"Sayang. . Tolong kamu akur ya sama Nindi, dia istri aku juga sekarang." Panggilan sayang dari suaminya yang biasanya terdengar merdu, kini terdengar begitu memilukan di telinga Hani. "Hanya cara ini yang bisa kulakukan demi menjaga nama baik kita. Aku akan segera mencari tau siapa yang sudah memfitnahku." Lanjutnya.
"Kalau memang semua itu fitnah, kenapa kamu harus menikahinya?" Hani berkata dengan menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Kami di giring warga dan di nikahkan paksa Han, aku bisa apa?"
"Hah..! Bisa apa? Kamu selalu bisa melakukan apapun yang kamu mau, Han! Jadi kamu jangan sok bersikap seolah-olah kalau kamu itu tertindas." Tak ada lagi panggilan mas untuk Handoko dari mulut Hani. Hatinya sudah terlalu sakit oleh tindakan suaminya yang seenaknya menduakan dirinya itu.
Memang benar yang di katakan oleh Hani, Handoko adalah seorang yang keras, dia tak bisa di tindas oleh siapapun. Tapi entah kenapa, melihat Nindi yang menangis membuat Handoko tak berkutik.
"Oke, ku akui aku salah. Tapi kamu jangn marah ya.. nanti kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Sekarang, tolong beri Nindi tumpangan di rumah kita, ya?" Rayu Handoko pada Hani.
"Apa kamu bilang? Memberi istri barumu tumpangan? Kamu udah gila!" Emosi Hani memuncak mendengar perkataan tak berhati nurani dari suaminya.
"Mungkin kamu lupa, kalau rumah ini dan setengah saham di perusahaan atas nama aku. Jadi aku minta, kamu bawa pergi istri barumu itu dari rumahku. Dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku!" Kalimat Hani berhenti, nafasnya tercekat. "Aku akan segera mengurus surat perceraian kita." Dengan sangat berat hati, ia terpaksa mengucapkan kalimat maut itu. Walau bagaimanapun, ia sangat mencintai Handoko suaminya. Tapi ia juga tak akan sanggup untuk di madu. Sudah cukup ia belajar dari kisah ibunya yang menjadi istri pertama. Kemudian ayahnya menikah lagi dan mulai meninggalkan dan melupakan Hani juga ibunya yang pada saat itu sedang mengandung adiknya Hani. Tapi karena keadaan yang sulit, kemudian ibunya keguguran dan bahkan mulai sakit-sakitan. Hani yang waktu itu masih SMP, harus bekerja keras untuk kelangsuangan hidup dirinya juga ibunya.
Jika dia teringat masa lalunya yang kelam itu, hatinya selalu terasa sakit bak tersayat silet. Sangat, sangat perih. Kini, suami yang sangat ia percaya malah menghianatinya juga. Rasanya ingin ia mengakhiri hidupnya saat ini juga jika tak ingat dengan putra semata wayangnya yang baru berusia sepuluh tahun itu. Ia harus tetap tegar demi sang putra yang masih sangat membutuhkan dirinya.
"Dari pada kamu mencampakkan kami nantinya, labih baik aku yang memilih mundur terlebih dahulu." Batinnya, matanya melirik suaminya yang terdiam mematung di tempat.
"Bik Sumi.." teriak Hani memanggil pembantunya.
"Tolong kemasi baranģ-barang Pak Handoko sekarang juga, semuanya dan jangan ada yang tersisa."
"Ba.. baik, Nyonya." Meski bingung, tapi pembantunya melaksanakan perintah Hani dengan segera.
"Kamu beneran ngusir aku, Han?" Hani bergeming. "Kamu tega, Han. Aku cinta sama kamu, makanya aku rela memberikan semua yang aku punya buat kamu, tapi kenapa sekarang kamu giniin aku?" Ucap Handoko memelas.
"Seharusnya kamu memikirkan akibat dari perbuatanmu, sebelum bertindak." Setelah mengucapkan kalimat itu, Hani segera berlalu dari hadapan Handoko. Dirinya sudah tak mampu lagi melihat wajah tampan suaminya yang sama sekali tak merasa bersalah dengan pengkhiantan yang ia lakukan. Ia menuju kamarnya di lantai atas dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia buang segala sesuatu barang milik suaminya. Bahkan kaca besar yang terletak disana yang biasa mereka gunakan untuk berkaca usai mandi bersama tak luput dari amukannya.
Hani adalah seorang yang mandiri, tegar, tegas, juga ahli bela diri karena kehidupannya dulu yang sangat keras. Kemuduan ia mulai bisa menjadi lebih lembut dan menjadi penyabar usai menjadi istri Handoko dan memiliki anak. Tapi kini, sisi kerasnya kembali muncul karena penghianatan dari suaminya sendiri.
"Haaaaaaaahhh..." teriak Hani sekerasnya di dalam kamar mandi masih dengan membanting segala sesuatu yang ada di dekatnya. Pembantunya sudah selesai mengemasi barang-barang Handoko dan membawanya pada Handoko.
"Jahat kamu Han! Tega kamu! Kanapa kamu lakuin ini sama aku? Padahal kamu selalu janji untuk tidak melakukan hal itu. Tapi mana buktinya?" Teriakan dengan isak tangis memenuhi seluruh ruangan kamar mandi itu. Hani berdiri di bawah guyuran air shower, berharap hal itua dapat meredakan sedikit hawa panas yang ada di dalam dada.
Malam sudah sangat larut, dan hujan mengguyur dengan derasnya di luar. Handoko keluar dari rumah mewah itu dengan menggandeng Nindi, istri barunya yang baru beberapa jam lalu di nikahinya.
"Pergi yang jauh. Dan jangan pernah kembali, apalagi muncul di hadapanku! Dasar manusisia brengsek! Ba*in*an kamu, Handoko!!!" Segala caci maki keluar dari mulut manis seorang Hani, meskipun ia orang yang keras, tapi tak pernah sekalipun ia mengucapkan kata-kata buruk seperti itu. Tapi kali ini rasa sakit yang tak mampu lagi di tahannya, membuatnya hancur dan kacau sehingga tak bsa lagi mengontrol emosi. Tapi dia masih bisa menguasai diri dengan tidak melakukan hal itu langsung di hadapan Handoko juga Nindi yang sudah menyakiti hatinya.
Cinta itu bulsyit!! Umpatan terkahir Hani sebelum menyudahi aksi ngamuknya.
Ia akan menenangkan diri ke luar negri dengan putra tercinta, agar bisa melupakan bayang-bayang kisah percintaannya dengan Handoko.
"Akan ku buktikan, kami bisa hidup dengan baik tanpamu."
Selesai.