Cinta bisa datang darimana saja, meskipun dia hanya sebuah khayalan belaka, tetapi aku tetap mencintainya.
=•=•=
Pagi yang cerah, aku masih meringkuk di kasur busa lembutku. Namun, tak lama kemudian, seseorang datang dan menepuk pipiku pelan.
"Oy oy ... Miku. Cepat bangun!" Seorang laki-laki remaja berbaju kuning dan rambut yang senada dengan warna bajunya, tampak sedang membangunkanku. Panggil saja dia Zenitsu.
"Hmm? Ah, Zenitsu. Kenapa?" Aku menanggapinya dengan nada bicara malas.
"Aigoo ... ayolah! Apa kau tidak ingat? Hari ini Lisaa dan Bella akan datang kesini bersama pacar-pacarnya. Apa kau tidak malu?" Ia menggoyang-goyangkan tubuhku pelan.
"Iya iya ... lima menit lagi deh, ya? Aku masih ngantuk." Aku menyelimuti diriku dengan selimut dan menyamankan posisi tidurku.
Namun, sepertinya dia tidak mengerti kondisiku. Laki-laki pemilik nama lengkap Agatsuma Zenitsu ini menggendong tubuhku dengan gaya membopong. "Eeeh ...." Sontak, hal itu membuatku terkejut. "Zenitsu? A-apa yang kau lakukan?!" tanyaku kesal.
"Ssstt ... diamlah. Jika kau tidak ingin mandi sendiri, maka aku akan memandikanmu. Aku tak mau melihat pacarku kumuh seperti ini. Ayo cepat!" Zenitsu keluar dari kamarku dan berlari menuju kamar mandi. Ah sialan, laki-laki ini serius dengan ucapannya.
"Heeii ... turunkan aku! Baiklah baiklah, aku akan mandi!" Aku memukul mukul wajahnya.
Zenitsu pun berhenti berlari seketika. "Nah, itu baru kekasihku. Ya udah, cepat mandi sana! Aku akan menunggu di sini." Dia menurunkan tubuhku dengan hati-hati.
Sesaat setelah tubuhku diturunkan, aku pun segera mengambil handuk berwarna kuning pemberiannya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ketika baru satu langkah aku masuk, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Aku berbalik, menatap Zenitsu yang tengah berdiri di belakangku. "Jangan mengintip! Awas saja kalau kau mengintip!" peringatku.
Zenitsu menggaruk-nggaruk bagian belakang kepalanya. "Ya deh iya. Aku nggak ngintip kok. Janji!" ucapnya penuh keyakinan.
Aku menutup pintu kamar mandi, kemudian mulai membersihkan tubuh tentunya. Tak berselang lama, aku telah selesai mandi. Kini, tubuhku hanya tertutup handuk kuning tadi. Yah, asalkan tidak ada yang melihat, aku sih tidak apa. Namun ternyata, dugaanku salah.
"Heee ... BAKAAAAA!" Aku berteriak seraya menendang perut Zenitsu. Ternyata, dia masih berdiri di tempatnya berada tadi. Ia menatapku seolah tak berdosa.
"Ughhh ...." Laki-laki itu tergeletak tak berdaya di lantai. "Saa-saaakiiitt ...," gumamnya lirih.
"Ke-kenapa kamu mengintip, ha?!" Aku bertanya dengan suara lantang.
Zenitsu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. "Aduhh ... tunggu, apa? A-aku tidak mengintipmu! Ya ... ya aku tidak tau kalau kamu tidak memakai baju," bantahnya tegas.
"Grrr ...." Aku kehabisan kata-kata, ah sial.
Zenitsu mengalihkan pandangan yang awalnya menatap wajahku berpaling menatap tubuhku. "Hee ... ZEEENITSUUUU!" Aku menendangnya sekali lagi, akan tetapi kali ini bukan perutnya, melainkan wajahnya.
=•=•=
Tok ... tok ... tok ...
Aku telah memakai baju yang telah disiapkan oleh Zenitsu. Yah, kuakui baju ini terlihat elegan dan menawan. Ternyata, dia ini pintar dalam masalah pemilihan baju, ya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, aku pun membuka pintunya untuk melihat orang yang ada di luar. Sesuai dugaanku, orang yang mengetuk pintu adalah Lisaa dan Bella serta pacar-pacarnya.
"Aaaa ... Miku-chan!" Lisaa dan Bella memelukku erat.
"Eehh ...." Walaupun aku sempat kaget, ya tapi lama kelamaan pelukan mereka terasa sangat nyaman.
"Sudah lama tidak bertemu, ya, Miku? Aku sangat merindukanmu kau tahu?" ucap Lisaa–teman SMP ku–sembari tersenyum senang.
"Iya lho, aku merasa sangat kesepian tanpa kalian!" sahut Bella, teman SMP ku juga.
Aku tertawa kecil. "Hihi ... aku juga sangat merindukan kalian."
"Oy, Bella. Kapan kita masuk? Aku tidak betah berdiri lama-lama dengan si pemarah ini!" teriak Akabane Karma–kekasih Bella–seraya menunjuk seorang laki-laki di sebelahnya.
Laki-laki yang ditunjuk oleh Karma itu merasa terhina. Dia menatap Karma kesal. "Apa maksudmu, hm? Apa kau ingin kutebas?!" tanyanya kesal. Dia adalah Levi Ackerman–pacar Lisaa.
"Ha? Hahaha ... apa? Kau ingin menebas kepalaku? Oy, sebelum kau melakukan itu, aku pasti sudah menembak jantungmu hahaha ...." Karma membalas ancaman Levi.
"Kau ini ... memang ingin kena. Baik–" Sebelum Levi menyelesaikan kalimatnya, Lisaa dengan segera menutup mulut kekasihnya itu. "Kau ... ini adalah rumah temanku. Setidaknya tunjukan sikap sopan santunmu ...!" bisik Lisaa.
Levi mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau marah padaku? Si bod*h inilah yang memulai perdebatan duluan!" ujar Levi
"Apa? Kau memanggilku bod*h? Cih, kau memang ingin mati, ya, Sob?!" Karma mengeluarkan sebuah pistol kecil dari sakunya, tetapi Bella mencegah hal itu. "Hei, Karma! Bisakah sopan sedikit? Atau hubungan kita akan berakhir di sini!" ancam Bella kejam.
Karma yang takut akan ancaman kekasihnya itu, memilih untuk memendam egonya.
"Ah, maaf membuat kalian tidak nyaman!" Lisaa mengeluarkan tawa terpaksa untuk mencairkan suasana.
"Iya, maafkan Karma, ya? Dia ini memang sedikit menyebalkan!" imbuh Bella.
Aku tersenyum. "Ti-tidak. Harusnya aku yang minta maaf. Baiklah, ayo silakan masuk! Aku mempersilakan Lisaa dan Bella serta para pacarnya untuk masuk ke dalam.
"Aaahh ... kau ini memang masih Miku yang dulu. Cantik, imut, dan pengertian. Iya deh, ayo masuk!" Lisaa mengajak Levi masuk, begitu juga dengan Bella.
Ketika hendak masuk, Levi dan Karma tertahan di gawang pintu. Mereka tidak bisa masuk karena tubuh mereka berdua tidak muat jika masuk secara bersamaan.
"Oy, aku yang lebih dulu masuk kau tahu? Cepat mundur sana! Levi mendorong tubuh Karma hingga nyaris terjungkal ke belakang.
"Eee ... apa kau ingin bertarung? Baiklah, ayo!" Karma mengeluarkan pistol dari sakunya.
"Ooh kau menantangku, ya? Baiklah!" Levi mengeluarkan alat-alat yang biasa digunakan olehnya untuk melawan titan sewaktu dia masih berada di Survey Corps.
Kedua laki-laki itu saling bertatapan. Perasaanku tidak enak.
"OOOY! APA KALIAN BISA DIAM?!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring seseorang sedang berteriak. Dia adalah Zenitsu. Semua perhatian langsung tertuju kepadanya.
"Zen-Zenitsu?" Aku ketakutan tatkala melihat wajahnya begitu marah
Dia tak menanggapiku. Namun, tiba-tiba dia menunjukan pedang yang biasa dia gunakan untuk melawan para iblis. "Kaminari no kokyu, ichi no kata : Ikireki Issen! Rokuren!" Zenitsu mengatur pernapasan petirnya. Oh sial.
Cling!
Zenitsu melesat dan menyerang Karma dan Levi. Yah, aku yang hanya ingin bertemu dengan teman-teman lamaku malah berubah menjadi seperti ini. Hahh ...
=Tamat=
Miku pake nama temen temen Miku nih, Yah, dia itu Lisaa sama Kak Bella. Izin ya manteman, Miku pake namanya buat cerpen fanfic hehe...
IG : @miku_nakano41