Disebuah tempat yang terletak cukup jauh dari timur eropa, ibarat pembatas besar antara eropa dan asia. Kota yang memiliki sejarah panjang dan berbagai hal pernah terjadi di masa lampau. Dari cuaca cerah yang hangat hingga dinginnya salju menerjang seluruh bagian kota. Moskow, adalah tempat bagi seorang lelaki bernama Elno menjalani sebagian besar dari kehidupannya. Sudah beberapa tahun ia berdiam di kota itu. Metropolitan besar di timur eropa yang sekaligus menjadi ibukota negara terbesar didunia tersebut. Elno berpikir mengenai suatu hal di saat ia berapa di tengah lapangan merah. Orang-orang berlalu lalang melewati dirinya yang masih tidak bergerak itu. Saat ini cuaca begitu dingin. Nafas yang dia hembuskan mengeluarkan kepulan udara layaknya sebuah asap. Dingin yang dirasakannya ini sudah membuatnya terbiasa. Ibarat dirinya telah menyatu dengan penduduk asli sini yang bisa bertahan dikala musim dingin menerpa.
Langit tampak begitu abu-abu dengan cahaya kota di bawahnya. Elno berjalan perlahan menyusuri lapangan merah tersebut. Banyak orang yang berfoto serta berkumpul sembari mengobrol. Pusat dari kota moskow ini dipadati pengunjung setiap harinya. Dan hari ini adalah waktu yang bisa ia sempatkan untuk berkunjung dikala sedang memiliki masa luang.
Di saat sedang berjalan, seseorang tak sengaja menyenggol bahu seorang Elno. Tampak seorang gadis yang tengah terburu-buru itu langsung meminta maaf atas kejadian tersebut. Elno hanya menatapnya tanpa sepatah kata apapun. Rupa gadis itu dilihatnya dengan kedua bola matanya. Gadis yang ada di depannya membuat ia sulit mengubah arah pandangnya tersebut. Setelah meminta maaf, sang gadis bergegas pergi meninggalkan Elno di tengah lapangan.
Gadis dengan jaket tebal serta syal yang terlilit di lehernya itu masih teringat jelas di benaknya. Meskipun dia hanya ada sekejap di depan mata.
Moskow memang dipenuhi oleh gadis-gadis cantik. Namun, tidak semuanya bisa memikat hati seseorang. Lain halnya dengan gadis yang ia temui sebelumnya. Dan hal itu membuat Elno berpikir akan sosok dia.
Beberapa hari kemudian, Elno kembali memijakkan kaki di lapangan merah tersebut. Ia berjalan seorang diri sembari melihat sekitar. Lampu hias yang berada di dinding menambah kesan cantik area itu. Banyak orang berfoto di depan lampu-lampu hias tersebut. Tetapi Elno tidak demikian. Ia tidak begitu tertarik pada hal semacam itu.
Elno terus berjalan lurus ke arah patung yang ada di depan katedral St. Basil. Minin dan Phozarsky adalah nama dari patung tersebut. Ikon yang cukup terkenal itu di padati oleh orang-orang di sekelilingnya. Elno mendekat ke tempat tersebut. Dan ia pun tiba-tiba melihat sesosok orang yang sama seperti kemarin. Seorang gadis yang mengalihkan pandangan dan tersimpan dibenaknya. Tak lama kemudian, gadis itu menatap balik Elno yang ada di depannya. Tidak tahu harus berbuat apa, Elno pun berencana untuk pergi dari sana. Saat sedang berjalan menjauh, seketika sebelah tangannya di pegang oleh seseorang dari belakang. Elno melihat ke arah belakang, dan mendapati gadis itu sedang memegang tangannya dengan wajah khas musim dingin. Hidung dan pipi sedikit memerah serta tatapan mata yang mempesona di bawah poni rambut berwarna kuning identik khas eropa. Keduanya saling menatap satu sama lain. Kemudian gadis itu angkat bicara.
"Kamu yang sebelumnya aku temui kan?"
Tanyanya pada seorang Elno.
"Benar. Akulah orang kemarin."
Balas Elno.
Lalu gadis itu memperkenalkan diri dan mengajak Elno untuk jalan bersama.
"Namaku Yekaterina Moskova. Kamu bisa memanggilku Kova. Salam kenal dan mari jalan bersama."
Gadis dengan panggilan Kova itu langsung menarik tangan dari Elno seraya mengajaknya berjalan. Elno mengikuti gadis itu pergi. Mereka berdua menelurusi berbagai tempat di area yang luas itu cukup lama. Tak lupa Kova berswafoto dengan Elno, meskipun dalam keadaan terpaksa. Dengan kamera milik Kova, mereka berhasil mengabadikan beberapa foto yang didapatkan dari jepretan tadi. Kova merasa senang melihat foto yang diambilnya. Sedangkan Elno hanya memberi senyum tidak tahu antara bahagia atau tidaknya. Ia dalam keadaan bingung saat ini.
Kova memberi selembar foto pada Elno. Ia pun memegang foto itu dan melihatnya. Rupa mereka berdua terlihat jelas di lembaran foto tersebut. Seketika Elno memandang gadis itu, dan Kova terlihat memberi senyuman padanya.
Perjalan berlanjut ke lokasi terakhir bernama Mal Gum. Pusat perbelanjaan yang terkenal di kalangan pelancong dalam dan luar negeri tersebut dipadati oleh orang-orang yang berkunjung. Interior bangunan yang di hiasi gantungan lampu serta pernak pernik aksesoris yang berkilau memenuhi langit-langit bangunan itu. Kova tampak antusias melihat hal tersebut. Elno ikut senang karenanya. Mereka berbelanja sejenak sebelum bersantai nanti. Setelah berbelanja, Kova dan Elno duduk di sebuah kursi sambil meminum segelas cokelat hangat. Kova mulai bercerita mengenai sudut pandangnya mengenai area ini sampai kepribadiannya. Sesuatu menarik perhatian Elno kala itu. Kepribadian dari seorang Kova membuat dirinya begitu tertarik. Sehingga Elno mulai menanyakan perihal pribadi Kova itu sendiri.
"Kamu sebelumnya bilang mengenai hal pribadimu. Terutama bahwa kamu adala seorang anak bungsu dari dua bersaudara."
Kata Elno.
"Iya itu benar. Aku adalah anak bungsu di keluargaku dan seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa akulah yang menjadi tulang punggung keluargaku saat ini."
Elno seketika memegang tangan dari Kova yang juga membuatnya terkejut.
"Ada apa?"
Tanya Kova kebingungan.
Elno mengeluarkan sebuah benda dari sakunya dan menunjukkannya di hadapan Kova.
"Kamu lihat, apakah kamu mengenal orang ini?"
Mata Kova terbuka lebar melihat apa yang ditunjukkan oleh Elno. Itu tidaklah asing baginya. Kova langsung bertanya pada Elno dengan nada cukup tinggi.
"Dari mana kamu mengetahuinya? Dan dimana dia sekarang? Aku sudah tidak bertemu dengannya dua puluh tahun lebih!"
Seketika itu juga Kova memohon pada Elno yang duduk di sebelahnya.
"Beritahu aku sekarang! Aku ingin tahu dimana dia sekarang. Aku mohon dengan sangat."
Elno merasa sulit untuk mengatakannya. Namun, inilah yang harus ia sampaikan. Sebuah kebenaran akan sosok yang dikenal Kova tersebut.
Dengan perasaan tak enak, Elno mengatakan yang sebenarnya pada gadis itu.
"Aku tahu dimana dia sekarang. Dan saat ini dia ada di..."
"Katakan saja. Aku ingin mengetahuinya dan.."
"Dan apa?"
Kata Elno yang ingin tahu lanjutannya.
"Dan aku akan... ini sulit bagiku."
Kova pun mulai meneteskan air mata. Melihat itu Elno makin tak enak hati untuk mengatakannya.
Akan tetapi, Kova terus bersikeras memaksa lelaki itu agar menyebut keberadaan seseorang yang di tunjukkannya tadi.
"Baiklah. Aku akan memberitahumu. Saat ini dia ada di hadapanmu."
Kova terperangah mendengar perkataan itu.
"Apa kamu serius?"
Elno menunduk dan mengatakan iya pada gadis tersebut.
Kova dengan amarah yang terpendam, langsung meluapkan semuanya pada seorang Elno.
"Bagaimana bisa kamu menghilang kala itu hah?! Apa yang kamu inginkan? Ini kah rencanamu agar aku hidup susah payah dengan segala kerumitan yang ada ?! Abang seperti apa dirimu ini? Bahkan teganya meninggalkan seorang gadis kecil beserta orang tuanya kala itu!"
Elno hanya dia mendengar Kova memarahinya. Orang sekitar melihat momen tersebut. Karena merasa tidak nyaman, Elno menarik paksa tangan Kova. Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, Kova melepas pegangan tangan dari Elno. Amarahnya berlanjut saat itu juga. Selesai dengan luapan emosi darinya, kini giliran lelaki itu angkat bicara.
"Aku akan mengatakan perihal itu. Mengapa aku melakukannya dan apa tujuan sebenarnya. Jadi tolong dengarkan aku. Setelah itu, aku akan pergi agar kamu tidak perlu melihatku lagi."
Elno pun mulai bercerita mengenai kejadian di masa lampau pada kova. Cerita yang panjang didengar oleh Kova. Setelah selesai bercerita, Elno segera pergi meninggalkan Kova di tempat itu.
"Begitulah ceritanya. Jadi aku tidak ingin kalian terkena masalah yang telah aku perbuat. Dengan begitu aku memutuskan untuk pergi menjauhi kalian."
Ucap Elno menahan sedih.
Tidak ingin berlama-lama disana, Elno berisiatif beranjak dari tempat tersebut. Baru beberapa langkah dari titik awal ia berdiri sebelumnya, Terdengar teriakan panggilan nama yang membuat lelaki itu menoleh ke belakang.
Gadis itu menyebut nama asli dari Elno.
"Aku tidak ingin kamu pergi lagi. Seorang gadis sepertiku ini masih membutuhkan seorang abang yang masih memikirkan keluarganya agar terhindar dari marabahaya. Jadi maukah kamu kembali ke keluargamu ini? Kami merindukan seorang anak sulung yang telah lama hilang itu."
Kata Kova pada Elno.
Air mata mulai membasahi pipi. Dan pelukan pun disusul oleh Kova pada abangnya yang telah lama dipikirkannya.
"Orang tua kita selalu memikirkan dirimu. Walau aku menanggung tugas menghidupi keduanya, Tetapi pada akhirnya aku senang bisa bertemu dengan saudaraku. Lebih tepatnya abangku yang mau mengakui kesalahannya dan tetap menjaga keluarganya dari kesalahan yang ia perbuat."
Elno balik memeluk Kova.
"Baik. Aku akan pulang bersamamu. Aku merindukan kalian semua setelah sekian lama."
Elno dan Kova berjalan pulang menuju kediaman keluarga mereka.
"Aku senang melihatmu bahagia kembali Kova."
"Aku juga demikian. Setelah melihat kehadiranmu kembali di hadapanku, Ivan."
-----SELESAI-----