Masa pandemi yang berkepanjangan, membuat banyak manusia kelimpungan memutar otak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itu lah yang dirasakan oleh 2 orang pemuda yang sudah berteman sedari orok.
Mereka adalah Dardak dan Aji. Karena waktu kecil sering bolos ngaji, maka mereka salah mengartikan kutipan Ayat yang berbunyi:
𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘴𝘪𝘣 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.
(QS: Ar-RA'D Ayat 11)
Karena mereka menginginkan yang instan tanpa berusaha, maka di sinilah mereka di atas genteng rumah Dardak sambil pura-pura membetulkan genteng menyusun rencana nanti malam.
"Ay, jadi enggak pergi nanti malam?" tanya Dardak.
" Ck.. Jangan panggil Ay napa, gelay tau." jawab Aji dengan muka jutek nya.
"Jadi lah." lanjut nya.
"Oke jadi nanti malam kita...." Dardak menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.
"Oke sip." jawab Aji.
"Ngerti enggak?"
"Enggak."
"Kamu belum pernah cobain kolak sandal?."
"Hehehehe iya.. iya aku paham."
"Jangan lupa apa saja yang mau di bawa, dan jam berapa kita beraksi."
"Beres Bos."
Akhirnya setelah berunding pulanglah si Aji mempersiapkan apa saja yang bakal di bawa nanti malam.
◦•●◉✿Menjelang tengah malam✿◉●•◦
Di kampung Antah Berantah ada sebuah taman yang luas dan kelihatan asri karena banyak sekali pohon di kanan kiri jalan, apalagi ada 2 buah pohon beringin berdampingan yang berada di pojokan.
Malam ini tak seperti biasanya, taman yang biasa sepi mendadak rame, suasana itu berada di bawah salah satu pohon beringin.
Terlihat banyak sekali hidangan yang tersaji di atas meja. Mulai kudapan, makanan utama, makanan penutup dan berbagai macam minuman.
Ternyata yang punya acara Bang Wowo & Mbak Sun (Genderuwo & Sundel bolong). Mereka bahu membahu menyiapkan semuanya untuk tengah malam nanti.
🎶🎶🎶Tung... Tung.. Tung.. 🎶🎶🎶🎶
Akhirnya lonceng waktu menunjukkan tengah malam. Terlihat pasukan tak kasat mata berbondong-bondong menuju tempat acara.
Ada Pocan dan Povan, mbak Kunti yang identik dengan daster putihnya(cuman 1 yang ber daster merah, katanya mau menarik Abitra si siluman harimau) tak ketinggalan si kecil yujil(tuyul jail).
Tak jauh dari tempat pesta, munculah dua orang pemuda sambil menengok kanan-kiri takut ada orang yang memergoki tingkah mereka.
"Dak, kamu yakin mau melakukan ini semua?" tanya Aji.
"Yakin, aku sudah bosen hidup seperti ini, aku pengen kaya Ji." sahut Dardak.
"Tapi Dak, aku takut."
"Takut apa? Setan?"
"Iya Dak, serem banget tempatnya, mana purnama lagi."
"Tenang, aku udah dapat jampi-jampi dari Mbah Sangkil, setan dan sejenisnya bakal takut padaku."
"Sungguh Dak? beneran takut aku."
"Sudah tak usah banyak omong, lebih cepat lebih baik." putus Ladak.
Dengan mengendap-endap Dardak dan Aji berjalan menuju pohon beringin kembar.
Sesampainya di tempat, Dardak meletakkan sesajen dan melepaskan Ayam cemani sambil meramalkan mantra yang didapat Dardak dari seorang Dukun abu-abu.
"Dak, Dardak."
Tak ada jawaban dari empunya nama.
"Dak, psstt Dardak."
"Apa sih ganggu orang lagi baca mantra."
"Bau gosong Dak, katanya kalau bau gosong ada genderuwo Dak".
"Gak ada bau gosong." jawabnya sambil terus membaca mantra.
"Om.. om.. sedang apa?" tanya Yujil.
"Oh kita sedang cari pesugihan Dek." jawab Aji tanpa sadar.
"Lah, kamu lagi apa malam-malam gini ada di taman sendirian?" tanya Aji.
"Aku enggak sendiri Om, aku sama keluargaku Om, tetanggaku mengadakan pesta katanya sih arisan sosialita gitu Om" terang Yujil.
"Mana?"
"Itu keluarga ku Om." Sambil menunjuk ke atas pohon beringin.
Aji ikut mendongak, tak bisa berkata-kata karena yang dilihat banyak sekali,ada Mbak Kunti, Mbak Sundel bahkan Mbak Wewe pun ada, mereka duduk manis berjejer di ranting pohon.
Sambil meneguk ludah untuk membasahi kerongkongan yang tiba-tiba kering, Aji perlahan menoleh kesamping. Anak kecil yang tadinya terlihat manis dan lucu berubah menjadi pucat.
"Dak, Dardak... Dardakkkk" Aji memanggil Dardak sambil menarik-narik baju nya.
"Apa sih, berisik tau,"
"Dak, lihat sampingku, "
Akhirnya Dardak menyerah, dia membuka mata dan melihat Aji sekaligus seorang anak kecil yg pucat pasi.
"Ji."
"Iya."
"Itu siapa?" tanya Dardak sambil menelan ludah.
"Jangan tanya siapa dia, tapi siapa saja yang dia bawa."
"Maksud mu?"
Aji tak berani melihat, cuman jarinya bergerak menunjuk atas, Dardak mengikuti arah jari Aji dan dia kaget dengan apa yang dilihat nya.
"Ji."
"Ya."
"Banyak banget ya."
"Ho oh Dak."
Perlahan tapi pasti Dardak memutar badan dan berlari sekencang-kencang nya meninggalkan Aji.
"Ya salam, tega banget sih kamu Dak ninggalin aku sama anak kecil yang emes ini." kata Aji sambil menahan sesuatu yang mau keluar.
Sekali lagi Aji menoleh.
"Dek, Abang pamit ya, salam buat keluarga."
"Abang mau kemana? Di sini saja, pestanya belum selesai loh Bang."
"Enggak Dek kasian Mak Abang di rumah, Bapak Abang lagi ke luar kota" jawab Aji sambil meringis.
"Sudah ya, Abang Pamit, Assalamu'alaikum."
Tanpa menunggu jawaban dari Yujil, Aji lari sekencang-kencang nya tanpa menoleh lagi.
"Asemmmm Dardakk, Oiii Dakkk tunggu aku kamprett " teriak Aji.
"Yahh si Abang pulang," kata Yujil.
"Bang Wowo, mangkanya mandi minyak nyong-nyong biar gak bau gosong," goda Povan.
"Perasaan tadi sudah habis 2 botol Van." jawab Bang Wowo.
"Lagian mau kaya kok pakai jalan beginian, kerja lah, dasar manusia pemalas," kata Mbak Wewe.
"Hadehhh tak habis pikir aku sama mereka." sambungnya.
"Sudah-sudah ayo lanjut pesta lagi, hihihihi." Mbak Kunti ikut nimbrung.
"Iya, lumayan ada tambahan makanan ini, Haomm." sahut Abitra.
Akhirnya pesta para hantu terus berlanjut sampai masuk Adzan subuh.
Maka dari itu kawan meskipun kita kepepet akan keadaan janganlah menempuh jalan sesat karena itu merupakan dosa besar.
Ohh yaaa cerita ini terinspirasi dari member gc kak timus
Salam hangat semua... Assalamualaikum 🙏