Di kesepian kulukis. Aku termangu seorang diri menatap gang sepi. Gemericik hujan melantunkan dentingan di atap rumah. aku melebur dalam senyap. Kicauan burung mengudara menyuarakan hasrat ingin segera pulang ke sarang karena hujan menderas. Seekor burung kecil berputar mengitari rumah yang kuhuni. Bertengger di dahan pohon di depan rumah. Kicauannya tak henti, menjelma lagu rindu.
Nampaknya aku salah kira, burung kecil itu bukan ingin segera pulang ke sarang, melainkan mencari induknya yang terpisah dengannya. Apakah benar dugaanku? Benarkah burung kecil itu mencari induknya? Induknya yang menghilang atau justru ialah yang telah hilang? Jika induknya menghilang, lalu ke mana? Apakah mati terbunuh peluru pemburu atau memang sengaja melarikan diri agar terbebas dari segala bentuk tanggung jawab? Jika burung kecil ini yang hilang, apa sebabnya? Burung kecil ini terpisah dari gerombolan burung-burung lain yang tentu saja di dalamnya termasuk induknya? Tapi rasanya tidak mungkin burung sekecil itu mampu terbang tinggi melintasi mega. Apakah ada yang sengaja memisahkan? Tapi siapa? Hujan?
Argh! Pertanyaan menggeliat macam apa yang berputar di otakku ini. Toh dengan berusaha menjawabnya pun tak kan mampu mengundang sang induk.
Derasnya hujan memperkuat dentingan di atap rumah dan membuat dedaunan sibuk menggelontorkan air. Dentingan di atap rumah seakan berlomba dengan kicauan burung kecil yang masih bertengger di dahan. Berayun.
Kicauan burung kecil semakin lama semakin terdengar nyaring. Ada kegetiran di sebalik nyaring kicauannya. Matanya nyalang mencari yang hilang. Ada kesunyian di sebalik sorot matanya. Paruhnya mengatup dan membuka kuat-kuat. Seakan tak rela disentuh kenyataan, disetubuhi perpisahan, dan pada akhirnya mati ketakutan. Burung kecil itu memekik pilu, entah berapa lama memendam derita.
Langit kian mendung. Angin berhembus menerbangkan butir-butir air hujan. Burung kecil serasa ditembak bertubi-tubi oleh peluru dingin hingga menembus tubuh kecilnya. Burung kecil menguatkan cengkramannya pada dahan pohon agar tak sampai terjatuh. Tubuhnya mulai menggigil. Semakin kuat ia mencengkram dahan pohon.
Hujan semakin deras membuat dahan-dahan pohon bergoyang seirama burung kecil yang juga ikut bergoyang. Tubuh burung kecil kian menggigil. Tapi kicauannya justru kini menembus langit dan matanya membara. Dicengkramnya kuat-kuat dahan pohon.
Dedaunan berjatuhan dan terhempas bersama air hujan yang berterbangan, beradu, saling mencium, dan berenang di genangan air. Mengalir ke tempat yang lebih rendah. Semakin jauh ukuran daun terlihat semakin mengecil dan titik-titik hujan di tubuhnya sudah tak dapat terlihat. Semakin menjauh dan hilang.
Ia terus menguatkan diri walau dilanda berjuta rintangan, tetap dihadapi. Menantang maut. Hujan dan angin terus bersekongkol seolah tak mau mengalah apalagi kalah. Rerantingan pohon satu persatu terlepas dan berhamburan. Jatuh dan berenang di permukaan air yang menggenang. Hanyut terbawa arus air. Pertanda begitu lebatnya hujan dan kencangnya angin. Burung kecil melompat-lompat menghindari patahan ranting.
Puncak gigilan menyerangnya dan tubuhnya mulai goyah, namun ia tetap bertahan. Kerongkongannya mulai kering. Ia kehabisan suara. Jika ia salah satu kontestan menyanyi mungkin sejak awal audisi sudah dinyatakan gagal. Namun ia tetap gigih, walau serak ia tetap buka suara. Volume kicauannya mulai berkurang. Matanya pun menjadi sayu. Dan ia terus bertengger di tengah pusaran angin dan hujan.
Seketika bumi dan langit guncang. Pandangannya sedikit kabur. Tubuhnya melemah. Ia tetap bertengger sambil menggelengkan kepala menepis mimpi pahit agar tak menjadi nyata.
Tubuhnya kini benar-benar goyah, tak terelakkan. Seketika ia terjatuh. Angin menghempaskan tubuh mungilnya yang masih ditembaki peluru dingin. Ia mengudara dengan mata yang perlahan mengatup. Saat ujung kepala burung kecil mengenai permukaan genangan air, saat itu juga matanya mengatup untuk selamanya.
Tiba-tiba turun dari langit sesosok pria bercahaya mendekati tubuh burung kecil yang kini menggenang di air. Arwah burung kecil ke luar dari tubuhnya dan tersenyum sambil menundukan kepala. Mereka berpegangan, bersama naik ke langit.
Tubuh burung kecil telah hanyut terbawa arus air ke tempat yang lebih rendah, bersamaan dengan mimpinya yang ikut hanyut.
Inikah akhir dari sebuah pengorbanan? Rela ditindih bertubi-tubi oleh bulir-bulir air hujan, kedinginan, koma, hingga tewas seketika itu juga. Ucapan ibu setelah membaca sebuah cerpen karya Absurditas Malka kembali terngiang, “Kematian adalah harga yang pantas untuk semua mimpi.”
Hujan mereda dan angin perlahan kembali bersahabat.
Seekor burung tua hinggap di dahan pohon bekas bertenggernya burung kecil. Matanya nyalang. Senyalang mata burung kecil. Pandangannya menyisir sekeliling. Seolah mencari yang telah hilang. Ada kesunyian di sebalik sorot matanya. Kicauannya nyaring. Senyaring kicauan burung kecil. Ada kegetiran di sebalik nyaring kicauannya. Paruhnya mengatup dan membuka kuat-kuat mirip paruh burung kecil. Seakan tak rela disentuh kenyataan, disetubuhi perpisahan.
Lama burung tua bertengger tak juga menemukan jawaban. Dengan gesit, ia mengepakan sayap dan melesat terbang tinggi menembus mega sambil matanya terus nyalang, kicauannya terus nyaring, dan paruhnya terus mengatup dan membuka kuat-kuat.
Genangan air mulai surut. Kutatap langit. Seberkas cahaya menerobos awan yang mendungnya mulai bergeser. Goresan warna membentuk pelangi terlukis indah di langit jingga.
Kususuri jalan di kedalaman hati menembus kerinduan, tapi yang ada hanya bayang. Pandanganku kosong mencari yang hilang. Ada kesunyian di sebalik sorot mata. Kediamanku kuat-kuat menunggu kedatangan yang pergi. Ada kegetiran di sebalik kediamanku.
Aku menunduk malu pada burung kecil. Terasa bening air menggumpal di kedua kelopak mata. Mendobrak dan jatuh. Perlahan mengalir deras, membasahi kedua lenganku yang hampir menyentuh ubun-ubun.
Di depan rumah, ibu bersembunyi. Lalu berjalan pergi di sepanjang jalanan gang sepi.
Ibu, aku masih di sini. Masih dengan menggenggam mimpi. Menunggumu menjemputku.