Matahari berjalan menyusuri koridor sekolah, mencari keberadaan sahabatnya yaitu Bumi Georgio. Sesekali ia bertanya kepada siswa-siswi yang tengah duduk bercengkrama di pojok koridor.
Cukup lama ia mencari Bumi, akhirnya ia menemukannya. Seperti biasa, Bumi dan temannya Mars sedang menggoda adik kelas yang tengah melintas di depannya.
Dengan geramnya, ia percepat langkahnya. Kini ia sudah tepat berada di belakang Bumi, yang belum menyadari kehadirannya karena tengah asyik menggoda adik kelas.
Ia angkat jari telunjuknya tepat di depan mulutnya, mengisyaratkan pada adik kelas dan Mars tidak memberitahukan Bumi, bahwa ia ada di belakang.
"Adik manis, kamu tau nggak perbedaan kamu sama setan?" tanya Bumi dengan genitnya.
Mars hanya meneguk ludah, ia tak berani berbicara lagi semenjak Matahari sudah ada di belakang Bumi.
Wanita di hadapan Bumi itu hanya melirik ke arah Matahari ingin meminta jawaban. Matahari hanya menengadahkan tangannya lalu menggerakkannya ke atas-bawah, memberi kode pada wanita itu untuk melanjutkan.
Wanita itu kemudian menggelengkan kepala. Bumi hanya tersenyum genit dan menggeleng.
"Kalau tiap ketemu setan itu jantungku berdetak ketakutan, kalau ketemu kamu hatiku berdetak jatuh cinta ...., eaaa."
Bumi cengengesan sendiri mendengar gombalannya, namun ia sedikit heran karna temannya hanya diam dan adik kelasnya hanya tertunduk.
"Mars, kok lu diam-diam bae. Biasanya lu paling heboh, apa gombalan gue nggak bagus yah?" tanya bumi melirik ke Mars.
Mars tertunduk, tak berani menatap Bumi yang di belakangnya sudah terpajang indah Matahari yang menampakkan wajahnya dengan mata melotot.
"Kak Bumi, Disya mau pamit ke kantin. Good bay kakak, semangat dapat hukumannya!" ucap adik kelasnya setengah berlari dan melambaikan tangan.
Bumi semakin heran, hukuman apa yang di maksud oleh adik kelasnya. Ia bahkan belum sadar, bahwa hukumannya sudah ada tepat di belakangnya.
Bumi melirik ke Mars, dan menabok kepala Mars. Mars hanya bisa meringis, ia ingin marah namun melihat wajah Matahari nyalinya untuk marah kepada Bumi langsung ciut.
"Maksud Disya apa, yah mars? Emang gue lagi di hukum, siapa juga yang berani hukum gue. Orang ini sekolah punya eyang gue kok, Kalau ada orang yang berani hukum gue, bakalan gue bikin abis tuh orang" ucap Bumi bangga, masih tak menyadari kehadiran Matahari.
"Lu mah sok bilang kek gitu, kalau di jewer Matahari aja lo udah nangis kejang." ucap Mars.
Bumi terkekeh, "Matahari? Gue nggak takut kali sama singa satu itu, dia mah jinak sama gu..."
Belum selesai Bumi berbicara, Mars sudah membekap mulut Bumi dengan tangannya. Bumi terus meronta-ronta dan memukul tangan Mars. Mars memberi kode kepada Bumi, dengan melirikkan matanya ke arah Matahari yang berdiri di belakang Bumi dengan bersidekap dada.
Bumi berhenti meronta dan memukuli Mars, ia melihat Mars memberi kode padanya. Bumi memicingkan matanya, bingung dengan kode yang diberikan Mars.
Mars melepaskan tangannya yang membekap mulut Bumi. "Lo tau nggak Bumi, di dunia ini yang paling bersinar itu apa?" tanya mars.
Bumi berpikir sejenak, sesaat kemudian ia menabok kembali kepala Mars. Mars hanya meringis kesakitan, ingin marah namun nyalinya ciut kembali.
"Lo pikir gue nggak tau? Anak TK juga tau Mars, kalau di dunia ini yang paling bersinar itu yah Mataha .... " Bumi menggantung ucapannya. Seketika, otaknya berjalan dengan cepat mencerna kode yang sedari tadi di berikan Mars.
"Ya ampun...," Bumi menepuk dahinya. "Mati gue."
"Ehemm! Bumi tau nggak apa persamaan kamu sama samsak?" tanya Matahari dengan suara centilnya.
Bumi dengan susah payah meneguk salivanya, "Gu ... gue tau, kok. Sama-sama enak di pukul kan?" Bumi langsung berbalik dan melihat Matahari tengah menatapnya dengan tajam.
"Matahari, kok nggak bilang-bilang sih sama Bumi kalau ada disini." tanya Bumi dengan berusaha menampilkan wajah gemas di depan Matahari.
"Nggak usah pasang-pasang muka sok gemas di depan aku." ucap Matahari kesal.
Matahari berbalik jalan meninggalkan Bumi dan Mars. Ia menulikan pendengarannya karena Bumi terus berteriak.
"Tari! Kok bumi di tinggal, tar .... tungguin gue dong!" teriak Bumi.
Bumi melirik tajam Mars yang tengah menahan tawa, "Lo kenapa sih nggak bilang-bilang, kalau Matahari ada di belakang gue! Aduh, pasti lama nih ngambeknya dia."
Bumi pergi meninggalkan Mars yang sedang menertawakannya sampai terpingkal-pingkal.
Mereka berdua memang begitu. Matahari sering ngambek tidak jelas jika, Bumi selalu menggoda wanita dan Bumi selalu berusaha membujuk Matahari yang ngambeknya terhitung lama jika soal Bumi genit dengan wanita.
Matahari memiliki perasaan kepada sahabatnya sejak masih duduk di bangku SMP. Ia pernah mengungkapkan perasaannya pada Bumi, namun Sahabatnya itu hanya menganggapnya sedang bercanda. Sejak saat itu, Matahari memendam perasaannya sendiri, tak ingin mengungkapkan pada Bumi jika akhirnya persahabatan merekalah yang jadi taruhannya.