Iya! Dia biasku! Sinting! Bias yang dulu aku elu-elukan namanya tiap acara musik! Kuriyama Shogo.
***
Suara gitar mengusik malam-malam tenangku, seminggu ini. Pria apartemen sebelah yang baru pindah seminggu lalu gemar bermain gitar. Setiap malam.
Dan itu menggangu waktu istirahatku yang nyaman, tenang, dan aman.
Jujur saja, suara bernyanyinya tidak buruk. Namun seharusnya dia tahu diri. Maksudku apartemen yang kutempati itu bukan apartemen mahal yang kedap suara. Jadi, suara berisik atau bahkan, mungkin, suara pertengkaran keluarga bisa terdengar cukup jelas di malam hari.
Atau sebetulnya hanya indera pendengaranku saja yang terlalu peka?
Hei! Aku ini punya masalah tidur! Bisa-bisanya dia mengganggu begini! Bahkan aku sudah melaporkannya ke grup penghuni apartemen tetapi tanggapan mereka malah biasa saja. Kukoreksi, mereka sepertinya tidak masalah dengan suara nyanyian pria itu.
Padahal berisik!
Sudah sebulan pas. Aku catat! Aku semakin murka! Akhirnya dengan jengkel malam ini kuketuk pintu unit apartemennya dengan super kencang. Berkali-kali aku gedor pintunya karena kesal.
Dan dia membukakan pintu apartemennya.
"Eh?!", kataku tepat setelah dia membukakan pintu.
Kuriyama Shogo.
Dia mantan member idol ShineB, Shine Bright, sebuah grup K-Pop dengan member Korea Selatan dan member Jepang.
"Maaf, ada yang bisa dibantu?", tanyanya.
"Eh?", aku tidak bisa berkata banyak. Kupikir aku sedang berhalusinasi.
"Baiklah, jika tidak ada perlu," Kuriyama Shogo menutup pintunya tepat di depan mukaku.
Kaget dengan apa yang kulihat dan kembali ke dalam kamar tanpa suara.
Aku shock parah!
Setelah kejadian itu, tentu saja, aku lebih banyak diam. Berakhir dengan membeli sebuah penutup telinga.
Tidak banyak protes karena aku berusaha untuk tidak mengusiknya. Bukan karena dia mantan idol dan jadi punya privilitas lebih. Sebatas aku yang dulu nge-fans berat sama dia.
Iya! Dia biasku! Sinting! Bias yang dulu aku elu-elukan namanya tiap acara musik!
Kuriyama Shogo. Dia yang sempat terlibat lebih dari satu skandal lalu memutuskan untuk keluar dari grup di puncak karirnya. Setahun lalu, dia hengkang begitu saja tanpa jejak.
Siapa yang tidak kenal dia? Kukira dia sudah pulang ke negara asalnya tetapi ternyata dia malah menetap di sebelahku.
Apa aku tidak berhalusinasi?
Hari-hari berikutnya aku malah merindukan gitaran dan suaranya. Bodoh. Memang manusia itu seperti ini. Ketika ada bersikap tidak peduli lalu ketika menghilang malah mencari.
Sampai suatu hari, penyakit super bodohku ini menertawakanku dan menari-nari di atasku. Tawanya menggelegar, meledak-ledak, padahal aku baru saja menuntaskan projek perusahaanku selama sebulan, sinting, penuh.
Aku memutuskan untuk mengunjungi beranda yang tidak pernah kusapa ketika malam. Menyapanya dengan lembut di balik baju-baju cucian yang kugantung. Ugh, bra merah terang yang mencolok mata.
Aku kemudian menatap bulan karena bra itu mengaduk-aduk atensiku. Bulan sabit itu mengejekku yang tergantung dengan obatku yang ternyata hari ini habis.
Insomnia akut ini menjamah tubuhku terus-menerus. Dia membiarkanku masuk semakin dalam seperti ke lubang kelinci. Mengira diriku Mary Ann pelayan dari kelinci putih di Alice in Wonderland. Namun aku bukanlah Mary Ann, bukan juga Alice.
Bulan masih terus mengejekku hingga dini hari. Gawaiku menunjukkan pukul tiga pagi. Dan unit apartemen sebelah memuntahkan penghuninya tepat ke beranda.
Kuriyama Shogo dan kacamatanya. Kuriyama Shogo dan rambut hitamnya. Kuriyama Shogo dan tubuh tingginya. Kuriyama Shogo dan wajah indahnya. Kuriyama Shogo dan rokoknya.
Tunggu dulu rokok?
Atensiku kini murni berpindah ke arah pria itu.
Aku menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat. Mungkin karena dia risih dia menolehkan kepalanya ke arahku.
Masih sambil menjepit rokoknya di dua jari, "Hahaha! Warna merah itu mengganguku! Tempatmu?"
Merah? Astaga dia melihat bra merah menggelikanku!
"Iya! Kenapa memangnya?!", aku merasa tersinggung dan dengan cepat mengambil bra itu lalu mendudukinya.
"Ooohh..."
Kuriyama hanya berkata begitu, lalu memalingkan mukanya ke arah lain. Kembali menyesap rokoknya dalam-dalam. Sepertinya tenggelam lagi dalam pikirannya atau hanya ingin menghabiskan rokoknya.
Aku tidak suka kesunyian yang semakin merasuk ketika ada dua orang manusia berdekatan.
Aku mendekati beranda sebelah dengan menggenggam bra merahku di balik badan,"Kuriyama Shogo!"
Dia menoleh, sedikit terkejut, lalu memutuskan mematikan rokoknya yang tidak kunjung habis itu.
"Hmmm kukira kalau pakai kacamata tidak ada yang mengenalku. Ternyata salah... Hahaha," Kuriyama tertawa renyah lagi. Daun telinganya yang lebar bergerak-gerak lucu. Telinga lebar yang dulu aku suka.
"Siapa yang tidak bisa mengenal orang sekontroversional dirimu?", tanyaku.
Bukannya menjawab dia malah diam. Apakah aku menyinggungnya?
"Yah, tidak salah juga 'sih... Hahaha", dia tertawa lagi.
Oh my God! Kalau dulu aku melihat tawa itu sedekat ini mungkin aku bisa pingsan tetapi tidak jika sekarang.
"Kamu, benar semacam itu?", tanyaku hati-hati.
Skandal Kuriyama ada banyak.
Pertama, dia tertangkap kamera mendorong seorang idol perempuan di belakang stage. Kedua, dia tertangkap kamera menghempaskan tangan seorang wanita hingga dia terjatuh. Ketiga, dia masuk ke dalam daftar idol simpanan istri-istri grup chaebol dan dikabarkan memiliki anak di luar nikah. Beserta rumor-rumor lain yang ditambahkan hanya karena dia member luar negeri.
Semuanya berhubungan dengan wanita dan dia telah dicap sebagai pria yang sangat buruk di industri hiburan Korea.
"Aku memang bukan orang baik. Tapi kukira persepsimu kepadaku sungguh berubah menjadi buruk, Jo Gaeun."
"Eh?!", aku sedikit kaget ketika dia menyebut namaku.
"Aku ingat namamu. Kamu dulu selalu berlama-lama di depanku saat fansign."
"Oh, terima kasih untuk mengingatku."
(bakal dilanjutkan jadi novel kalau mood saya sudah balik)