Mungkin, aku tak secantik Monalisa.
Aku juga tak seanggun Dewi Sandra.
Bahkan, otakku tak sejenius Albert Einstein.
Tapi apa salah, jika aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, disayangi, dihargai juga sesekali dipuji oleh orang terdekatku?
Ah, siapa juga yang aku sebut orang terdekat itu. Jika aku saja hanya hidup sebatang kara, tinggal disebuah rumah sederhana peninggalan ibuku.
Ya, aku hidup sendirian semenjak ibu meninggal 5 tahun yang lalu, waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah kelas X sekolah menengah atas. Sejak itu pula, aku melanjutkan perjuangan ibuku. Menjadi seorang penjahit keliling, karena itu satu-satunya hal yang aku bisa pada waktu itu. Setidaknya, aku bisa bertahan hidup dari hasil menjahit itu.
Bersyukurnya, dalam hal sekolah aku mendapatkan beasiswa, sehingga aku masih tetap bisa melanjutkan pendidikanku. Dan sekarang, aku masih menekuni pekerjaan itu. Tapi bedanya, sekarang aku menjahit di rumah. Membuat desain pakaian dan kujahit sendiri, lalu aku jual via online. Hasilnya lumayan, bisa mencukupi kebutuhanku sehari-hari juga keperluan kuliah. Lagi-lagi aku mendapatkan beasiswa, makanya aku bisa sampai seperti saat ini. Sebentar lagi aku akan lulus, dan semoga saja aku bisa menjadi orang sukses nantinya. Agar aku bisa membanggakan ibuku yang sudah bahagia di alam sana.
Aku mempunyai seorang teman setia, dia cowok. Kita sudah berteman semenjak kita masuk di sekolah SMA. Dia jugalah satu-satunya orang yang menopangku kala aku kehilangan semangat hidup, saat kepergian ibuku. Sampai saat ini, kita masih berteman baik. Karena dia memang orang yang sangat baik, lumayan tampan, senyumnya manis. Dan aku hampir saja terjerat oleh kebaikannya, "Sadar Ly, kamu itu siapa? Dia memang orang yang baik! Jangan sampai kamu salah mengartikannya." Itulah kalimat pamungkasku, saat aku hampir terbuai oleh semua kebaikannya.
Apa salah jika aku mencinta?
Apa orang miskin dan sebatang kara sepertiku tak pantas mendapatkan cinta?
Pikiran seperti itu selalu terngiang di otakku.
Terlebih sahabatku itu anak orang kaya, mana mungkin sih dia mau sama gadis miskin seperti aku.
Setahun berlalu, kini kami sudah sama-sama menyelesaikan masa kuliah kami. Dan aku juga sudah bekerja pada perusahaan milik Rega, sahabatku itu. Dia sudah mewanti-wantiku dari sejak kami masih kuliah, untuk aku bekerja pada perusahaan keluarganya saat aku sudah lulus nanti. Tentu saja aku tidak mungkin bisa untuk menolak kebaikannya, aku tak perlu lagi bersusah-susah mencari pekerjaan pada masa sekarang ini.
Tetapi yang menjadi dilema bagiku, aku menjadi semakin terpikat olehnya. Oleh kebaikan dan semua hal yang ada pada dirinya. Hatiku semakin sulit untuk mengubur perasaan sayangku terhadap dirinya. Setiap hari aku haris berpura-pura biasa saja dihadapannya. Padahal, jantungku selalu berdetak tak beraturan saat berada di dekatnya. Entahlah, sejak kapan perasaan ini hadir. Yang pasti, aku selalu merasa nyaman saat bersamanya. Aku merasa terlindungi saat ada dia. Aku terpesona oleh senyum manisnya, lesung pipit yang membuatnya semakin cute. Ah, aku melamun lagi ditengah pekerjaanku.
"Hai Ly.. pulang bareng yuk," ajaknya. Karena saking asyiknya melamun, aku sampai tak sadar jika sudah saatnya pulang.
"Ah, iya Ga.. Aku beres-beres dulu bentar ya," jawabku seraya tersenyum. Kita memang biasa pulang bersama, tepatnya dia yang selalu mengajakku pulang bersama. Mengantarkan aku pulang sampai di depan rumah dengan selamat. Terkadang dia juga mengajakku untuk mampir makan dulu sebelum pulang. Karena dia sudah hafal kebiasaanku yang sudah tak akan makan lagi jika sudah masuk ke dalam rumah. Itu karena aku sudah tak sempat lagi untuk masak, kalau mau jajan boros pastinya. Dan aku tidak mungkin melakukan hal itu.
"Yuk.." ucapku saat sudah selesai merapikan mejaku.
Aku berjalan sejajar dengannya, dia merangkul pundakku. Lagi. Terkadang dia memang seperti itu sih.. merangkul pundak, menggandeng tangan, terkadang juga memelukku saat sedang kegirangan.Tapi dia tak pernah mengucapkan apapun, hal yang sedikit saja mengarah kepada perasaan. Haaah... siapa coba yang tak akan terjebak kalau begini keadaannya?
Hari ini pun seperti biasa, ia mengajakku untuk mampir makan dulu sebelum pulang. Tapi ada sedikit keganjilan yang aku rasakan, saat ia menghentikan mobilnya pada sebuah restoran mewah. Tak biasanya dia mengajakku ke restoran seperti ini, karena dia juga faham seleraku yang lebih menyukai makanan pinggir jalan. Harganya murah, porsinya lebih banyak, soal rasa jangan diragukan lagi.. dijamin nagih.
Aku masih bingung memperhatikan sekeliling, tiba-tiba pintu mobil terbuka. Rega membukakan pintu untukku? Ah so sweet.. seperti dalam drama yang terkadang aku tonton itu. Dia kembali menggandeng tanganku saat memasuki restoran. Lagi-lagi aku merasa aneh.. kenapa restoran sebagus dan semewah ini sepi? Lagi-lagi ia menarik kursi duduk untukku, hingga aku pun melongo dibuatnya. Ada apa dengan Rega? Apa ia habis terbentur, atau tiba-tiba punya penyaikt langka dan berbahaya hingga ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin denganku, sahabatnya.
Aku sudah membuka mulutku hendak bertanya padanya, tapi seakan tau apa yang akan aku katakan, dia sudah terlebih dulu tersenyum dan berkata, " Kenapa? Aku aneh ya?"
Aku menggeleng, ia kembali berucap. " Kamu nganggep aku amnesia? Punya penyakit langka?" Tebaknya yang memang seperti apa yang aku pikirkan.
Aku tergelak, "Hahha.. kok kamu selalu tau sih apa yang aku pikirin? Kamu belajar jadi peramal ya?" Terkaku menyipitkan mata.
"Iya! Peramal hatimu, masa depanmu." Jawabnya tegas yang membuatku membeku sesaat. Apa maksudnya ya? Aku tak mau terbuai dan salah memahami maksud perkataannya, yang nantinya akan membuatku kecewa.
"Kamu apaan sih, Ga. Udah yuk makan, aku laper nih.." ucapku kaku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Oke," ucapnya singkat. Lalu ia melambaikan tangan, dan datanglah dua orang pelayan restoran membawa berbagai macam makanan pembuka. Aku mengangkat kedua alis tinggi-tinggi, karena tak pernah kami makan dengan aturan seperti itu, biasanya kami hanya makan makanan inti atau makanan berat langsung terus sama minum aja, kenyang, udah. Dan sekarang?
"Silahkan di nikmati My Princess.." Rega tersenyum manis, membuat jantungku berdebar kuat. Ingat Ly, jangan baper! Pikiranku berusaha mengendalikan hati.
Setelah pembuka, kini diganti dengan makanan utama. Ada berbagai jenis makanan, terutama seafood. Ya, itu semua makanan faforitku. Bedanya ini di hidangkan dengan begitu mewah, sangat menarik dan menggugah selera. Rasanya air liurku akan menetes begitu saja.
Rega terkekeh pelan melihat ekspresiku, mulutku yang sedikit menganga dan mataku yang membulat sempurna melihat hidangan yang menggugah selera di hadapanku. "Jangan di lihatin doang.. ntar terbang lobsternya. Mending di makan." Godanya padaku.
Aku menunduk malu dan mulai memegang sendok juga garpu, tapi tiba-tiba sepotong daging lobster yang masih mengepul asapnya sudah berada di depan mulutku. Aku segera mengangkat kepala dan melihat tangan Rega terulur hendak menyuapiku, ia tersenyum mengangguk. Aku membuka mulutku perlahan dan suapan Rega mulai masuk. Rasa makanan yang memang istimewa, di tambah dengan perlakuan manisnya, membuat makanan itu semakin spesial.
"Makasih.." ucapku pelan yang mungkin terdengar seperti gumaman, tapi masih juga terdengar di telinganya.
"Buat apa?"
"Semua ini.."
"Nggak perlu, kamu kayak sama siapa aja."
Setelah hidangan utama habis tak tersisa karena sudah berpindah pada perut kami, Rega kembali melambaikan tangan. Dan muncullah dua orang pelayan lagi dengan membawa hidangan penutup untuk kami.
"Ini apa lagi, Ga? Aku udah kenyang banget tau.."
"Coba aja dulu! Kamu pasti suka."
Memang, choco lava cake di hadapanku sangat terliahat lezat. Tapi perutku sudah hampir meledak rasanya karena kupaksa memakan semua seafood tadi.
Tapi untuk menghargai Rega yang sudah repot mempersiapkan semuanya, aku kembali menyendok dessert di hadapanku. Coklat lezat meleleh kala sendokku membelahnya, begitu menggiurkan. Dengan segera aku menyendok banyak dan melahapnya sekaligus. Mata Rega melotot melihatku yang menyantap cake itu lahap. Ada apa dengannya? Pikirku.
Hah, apa ini? Sesuatu seperti besi berada di mulutku, apa aku harus mengeluarkannya? "Rega bakal tersinggung nggak ya?" Batinku.
Lalu kuambil tisu dan mengeluarkan sesuatu benda asing yang ada di mulutku. Mataku melebar kala melihat benda asing yang ku keluarkan dari mulutku tadi. Cincin?
Rega meraih cincin dalam tisu di genggamanku dan memasukannya pada air bersih pada mangkuk yang sudah di siapkan oleh pelayan. Apa ini memang rencananya?
Aku terdiam memperhatikannya yang mencuci dan mengelap cincin itu hingga bersih. Dan ia mulai berjongkok di hadapanku.
"Eiliya Amanda, will you marry me?" Ucapnya lembut namun tegas, tatapan matanya yang teduh memancarkan ketulusan. Apakah aku nermimpi? Benarkah semua ini terjadi? Apa dia sungguh-sungguh? Sejuta tanya tak mampu mewakili semua perasaan yang berkecamuk di dadaku.
"Aku tau, selama ini kita bersahabat. Dan memang tak pernah sekalipun aku mengatakan sayang atau cinta padamu. Karena aku tau, kamu juga nggak mau merusak persahabatan kita dengan ikatan pacaran." Rega menarik nafas dalam sebelum kembali berucap.
"Tapi aku tak bisa selamanya menyembunyikan perasaanku terhadapmu, Ly." Aku masih terdiam mencerna perkataannya. "Aku merasa nyaman saat bersamamu, aku merasa khawatir kalau tak melihatmu sebentar saja, aku selalu merindukanmu saat kita baru saja berpisah saat pulang kerja." Ia masih setia berjongkok di hadapanku.
"Sudah lama aku merasakan, memikirkan, dan mencerna jika perasaanku ini tak salah terhadapmu. Perasaan yang biasa disebut oleh orang-orang dengan sebutan Cinta." Mata Rega mulai berkaca-kaca, begitupun dengan aku yang sudah entah sejak kapan air yang menggenang di pelupuk mataku mengalir di wajahku.
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu Eiliya. Aku ingin kita terus bersama selamanya dalam ikatan pernikahan yang suci. Membangun rumah tangga bersama.." ucapannya terhenti, air mata yang sejak tadi berusaha di tahannya, akhirnya tumpah juga. Kenapa Rega juga menangis? Dia seorang yang sempurna dan mempunyai segalanya, kenapa ia menangisi seorang wanita sepertiku?
Kuusap air matanya dengan kedua tanganku, "jangan nangis, Ga. Kok kamu jadi cengeng sih?" Godaku padanya untuk sedikit memecah suasana haru di antara kita. Jujur, perasaanku saat ini tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa, kaget, bahagia, juga takut bercampur menjadi satu. Bahagia karena perasaanku ternyata berbalas, tapi juga takut jika semua ini hanyalah ilusi.
Tanpa sadar ku tepuk tangan kiriku dengan tangan kananku kuathingga sedikit memerah. "Hey.. apa yang kamu lakuin? Kan jadi sakit!" Seru Rega mengelus dan mecium tanganku yang memerah. Mulutku menganga sempurna dengan perlakuannya itu.
"Ini semua beneran, Ga? Aku nggak lagi mimpi?"
"Beneran Eily! 100% beneran. Kenyataan. Dan tanpa kamu sadari, aku sudah berlutut di hadapanmu hampir satu jam."
"Hah? Maaf, Ga.. ya kamu duduklah. Ngapain juga dari tadi berlutut disitu."
"Aku lagi berusaha romantis, seperti lamaran impian kamu, Ly. Kamu lupa? Dan aku nggak akan beranjak sebelum kamu terima lamaran aku."
Apa? Dia juga masih ingat perkataan khayalan aku waktu SMA dulu? Oh Tuhan.. apakah ini memang takdirku?
"Yee.. maksa! Segitu yakinnya kamu bakal aku terima."
"Ya aku yakinlah.. memang siapa lagi yang suka sama kamu selain aku?" Ucapnya dengan percaya diri. Tapi memang benar sih, ada dia yang cinta sama aku aja udah luar biasa.
"Yaudah deh, kalau gitu aku terima. Dari pada aku jadi jomblo akut. Terus juga kasian kamunya yang udah kelamaan berlutut dari tadi." Rega cemberut sedetik, detik kemudian ia berjingkrak kegirangan.
"Kamu beneran terima cinta dan lamaran aku, Ly?"
Aku tersenyum mengangguk, "Yes, i will Rega!" Dengan segera ia sematkan cincin bermata pink itu ke dalam jari manisku, mengecup punggung tanganku sekilas dan beranjak untuk merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
Beginikah rasanya di cintai? Di sayangi? Dilamar? Aku tak menyangka, dari balik kisah sedihku di masa lalu, aku akan mendapatkan kebahagiaan tak terhingga seperti saat ini.
Terimakasih Rega, sudah mau mencintaiku. Akan ku jaga cinta kita selamanya.