Saya menolak sebuah firasat.
“Mba, kapan mau main ke rumah? Saya serius, mohon bantuan mengembangkan bakat, kasihan anak saya mba.”
Satu pesan lagi dari seorang ibu yang terlupakan wajahnya dalam ingatan saya. sebelumnya pernah pula beberapa pesan ditujukan untuk saya, namun masih terkesan basa-basi. Menanyakan alamat rumah, nomor telepon, dan sekadar memberitahu bahwa beliau tertarik memasukan anaknya yang kesulitan calistung ke dalam komunitas film yang saya gawangi.
Sebenarnya saya penasaran dengan Lintang. Anak laki-laki usia sepuluh tahun yang belum juga bisa membaca, menulis, dan berhitung. Seorang anak yang saya yakini betul bahwa ia tidak berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Seorang anak yang patut diadakan keberadaannya sekaligus dicintai. Sama seperti anak-anak lain seusianya.
Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan saya mulai tertarik untuk mengemban tugas membimbing sekaligus mengarahkan bakat Lintang. Seorang anak yang pasti memliki kelebihan yang belum terekspos.
Jadi tahap pertama adalah saya harus bisa menemukan bakat apa yang terpendam dalam dirinya lalu mengarahkan bakatnya hingga ia mampu mengepakan sayap, terbang tinggi berkeliling memutari seluruh isi dunia.
Tunggu dulu. Membantu? Kenapa saya yang ditunjuk ibunya untuk membantu dia? Kenapa harus saya yang dipertemukan Tuhan dengan ibunya Lintang di sebuah ruangan di kantornya saat saya menyerahkan profil komunitas saya? Padahal di ruangan itu masih banyak yang lainnya yang bisa dipertemukan dengan saya.
Pertemuan kami memang baru sekali dan hanya membicarakan soal projek yang saya dan kawan-kawan komunitas sedang kerjakan. Saya ingat memang, hanya seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan yang berada di dalam ruangan itu dan lainnya laki-laki, bisa dibilang bapak-bapak mendominasi isi ruangan. Namun wajah perempuan berhijab yang dulu berbincang dengan saya sudah tak lagi menghuni ingatan saya.
Saya, wanita muda yang hingga kini masih menyusu. Padahal saya sudah memiliki satu anak lelaki tampan.
Dunia menulis dan seni peran adalah kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari hidup saya. Namun tak sedikit pun ibu saya melirik bahkan menoleh pun enggan apalagi harus menyaksikan dengan kedua matanya saat saya sedang bercinta sekaligus berontak dalam sebuah tulisan dan peran yang saya mainkan.
Pergolakan hati yang dirasa cukup hebat ketika ibu memicingkan mata bahkan secara terang-terangan selalu menembuskan peluru ke dalam dada saya melalui kalimat-kalimatnya yang terasa mematikan.
“Ibu sebenarnya tidak ikhlas kamu berangkat hanya untuk pentas.”
Saya paham betul ibu melihat saya sebagai duplikat dari ayah. Lalu di mana letak salahnya? Toh saya memang anak mereka. Anak dari ibu dan ayah saya.
Tanpa sengaja mencari tahu alasan ibu sangat membenci dunia saya, saya pun mendapatkan jawabannya dari kehidupan orang tua saya yang didukung oleh cerita yang kerapkali disuguhkan oleh orang-orang di sekitar.
Jadi, ayah saya sempat terjun di dunia seni peran. Bahkan di dunia itulah ayah bukan saja mendapatkan ilmu, namun juga berhasil menggandeng wanita cantik yang memikat hati hingga ayah memutuskan menceraikan ibu.
“Ngapain kamu terus-terusan nulis kalau kamu enggak bisa hidup dari tulisan kamu. Kamu boleh nulis, tapi dari menulis saja enggak cukup untuk membesarkan anak kamu.”
Kalimat itu seakan pedang yang menikam dan membunuh. Saya, wanita muda yang sudah memiliki satu anak lelaki tampan sekaligus menyandang status janda tetap masih menyusu pada ibu.
Anak saya tidak berada dalam pelukan, tapi tetap saja ia masih menjadi tanggung jawab saya. Menjadi tanggung jawab seorang ibu yang masih asik bersetubuh dengan dunianya.
Saat anak saya masih dalam dekapan, saya bertekad akan terus memperhatikan perkembangannya hingga suatu saat bakatnya mulai terlihat. Saya sempat pergi ke beberapa tempat yang sekiranya bisa menunjang bakatnya, namun semua yang saya kunjungi tak satu pun menerima anak yang masih berusia dua tahun.
Dengan sabar saya menunggu sambil terus memantau perkembangannya di rumah. Memasuki usia empat tahun sudah saatnya saya mendaftarkan ia di sebuah tempat yang saya yakini bisa mengarahkannya hingga ia mampu mengepakan sayap, tapi saat itu juga ia menghilang dari kamar dan terlepas dari dekapan saya.
Kini yang mengalir untuknya hanya doa. Berharap agar papahnya dapat menemukan sekaligus mengarahkan bakat anaknya dan tidak mengubur bakatnya secara hidup-hidup.
Dan kini, saya harus siap berperang melawan ego diri. Ini adalah realitas yang harus dijalani, tanpa menjadikan Lintang sebagai korban. Seluruh alam semesta beserta isinya saling berhubungan. Saya hanya perlu bersabar saat bertemu Lintang karena ia adalah cerminan saya dan anak saya.
Lalu mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan ibunya Lintang? Ya, tata hubungan. Mungkin saya akan mendapatkan jawaban dari semua pergolakan hati yang pernah saya lewati melalui Lintang.