"Ranking pertama diraih oleh Alfitho!" ketika mendengar itu, aku langsung berteriak bahagia sambil menuju ke atas panggung, tapi aku sangat bahagia karena aku tahu ibuku akan senang mendengarnya, ibuku pasti sedang berada di aula ini dan mendengarnya. "Dipersilakan ayah ibunya untuk maju ke depan bersama anaknya untuk difoto." Ini yang kutunggu-tunggu, aku tak sabar melihat reaksi ibuku, pasti ibuku akan gembira mendengarnya. Orangtua temanku yang meraih ranking 2 dan 3 sudah naik ke atas panggung. 'Hei kemana ibuku, apakah ia tidak datang?' Tanyaku dalam hati. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi aku tetap tidak menemukan ibuku. Akhirnya aku difoto tanpa ayah dan ibuku, sebenarnya ayahku memang tidak bisa datang karena ayahku sedang bekerja. Selesai difoto, aku kembali ke tempat duduk sambil berharap ibuku akan datang ke sini.
Ibuku tetap tidak datang sampai akhir acara. Lalu aku memutuskan pulang untuk mencari ibuku di rumah.
Ternyata ibuku juga tidak ada di sana. 'Sebenarnya dimana ibuku ini?' Tanyaku dalam hati. Tiba-tiba teleponku berdering, itu ayahku, aku pun mengangkat teleponku itu,
Ayah : "Halo, nak."
Aku : "Halo, kenapa yah?"
Ayah : "Ini tentang ibumu nak."
Aku : "I...ibu... ibu kenapa yah?"
Ayah : "Ibumu......"
Aku segera menuju rumah sakit yang ayahku maksud, lalu menuju ke ruangan yang ayah beritahu padaku, yaitu gawat darurat. Saat aku masuk ke ruangan tersebut, aku terkejut melihat ibuku yang sudah tidak bernyawa. Saat itulah aku menangis keras, kesedihan ini telah menyelimuti dan melumpuhkan rasa kebahagiaan di sekolah tadi pagi. Keadaan t'lah berbalik dengan sangat cepat. Aku tak akan pernah bisa menunjukkan piala ini pada ibuku. Ayahku, beserta kakakku (yang telah memberitahu segalanya kepada ayahku tentang ibuku) berkata bahwa ibuku terkena penyakit jantung. Hal ini tiba-tiba saja terjadi.
Kenapa harus sekarang
Kenapa tak nanti saja
Setelah ibuku mengetahui...
Hal-hal menyenangkan ini
Oh kenapa?
***
2 bulan kemudian
Aku sudah duduk di bangku kelas 6 SD sekarang, dan entah hari keberapa aku sudah berada di kelas 6 SD ini.
Guruku sudah masuk ke kelas, kami menyambutnya seperti yang biasa murid-murid lakukan. Guru kami berkata, "Selamat pagi, hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk nak." Murid baru itu sudah masuk ke kelas, lalu memperkenalkan dirinya, "Hai, namaku Devan Saveri Adam Alterio Putra, senang bisa bertemu kalian." teman-temanku, termasuk aku, terkejut karena namanya sangat panjang. Melihat wajah terkejut kami, ia pun tertawa, "Haha, panggil saja Devan, itu sudah cukup." Semuanya pun akhirnya menyapa riang, "Hai Devan.". "Baiklah, kamu bisa duduk disana." Kata guru sambil menunjuk kursi kosong yang berada di sampingku. Devan pun melangkah menuju kursi kosong yang berada di sampingku. "Hai Devan, senang bertemu denganmu." "Hai, senang bertemu denganmu juga." Kami semua pun memulai pelajaran.
Saat istirahat, aku dan teman-temanku, termasuk Devan, makan makanan bersama-sama. Aku dan teman-temanku saling mengenalkan diri kepada Devan. "Wah, aku belum hafal nama-nama kalian nih, sepertinya harus menunggu beberapa hari lagi agar aku bisa menghafal, serta dekat dengan kalian." Kata Devan.
Saat pelajaran selesai, Devan mengajakku ke taman yang berada tak jauh dari sekolah kami untuk mengerjakan PR bersama. Nampaknya Devan sangat akrab denganku karena di sekolah ia duduk bersebelahan denganku. "Eh, ini kan PR, Pekerjaan Rumah! Tapi kenapa kamu kerjainnya di taman?" Tanyaku iseng. "Hahaha... ya udah, kita buat pekerjaan sendiri, PT, Pekerjaan Taman." Ucap Devan semangat. "Oalah, ternyata PT itu singkatan dari Pekerjaan Taman, selama ini aku salah dong." Kami berdua pun tertawa kencang.
Beberapa menit kemudian, kami berdua selesai mengerjakan PR, aku yang paling banyak membantu Devan dalam mengerjakannya. "Kau pintar juga ya." puji Devan. "Oh ya dong, kan saat aku kelas 5 aku dapat ranking 1." Kataku. Devan terkejut bukan main, tak percaya dengan yang aku katakan. "B...B... benarkah, atau kau hanya membual saja?" "Ih, beneran. Kalau kau ke rumahku aku akan menunjukkan piala ranking 1 ku padamu." Aku menjawab dengan yakin agar Devan percaya padaku. Tapi tiba-tiba aku bersedih karena teringat ibuku. "Ya...ya deh aku percaya, pulang yuk, ntar ibumu khawatir loh!" Kata Devan. "Ibuku meninggal 2 bulan yang lalu, Dev, tepat sebelum aku menerima piala ranking 1 ku, aku terlambat menunjukkannya pada ibuku, benar-benar terlambat." Ucapku sedih. "Maaf aku tidak tahu." "Ah tidak apa-apa." Kataku sungguh-sungguh. "Tapi kamu sebenarnya belum terlambat, aku bisa membantumu untuk menunjukkan piala itu pada ibumu." Kata-kata Devan barusan membuatku heran, "Hah, gimana caranya?" Aku pun bertanya penasaran. "Aku sebenarnya punya kemampuan spesial, aku bisa melihat 'mereka' yang telah tiada, yaitu hantu." "Wah benarkah, tapi bagaimana kamu akan melakukannya?" Tanyaku semakin penasaran. "Bukan aku, tapi kamu yang akan melakukannya. Berkat kemampuanku itu, aku akan membuka portal dunia mati untukmu, portal yang membuat orang hidup bisa mengunjungi dunia yang ditinggali oleh orang yang sudah meninggal. Lalu kamu cari ibumu dan tunjukkan pialamu itu pada ibumu. Apakah kau mau melakukannya?" Aku sebenarnya agak takut bertemu hantu, dan sebenarnya aku memang percaya dengan kehadiran hantu, karena ayahku sering menceritakan bahwa teman-teman sekolahnya memiliki kemampuan yang sama seperti Devan. Walau aku takut, aku ingin melakukannya demi membahagiakan ibuku. "Ya aku mau." jawabku. "Baik, jadi besok kau ke rumahku ya, setelah sekolah usai, dan jangan lupa bawa pialamu itu, oke?" "Oke!" Setelah itu aku dan Devan pulang ke rumah, dan aku akan menunggu momen tersebut.
***
Besoknya ketika sekolah usai, aku pergi ke rumah Devan untuk memasuki portal tersebut.
Saat aku masuk ke dalam rumah Devan, aku agak takut karena benda-benda yang berada dalam rumah Devan terkesan tua dan seram. Semoga saja benda-benda itu tidak memakanku.
Aku sampai di tempat utama rumah Devan, ruangan untuk membuka portal. Ruangan ini ternyata lebih seram daripada yang kulihat sebelumnya. Disana ada kakaknya Devan, yang sedang menyiapkan benda-benda untuk membuat portal tersebut, mulai dari lilin, kompas, mangkuk berisi air, juga benda-benda lainnya.
Tiba-tiba saja kakaknya Devan menghampiriku. "Halo, perkenalkan namaku Rehan Altezza Reiki Ell Putra. Aku sudah mendengar hal-hal menyedihkan yang kamu alami 2 bulan lalu. Oh ya, namamu siapa ya? Devan bilang ia lupa siapa namamu, ia juga bilang kalau ia ingin menanyakan lagi padamu kemarin, tapi dia malu haha..." Aku tertawa kecil mendengar kalimat Rehan. "Wah iya ?! Aduh, seharusnya kamu ga usah malu. Oke aku akan beritahu namaku lagi, namaku Alfitho." Kataku. "Nah iya, aku harus terus mengingatnya." Kata Devan. "Omong-omong nama lengkap kalian panjang-panjang ya." "Haha... iya, entah kenapa orang tua kami memberikan kami nama yang panjang." Kata Rehan. Di pojok ruangan, Devan sedang menyiapkan 2 benda seperti tongkat sihir, panjangnya 30 cm, dan terbuat dari kayu. Devan memberikan salah satu tongkat itu kepada Rehan, Lalu mereka berdua duduk bersila. Kata Rehan, "Oke Alfitho, aku minta kamu duduk, lalu menutup matamu sambil membayangkan tempat dimana ibumu meninggal. Agar portal ini otomatis mengarah ke sana." "Apakah ibuku akan ada di sana" Tanyaku. "Aku tak tahu, mudah2an saja ada. Jika tak ada, berarti ibumu sudah pergi dari rumah sakit, atau ibumu sudah pergi ke tempat yang seharusnya ia tinggali. Dan jika itu terjadi, akan menjadi sulit." Kata Rehan. Oh, aku sangat berharap ibuku masih ada di sana. "Ingat, waktumu hanya 30 menit, jika sudah lewat dari itu maka kamu akan terjebak di sana selamanya." Itu terdengar menakutkan. "Ingat, disana kamu tidak bisa melihat orang hidup, kecuali dirimu sendiri. Dan hal-hal yang ada di sana berbeda sekali dengan apa yang ada di dunia nyata. Apa kamu siap?" "Ya aku siap, kak Rehan." Jawabku yakin. Devan dan Rehan mulai mengucap mantra, yang bahasanya sama sekali tidak ku mengerti. Beberapa detik kemudian tongkat yang dipegang oleh Devan dan Rehan mulai mengeluarkan bola-bola kecil, lalu membentuk portal dunia mati. Aku pun memasukinya. Dan saat inilah hal-hal menegangkan itu dimulai.
***
Aku menatap sekitar sambil memegang erat piala yang kupegang, sepi, tak ada siapapun. Hei, apakah disini sudah malam. Lihatlah, langit diatas berwarna hitam, dan suasana disini gelap. Ah, aku tahu, aku pasti ada di sisi lain rumah sakit! Aku dengan semangat langsung memasuki rumah sakit itu untuk mencari ibuku.
Gelap.
Apakah para hantu sengaja mematikan lampu, entahlah. Aku masih bisa melihat sekitar walaupun tidak terlalu jelas. Aku memasuki ruangan gawat darurat, tempat terakhir aku melihat ibuku. Kosong. Aku pun mencoba mencari di ruangan yang lain, membuka satu per satu kamar. Nihil.
Tak ada di lantai 1, aku akan coba mencari ibu di lantai 2.
Ruangan tengah di lantai 2 terasa sunyi dibanding lantai 1 tadi, lihat, bagian tengah lantai 2 ini, benda-benda yang tersimpan hanya sedikit. Aku harus bergegas mencari ibuku sebelum terlambat. Sepi juga. Tak ada satupun makhluk di lantai 2 ini, hanya ada diriku saja. Oke, masih ada 4 lantai lagi, aku akan coba mencari di lantai 3.
Aku sudah berada di lantai 3. Tunggu, aku mendengar suara pintu berderit di salah satu kamar di lantai 3 ini. Aku segera menuju kamar tersebut, berjalan pelan-pelan menghampiri kamar itu. Hei, tidak ada siapa-siapa, tapi kenapa pintu ini terbuka sendiri, seperti ada seseorang yang masuk ke ruangan ini? Entahlah, lebih baik aku menuju ke kamar yang lain.
Sama seperti sebelumnya, tak ada siapapun di lantai 3. Oh, aku semakin khawatir, bagaimana jika ibuku tak ada di sini? Aku takkan menyerah, aku akan tetap mencari. Aku berjalan menuju tangga, naik ke lantai 4
ASTAGA!!!!!
Saat aku berada di lantai 4, aku terkejut melihat benda-benda di lantai ini berantakannya minta ampun, juga dipenuhi oleh bercak-bercak darah, baik itu lantai maupun dindingnya! Ada yang tidak beres dalam ruangan ini. HARUS SEGERA DITELUSURI! Aku mengecek jam tanganku untuk melihat waktu, masih punya waktu 14 menit untuk mengecek sekitar rumah sakit. Aku mencoba memasuki salah satu ruangan di lantai 4 ini. Ngerinya! Ruangan ini lebih parah dari yang kulihat sebelumnya di tengah-tengah ruangan lantai 4 tadi. Lihatlah, ada darah dimana-mana, benda-benda tak hanya berantakan, tapi hancur lebur, entah siapa yang melakukan ini, tak mungkin ibuku, gila saja kalau ibuku yang melakukan ini. Aku sebenarnya gak kuat melihat suasana rumah sakit ini, tapi aku akan tetap berusaha, aku akan tetap mencari ibuku sebelum waktuku habis.
Aku sudah mengecek seluruh kamar di lantai 4 ini, ternyata suasananya sama saja, dan tidak ada siapapun, apalagi ibuku. Oh, tolong kuatkan daku dari suasana rumah sakit yang amat 'horor' ini.
Aku berjalan menuju lantai 5. Ketika aku menginjakkan kaki di tangga untuk naik ke lantai 5, aku melihat dibawah ada seseorang sedang merangkak, naik dari lantai 3 ke lantai 4. O iya, ini kan di dunia mati, SUDAH JELAS ITU BUKAN ORANG! Aku berlari cepat ke lantai 5, sebelum ia melihatku. Aku mencoba bersembunyi di balik meja yang terletak di tengah ruangan lantai 5. Suara langkah kaki itu terdengar jelas di sini, perlahan, suara langkah kaki itu sudah tak ada. Sudah aman, syukurlah. Untunglah, ruangan ini sudah tak seperti lantai 4 yang penuh darah. Oke, aku harus terus mencari, waktuku tinggal 8 menit lagi.
Aku sudah mengecek setengah dari seluruh ruangan di lantai 5 ini, tetap nihil. Dan tiba-tiba saja ada 1 ruangan yang lampunya menyala dengan sendirinya, apa yang terjadi di ruangan itu? Aku pun mencoba masuk ke ruangan itu, lalu aku melihat seseorang berdiri... eh tunggu, SUDAH JELAS ITU BUKAN ORANG!!! Aku lari dari ruangan itu. Tiba-tiba saja semua lampu di lantai 5 menyala. Dan... apa?! Tiba-tiba saja ada puluhan hantu yang berdiri dan menatapku. Mereka meraung kencang, lalu mencoba mengincarku. Aku mencoba menghindari mereka. Aku takkan mungkin mengecek seluruh lantai 5 ini, keadaan sedang ngeri seperti ini. Aku memutuskan untuk pergi ke lantai 6, lantai terakhir. Salah satu hantu menahan tanganku, aku menepisnya, berhasil! Lalu aku menaiki tangga, menuju lantai 6. Para hantu berhenti mengejar ku, kemudian mereka pergi, entah ada apa di lantai 6 ini sampai mereka berhenti mengejar ku. Itu tak penting, aku akan tetap mencari ibuku.
Apa ini benar...
Isi lantai 6 ini kosong, tak ada satupun benda di sini. Tapi aku tak peduli soal itu, aku harus terus mencari, jika tak ada di lantai ini juga, itu berarti ibuku sudah tak ada di sini lagi. Aku sebenarnya ingin mengecek tempat parkir yang ada di bawah tanah, tapj waktuku tak cukup lagi.
Aku sudah mengecek seluruh bagian di lantai 6. Kabar buruk, aku tetap tak menjumpai ibuku. Biarlah terlambat, aku tak bisa memanggil ibuku untuk datang ke sini.
"Anakku..." Kata seseorang yang berada di belakangku. "Anakku..." Ia berbicara lagi. Aku sangat mengenal suara ini, suara manusia yang telah melahirkan ku, membesarkan ku, mendidik ku, menjaga ku. Perlahan ku melihat ke belakang. Sosok hantu yang dibelakangku, adalah ibuku! "Ibu..." seruku kencang. Akhirnya aku menemukan ibuku di lantai ini, lantai 6. "Bagaimana kamu bisa ke dunia kami? Aku tahu kamu masih hidup, anakku." Tanya ibuku penasaran. "Aku memiliki teman baru yang memiliki kemampuan luar biasa Bu, dan ia membawaku ke dalam dunia ini lewat portal. O ya Bu, aku meraih ranking 1 saat 2 bulan yang lalu, ini pialanya Bu." Jawabku. Ibu memasang wajah bahagia, lalu berkata, "Wah, ibu bangga padamu nak, ibu doakan selalu bahwa kamu akan sukses di masa depan." Aku tersenyum mendengarnya. T'lah tiada kata 'terlambat' lagi untuk saat ini, aku berhasil menunjukkan piala itu pada ibuku. Aku mengecek waktu di jam tanganku, ASTAGA, TINGGAL 2 MENIT LAGI! Aku harus cepat, atau aku akan terjebak di sini selamanya. Aku berlari cepat. Di depan ku ada lift, aku terpaksa menggunakan lift, aku sudah lelah untuk menuruni tangga. "Jangan gunakan lift itu nak!" seru ibuku. Terlambat, aku sudah menekannya. Tiba-tiba saja pintu lift itu terbuka.
Terkejut...
Entah siapa yang menyimpan darah-darah di lift ini. Bagai air yang ada di dalam ember, kemudian ditumpahkan. Begitu juga darah yang ada di lift ini, saat pintu lift terbuka, darah-darah yang ada di dalam lift itu pun tumpah ke mana-mana. Setelah itu, semua lampu di rumah sakit ini berkedip cepat, entah kenapa bisa seperti ini. Terpaksa harus menggunakan tangga, hanya itu satu-satunya jalan untuk lari dari rumah sakit ini.
Aku turun ke lantai 5, hantu-hantu di lantai 5 itu kembali mengejarku. Aku harus cepat sebelum mereka menangkap ku. Berhasil. Lalu aku turun ke lantai 4. Hei, kenapa tiba-tiba ada banyak kerangka manusia, tadi kan tidak ada. Aku tak peduli, aku langsung turun ke lantai 3, lalu ke lantai 2, lalu lantai 1. Tinggal sedikit lagi perjalananku untuk menuju portal untuk kembali ke dunia nyata. Aku terus berlari dalam kedipan lampu yang cepat ini. Tiba-tiba pintu-pintu kamar di lantai 1 terbuka semua, lalu hantu-hantu bermunculan dari dalam kamar-kamar. Aduh, keadaan semakin rumit. Hantu-hantu di sini lebih banyak daripada yang di lantai 5. Aku berusaha berlari menuju pintu keluar. 2 hantu menahan tanganku, aku menepisnya, lalu 1 hantu hendak menghampiriku, seperti ingin menahan badanku. Aku pun menendangnya, berhasil. Aku pun langsung membuka pintu keluar. Lalu para hantu berteriak kencang sehingga membuat telingaku rusak. Aku menutup telinga, lalu memasuki portal untuk menuju ke dunia nyata.
Tepat pada waktunya...
***
"Wah, hanya sisa 1 detik kawan, terlambat sedikit saja kamu sudah terjebak disana." Seru Devan. Tadi benar-benar menegangkan, sekaligus menyenangkan karena akihirnya aku menemui ibuku, lalu menunjukkan piala ranking 1 ku. Tapi aku memasang wajah sedih. "Eh kamu kenapa Alfitho, apa ada masalah?" Tanya Rehan. "Apa kamu gagal, apa ibumu tak ada di sana, Alfitho?" Tanya Devan. Aku masih memasang wajah sedih. Mereka tak tahu kalau aku sebenarnya hanya pura-pura. Beberapa detik kemudian aku berseru, "Aku berhasil, yeeey. Makasih ya Devan, Kak Rehan, akhirnya ibuku telah mengetahui hal yang kualami 2 bulan lalu setelah ia meninggal.", Devan dan Rehan menghela napas lega, "Ah kamu ternyata tadi cuma pura-pura, aku khawatir kamu mengalami hal buruk tadi." Kata Devan. Kami bertiga pun tertawa.
T'lah tiada kata terlambat lagi
Kesedihan lenyap
Menggantikan kebahagiaan
Ibu t'lah melihat segalanya
Aku bahagia
Walau dunia kami t'lah berbeda
Dan artinya itu tiada sama
Aku tetap bahagia
Terima kasihku pada seorang
Seorang yang telah memberikan...
Cerita bahagia...
Dan membalikkan cerita buruk yang telah berlalu...
Terima kasih banyak...
***
9 bulan kemudian
Di rumah Devan yang isi rumahnya telah kosong.
"Serius kamu mau pindah lagi, Devan" tanyaku. "Iya, Alfitho, ayahku pindah kerja lagi, maka kami harus mengikutinya." kata Devan. "Oh, begitu ya. Aku akan merindukanmu. Sekali lagi terima kasih ya atas kejadian 9 bulan lalu, kamu benar-benar mengukir kisah bahagia untukku, Devan." Kataku sungguh-sungguh. Devan tersenyum mendengarnya, "Haha... sama-sama. Kamu benar-benar sahabat ku yang baik, aku takkan melupakanmu Alfitho." Setelah itu kami berpelukan, sebelum kami benar-benar berpisah.
Aku juga takkan melupakanmu, Devan, sahabatku...
~TAMAT~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain dibawah ini ya 🙏👇
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏