Ia ingin sampai di rumah dan berbaring di atas kasur spring bed empuknya.
Ia menaiki bemo kuning yang tengah menunggu penumpang di seberang jalan. Fita dan Marni, dua orang teman kelasnya ikut masuk dan memilih duduk di pojok karena tak mau duduk disampingnya. Ke dua gadis itu seolah jijik padanya dengan senyum tengil sembari berbisik.
Waktu kian senja. Leora masih terpejam di atas ranjang nya. Mamanya berteriak memanggil untuk makan malam, tetapi remaja tanggung yang baru duduk di kelas tiga smp itu tak menghiraukannya. Ia menghayalkan sosok seorang artis pria yang ia kagumi hingga senyumnya merekah manis.
"Kakak, ayo makan dulu." Sang bunda berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Nggak! Nanti aja aku nggak lapar!" bentaknya ketus.
Sang bunda lantas meninggalkannya.
"Biarkan saja dia, jangan di urusi lagi. Kalau dia lapar ya dia akan bangun sendiri," gumam sang ayah enteng dan ketus.
Leora memilih melarikan diri dari semua penderitaan yang ia rasakan pada khayalan semu. Ia menghayalkan dirinya berdansa di sebuah pesta besar bersama tokoh idolanya dan memiliki banyak teman yang memberi tepuk tangan dan dukungan untuknya. Hingga pagi menjelang, gadis manis itu masih berkhayal bahkan sampai suara tawanya terdengar dengan jelas oleh adik perempuannya yang melintasi kamarnya yang masih terbuka. Mira namanya. Ia menghampiri Leora dan menegurnya, "Kak. Ketawa in apa?" tanyanya penasaran.
Leora kaget dengan senyuman memudar. "Apaan sih!" sergahnya.
Mira geleng-geleng dan meninggalkannya lalu memberitahukan itu kepada ibundanya.
Dua minggu berlalu, Leora kian intens berkhayal bahkan saat jam pelajaran di kelasnya berlangsung. Baginya belajar dan mendengarkan penjelasan guru sudah tak berguna. Teman di dalam khayalannya semakin menguasai emosi dan isi otaknya.
Leora sudah tak mempermasalahkan jika tak ada teman yang mau menemaninya di sekolah itu, karena ia sudah mempunyai teman khayalan yang selalu setia bersamanya. Hingga dua minggu berlalu lagi dan penyakit berkhayalnya sudah menguasai seluruh jiwa dan raganya. Sampai-sampai ia tak ingin mandi dan masuk sekolah. Yang ia lakukan hanya tiduran dan tertawa terbahak-bahak.
Kedua orangtuanya sudah tak bisa tinggal diam. Diam-diam Mira mencari tahu tentang apa yang di alami sang kakak pada media internet. Dan sungguh mengejutkannya jika kelakuan Leora selama ini masuk dalam kategori skizofrenia. Ia pun segera memberitahukan itu kepada kedua orangtuanya. Ibunya menangis berhari-hari tanpa di ketahui Leora. Ayahandanya pun lantas berinisiatif untuk membawanya pada seorang psikiater.