Perahu kami kini terombang-ambing diterjang ombak. Sebentar lagi sampai ke tepi dan perahu kami hampir terbalik. Dua anakku menangis pilu, sedangkan suamiku tenang-tenang saja seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kurasa karena ia sudah sering bertemu dengan peristiwa semacam ini, namanya juga nelayan.
Saat perahu kami mencium tepian, tiba-tiba perahu terbalik. Aku, anak-anak, dan suamiku tercebur ke tepi laut yang dangkal. Kami semua basah kuyup. Bintang, anakku yang paling besar berusia lima tahun dan Lintang adiknya tiga tahun. Anak-anakku belum bisa berenang.
Dulu kami sekeluarga selalu pergi ke laut untuk berenang, tapi berenang sekadar di permukaan saja. Sekadar basah, sekadar bermain air.
Anak-anakku tetap aman, walau perahu telah terbalik. Pasalnya kami tercebur di tepian. Tempat yang dulu biasa kami bermain di sini. Saling mencipratkan air, mencari kerang, sesekali menemukan bintang laut yang terdampar, bahkan suamiku sering mengajakku dan anak-anak berlayar dengan perahunya. Biasanya anak-anak sangat girang setiap kali diajak berkeliling dengan perahu bapaknya.
Tapi kali ini berbeda. Sebelum naik ke dalam perahu, anak-anak terlihat saling tatap risau. Sebenarnya aku pun sudah berfirasat tak enak, namun kukira itu hanya sekadar pikiran buruk saja. Akhirnya aku dan anak-anak ikut berlayar.
Keberangkatan kami terbilang cukup lancar, namun sekembalinya dari berlayar tiba-tiba ombak mulai besar. Aku dan anak-anak ketakutan, tapi tidak dengan suamiku. Ia malah tertawa sambil bernyanyi riang. Apa yang dilakukan suamiku tentu membuat anak-anak tak khawatir padanya, justru mereka lebih mengkhawatirkan diri mereka sendiri dan aku ibunya.
Semakin ke tepi, ombak semakin besar. Sampai akhirnya perahu kami terbalik. Beruntung perahu telah sampai di tepian. Kami semua benar-benar kuyup. Anak-anak menangis ketakutan. Mereka takut dengan kelanjutan kisah keluarga kami setelah terombang-ambing ombak. Takut dengan kenyataan yang mungkin akan merenggut kebahagiaan kami.
Kejadian ini mengingatkanku pada play station yang sering dimainkan oleh Bintang. Hanya ada dua pilihan. Game over sebagai pemenang atau dengan lapang dada menerina kekalahan.
Aku masih memeluk kedua anakku yang tak henti menangis, sedangkan suamiku berjalan pergi meninggalkan kami. Dengan langkah pongah diacuhkannya aku dan anak-anak.
Sesosok wanita dengan rambut tergerai panjang berdiri di pinggir laut, seolah menunggu kedatangan seseorang yang telah dinanti. Suamiku menghampirinya dan mengulurkan tangan. Mereka pun pergi dan perlahan hilang dari pandangan.
Aku terhenyak. Ternyata wanita itu yang membuat suamiku luluh. Rela meninggalkanku dan anak-anak. Rela meninggalkan perahu yang kami bangun bersama. Perahu yang menjadi saksi bisu suka dan duka yang terjalin silih berganti.
Kini setiap kali kutengok laut bersama kedua anakku yang ada hanya hening. Perahu bergeming. Seolah menghargaiku dan anak-anak yang kembali ingin meneguk kebahagiaan walau tanpa ia.